Chapter 2: Seperti Baru Belajar Jadi Manusia
Bertahun-tahun kemudian, Ardha sudah memutuskan menetap disebuah tempat, karena dia menemukan seseorang yang benar-benar membuat hatinya selalu berdebar. Suatu sore ia berjalan menyusuri jalanan desa, menuju sebuah gubuk sederhana, milik sang Belahan Jiwa. Dia kemudian mengingat-ingat saat pertama kali bertemu, rasanya baru sebentar padahal sudah setahun lebih, mungkin hampir 2 Tahun.
Saat itu Ardha Melewati sebuah hutan rindang, matahari bahkan sulit menembus dedaunan, Ardha lihat sesuatu yang seperti bercahaya melintas tiba-tiba. Dia pun membuntuti sesuatu itu, lalu lihatlah dia seseorang wanita, anggun rupawan berjalan sendirian di hutan, ditemani berbagai hewan disampingnya. Ia tampak mengobrol dengan hewan-hewan itu. tak lama...
"Keluarlah, aku tahu kamu sembunyi disana" saut wanita itu tiba-tiba.
Ardha kaget dan langsung berdiri, dia tidak tahu bagaimana dia ketahuan, padahal dia sangat ahli sembunyi, seolah para binatanglah yang memberitahunya. Jantung Ardha berdebar debar seketika, gugup tak tahu cara menjawab, dan langsung salah tingkah.
Sang Wanita itu pun menyebutkan namanya dulu, sebagai bentuk rasa percaya "Aku Sekar Sari, kamu siapa wahai Pengembara?"
"A...aku Sekar Ardha, ahhh maksudku aku Ardha, pengembara yang kebetulan saja melintas" saut Ardha dengan gugup.
"Tidak ada yang namanya kebetulan, Ardha. Semesta memang sudah menunjukkan jalannya" jawab Sekar Sari dengan tenang dan menenangkan.
merekapun lanjut bercakap cakap...
Beberapa hari berlalu, Ardha tidak bisa menahan dirinya untuk terus menemui Sekar Sari.
Yang Ardha suka dari Sekar Sari ini adalah bahwa dia kelihatan sangat polos seperti baru saja lahir, tidak tahu banyak hal, dan bahkan kadang tidak tahu dirinya dibohongi. Tapi Ia juga nampak selalu menghargai hal hal kecil seperti takjub saat melihat orang saling tertawa, dan memandangi anak-anak desa bermain lama sekali.
Suatu hari, Ardha mengajarinya menangkap dan memasak ikan, Sekar Sari sampai menangis saat ikannya tertangkap dan dibunuh demi mengenyangkan perut mereka. Ia berkali-kali meminta ampun kepada ikan yang sudah matang terpanggang itu.
Tak lama, langit menurunkan hujan, seolah dewa mau supaya mereka bisa dekat lebih lama hari itu, mereka berteduh dan makan ikan bakar bersama, tetap dengan ekspresi Sekar Sari yang kasihan saat memakan ikannya. Seluruh kepolosannya seolah tak ada habisnya menghibur Ardha, dia tidak pernah melihat manusia seperti itu sebelumnya, seolah-olah... dia bukan manusia. Ardha merasakan kedalaman yang sulit dijelaskan dari Sekar Sari.
Sekar Sari juga tak pernah melepas Artefak kuno berupa Arloji dari pakaiannya, benda yang bahkan belum ada dan belum ditemukan di Dunia. Ardha pun bertanya mengenai benda apa itu kepada Sekar Sari namun hanya mendapat jawaban singkat dan pelan "ini hanya pengingat". Ia tidak mau bicara lebih jauh mengenai Benda asing itu, nada bicaranya juga berubah, seolah itu adalah hal tabu.
Kembali ke masa sekarang, saat Ardha sampai digubuk Sekar Sari, terlihat tidak ada orang sama sekali, hanya ada banyak sekali benda perintilan hasil dari rasa penasaran, seperti Gasing, mainan kereta Kuda, bahkan Batu dan Ranting kayu yang bentuknya agak unik pun dikoleksi. Entah kemana perginya wanita itu, Ardha pun menunggu didepan gubuk, sampai ketiduran. Sepertiga malam terakhir, Sekar Sari memegang wajah Ardha yang tertidur lelap, membangunkannya dan mengajaknya kedalam agar tidak kedinginan. Setelah memberikan segelas air hangat, Sekar Sari bilang:
“indah ya menjadi manusia, tidak seperti burung yang hanya makan cacing dan biji-bijian, tidak seperti ikan yang setiap hari berisiko dimakan, atau tidak seperti harimau yang ditakuti. Aku harap kita bisa lebih lama disini” katanya dengan suara yang sendu di awal, lalu diakhiri nada yang sedikit melengking untuk memberi semangat.
