Desa Ria

Reads
37
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis AhmadZ

Chapter 3

Waktu itu tepat jam sebelas ketika kami(atau mereka lebih tepatnya) selesai bermain game di ruang tengah. Serentetan kejadian siang tadi masih menggangguku, membuatku terlalu tegang untuk bisa bermain game. Waktu kucoba ceritakan pada keempat temanku tentang apa yang kualami, mereka hanya tertawa dan menganggap aku terlalu banyak berkhayal.

“Patah hati boleh Bar, tapi kalo udah nyampe halu, beh… udah bahaya itu,” kata mereka sambil terus cekikikan.

Sedangkan aku sendiri juga bingung bagaimana mau membuktikannya.

“Lu pada tau darimana dah ada desa di tengah hutan begini? Dari tadi gua cari di google kagak nemu,” kataku berusaha menggali informasi. Dari tadi aku memang sibuk mencari informasi tentang desa ini, tidak kutemukan desa bernama “Desa Ria” yang terdaftar di data pemerintahan kota kami dan kota-kota tetangga.

“Ini yang namanya hidden gem Bar, informasinya cuman nyebar di tongkrongan, makanya tempatnya masih asri,” Bagas menjelaskan.

Dan itulah percakapan terakhir kami malam itu. Tidak lama setelahnya kami langsung bubar kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Walaupun enggan, aku tidak punya pilihan selain ikut kembali ke kamarku.

Kubaringkan tubuh di lantai beralaskan selimut sambil menutup wajah dengan bantal, yang keduanya kubawa dari rumah. Tubuhku menolak untuk bersentuhan dengan perabotan di villa ini, seluruh benda yang ada di tempat ini membuatku tak nyaman. Kedengaran aneh sekali memang, tapi rasanya mereka seperti sedang mengawasiku. Ini pertama kalinya aku benar-benar merasa “ditatap” oleh barang.

Walaupun hari sudah hampir tengah malam, suasana di luar masih kedengaran berisik, yang tentunya sama sekali tidak menenangkanku. Di Kejauhan, sayup-sayup terdengar gemuruh tawa penduduk desa yang entah sedang menertawakan apa. Tidak terdengar suara musik ataupun bunyi-bunyian pesta, bahkan sekedar suara percakapan pun tidak ada. Tawa mereka persis seperti tawa di drama televisi “Bajaj Bajuri” yang diulang-ulang terus menerus.

Kupejamkan mataku dalam-dalam sambil berusaha untuk tidur dan mengacuhkan semua itu. Tidak kurang dari setengah jam aku mencoba tidur dan tetap tidak berhasil. Suara ribut di luar membuatku terbayang akan wajah Bang Arya, Risa dan para penduduk desa yang menyeringai memandangku dengan mata melotot.

Semakin lama kudengar, semakin dalam bayangan itu menghantui pikiranku. Sedemikian parahnya sampai-sampai membuatku meringkuk menarik-narik rambutku sendiri. Batinku berteriak memohon agar suara itu berhenti. Lalu…

Tap

Hening.

Suara-suara itu menghilang, bahkan sampai suara jangkrik pun tidak lagi terdengar.

Keheningan yang tiba-tiba itu sontak membuatku membuka mata. Aku sedikit menoleh ke arah jendela, berusaha mendengarkan dengan lebih seksama.

Satu menit, dua menit, suara itu tak lagi kunjung terdengar.

Perlahan, dengan gerakan yang amat hati-hati, aku duduk dan bersiap untuk bangkit melihat ke luar.

Belum sempat aku berdiri sepenuhnya, suara itu mendadak kembali lagi, diikuti dengan bebunyian khas malam lainnya.

Aku terdiam di tengah posisi antara duduk dan berdiri. Kubaringkan kembali badan dengan gerakan yang sangat-sangat lambat, lalu kupaksakan mataku untuk menutup. Sudah cukup untuk semua ini, aku sudah lelah sekali, terserah aku mau dimakan atau dihantui apapun, aku sudah tidak peduli lagi.

Tanpa merubah posisi, kuambil dua lembar tisu dari dalam tas ranselku, kemudian kugulung sampai jadi bola dan kusumbatkan ke telingaku. Kembali dikelilingi oleh keributan di luar membuatku sedikit merindukan keheningan yang baru saja menghilang.

Tap

Dunia kembali hening.

“Tisu ini bekerja baik sekali… yap, pasti itu…” ucapku dalam hati.

Esok pagi, aku benar-benar harus pulang apapun caranya.


