Chapter 7: Kedatangan Dan Kepergian
Beberapa Tahun Berlalu, dari kejauhan terlihat sosok Pengembara yang memakai jubah, berjalan semakin dekat menuju arah pandangan kita. Itulah Ardha. Setelah bertahun-tahun mencari, akhirnya dia berhasil menemukan Rumahnya, rumah dari seorang kakek Tua, umurnya mungkin sudah 80,90, 100 tahunan atau lebih, dia sendiri sudah tidak ingat. Ardha lalu memperkenalkan dirinya, dan kakek itu adalah Jaka Tarub.
Dia terduduk lemas di kursinya, menatap alam dengan matanya yang sudah rabun. Ardha lalu menceritakan tentang maksud kedatangannya, dan memberikan Selendang Kain yang langsung dikenali oleh si Kakek. Beliau menangis, dicium nya selendang itu dan wangi yang sangat familiar membangkitkan ingatannya, wangi dan ingatan dari Dewi Nawang Wulan.
Ia pun Bercerita lengkap tentang semua kejadian dengan Dewi Nawang Wulan, seolah baru dialami kemarin. Lalu Kakek Jaka bercerita tentang Nawangsih, anak mereka yang kini bahkan juga sudah punya cucu:
"Ia tumbuh anggun seperti ibunya, namun memiliki Raga seperti ayahnya, raga fana yang terikat pada janji bumi" kata kakek Jaka yang seolah mengecilkan dirinya.
"Sebagai wujud dari penebusan terhadap dosaku kepada Nawang Wulan, aku didik dan besarkan Nawangsih dengan kejujuran dan integritas" sautnya dengan bangga.
“Anak ajaib itu masih saja sering menatap lama rembulan di malam hari, seolah ada bagian yang akan selalu hilang darinya...” ungkapan sedih dan bersalahnya kakek Jaka.
Dihabiskanlah siang hingga sore hari untuk bercerita, dan Ardha hanya diam menyimak sambil sesekali memberikan tanggapan. Saat Matahari akan terbenam, dari mata rabunnya, Kakek Jaka tiba-tiba bicara:
"Aku melihatmu, akhirnya aku bertemu denganmu, Nawang Wulan... akhirnya tiba waktunya engkau menjemputku" ucap kakek Jaka sambil menangis bahagia.
Lalu ia memeluk selendangnya, Matanya pun berkaca-kaca memantulkan kilau Senja. Saat Sinar matahari akhirnya tenggelam, berhembuslah juga nafas terakhir dari kakek Jaka, dengan memeluk selendang yang basah dengan air mata. Ardha hanya meneteskan air mata dalam diam, menyaksikan kepergian yang begitu indah.
Saat malam tiba, terlihat sebuah nyala obor dari kejauhan, dan saat mendekat, terlihat nenek tua yang jalannya masih anggun, dengan membawa obor ditangan kirinya, dan beberapa makanan ditangan kanannya, yang ia bawakan untuk Ayahnya. Ialah Nawangsih, anak dari Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Ia mendapati ayahnya duduk diam diteras rumah, sambil memeluk selendang yang basah dengan air mata. Melihat itu, Nawangsih pun tahu apa yang terjadi, memeluk dan mencium kening ayahnya yang sudah mulai dingin. Ardha melihat dari jauh, dan pergi menghilang di kegelapan malam.
Tamat...
Other Stories
Devils Bait
Berawal dari permainan kartu tarot, Lanasha meramal kalau Adara, Emily, Alody, Kwan Min He ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...
Tessss
pengaplikasian doang ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Kota Ini
Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...