Baim Dan Kelapa Yang Masih Puber
Sejujurnya, liburan akhir tahun adalah fase ketika manusia berusaha terlihat bahagia, padahal sebagian besar hanya sedang melarikan diri dari hidupnya sendiri.
Seperti Baim.
Baim sudah merencanakan liburan sejak awal tahun, walaupun kenyataannya rencana itu lebih sering berupa niat yang ditunda-tunda.
Ia ingin liburan yang tenang. Tidak ramai. Tidak macet. Tidak ada orang selfie di sampingnya sambil bilang, “Tolong fotoin ya, kak.”
Baim membayangkan pantai yang sunyi, angin laut yang filosofis, dan dirinya duduk memandang horizon seperti manusia yang sudah selesai memahami dunia.
Masalahnya, Baim pergi saat musim liburan.
Pantai yang ia temui bukan pantai dalam imajinasi eksistensialnya. Pantai yang ia temui adalah pasar malam versi air asin.
Ada anak kecil menangis karena pasir masuk ke minuman.
Ada pasangan yang bertengkar soal angle foto.
Ada pria setengah botak yang marah karena disangka ayah dari anak yang bukan anaknya.
Baim memilih duduk.
Ia membuka buku yang sebenarnya tidak ia baca, hanya untuk memberikan kesan bahwa liburannya intelektual.
Tiga menit kemudian, buku itu dipakai untuk mengipasi wajah.
Sebab matahari akhir tahun memiliki tingkat kebencian yang tidak masuk akal terhadap manusia.
Saat sedang menikmati “kesunyian”, seorang pedagang menghampirinya.
“Bang, mau kelapa muda?”
Baim mengangguk.
Ia membayangkan kelapa muda sebagai simbol kesederhanaan hidup. Airnya jernih, rasanya alami, seperti jiwa manusia sebelum terkena tagihan listrik.
Pedagang itu menyerahkan kelapa.
Baim minum dengan khidmat.
Lalu tersedak.
Ternyata kelapa itu terlalu muda secara mental. Airnya sedikit sekali.
“Bang, ini kelapanya masih puber,” kata Baim pelan.
Pedagang itu tidak menjawab. Mungkin ia sudah terbiasa dengan kritik pelanggan yang merasa ekspektasinya lebih besar daripada isi kelapa.
Malam hari, Baim berjalan di tepi pantai.
Ia berpikir tentang hidupnya.
Tentang pekerjaan.
Tentang rencana yang tidak pernah matang.
Tentang orang-orang yang dulu dekat lalu pelan-pelan menjadi pesan chat yang dibaca tanpa dijawab.
Angin laut meniup wajahnya.
Baim merasa sedikit dramatis.
Ia merasa seperti tokoh utama dalam cerita yang tidak terlalu penting, tapi tetap harus dijalani dengan serius.
Ia mengeluarkan ponsel dan membuka kamera.
Ia ingin mengambil foto siluet dirinya melawan gelap malam, sebagai simbol manusia modern yang tetap mencoba eksis meskipun sebenarnya tidak yakin dengan tujuan hidupnya.
Ia berdiri.
Berpose.
Menarik napas.
Dan pada saat paling heroik dalam hidupnya…
Nyamuk menggigit lehernya.
Baim tidak jadi berpose.
Ia malah sibuk membunuh nyamuk itu dengan ekspresi dendam personal yang sangat mendalam.
Malam itu, Baim sadar satu hal.
Liburan bukan tentang menemukan kebahagiaan.
Liburan hanyalah jeda singkat agar manusia punya tenaga kembali untuk pura-pura kuat menjalani tahun berikutnya.
Dan mungkin, itu sudah cukup.
Di kamar penginapan, Baim membuat mie instan sederhana.
Ia berbisik pada dirinya sendiri:
“Semoga tahun depan, hidup sedikit lebih baik.”
Ponselnya berbunyi.
Notifikasi pekerjaan masuk.
Baim menghela napas.
Lalu menambahkan satu telur ke dalam mie instannya.
Karena kadang, satu-satunya kemewahan manusia hanyalah mampu menambah satu telur ke dalam mie instan—
saat dunia tidak berubah sama sekali.
Other Stories
DARAH NAGA
Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Menolak Jatuh Cinta
Rasa aneh sudah sembilan bulan lenyap, ntah mengapa kini kembali menyusup di sudut hatik ...
Harapan Dalam Sisa Senja
Apa yang akan dalam pikiran ketika dinyatakan memiliki penyakit kronis? Ketika hidup berg ...
Cicak Di Dinding ( Halusinada )
Sang Ayah mencium kening putri semata wayangnya seraya mengusap rambut dan berlinang air m ...
Manusia Setengah Siluman
Reno tak pernah tahu apa itu arti punya orang tua. Ia seorang yatim piatu yang berjuang hi ...