Rest Area

Reads
214
Votes
28
Parts
7
Vote
Report
Penulis Kata Aksara

Bab 4 - Nikmat Alami

Pagi datang tanpa suara kendaraan atau klakson yang bersahutan. Yang terdengar hanya suara ayam berkokok dari kejauhan, disusul desiran angin yang melewati sawah luas di sekitar rumah-rumah penduduk. Matahari naik perlahan di balik perbukitan, menyinari atap-atap rumah kayu yang mulai dipenuhi aktivitas pagi. Dari beberapa dapur terbuka, asap tipis naik ke udara bersama aroma kayu bakar yang hangat. Desa itu terasa hidup dengan cara yang berbeda dari kota.

Mereka akhirnya mencapai penginapan setelah diantar oleh pemuda yang kebetulan ternyata anak dari pria paruh baya yang mereka temui di jalan kemarin. Penginapan itu ada di ujung desa dan menghadap langsung ke area bukit yang penuh dengan hamparan sawah hijau.

Kael berdiri di tepi jalan tanah sambil menghirup udara dalam-dalam. Udara di tempat itu terasa segar, berbanding terbalik dengan di kota yang sumpek. Tidak ada asap kendaraan, tidak ada bau aspal panas—hanya aroma rumput basah, tanah yang baru disiram embun, dan sedikit wangi daun pisang yang bergerak tertiup angin.

Namun anehnya, kesegaran itu tidak benar-benar membuat dadanya terasa ringan.

Beberapa meter dari tempatnya berdiri, Alen sedang sibuk memotret pemandangan sawah dengan ponselnya. Ia berjongkok, berdiri, lalu berpindah beberapa langkah seperti fotografer profesional yang terlalu serius dengan objeknya.

“Kalau foto ini gue upload …” katanya tanpa menoleh. “orang-orang pasti mikir gue lagi liburan mahal.”

Ian tertawa kecil dari bangku kayu di ujung teras. Ia sedang memegang segelas teh hangat yang diberikan oleh pemilik penginapan tadi pagi.

“Padahal kita nyasar.”

“Nyasar yang indah,” jawab Alen cepat.

Eska duduk di kursi lain bersama gitarnya dalam pelukan, meski sejak pagi ia belum benar-benar ingin memainkannya. Ia hanya memetik beberapa senar sesekali, seperti seseorang yang sedang mencari nada yang belum ia temukan.

Kael berjalan mendekat lalu duduk di samping Ian.

“Gue masih heran,” katanya pelan. “Semua orang di sini kelihatan … santai?”

Ian mengikuti arah pandang Kael.

Di tengah lapangan kecil desa, beberapa anak sedang bermain kejar-kejaran sambil tertawa keras. Tidak jauh dari mereka, seorang ibu memanggil anaknya untuk sarapan sambil membawa piring nasi hangat. Di teras rumah lain, seorang ayah terlihat memperbaiki sepeda kecil milik anaknya dengan sabar, sementara anak itu duduk di sampingnya menunggu dengan wajah penuh harapan.

Pemandangan sederhana. Namun, entah kenapa menyeruak di dalam dadanya.

Alen akhirnya mengambil tempat duduk di dekat Eska setelah selesai memotret. “Kalau hidup kayak gini tiap hari, gue mungkin gak bakal stres.”

“Lo baru di sini satu hari,” balas Ian.

“Justru itu,” kata Alen. “Satu hari aja udah kerasa bedanya. Bikin betah dan gak mau bye-bye.”

Hening sejenak muncul di antara mereka. Tidak ada yang langsung menanggapi, tetapi semua orang seolah memahami maksud kalimat itu.

Kael memperhatikan seorang anak kecil yang berlari ke arah ibunya lalu memeluk pinggang perempuan itu dengan spontan. Ibunya tertawa kecil sebelum mengacak rambut anak tersebut.

Gerakan sederhana itu membuat dada Kael terasa sedikit sesak. Ia menunduk, menendang kerikil kecil di tanah dengan ujung sepatu.

“Kenapa lagi dah?” tanya Ian pelan.

Kael menggeleng. “Nggak.”

Sebenarnya sejak awal perjalanan, ada sesuatu yang terus mengganjal di hatinya. Ia ingin pulang. Pikirannya terus tertuju ke rumah dan tidak ingin berlama-lama di tempat yang tidak jelas seperti ini. Perasaan itu sudah muncul sejak hari pertama mereka sampai di tempat ini. Awalnya hanya rasa tidak nyaman yang samar, seperti ada sesuatu yang salah, tetapi tidak bisa dijelaskan. Semakin lama mereka tinggal di desa ini, semakin kuat juga keinginannya untuk kembali ke kota.

