Desa Ria

Reads
37
Votes
0
Parts
4
Vote
Report
Penulis AhmadZ

Chapter 2

Setelah pembagian kamar disepakati, aku pergi merapikan barang-barangku sambil terus berusaha mengacuhkan fakta bahwa kamar yang kutempati sekarang benar-benar terlihat seperti versi upgrade dari kamarku di rumah. Biasanya tiap kali aku merebahkan diri di kamarku, aku selalu membayangkan berbagai “seandainya”, “seandainya kasurku merk Olympia”, “seandainya lemariku lebih besar”, “seandainya kamar mandiku ada di dalam”, dan berbagai macam “seandainya” lainnya yang bisa kubayangkan tentang kamar itu. Semuanya sekarang terwujud melalui kamar vila ini. Semuanya tanpa terkecuali. Bahkan yang aku hampir tidak ingat pun.

Hatiku kemudian tergelitik untuk melihat ke kamar mandi dalam yang ada di kamar ini. Aku melangkah ragu, dapat kurasakan debaran pelan jantungku dari balik kaos bola pasaran yang melilit badanku.

Krieeeetttt…..

Pintu itu kubuka, dan lagi-lagi aku dibuat terdiam. Dari dulu aku tidak pernah terbiasa memakai toilet jongkok. Karenanya aku sering bercanda, kalau nanti punya rumah akan kubuat toiletnya punya dua jamban tanpa sekat, satu toilet duduk dan satunya lagi toilet jongkok, “kalau lagi kebelet banget bisa berak multiplayer”. Candaan itu tidak terlalu lucu lagi sekarang. Toilet dua jamban tanpa sekat itu sekarang terpampang jelas di hadapanku. Keramiknya yang berwarna biru muda juga sama persis dengan yang ada di toilet rumahku.

Dengan rasa penasaran masih menggebu di dada, aku kembali melangkah cepat membuka pintu kamar mandi yang tepat ada di sebelahnya. Sekilas tidak ada yang aneh memang, tapi mataku langsung tertuju pada botol sampo bermerek “Life-fresh” yang berdiri tegak di dalam rak peralatan mandi, seakan sedang menunggu kedatanganku. Seingatku, terakhir kali aku memakai sampo ini kisaran lima tahun lalu, pabriknya sudah tutup jauh lebih lama lagi.

Tanpa sadar, tanganku sudah bergerak untuk mengambil botol sampo itu. Kubolak-balikan botolnya dengan cepat, bawah, atas, samping, depan, sampai belakang, tidak kutemukan tanggal produksi maupun tanggal expirednya. Aku juga tidak ingat model yang ada di depannya tersenyum selebar ini, dia menyeringai dengan mata melotot. Entah emosi macam apa yang ingin brand ini sampaikan dengan ekspresi ganjil seperti itu.

Kuletakkan kembali botol sampo itu ke dalam rak peralatan mandi, kali ini dengan amat perlahan.

“BARRR!!! INI KITA PADA MAU KE DANAU!!! IKUTAN GAK LOOOO!!!!???” Seruan Roby dari luar membuatku terperanjat, terdengar samar suara mereka yang menyiapkan barang sambil cekikikan di luar. Aku jadi sedikit kesal dan tersinggung mendengarnya, bukannya mereka tau aku paling anti dengan danau?

“SKIP, SKIP!!!! GUA GAK IKUTAN!!!!” jawabku ikut berteriak.

Hanya berkisar beberapa detik sebelum akhirnya suara mereka di luar sudah tidak lagi terdengar. Cepat sekali.

Aku kembali ke kamar dan duduk sendirian di atas kasur. Jujur aku ingin sekali tidur dan melupakan semua kejanggalan ini, tapi sesuatu dalam diriku menolak untuk tidur sendirian di vila ini. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan-jalan cari angin keluar. Mumpung sedang ada di lingkungan hijau asri seperti ini, hari juga sudah tidak terlalu panas sekarang.

Namun, baru beberapa menit berjalan keluar dari vila, sesuatu yang tidak kalah aneh kembali menggangguku. Mungkin pikiranku sudah benar-benar terganggu sekarang, bisa-bisanya aku was-was karena bau permen kapas.

