Aksara
“Aksa!”
Aska berlari mengejar Aksa seraya berusaha menghindari reruntuhan bangunan. Ia akhirnya melihat Aksa yang mencoba membangunkan Kiara yang terjebak di reruntuhan bangunan dan tidak sadarkan diri.
“Kak.. ayo bangun..” Aksa mulai tergugu. Tangannya gemetar berusaha menyingkirkan reruntuhan bangunan dari tubuh Kiara.
“Tidak ada waktu lagi, kita harus gendong dia.”
Aska langsung mendatanginya. Ia sigap membantu menyingkirkan puing puing reruntuhan yang menjebak Kiara. Lamat-lamat mata Kiara terbuka sedikit demi sedikit.
“Kiara!! Hai, kamu dengar aku kan?”
Aska menepuk kecil kedua pipinya dan menatap matanya. Kiara tidak menjawab, namun mengangguk kecil.
“Kita harus keluar dari sini. Aku dan Aksa akan bantu kamu berjalan.”
Beberapa saat kemudian, mereka berhasil menyingkirkan beberapa reruntuhan dan mulai memapah Kiara. Namun kobaran api semakin besar dan ditengah mereka berjalan, Aska tertimpa kayu yang cukup besar hingga ia terjatuh. Aksa berusaha keras membantunya namun kayu itu terlalu berat.
“Hei. Hentikan,” ucap Aska tersengal. “Kalau kamu bisa menyingkirkan kayu ini sekalipun, aku mungkin tidak bisa berjalan.”
Aksa terkesiap mendengarnya. Ia memang melihat kayu itu jatuh menimpa kaki Aska dengan keras.
“Aku bisa bantu kamu berjalan,” ucap Aksa seraya masih berusaha mendorong kayu itu namun tidak ada pergerakan.
Ia sampai memukul-mukul kayu itu dengan putus asa. Aska menatap sahabatnya dalam diam sebelum berkata,
“Pergilah. Selamatkan Kiara.”
Aksa menggeleng. “Aku bisa selamatkan kalian berdua.”
Reruntuhan kayu selanjutnya hampir menghantam tubuh Kiara namun Aksa berhasil mendorongnya.
“Tidak ada waktu.” Aska kembali berkata. Napasnya tersengal. “Kalian berdua sama-sama punya alasan untuk hidup. Aku tidak punya.”
“Kamu juga alasan kita hidup! Kamu harus bertahan demi kita!” Aksa memohon. Suaranya parau.
Aska tersenyum sebelum berkata, “Tiap hari aku berpikir aku akan mati, tapi aku masih bertahan karena orang tuaku punya alasan untuk mempertahankanku. Dan alasan itu bukan aku.”
“Berhentilah bicara. Kamu kesakitan…”
“Ini bahkan tidak lebih sakit daripada saat mereka memukulku.”
Aksa langsung terdiam saat mendengarnya. Ia sebenarnya sudah curiga, meskipun ia sering menepis kemungkinan itu. Aska sering dirawat di rumah sakit dengan alasan beragam namun tampak remeh. Jatuh dari tangga, terpeleset, berkelahi dengan teman, dan alasan yang mengarah ke kecerobohan anak-anak. Namun kejadian itu terlalu sering, padahal Aska bukan anak yang seceroboh itu.
“Pergilah. Aku mohon. Aku akan tenang kalau kamu dan Kiara hidup.” Aska kembali berkata dan Aksa awalnya bergeming. Reruntuhan bangunan itu semakin parah dan Aska mendorong Aksa dengan sisa sisa tenaganya. Tepat saat itu reruntuhan bangunan dan api menenggelamkan tubuh Aska.
“ASKA!!!”
Aksa berteriak. Namun sudah terlambat. Ia tertegun seraya terisak. Kesadarannya kemudian pulih dan ia segera berlari keluar sambil memapah Kiara.
“Hai, Nak.” Ayah Aska berjongkok setelah mematikan ponselnya. Memandangi anak laki-laki yang masih terisak dihadapannya dan terbata-bata menjelaskan kejadian di rumah pondok kayu. Tentang kejadian kebakaran. Tentang ia yang sudah keluar namun masuk lagi untuk menyelamatkan Kiara. Dan tentang Aska yang menyelamatkannya namun tidak bisa ia selamatkan.
“Semuanya hancur.” Ibu Aska tiba-tiba berada di dekat mereka dan panik. “Anak kita.. anak kita..”
“Tenanglah.” Ayah Aska berkata. “Anak kita masih hidup. Lihatlah.”
Ibu Aska membelalakkan mata.
“Kamu jangan gila! Dia bukan anak kita..”
“Dia mirip anak kita,” potongnya. “Belum ada yang tahu tentang kejadian ini, kan? Semua masih bisa diatur.”
Ibu Aska terkesiap. Ia memperhatikan Aksa lebih dekat.
“Ayah sudah pernah lihat Aska. Dia pasti tahu anak ini bukan Aska…”
“Kita bisa bawa anak ini menjauh dari ayahmu sementara. Kita tinggal pindah cukup lama, alasan saja mau mengembangkan projek di Kalimantan. Ayahmu tidak akan peduli kita sering mengunjunginya apa tidak. Kamu bilang sendiri kan, dia hanya peduli dengan kakakmu. Tapi kakakmu tidak akan mewarisi perusahaan itu, tenang saja. Selama anak kita masih hidup dan selama ia tahu, cucu laki-laki satu-satunya masih ada. Warisan itu pasti jatuh ke tanganmu.”
Ayah Aska berdiri sebentar dan memegang pundak istrinya. Meyakinkannya. Ia kemudian berjongkok lagi dan kembali memandang Aksa. Ia selalu memastikan semuanya sempurna. Termasuk anaknya. Ia tahu anak ini teman dekat anaknya. Ia selalu mengawasi semua hal yang dilakukan anaknya bahkan menyelidiki teman-teman terdekatnya. Termasuk apa yang paling anak ini inginkan saat ini.
“Hai, Nak,” Laki-laki itu berdeham sejenak sebelum melanjutkan, “Kamu mau kakakmu sembuh?”
Kata-kata itu sederhana, namun saat itu terasa seperti keajaiban. Dan Aksa tidak pernah melupakan hal yang mengubah takdir hidupnya sejak hari itu.
Other Stories
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Mozarela Bukan Cinderella
Moza, sejak bayi dirawat di Panti Asuhan Muara Kasih Ibu oleh Bu Kezia, baru boleh diadops ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...