Masalahnya, ia tidak bisa mengatakannya begitu saja. Karena bagi yang lain, perjalanan ini adalah liburan. Bahkan, bagi Eska yang sudah ragu sejak awal justru lebih dari itu.

Eska sudah memesan penginapan sederhana, menyusun rencana perjalanan, bahkan membawa gitar dan peralatan rekaman kecil supaya mereka bisa menulis lagu baru selama liburan.

Mengingat, semalam ketika Kael berkata bahwa mungkin mereka sebaiknya pulang lebih cepat, reaksi Eska langsung meledak.

“Lo serius?” katanya waktu itu dengan nada tidak percaya. “Gue udah pesen tempat, udah nyiapin semuanya, terus lo tiba-tiba mau balik?”

“Gue cuma—”

“Cuma apa? Baru sampai udah nyerah?”

Sejak percakapan itu, suasana di antara mereka berubah sedikit canggung.

Mereka memang tetap melakukan banyak hal bersama. Berjalan-jalan ke sekitar desa ketika subuh baru tiba, menyusuri jalan setapak dan duduk di pinggir sawah, bahkan mencoba membuat lagu baru di teras rumah yang mereka tempati seperti pagi ini. Namun, hampir setiap kegiatan diikuti oleh perdebatan kecil.

Kadang karena ide lagu yang tidak cocok. Lalu, Ian akan kembali menyemprotkan sumbu pendek ketika melihat Kael yang tidak bersemangat. Hal sepele seperti itu nyaris seperti bom yang sudah membungihanguskan sebagian besar sebuah pulau.

Bahkan, sampai di hari kedua, pertengkaran masih terus terjadi. Kael tiba-tiba berhenti bernyanyi di tengah latihan, membuat tiga temannya ikut menghentikan ritme musik yang mereka mainkan.

“Kenapa berhenti?” tanya Alen waktu itu.

“Gak mood,” jawab Kael singkat.

Eska langsung menurunkan gitarnya.

“Kalau lo gak mood dari awal, kenapa ikut ke sini?”

Ruangan menjadi sunyi setelah kalimat itu. Tidak ada jawaban dari mulut Kael. Ia hanya berdiri, keluar dari rumah, lalu duduk sendirian di tepi jalan sembari memandangi sawah yang perlahan berubah warna menjadi emas karena matahari sore.

Ia sendiri tidak benar-benar mengerti kenapa perasaannya begitu berat.

Desa ini indah. Orang-orangnya ramah. Tempatnya tenang. Sayangnya, entah kenapa justru itu yang membuatnya semakin gelisah.

Kedamaian seperti ini terasa terlalu jauh dari kehidupan yang selama ini ia kenal. Ia teringat sebuah garasi kecil yang penuh dengan debu dan perkakas-perkakas yang rusak. Tempat itu adalah studio musik kecil yang menjadi basecamp—tempat mereka memulai untuk bermusik, mengenal satu sama lain, sampai saat ini hafal seluk-beluk kehidupan masing-masing.

Hari pertama mereka berkumpul di sana masih ada kecanggungan. Lalu, sampai si paling dewasa, Eska menawarkan diri untuk memulai pertemanan, dari situlah tembok mereka mencair. Tentu hal itu, tidak terlepas dari jembatan yang Kael bangun.

Sampai sebuah keputusan bulat membuat mereka semakin terikat, yakni ketika mereka semua tertarik pada satu hal yang sama. Ya, bermusik.

Kala itu, Alen benar-benar langsung menawarkan diri menjadikan garasi kecil itu layaknya rumah kedua. Mereka semua berbebenah dan menata ulang, lalu mengisinya dengan keseharian yang berwarna-warni. Mereka sama-sama memutuskan menyatukan nada bersama, melalui kepiawaiannya masing-masing.

Ada Ian dengan drum kecilnya yang bahkan tidak lengkap. Lalu, Kael datang dengan mikrofon bekas yang dibeli dari pasar loak. Sementara Eska sudah membawa gitar yang jauh lebih bagus dari peralatan mereka yang lain. Tersisa, Alen yang kala itu hanya berdiri sambil menatap binar di mata mereka.

“Kita beneran mau bikin band?” tanyanya.

Eska menjawab tanpa ragu. “Iya. Lo ikut, kan? Kalau nggak ikut, siap-siap aja digorok sama si Kael.”

Hari demi hari mereka terlewati melalui kebersamaan kecil. Kadang hanya untuk latihan setengah jam sebelum pulang, kadang sampai malam ketika tetangga mulai mengeluh karena suara mereka terlalu berisik.