Sebenarnya aku sudah mencium bau ini sejak turun dari mobil tadi. Awalnya kukira bau ini hanya ada di sekitaran vila, semacam parfum ruangan yang terlampau kuat. Namun, sekarang kemanapun aku berjalan, bau itu seakan ada di semua tempat, kuat sekali seakan ada di depan hidung. Sekarang aku jadi gusar tidak karuan karena hal-hal yang sebenarnya aku juga tidak tau apa ini, dari vila, kamar, sampai bau tidak jelas ini sebagai puncaknya.

Kuatur nafas sebisaku untuk menenangkan diri. “Baunya nempel waktu duduk di kasur tadi paling,” “Wc dua begitu di bandara juga ada,” “Selera gua kayaknya bagus buat jadi arsitek, salah jurusan nih masuk Teknik, harusnya mah masuk arsitektur,” gumamku dalam hati, masih berusaha menenangkan diri.

Teriknya matahari dan segala kegusaran yang tidak masuk akal tadi membuat tenggorokanku kering. Kepalaku celingak-celinguk mencari warung untuk membeli minuman. Walaupun baru beberapa jam yang lalu tiba, entah kenapa rasanya aku familiar sekali dengan desa ini. Dengan mudah kutemukan warung madura di salah satu perempatan setelah melewati dua gang sempit.

Aku langsung membuka kulkas warung itu dan mengambil minuman dingin sambil merogoh uang saku dari kantong celana. Begitu ingin membayar, aku kaget setengah mati mendapati pamanku duduk di belakang meja kasir. Dia duduk tegak dengan wajah berseri, senyuman lebar di wajahnya sangat kontras dengan perangainya dalam ingatanku.

“Ba..bang Arya… kok bisa ada di sini??”

“Barry!! kebetulan sekali ya, dunia memang sempit” ucapnya sambil terkekeh.

Aneh. Gaya bicaranya aneh. Bahasa tubuhnya terlampau kaku. Paman Arya adalah tipikal paman gaul yang bahkan tidak mau dipanggil “paman”, sekarang dia berbicara seperti bapak Edi rektor kampusku. Lalu yang paling aneh dari semua ini, adalah Paman Arya yang seharusnya masih mendekam di penjara karena berkelahi di jalanan. Aku masih ingat waktu aku sekuat tenaga menahan air mata saat melihatnya di bawa ke mobil polisi. Paman Arya adalah satu-satunya keluargaku yang bisa kuajak bicara tentang ibu. Jangan tanya tentang ayahku, aku lebih sering bertemu kucing tetangga daripada bapak-bapak gila kerja itu.

“Ini… abang lagi kabur apa gimana…?” Tanyaku hati-hati.

Mendadak senyumnya hilang, wajahnya mengeras dan matanya melotot. Aku langsung mundur waspada. Sedetik kemudian, bibirnya kembali tersenyum lebar seperti semula, cengiran gila tak berjiwa. Hanya mulutnya yang tersenyum lebar, matanya melotot seperti orang yang kena cuci otak.

“Paman dapat remisi, jadi bisa keluar lebih cepat” jawabnya ringkas.

Penjelasannya sama sekali tidak menenangkanku. “Kalau dia memang sudah bebas kenapa tidak pulang? Kenapa dia malah jadi kasir warung madura di desa yang entah ada di mana ini? Kalau kabur pun kenapa juga dia malah jadi penjaga warung yang notabenenya akan sangat mengekspos keberadaannya?” gumamku dalam hati.

Pertanyaan itu berputar di kepalaku, membuatku tak tau harus memikirkan yang mana dulu, atau pun apa yang harus kulakukan sekarang.

Kemudian dengan nada suara yang aneh karena berbicara sambil menyeringai, dia melontarkan pertanyaan yang jauh lebih aneh lagi,

“Kalau begini, kamu sudah senang atau belum?...”

Aku hanya diam mematung. Pertanyaan ganjil mendadak darinya kubiarkan mengambang di udara. Pikiranku sedang sibuk sekali sekarang.

Setelah terdiam kebingungan selama beberapa detik, akhirnya kuputuskan untuk berhenti meladeni semua gelagat anehnya itu. Kuletakkan uang di atas meja, lalu mundur perlahan sambil ikut tersenyum kikuk. Kemudian aku balik badan berjalan cepat menuju ke arah villa tanpa menengok ke belakang.