Ardha hanya diam saja melihat tingkah dan perkataannya.
Berganti hari, sikap Sekar Sari juga makin aneh, dia sering melihat Arloji nya, padahal sama sekali tidak sinkron dengan pergerakan matahari maupun bulan. Sekar Sari juga makin sering menghilang tanpa kabar, dan kembali setelah beberapa waktu, paling parah bahkan sampai seminggu hilang, seminggu yang seperti bertahun-tahun bagi Ardha, padahal baginya waktu biasanya terasa sangat cepat karena Karunia Umur Panjangnya.
Dia pun teringat pelajaran dari Kisah Jaka Tarub sebelumnya, dimana Kejujuran adalah yang utama.
Ardha mencoba membuat Sekar Sari terbuka padanya, bahkan mengungkapkan tentang dirinya yang Berumur Panjang, tapi hampir tak ada balasan dari Sekar Sari. Sekar Sari jadi sering terlihat menatap langit, bukan tatapan rindu, bukan juga tatapan penasaran, melainkan tatapan seperti penuh harap. Ardha merasa sudah melakukan apapun namun Sekar Sari masih saja tertutup, tidak mau bicara apapun. Egonya Ardha pun pada akhirnya menguasai. Dalam hati, dia berucap "jika ia tak bisa jujur padaku, apa iya dia menginginkanku? apakah ini upayanya untuk menjaga jarak dariku?". Pikiran dan pertanyaan yang tak dapat jawaban itupun akhirnya berbuah ketidakpercayaan.
Akhirnya Ardha berupaya untuk mengikat Sekar Sari agar jadi miliknya. Ardha membuat janji bertemu disebuah bukit, dibawah Pohon yang selalu digunakan Sekar Sari untuk bengong memandangi segalanya. Sekar Sari tidak tahu rencana Ardha, dan hanya mengangguk, bahkan menitipkan Arlojinya ke Ardha. Saat hari itu tiba, Ardha seperti biasa tiba sendirian lebih dulu, sembari berlatih sebentar untuk mengungkapkan niatnya menjalin hidup dengan Sekar Sari. Ardha menunggu, Menit menjadi Jam, tak lama Siang menjadi malam, tiba-tiba matahari sudah terbit lagi.
Di hari kedua, Ardha mulai cemas dan berfikiran yang macam-macam, namun tetap teguh ditempat. Hari ketiga, Ardha sudah putus Asa, selama 3 hari dan tak mendapat kabar apa-apa, tak ada yang datang, Ardha pun pergi dengan sangat-sangat kecewa. Padahal sebelumnya dia bisa menunggu seminggu lebih, namun kali ini sudah seperti konfirmasi baginya karena mereka sudah ada janji, namun Sekar Sari memang seperti tidak berniat menepatinya.
Satu langkah terakhir, dia pergi ke gubuknya untuk memastikan. Digenggamnya Arloji yang dititipkan padanya, sebagai harapan terakhir. Namun, Ardha menemukan gubuknya kosong, semua barang sudah tidak ada, semakin yakinlah dia bahwa Sekar Sari memang kabur darinya. Marah, Jantungnya yang terus nyut-nyutan membuatnya tak terkendali lagi. Dibantinglah Arloji itu ke tanah dan pergilah Ardha dari desa itu, berfikir bahwa tidak ada lagi alasan untuk menetap.
Other Stories
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...
Kukejar Impian Besarku
Ramon, Yongki,Dino,Jodi,Eka adalah sekumpulan anak band yg rutin manggung di sebuah cafe d ...
Pintu Dunia Lain
Nadiva terkejut saat gedung kantor berubah misterius: cat memudar, tembok berderak, asap b ...
Se-birru Langit. Se-bening Embun
Liburan—antara tawa dan air mata. Birru dan Bening, saudara kembar yang harus berpisah s ...
Sudut Pandang
Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...
Dentistry Melody
Stella ...