Lomba pertama yang mereka ikuti bahkan tidak berakhir dengan baik. Alen hampir menyerah malam itu. Ia duduk di lantai basecamp dengan wajah kesal sambil memainkan stik drum milik Ian.

“Kayaknya kita emang gak cocok buat panggung,” katanya.

“Kita cuma belum cukup latihan,” jawab Eska sembari memainkan gitarnya. “PD aja dulu. Pelan-pelan kita pasti bisa maju.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuat mereka kembali datang dengan semangat yang seolah tak pernah pudar keesokan harinya.

Beberapa bulan kemudian mereka mengikuti kompetisi lagi dan membawa kemenangan pertama. Kael masih ingat perasaan berdiri di panggung kecil dengan lampu yang terlalu terang dan suara penonton yang tiba-tiba terdengar jauh lebih keras dari biasanya.

Saat itu ia melihat Eska tersenyum kecil sambil memainkan gitar, Ian memukul drum dengan penuh tenaga, dan Alen berteriak kegirangan di belakang panggung.

Itu mungkin bukan kemenangan besar. Namun, bagi mereka, itu terasa seperti dunia baru yang terbuka.

“El?”

Suara Ian berhasil menarik sadarnya kembali ke tempat semula. Kael berkedip beberapa kali sebelum akhirnya menyadari bahwa ia masih duduk di tepi jalan penginapan.

“Awas kesambet,” kata Ian. “Kenapa lagi dah?”

Gelengan kecil Kael berikan. “Nggak ada. Cuma keinget sesuatu aja.”

Alen tiba-tiba menunjuk ke arah lapangan. “Eh lihat itu!” serunya.

Di sana beberapa warga desa sedang memasang lampu-lampu kecil di sekitar panggung yang mereka lihat kemarin. Lampu itu digantung di antara tiang bambu, menciptakan garis cahaya yang terlihat indah bahkan di siang hari.

Beberapa anak membantu membawa kursi plastik, sementara para ibu menyiapkan makanan di meja panjang yang ditutup kain batik.

“Kayaknya seriusan deh,” kata Ian.

Eska akhirnya berdiri dari tempat duduknya. Menenteng gitar disertai dengan senyum sumringah di bibir. “Kalau kita tampil di sana, kita harus latihan dulu.”

“Gue siap.”

Namun, Kael hanya memandang panggung itu dari kejauhan.

Di dekat panggung, ia melihat seorang anak kecil membantu ayahnya menggantung lampu. Anak itu berdiri di atas kursi sambil memegang ujung kabel, sementara sang ayah mengikatnya di tiang bambu. Setelah selesai, ayah itu menepuk kepala anaknya dengan bangga. Lalu, tawa kecil terbit dari bibir sang anak.

Kael merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Hatinya berdesir penuh keirian pada sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ia miliki.

Ia memasukkan tangannya ke saku hoodie dan kembali menyentuh batu biru yang ia temukan kemarin. Permukaannya masih terasa dingin, seperti menyimpan sesuatu yang belum ia pahami.

Sementara di lapangan desa, warga terus menyiapkan pasar malam dengan wajah penuh semangat. Anak-anak berlari ke sana kemari, sedangkan para orang tua bekerja bersama sambil bercanda. Dan, untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di tempat itu, Kael benar-benar menyadari sesuatu.

Tempat ini tidak hanya damai. Tempat ini penuh dengan hal-hal yang selama ini tidak pernah mereka miliki. Seperti keluarga yang terlihat utuh, juga orang-orang yang saling membantu tanpa diminta. Kehangatan itulah terasa begitu alami sampai-sampai terlihat seperti hal biasa.

Kael menunduk. Perasaan berat itu kembali muncul, bahkan lebih kuat dari sebelumnya. Ia ingin pulang. Namun, pada saat yang sama, ia tahu bahwa mungkin bukan tempat ini yang membuatnya tidak nyaman. Melainkan kenyataan bahwa dunia seperti ini benar-benar ada dalam hidupnya. Ia tidak tahu apakah dirinya pernah benar-benar menjadi bagian dari dunia seperti itu.


Other Stories
Langit Di Atas Warteg Bu Sari

hari libur kita ngapain yaa ...

Senja Terakhir Bunda

Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

I See Your Monster, I See Your Pain

Aku punya segalanya. Kekuasaan, harta, nama besar. Tapi di balik itu, ada monster yang sel ...

Suara Dari Langit

Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...

Labirin Rumit

Di tengah asiknya membicarakan liburan sekolah, Zian bocah SD mencari gara-gara di tengah ...

Download Titik & Koma