Ketakutan mulai tumbuh dalam diriku, saat kusadari selama aku berjalan menembus kerumunan penduduk desa, tak satu orang pun di sana yang tidak tersenyum. Ekspresi wajah mereka persis seperti Paman Arya, menyeringai lebar dengan mata melotot. Awalnya aku masih bersikeras menganggap kalau aku cuma paranoid dan kurang tidur, tapi setelah sepuluh menit berjalan, aku sadar bahwa aku tidak bisa menipu diriku sendiri.

Semakin lama, langkah cepatku berubah jadi lari kecil, kemudian lari pelan, sampai kini aku benar-benar berlari sekuat tenaga. Walau agak malu karena ketakutan dengan hal-hal yang aku sendiri pun tidak yakin apa, tapi instingku memaksa untuk tetap berlari dan jangan sampai berhenti.

Perhatian seisi desa kini tertuju padaku, semua kegiatan terhenti ketika aku melintas. Walau berusaha untuk tidak memperhatikan, dapat kurasakan tatapan dari seluruh warga desa yang menatapku sambil menyunggingkan cengiran gila mereka. Kutundukkan pandanganku lebih dalam untuk menghindari tatapan mereka, sampai….

BRUK…!!!

Berlari tanpa memperhatikan jalan di depan adalah ide buruk, aku menubruk salah seorang pejalan kaki di depanku sampai kami berdua terjatuh. Begitu aku bangkit untuk kembali berlari, betapa terkejutnya aku mendapati Risa terduduk di tanah tak jauh dariku. “Apa lagi ini…?” tanyaku dalam hati.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah mengambil tangan kiriku dan menyeretku untuk duduk di sebuah bangku yang ada di taman tidak jauh dari sana. Aku yang masih panik gelagapan mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya, tapi kekuatan genggamannya telah mengunci telapak tanganku sepenuhnya. Sentuhan tangannya yang dingin dan lembab membuat sekujur badanku merinding.

Dia mencondongkan wajah bulatnya–yang pernah membuatku jatuh cinta setengah mampus–itu ke arahku, membuatku mati kutu seketika. Badanku bergetar saat bibirnya menyentuh kulit pipiku, rasanya kaku seperti dicium patung lilin dan baal seperti baju belum kering.

“Udah lama ya kita gak ketemu” katanya.

Aku sudah tidak tahu lagi harus apa—takut, sedih, bingung, atau entah apalah juga. Kilasan momen ayah Risa yang memohon setengah mengancam agar aku menjauhi anaknya, bertumpang tindih dengan insting bertahan hidupku yang liar meronta-ronta memaksaku untuk secepat mungkin kabur dari tempat ini.

“Kamu… bukannya udah pindah ke luar negeri? Kok… bisa di sini…?” Tanyaku.

Dia mundur kembali pada posisi duduknya semula. Mata kami bertemu untuk sesaat, tidak kutemukan kehangatan yang membuatku mengemis dulu. Tatapannya terasa tidak hidup, menatapnya seperti menatap lensa kamera, terus merekam, tapi hanya itu, tidak lebih.

‘Tapi lebih bagus kayak gini kan…? Kamu suka kan…?”

Aku diam tidak menanggapi.

Entah bagaimana, di tangan kirinya tiba-tiba ada roti lapis isi selai kacang—kesukaanku, tapi dulu Risa pernah hampir mati setelah mencobanya secuil, alerginya pada kacang tidak main-main.

Sekarang, dia yang duduk di seberangku menggigit roti yang ada di tangannya. Tanpa mengunyah, ia mendongakkan kepalanya, lalu langsung menelan potongan roti itu dengan gerakan peristaltik aneh yang cepat dan berulang, sangat cepat sampai membuat kepalanya bergerak maju mundur. Dapat kudengar suara kerongkongannya yang berbunyi CAP CAP CAP saat sedang melumat potongan roti itu.

Dia menyodorkan potongan sisanya ke depan wajahku.

“Kalau begini, kamu sudah senang atau belum?”

Sudut bibirnya perlahan terangkat, memperlihatkan barisan gigi berwarna putih keras seperti asbes. Matanya membelalak lebar tanpa berkedip, menatap lurus tepat ke arah jiwaku.