***


Nampaknya, ayam pun enggan berkokok pagi ini. Yang membangunkanku justru adalah suara teman-temanku yang sudah cekikikan di ruang tamu. Dari apa yang kudengar, sepertinya mereka kembali bermain game di sana.

Tidur dengan pikiran yang panik membuat kepalaku serasa habis ditendang kuda. Mimpi buruk berkali-kali membuatku tersentak dan terbangun, membuat tidurku sama sekali tidak berkualitas. Seluruh badanku pegal dan rasa lelahku sama sekali tidak hilang, malahan mungkin bertambah.

Aku memijat-mijat dahi untuk mengusir rasa pusing dan kantuk. Setelah mencuci muka, kuambil roti dan air mineral dari dalam tas, lambungku sudah berteriak keras sejak bangun tadi. Semalam aku sepenuhnya lupa untuk makan, minum pun tidak. Tidak sampai semenit, roti itu sudah ada di dalam perutku. Kutenggak air mineral sampai kisaran setengah botol, lalu kumasukkan kembali ke dalam tasku.

Kubereskan semua barang-barangku ke dalam tas dengan sangat tergesa, sampai-sampai beberapa barang jatuh dari tanganku. Kutarik resleting di atasnya lalu kusandang tas ransel itu ke bahu. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, aku segera pergi ke ruang tamu.

Begitu tiba di ruang tamu, kulihat mereka yang masih asyik bermain game dan saling bercanda satu sama lain. Setelah berdiri sebentar, kuputuskan untuk duduk di atas lantai tidak jauh dari mereka. Permainan sedang sengit-sengitnya ketika aku tiba, Andi dan Roby yang sedang sengit memperebutkan gelar juara masih terkunci pada posisi seri. Agak bodoh memang, tapi aku tidak enak hati mengganggu permainan mereka yang sedang seru-serunya.

Sementara menunggu mereka bermain, kusapukan pandanganku ke sekeliling ruangan. Dari meja tamu, meja makan, wastafel, sampai di lantai dapur, tidak kutemukan bekas atau tanda-tanda mereka sudah makan. Kudapan yang tersusun di atas meja tamu yang berada tepat di depan mereka juga tidak tersentuh. Seingatku, kemarin malam juga mereka tidak ada yang kelihatan makan. Apa mereka makan di luar?

“Gas, lu pada udah pada sarapan belom?”

Bagas hanya diam tidak menjawab, matanya masih terpaku pada layar televisi di depan.

Setelah hampir sepuluh menit, Roby pun memenangkan permainan melalui adu tendangan penalti. Tanpa banyak babibu, mereka mematikan konsol game dan televisi dengan mencabut colokan stop kontak yang ada di dinding, lalu bangkit membereskan perkakas konsol game di depan mereka. Melihat semua itu membuatku lumayan kebingungan, biasanya setelah duel sengit seperti ini, mereka akan saling mengejek dan minta tanding ulang, tidak biasanya mereka anteng seperti ini.

Tiba-tiba Roby membuka percakapan, “Bar, kita pada mau mandi ke danau nih, lu ikut gak??”.

Aku yang sudah berdiri memikul tas ransel dan siap pulang melongo, tidak percaya pada apa yang kudengar.

“Yaelah Bar bentar doang kenapa sih?” Andi ikut menimpali.

Aku tidak tahu apa yang membuat mereka merasa bahwa mengajakku ke danau merupakan ide bagus. Sudah berkali-kali kuceritakan pada mereka kenapa aku paling anti dengan danau. Apa jangan-jangan mereka ingin melakukan semacam terapi mandiri untukku? Atau ini cuma candaan kurang ajar mereka yang lainnya? Mau yang manapun juga, aku tidak punya waktu dan terlalu lelah untuk itu.

“Ini gua mau dianter pulang gak nih?? Kalo kalian bener mau ke danau, biar gua pulang sen– “ sebuah kemungkinan mengerikan hinggap di pikiranku.

“Malam tadi makan apaan lu pada…??” Tanganku mulai berkeringat, aku menatap mereka dengan tajam.

Ruangan lengang, tidak ada satupun dari mereka yang menjawab.

“Emang lu mau ngap–”

“Ndi, coba makan itu nastar” aku menunjuk toples nastar yang ada di atas meja di depannya.

“Gua ud–”

“BURU!!” aku mulai tidak sabar.

Andi pun membuka toples yang ada di depannya dan memungut isinya. Dengan jempol dan jari telunjuk tangan kanannya, dia memasukkan nastar itu ke dalam mulutnya.

Peluh sebesar biji jagung mengalir di dahiku.

CAP CAP CAP

Dia mendongak, kepalanya bergerak maju mundur. Suara kerongkongannya yang melumat nastar bergema ke seluruh ruangan. Wajahku pias mendengarnya.

Detik berikutnya, secara bersamaan, Andi, Roby dan Taufan memalingkan wajah mereka dengan sangat cepat ke arahku. Kemudian mulut mereka membuka dengan sangat lebar, hingga ujung hidung mereka menunjuk langit dan dagu mereka menyentuh leher.

Dari kerongkongan mereka yang sekarang terlihat jelas, keluar asap putih berbau manis permen kapas yang sangat menyengat. Asap itu terus menyembur hingga memadati seluruh ruangan. Dari balik kepulannya, aku menyaksikan dengan ngeri bagaimana badan mereka melebur menjadi satu, membentuk gumpalan daging mengerikan dengan lengan dan kaki yang mencuat ke segala arah. Tepat di tengah gumpalan itu, potongan wajah mereka bertiga bercampur tak beraturan, mulut, hidung, mata, alis, telinga, semuanya tumpang tindih tak karuan.

Melalui tiga mulutnya, makhluk itu berbicara dengan suara yang bergema sampai ke kepalaku.

“KALAU BEGINI, KAMU SUDAH SENANG ATAU BELUM…??”

Aku mengerang dan terjatuh ke lantai, tak pernah kubayangkan hidupku akan jatuh pada skenario bak film horor seperti ini. Sedetik kemudian, insting bertahan hidup kembali menyambar seluruh jaringan saraf di sekujur tubuhku, kupaksakan tungkai yang lemas untuk bergerak, bagaimanapun caranya aku harus keluar dari tempat terkutuk ini.

Aku meringis ngeri mendengar suara makhluk itu yang menyeret badannya maju mengejarku. Aku berlari setengah merangkak, berusaha mati-matian mencapai pintu. Masa bodoh soal tas ranselku yang tertinggal, nyawaku jauh lebih penting dari seluruh barang yang ada di dalam sana. Begitu aku hampir mencapai pagar depan, Bagas menarikku masuk ke dalam mobil. Kuhempaskan pintu mobil itu ke dalam saat menutupnya, “JALAN!!! JALAN!!!” aku berteriak-teriak memerintah tidak sabar.

Hatiku lega bukan main ketika mendengar suara mesin mobil yang mulai jalan. Seluruh warga desa memandangi mobil kami yang melintas dengan kecepatan penuh, tentunya masih dengan cengiran gila mereka. Saat kami telah melewati gapura desa, aku baru bisa melonggarkan kewaspadaanku, kubiarkan bahuku tenggelam dalam empuknya sandaran jok mobil.

“Gua cuma bisa nganter sampe jalan gede Bar, gua mau balik lagi nyari anak-anak, gak enak hati gua ninggalin mereka” Bagas menjelaskan. Aku mengangguk maklum.

Aku merogoh-rogoh saku celana mencari ponsel, “sebelah kanan” Bagas memberi tahu. Benar, syukurlah ponselku tidak jatuh setelah rentetan kejadian histeris tadi.

Sekarang siapa? Siapa yang bisa kuhubungi…? Polisi? Tidak, mereka tidak akan percaya. Ayah? Rasanya juga dia tidak akan percaya, tapi aku bisa memaksanya untuk menjemputku, biasanya dia juga tidak akan bertanya alasannya.

Kutekan icon wajahnya yang ada di layar. Layar ponselku menunjukkan kata “berdering” untuk beberapa saat. Tidak diangkat. Aku kembali memanggil berkali-kali, masih tidak diangkat. Sialan, apakah si tua bangka ini tidak bisa memilih waktu yang lebih tepat untuk bersikap menyebalkan?

Aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal. Siapa lagi yang bisa kuhubungi? Tante sedang ada di luar negeri, Kakek masih di rumah sakit. Ah iya, pak Kasman jam segini pasti sedang bersih-bersih rumah, harusnya jika aku memanggil telepon rumah, dia pasti akan mengangkatnya. Yang jadi masalah sekarang adalah aku tidak menyimpan nomor telepon rumah di ponselku. Seingatku aku mencatat nomor itu di buku catatan sakuku, sayangnya buku itu tertinggal bersama tas ranselku di vila.

Brak…

Tas ransel dilemparkan ke arahku dari samping.

Tas ranselku yang tadi tertinggal di villa.

Mataku melotot melihat benda yang sekarang berada di atas pangkuanku. Aku yakin seratus persen tidak mungkin ada kesempatan untuk mengambilnya. Terakhir kulihat, ranselku ini tergeletak tepat di samping kaki makhluk itu.

Begitu aku ingin berpaling untuk bertanya, Bagas sudah menyambutku dengan cengiran gilanya. Aku mengerang tertahan sambil menggedor-gedor pintu mobil dengan keras.

GEDUBRAKKK….!!!!

Pintu mobil terbuka, aku jatuh menggelinding di atas permukaan aspal. Ajaibnya, aku tidak terluka sama sekali, lecet pun tidak, hanya bajuku yang sedikit kotor karena debu dan tanah jalanan.

Tanpa melihat ke belakang, aku berlari menjauh dari jalan raya sambil memeluk tas ranselku di depan dada. Aku tidak tahu sudah seberapa lama atau seberapa jauh aku berlari, kini aku memasuki area hutan dengan banyak batuan besar. Di balik salah satu batu besar, aku berlindung sambil kembali mengatur nafas.

Nomor, aku harus mencari nomor telepon rumah. Di mana aku menyimpannya? Kantong depan? Tidak ada. Di kantong samping kiri? kanan? juga tidak ada. Sekarang tinggal di kantong utama, kubongkar barang-barangku seperti tikus tanah yang sedang menggali lubang. Tanganku terus mengacak-acak barang, sambil mataku fokus mencari buku catatan seukuran telapak tangan itu.

Saat tanganku tengah sibuk mencari, tiba-tiba aku dikagetkan dengan sensasi lembap yang menyentuh ujung jariku. Refleks aku menarik tanganku dari sana. Kujulurkan kepala ke dalam tas untuk melihat ke dalamnya dengan lebih jelas.

Nafasku tertahan, wajah pak Kasman menyembul dari balik tumpukan barang.

“SAYA DATANG DEN…. SAYA DATANG DEN… SAYA DATANG DEN…” ucapnya seraya terkekeh dan tersenyum lebar. Kepalanya bergerak-gerak berusaha memanjat keluar.

Aku berteriak sejadi-jadinya, kutendang tas itu ke depan sampai barang-barang di dalamnya berhamburan. Kupaksakan diri untuk kembali berlari walau kakiku rasanya sudah mau lepas. Aku berlari tunggang-langgang ke sembarang arah, sesekali aku terantuk bebatuan dan akar yang menjalar di tanah.

Suara tawa keras menggema di atas kepalaku. Gulungan awan di langit membentuk ratusan wajah mengerikan yang terbahak, menertawakanku yang kini berlari sambil menutup telinga dengan tangan. Semakin lama, awan-awan itu semakin dekat. Sedemikian dekatnya sampai seakan langit sebentar lagi akan runtuh menimpaku.

Penyesalan yang teramat dalam menghantam dadaku, kalau entah bagaimana caranya nanti aku bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, aku tidak akan ikut trip semacam ini lagi seumur hidupku.

Di tengah pelarian tak tentu arah yang sangat melelahkan itu, tiba-tiba aku sampai pada sebuah kesimpulan tidak waras, yang tentunya langsung disangkal keras oleh akal sehatku. Namun, sekarang benar-benar tidak ada lagi yang bisa kulakukan, hanya ini satu-satunya jalan keluar yang terpikirkan olehku. Sudah cukup tempat ini mempermainkanku, tidak akan kubiarkan mereka mengacak-acak pikiranku seenaknya lagi.

Saat aku bersiap ingin mengubah arah lariku, tanpa kusadari aku sudah berada di tepi danau. Terserahlah, yang penting sekarang aku sudah ada di sini. Aku menarik nafas panjang, ada rasa ragu yang berusaha menahanku agar tidak melakukan hal ini, “anggap saja belajar berenang” gumamku. Kupejamkan mata dalam-dalam, lalu…

BYURRRRRR!!!!!

Dinginnya air danau menusuk sampai ke sumsum tulangku, kubiarkan tubuhku tenggelam ditelan permukaan air berwarna biru toska. Saat air mulai memasuki saluran pernafasanku, tanganku mulai mencakar-cakar mencari pegangan. Setelah hampir putus asa, kakiku secara otomatis menendang ke atas dan ke bawah secara bergantian, membuat badanku mengambang ke permukaan.

Sekali lagi, aku tidak bisa berenang dan tidak pernah belajar berenang sebelumnya.

Kukencangkan seluruh otot di tubuhku untuk memaksa badanku diam tak bergerak. Rencana ini tidak akan berhasil kalau aku malah mengambang seperti ini. Kembali kupejamkan mata kuat-kuat dan kubiarkan badanku tenggelam ke dalam air. Kuacuhkan sensasi terbakar yang menusuk dari hidung hingga ke paru-paru. Tekanan air membuat kepalaku terasa seperti ditindih kaki gajah. Perlahan, kesadaranku mulai buyar.

Dengan pandangan yang semakin buram, di kejauhan kulihat siluet seorang wanita tua yang turun menghampiriku.

Sosok yang aku hafal mati tentang tiap detailnya. Sosok yang sering kulihat dalam mimpi dan membuatku terbangun dengan mata sembab.

Ibu…

Dia mengulurkan kedua tangannya seolah ingin menangkapku. Aku tidak dapat menahan keinginan untuk meraih tangannya, tanganku bergerak ke depan dengan sendirinya. Siap menyambut harapan semu yang ingin memelukku.

Begitu sosok itu mendekat, seluruh harapan itu pupus seketika. Bukannya disambut dengan wajah teduh Ibu, aku malah disambut dengan wajah biru bengkak yang menyeringai bagai iblis.

Kutepis uluran tangan makhluk itu.

Beberapa detik setelahnya, punggungku telah menyentuh tanah berlumut yang ada di dasar danau.

Kurasakan dunia menjadi semakin sunyi di sekelilingku.

Gelap.


***


Bunyi sirine mobil ambulan membuat kesadaranku perlahan pulih. Badanku yang basah kuyup menggigil diterpa hembusan semilir angin. Suara gemerincing peralatan medis bersahut-sahutan dengan gemuruh riak air danau. Aku berbaring di belakang mobil ambulan yang sedang sibuk oleh lalu lalang petugas medis, di atas sebuah kasur yang sangat tipis sampai aku bisa merasakan rangka di bawahnya.

Tidak jauh dari tepian danau, kulihat mobil Volkswagen kodok berwarna perak yang biasa mengantarkanku ke sekolah dulu. Seorang pria paruh baya turun dari mobil itu dengan sebuah tongkat untuk menumpu beban tubuhnya.

Dengan langkah terpincang-pincang, dia membelah kerumunan perawat yang baru selesai menyemprotkan sesuatu ke dalam lobang hidungku menggunakan alat mirip inhaler. Salah seorang petugas medis yang usianya lebih tua mengelus pundak pria tua itu. Walau mereka agak jauh, aku bisa membaca gerak bibir petugas medis itu, “Sabar pak” katanya.

Guratan wajah pria paruh baya itu mengisyaratkan kelelahan yang amat sangat, kerutan di wajahnya semakin bertambah banyak selama beberapa minggu ini. Dapat kucium bau tembakau yang sangat kuat saat ia mendekat ke arahku, dipeluknya aku tanpa peduli pada bajunya yang ikut basah karenanya.

“Nak, sudahlah… lepaskan saja… relakan…. Kita harus bergerak maju Nak, gak ada yang berubah dengan kamu begini,” badannya mulai bergetar menahan isakan, tidak kusangka pria tua yang keras kepala ini bisa begini juga. “Bapak sudah lelah nak, sangat-sangat lelah…. Maaf kalau bapak kurang punya waktu buat kamu… Tapi tolong… Tolong bantu Bapak….”

Pelukannya semakin erat, setitik bulir air mata mengalir dari sudut matanya, lalu jatuh ke atas pipiku. Aku sudah lupa kapan terakhir kali dia perhatian seperti ini.

Gulungan awan di langit bergerak memutar, membentuk sesosok wajah yang menatapku dari kejauhan. Tidak, wajah itu tidak tersenyum kali ini. Malah justru sebaliknya, wajahnya mendung dengan bibir ditarik ke bawah. Perlahan sosoknya buyar bersamaan dengan beban berat yang ada di dadaku. Tetesan rintik air hujan turun satu persatu, lalu berubah menjadi gerimis sendu yang dihiasi dengan garis-garis cahaya temaram.

Kubalas pelukan ayahku yang masih sesenggukan, kurengkuh badannya yang sudah renta di makan umur.

“Barry yang harusnya minta maaf pak….”



Selesai







Other Stories
Susan Ngesot Reborn

Renita yang galau setelah bertengkar dengan Abel kehilangan fokus saat berkendara, hingga ...

KEDUNG

aku adalah dia yang tertutup ...

Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Warung Kopi Reformasi

Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...

Sudut Pandang

Hidup terasa sempit?Mungkin bukan masalahnya yang terlalu besar,tapi carapandangmu yang te ...

Download Titik & Koma