Bab 14: Tembok Prasangka
Keputusan Hanif untuk membawa hubungannya dengan Amara ke jenjang yang lebih serius ternyata memicu badai di rumah keluarganya. Hanif berasal dari keluarga pendidik yang terpandang di Jawa Tengah. Ayahnya adalah seorang kiai pengelola pesantren, dan ibunya adalah sosok yang sangat menjaga kehormatan serta nasab keluarga.
Sore itu, di sebuah rumah bergaya kolonial yang asri namun terasa kaku di pinggiran kota, Amara duduk di hadapan kedua orang tua Hanif. Ia mengenakan pakaian terbaiknya—gamis sutra berwarna hijau zamrud yang sopan—namun ia merasa seperti seorang terdakwa di ruang sidang.
"Jadi, kamu ini janda dari almarhum Rayyan, pengurus perpustakaan itu?" tanya Ibu Hanif, Nyai Salma, sambil menatap Amara dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya. Suaranya dingin, seolah sedang membedah setiap inci keberadaan Amara.
"Benar, Bu," jawab Amara pelan, tangannya bertautan erat di bawah meja.
"Kami sudah mendengar banyak hal tentangmu, Amara," sambung Kyai Usman, ayah Hanif, dengan nada yang lebih berat. "Hanif adalah putra kebanggaan kami. Dia dipersiapkan untuk meneruskan pesantren. Kami menghargai hijrahmu, tapi pernikahan bukan hanya soal perasaan dua orang. Ini soal penyatuan dua keluarga, soal teladan bagi santri-santri kami kelak."
Amara sudah menduga bahwa masa lalunya akan menjadi batu sandungan. Namun, ia tidak menyangka bahwa keluarga Hanif telah menyelidiki dirinya sedalam itu. Di atas meja jati itu, Nyai Salma meletakkan sebuah map cokelat.
"Apa kamu pikir kami tidak tahu pekerjaanmu sebelum menikah dengan Rayyan? Kami punya kerabat di Jakarta yang mengenal siapa kamu dulu," ucap Nyai Salma dengan nada kecewa yang dalam. "Bagaimana mungkin seorang mantan wanita malam bisa bersanding dengan seorang ustaz di atas pelaminan pesantren kami? Apa kata orang nanti? Apa kata wali santri?"
Amara merasa seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. Kata-kata "wanita malam" itu menghantamnya seperti tamparan fisik. Ia menoleh ke arah Hanif yang duduk di sampingnya. Hanif tampak tegang, namun wajahnya menunjukkan keteguhan yang luar biasa.
"Ibu, Ayah," Hanif memotong pembicaraan dengan suara tenang namun tegas. "Islam mengajarkan bahwa seseorang yang bertaubat nasuha adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa. Amara sudah membuktikan kualitas imannya selama bertahun-tahun. Apakah kita lebih berhak menghakimi masa lalu seseorang daripada Allah yang sudah menerima taubatnya?"
"Ini bukan soal hukum Tuhan, Hanif! Ini soal martabat!" bentak Nyai Salma, air matanya mulai mengalir. "Ibu tidak mau nama baik keluarga kita hancur karena kamu bersikeras menikahi wanita dengan latar belakang seperti ini. Carilah wanita salihah yang bersih sejak awal, banyak santriwati kita yang jauh lebih layak untukmu."
Amara merasa tidak sanggup lagi berada di ruangan itu. Ia merasa kehadirannya hanya akan menghancurkan hubungan Hanif dengan orang tuanya—sesuatu yang sangat ia hindari. Ia berdiri perlahan, mencoba menahan isak tangis yang sudah di ujung tenggorokan.
"Kyai, Nyai... saya mohon maaf jika kehadiran saya membawa kegaduhan di rumah ini," ucap Amara dengan suara bergetar. "Saya sadar siapa saya. Saya tidak akan pernah memaksakan diri untuk masuk ke keluarga yang tidak bisa menerima saya. Saya sangat mencintai Hanif, dan karena itulah saya tidak ingin dia menjadi anak yang durhaka karena saya."
Amara segera melangkah keluar dari rumah itu, mengabaikan panggilan Hanif yang mencoba mengejarnya. Ia berlari menuju jalan raya, membiarkan air matanya tumpah deras membasahi pipinya.
Sesampainya di apartemen, Amara kembali ke sudut kamarnya yang sunyi. Ia memeluk foto Rayyan, mencari perlindungan pada memori suaminya.
"Yan... apa aku memang nggak layak buat bahagia lagi?" rintihnya. "Apa dosaku dulu begitu besar sampai dunia nggak akan pernah mau maafin aku?"
Malam itu, Amara kembali merasakan kegelapan yang dulu pernah menghantuinya. Ia merasa dijepit oleh dua dunia: dunia masa lalu yang kotor dan dunia religius yang tampak eksklusif dan menghakimi. Ia merasa tidak memiliki tempat di mana pun.
Tiga hari berlalu tanpa komunikasi. Amara sengaja mematikan ponselnya. Ia menghabiskan waktu di perpustakaan, bekerja dua kali lebih keras, seolah ingin menenggelamkan rasa sakitnya dalam tumpukan buku. Namun, Dika menyadari ada yang salah.
"Kak Amara kok nangis terus? Pak Hanif mana? Kok nggak dateng ngajar?" tanya Dika polos.
Amara hanya bisa menggeleng pelan sambil mengusap kepala Dika. "Pak Hanif lagi sibuk, Dika. Kak Amara cuma lagi kangen sama Kak Rayyan."
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan perpustakaan. Bukan mobil mewah, melainkan taksi. Hanif turun dari taksi itu dengan membawa tas ransel besar, tampak lelah namun matanya bersinar penuh tekad.
"Amara," panggil Hanif saat masuk ke perpustakaan.
Amara terkejut. "Pak Hanif? Ngapain ke sini? Harusnya Anda di rumah, menyelesaikan urusan dengan orang tua Anda."
Hanif duduk di hadapan Amara. "Aku sudah bicara dengan mereka. Panjang lebar. Aku bilang pada mereka bahwa jika mereka mencari kesempurnaan manusia, mereka tidak akan menemukannya. Aku juga bilang bahwa aku tidak akan menikah dengan siapa pun jika bukan denganmu, karena aku tidak butuh istri hiasan, aku butuh rekan perjuangan."
"Tapi... mereka orang tua Anda, Hanif. Jangan hancurkan hubungan kalian demi saya," isak Amara.
"Mereka tidak membencimu, Amara. Mereka hanya takut. Takut pada omongan manusia. Tugasku adalah meyakinkan mereka bahwa omongan manusia tidak ada harganya di hadapan rida Allah. Aku sudah meminta izin untuk tinggal di Jakarta sementara waktu, bekerja di universitas, dan membuktikan pada mereka bahwa pilihanku tidak salah."
Kegigihan Hanif mulai membuahkan hasil, meski perlahan. Seminggu kemudian, Kyai Usman datang sendiri ke perpustakaan tanpa memberi tahu sebelumnya. Ia datang saat Amara sedang mengajar anak-anak jalanan.
Kyai Usman berdiri di ambang pintu, memperhatikan bagaimana Amara dengan sabar menghadapi Dika yang sulit memahami konsep pembagian, dan bagaimana Amara membimbing Siti membaca Al-Qur'an dengan tajwid yang benar. Ia melihat ketulusan yang tidak bisa dibuat-buat—sebuah cahaya yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang benar-benar telah menemukan Tuhan setelah kehilangan arah.
Setelah kelas usai, Kyai Usman menghampiri Amara.
"Nak Amara," panggil beliau, suaranya kini terdengar lebih lembut. "Hanif bilang kamu tidak pernah mengeluh meski kami menghinamu kemarin. Dia bilang kamu justru memintanya untuk tetap patuh pada kami."
Amara menunduk hormat. "Orang tua adalah segalanya, Kyai. Saya tidak punya siapa-siapa lagi kecuali Ayah saya, jadi saya tahu betapa berharganya restu Anda bagi Hanif."
Kyai Usman menghela napas panjang, menatap deretan buku di rak. "Rayyan adalah pemuda yang hebat, dan dia memilihmu sebagai istrinya. Sekarang anakku, Hanif, juga memilihmu. Mungkin aku yang terlalu buta oleh kehormatan semu sampai lupa melihat mutiara di balik lumpur."
Beliau mengeluarkan sebuah tasbih kayu dari sakunya dan memberikannya kepada Amara. "Ibunya Hanif masih butuh waktu, dia masih menangis di rumah. Tapi aku... aku memberikan restuku. Datanglah lagi ke rumah minggu depan. Mari kita bicara sebagai keluarga."
Tangis Amara pecah, namun kali ini adalah tangis syukur. Ia menyadari bahwa kejujuran dan kesabaran adalah kunci yang bisa membuka pintu hati yang paling keras sekalipun.
Amara berdiri di teras perpustakaan bersama Hanif dan Kyai Usman, memperhatikan matahari terbenam. Tantangan besar memang masih ada, terutama menghadapi penerimaan Nyai Salma, namun Amara tahu ia tidak lagi berjalan sendirian. Ia memiliki Hanif yang menggenggam tangannya, dan ia memiliki restu dari langit yang mulai turun perlahan-lahan ke bumi.
"Terima kasih sudah nggak menyerah sama aku, Hanif," bisik Amara.
"Aku nggak menyerah sama kamu, Amara. Aku cuma lagi memperjuangkan masa depan kita," jawab Hanif lembut.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Dua Mata Saya ( Halusinada )
Raihan berendam di bak mandi yang sudah terisi air hangat itu, dikelilingi busa berlimpah. ...
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Cangkul Yang Dalam ( Halusinada )
Alya sendirian di dapur. Dia terlihat masih kesal. Matanya tertuju ke satu set pisau yang ...
Buku Mewarnai
ini adalah buku mewarnai srbagai contoh upload buku ...