Aku benar-benar diam sekarang, bernafas pun tidak berani. Jujur ini adalah sepuluh detik terlama dalam hidupku.

Bau permen kapas semakin kuat menusuk hidungku, sangat kuat sampai membuat hidungku pedas dan mataku berair. Perlahan sudut bibirku ikut terangkat, gigiku mengatup dan kelopak mataku serasa ditarik paksa. Jantungku berdebar kencang sekali sampai dadaku serasa digedor-gedor dari dalam. Pandanganku semakin kabur dan tenagaku terus melemah, aku yakin sebentar lagi aku akan kehilangan kesadaran.

Saat itu kubiarkan insting mengambil alih. Kutarik paksa tanganku dari genggamannya dengan sekuat tenaga, dua jariku bahkan sampai terkilir dalam prosesnya. Sedangkan dia tetap duduk bergeming seakan tak terjadi apa-apa. Kali ini aku benar-benar tidak peduli pada apapun lagi, aku berlari sekuat tenaga seperti orang yang sedang lari dikejar setan. Karena ya memang aku sedang berlari dari setan yang entah itu dari jenis apa.

Sesampainya di depan villa, aku langsung masuk ke dalam mobil dan mengunci pintunya dari dalam. Tanganku liar merogoh saku celana, kuambil ponselku dari sana. Dengan tangan bergetar, aku memesan taksi online untuk segera pergi dari sini. Sialnya, ketika ingin menentukan tempat penjemputan, aku tak dapat menemukan desa ini melalui peta daring. Walau sudah berulang kali menyala-matikan GPS, lokasiku tetap tak kunjung terbaca. Dengan panik aku menekan tombol “cari lokasi” di layar berkali-kali. Tiba-tiba…

BRAKKKKK…..!!!

Aku terperanjat dan melemparkan badanku ke samping.

“NGAPAIN LO DALEM MOBIL BARR!!!???”

Wajah Roby menempel pada kaca jendela mobil yang ada tepat di sampingku. Dia menggedor-gedor pintu mobil sambil cengar-cengir tidak jelas.

Walau agak ragu, kubuka pintu mobil dengan tangan yang masih bergetar. Aku turun dari mobil dengan wajah kusut dan nafas terengah-engah.

“Gua mau pulang” jawabku singkat.

“Hah?? Baru juga nyampe Bar, belum sehari kita di sini” Sahut Andi.

“Gua gak mau tau, gua mau pulang” Tegasku.

“Lu kenapa sih Bar? perasaan aneh banget lu hari ini?” Kali ini Taufan yang menyahut sambil terkekeh.

Menjengkelkan sekali melihat mereka yang masih bisa cekikikan, apa mereka tidak lihat aku sudah compang-camping begini? Tapi di lain sisi aku juga bingung harus menjelaskan apa, aku juga masih tidak terlalu yakin pada apa yang kualami.

“Gini deh Bar, esok kan gua mau belanja barang makanan tuh, sekalian dah gua nganter lu pulang. Gak bisa ngarep ojol kita kalo udah di sini Bar, sinyalnya gak nyampe” tutur Bagas. Walaupun aku benci mengakuinya, tapi penjelasannya masuk akal.

Aku tidak percaya akhirnya setuju untuk tetap bermalam di desa aneh ini. Dengan langkah gontai aku kembali memasuki vila. Badanku merinding menyadari penampakan bangunan yang seakan mengejekku ini berubah lagi, kali ini sebuah kolam ikan seluas 2 x 2 meter muncul begitu saja di dekat tempat mobil kami terparkir. Tak perlu kujelaskan lagi apa saja yang ada di kolam itu, yang jelas, vila sialan ini pasti sedang bermain-main dengan pikiranku lagi.


***





Other Stories
After Meet You

Sebagai seorang penembak jitu tak bersertifikat, kapabilitas dan kredibilitas Daniel Samal ...

Conclusion

Liburan Dara ke kota Sapporo di Hokkaido Jepang membawanya pada hal yang tak terduga. Masa ...

Menantimu

Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...

DARAH NAGA

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Diary Anak Pertama

Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...

Hidup Sebatang Rokok

Suratemu tumbuh dalam belenggu cinta Ibu yang otoriter, nyaris menjadi kelinci percobaan d ...

Download Titik & Koma