Bagian VI - Titik Penyebrangan
Gue rekonstruksi cerita ini dari apa yang Fabian ceritain ke gue jauh setelahnya. Bukan malam itu, bukan minggu itu. Tapi beberapa waktu kemudian, dalam percakapan yang dimulai dengan hal lain dan berakhir di sini tanpa ada yang merencanakan. Fabian nggak pernah cerita dengan urutan yang rapi, dia nyeritainnya kayak orang yang lagi meletakkan batu satu per satu, nggak yakin fondasi mana yang cukup kuat buat ditunjukin ke orang lain.
Tapi dari kepingan-kepingan itu, gue bisa nyusun satu gambar yang cukup utuh. Dan gambar itu sampai sekarang masih bikin dada gue sesak kalau gue terlalu lama mikirin.
LSM itu namanya Rumah Perempuan Semarang. Gedungnya nggak besar, ruko dua lantai di jalan yang cukup sepi, cat tembok putih yang mulai kusam di beberapa sudut, dan papan nama yang tulisannya udah agak pudar. Tapi di dalamnya rapi, bersih, dan ada sesuatu di sana yang terasa kayak tempat yang sengaja dibangun supaya orang bisa napas lagi.
Clara yang ngatur semuanya. Dia yang bolak-balik ke sana selama tiga minggu sebelum akhirnya dapet izin, izin yang dateng bukan dari pihak LSM, tapi dari Hasna sendiri. Karena syaratnya jelas dari awal: semua keputusan ada di tangan perempuan itu. Mau ketemu atau nggak, kapan, dan seberapa lama — itu hak Hasna sepenuhnya. Hasna milih sore hari. Di ruang tamu LSM yang kecil, dengan satu orang pendamping dari lembaga yang duduk diam di sudut bukan untuk ikut campur, tapi untuk memastikan ruang itu tetap aman. Fabian, Rayan, dan Clara dateng lima menit lebih awal. Dan mereka nunggu.
Yang keluar dari pintu dalam itu bukan Hasna yang sama. Fabian tau itu langsung bukan karena ada yang berubah secara drastis, tapi karena justru semuanya terlalu berbeda dari cara yang nggak mencolok. Hasna jalan lebih pelan. Gerakannya lebih hati-hati, kayak orang yang udah lama terbiasa mengambil ruang sesedikit mungkin. Matanya menyapu ruangan sebelum dia masuk sepenuhnya — bukan dari kebiasaan, tapi dari naluri yang terbentuk karena terlalu sering perlu waspada.
Dan satu hal lagi yang langsung semua orang lihat tapi nggak ada yang berani sebut duluan. Perutnya.
Rayan yang pertama kali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Clara yang paling cepat menyesuaikan ekspresinya. Dan Fabian — Fabian berdiri di sana dengan semua pertanyaan yang udah dia susun selama berbulan-bulan tiba-tiba terasa seperti benda yang salah ukuran.
Hasna duduk. Tangannya dilipat rapi di atas meja, dan cara dia menatap mereka bertiga adalah cara orang yang udah cukup lama menghadapi situasi sulit sendirian sampai dia nggak lagi takut untuk duduk tegak di tengahnya.
"Makasih udah mau nunggu gue siap." Itu yang pertama dia ucapkan. Pelan, tapi bukan lemah.
"Kita yang harusnya makasih." Clara jawab duluan.
Hasna mengangguk kecil. Matanya beralih ke Fabian sebentar — hanya sebentar — sebelum turun lagi ke meja.
"Gue tau kalian nyari gue lama. Dan gue tau kalian pasti nggak ngerti kenapa gue nggak balik atau kasih kabar."
Nggak ada yang menjawab. Karena jawaban yang paling jujur — ya, kita nggak ngerti — terasa terlalu kecil untuk ukuran seberapa lama mereka menunggu.
"Sore itu, waktu Rifky bawa gue pergi dari kafe…" Hasna mulai pelan.
"Gue nggak melawan. Bukan karena gue nggak mau. Tapi karena gue udah tau kalau gue melawan di situ, yang kena duluan bukan gue."
Rayan menelan ludah.
"Beberapa minggu setelah itu, gue tau gue hamil." Hening.
Bukan hening yang canggung tapi hening yang berat, jenis yang terjadi ketika semua orang di ruangan sedang mencoba menempatkan informasi baru itu di dalam diri mereka masing-masing tanpa menunjukkan prosesnya ke luar.
"Rifky minta kita nikah. Katanya ini yang dia tunggu, ini bukti bahwa janji kita dulu beneran. Gue nggak punya posisi buat nolak waktu itu. Dia tahu di mana gue, dia tahu siapa aja yang deket sama gue, dan dia punya cukup koneksi buat bikin hidup orang-orang yang gue sayang jadi ribet." