Dia Bukan Aksara

Reads
239
Votes
25
Parts
8
Vote
Report
Penulis Lipipio

Aksara

Ada satu masa yang menjadi penentu masa masa selanjutnya. Satu waktu. Satu momen. Satu fragmen kejadian. Sekejab. Satu peristiwa. Satu percakapan. Satu kehilangan. Satu kematian.

Hari itu Aska menepati janjinya mengajak Kiara dan Aksa ke pantai. Namun tempat itu ternyata bukan untuk umum. Dari dekat, hanya mereka yang berada disana beserta empat orang lainnya, dua orang asisten rumah tangga, satu orang perawat, dan dokter Fara yang merawat Kiara. Juga hanya ada beberapa orang yang berjaga di luar daerah pantai.

Yang menarik adalah rumah pondok kayu yang ada disana. Bangunannya berada di tebing pantai dan memperlihatkan panorama laut lepas yang indah.

“Bagus sekali!” Kiara takjub melihatnya.

“Ayo kita masuk ke dalam,” ucap Aska ikut bersemangat.

“Orang tuamu kemana?” tanya Aksa.

“Sibuk.” Aska menjawab singkat.

Selanjutnya Kiara sibuk bertanya berbagai hal yang ada di dalam rumah kayu itu dari ruangan hingga perabotan sementara Aska menjawab satu persatu dengan sabar.

Aksa lebih banyak diam dan pandangannya beralih ke beberapa bingkai foto diatas meja dekat televisi. Ia memandangi satu persatu bingkai foto itu. Banyak foto orang tua Aska di beberapa tempat, beberapa dengan rekan bisnisnya. Namun, hanya ada satu foto yang ada Aska didalamnya yang mungkin diambil beberapa tahun lalu saat ia masih sangat kecil, bersama keluarga besarnya. Bahkan tidak ada satupun foto Aska saat berusia sekarang.

Aksa saat itu tidak terlalu menghiraukannya. Ia hanya ingin bermain dan bersenang-senang saja di hari libur ini tanpa mengetahui bahwa ini adalah hari liburan terakhir mereka.

Malam itu dalam rumah pondok kayu, mereka semua sedang beristirahat setelah lelah seharian bermain di pantai.

Tidak ada yang sadar api yang sudah berkobar begitu cepat dan membakar rumah bagian belakang. Dan saat mereka sadar, semua sudah terlambat.

Aksa terjebak di reruntuhan bangunan. Api berada dimana-mana dan asapnya mengaburkan pandangannya. Ia tidak tahu dimana semua orang sampai sebuah tangan menariknya dan membantunya keluar.

“Kita masih terjebak!” seru Aska. Disekelilingnya api masih menjalar.

“Dimana semua orang?” Aksa bertanya namun Aska menggeleng.

“Jangan lepaskan tanganku. Kita tetap harus berjalan.”

Aska menggandengnya dan mulai bergerak berusaha menghindari api dan reruntuhan bangunan. Aksa mengikutinya dan ikut menutupi hidungnya dari bau asap. Mereka akhirnya berhasil keluar dan mendapati salah satu asisten rumah tangga sedang berbaring di luar dengan luka bakar yang cukup parah.

“Yang lain bagaimana, Mbak?” tanya Aska. 

Yang dipanggil menggeleng lemah. Aska berteriak minta tolong namun tidak ada yang mendengarnya. Ia mengambil ponsel milik asisten rumah tangga itu dan mencoba menghubungi nomor orang tuanya namun tidak diangkat. Ia mencari kontak para penjaga di depan sebisanya berusaha mencari bantuan. Pandangannya tiba-tiba beralih ke Aksa yang berlari ke arah bangunan itu lagi. Ia spontan mengejarnya.

“Kamu sedang apa!? Kita harus menjauh!” Aska berteriak berusaha mengalahkan suara kobaran api seraya menariknya menjauh.

“Kak Kiara!!” Aksa balas berteriak. “Dia masih di dalam!”

Sedetik kemudian, ia langsung melepaskan diri dari cengkraman Aska dan berlari kedalam. Kobaran api masih berkobar begitu cepat. Aska menarik napas panjang. Memandangi Aksa yang bergerak menjauh, kakinya reflek ikut bergerak mengejarnya.

Suara pemadam kebakaran akhirnya terdengar entah sejak kapan dan api berhasil dipadamkan.

Hari itu, Kiara berhasil diselamatkan namun hanya ada satu anak laki-laki yang bersamanya.

Orang tua Aska akhirnya tiba. Ibunya tampak terduduk meratap diantara puing puing bangunan rumah yang habis total. Ayahnya terdiam cukup lama setelah bolak balik bertanya pada orang-orang disana, beberapa kali membentak dan menyalahkan kelalaian mereka. Pandangannya kini menatap seorang anak laki-laki yang terlihat sedikit takut berjalan mendekatinya. Tepat saat itu, ponselnya berdering. Ia mengangkatnya dan mengucapkan beberapa kata.

Anak laki-laki itu kini berada dihadapannya.

“Aska?” Rahangnya sedikit mengeras sebelum melanjutkan, “Dia baik-baik saja, tenanglah. Anak kami selamat.”


Other Stories
DI BAWAH PANJI DIPONEGORO

Damar, seorang petani terpanggil jiwanya untuk berjuang mengusir penjajah Belanda di bawah ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Hellend ( Noni Belanda )

Sudah sering Pak Kasman bermimpi tentang hantu perempuan bergaun zaman kolonial yang terus ...

Cerita Guru Sarita

Sarita merasa berbeda dari keluarganya karena mata cokelatnya yang dianggap mirip serigala ...

Kukejar Impian Besarku

Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Download Titik & Koma