Kiara
“Aku besok ke pantai!”
Kiara berseru girang.
“Sama siapa?” tanya suara di seberang datar.
“Anak-anak panti. Ada juga Bu Indah, Pak Bari, Kak Intan,…”
Kiara menjelaskan dengan berapi-api sementara lawan bicaranya lebih banyak terdiam.
“Kamu baik, kan?”
tanya Kiara memecah keheningan. Sadar bahwa dari tadi ia yang lebih banyak berbicara.
“Tidak pernah lebih baik dari ini.” balas orang itu. “Sudah dulu ya.”
“Kenapa?”
Suasana hening sejenak. Kiara menunggu.
“Aku sibuk.”
“Sibuk apa? Kamu liburan ke mana? Makanmu teratur kan? Aku tadi makan…”
“Kiara, sudah cukup.”
Orang itu memotong perkataan Kiara cepat membuat Kiara terhenyak.
“Apa maksudmu..”
“Aku bukan Aksa.” Terdengar hela napas panjang diseberang sebelum ia melanjutkan, “Dia sudah tidak ada. Sadarlah.”
Kiara menahan napas. Mencoba menahan gejolak emosi yang mengukung dirinya.
“Jangan terlalu sering menghubungiku. Aku juga punya kehidupan lain. Aku.. mau melupakan Aksa.”
“Aku gak mau! Aku gak bisa melupakan Aksa. Kamu gak boleh melupakan Aksa!”
Kiara berteriak. Lalu menangis sejadi-jadinya.
Ini bukan percakapan yang ia harapkan. Ini seharusnya jadi kabar yang menyenangkan. Kiara pikir ia tidak akan bisa ke pantai lagi setelah setahun berlalu pasca ia berjuang melewati vonis sisa masa kehidupannya yang seharusnya sudah berakhir. Seharusnya ini menjadi berita yang sama melegakannya seperti saat Kiara bilang takdir menunda maut dan memberinya kesembuhan. Memberinya kesempatan kedua untuk bernapas. Bukan seperti ini.
“Aku..” Kembali terdengar hela napas diseberang. “Aku lega kamu masih bisa bermain. Aku lega kamu masih bisa liburan. Aku lega kamu masih ada. Aku lega kamu masih hidup. Tapi Aksa sudah tidak ada lagi. Dia tidak bisa bermain. Dia tidak bisa liburan. Dia tidak dikasih kesempatan untuk hidup seperti kamu. Jadi tolong.. lupakan dia, Kiara. Tolong biarkan aku tenang.”
Kiara terdiam. Mencoba menelan kata demi kata yang menusuk tajam ke ruang batin kesadarannya.
“Tapi kenapa kamu juga harus pergi?” tanyanya akhirnya. “Kenapa aku tidak boleh sering meneleponmu? Kenapa kamu masih ada tapi meninggalkan aku sendirian? Kamu bilang mau melupakan Aksa dan melanjutkan hidup, kenapa kamu seperti tidak mau aku ada disana? Kenapa.. kamu lebih tenang saat aku gak ada?”
Suasana hening sejenak. Hanya terdengar Kiara masih sedikit terisak.
“Karena kamu membuatku tidak bisa melepaskan Aksa.” Anak itu menggenggam gagang telepon lebih erat sebelum melanjutkan, “Padahal aku harus melupakan dia.”
Percakapan itu langsung diakhiri. Kiara tertegun. Ia masih menggenggam teleponnya meskipun tahu sambungannya sudah terputus.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Kringgg…! Bunyi nyaring jam weker yang ada di kamar membuat Taufiq melompat kaget. I ...
Teka-teki Surat Merah
Seorang gadis pekerja klub malam ditemukan tewas dalam kantong plastik di taman kota, meng ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Lam Biru
Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...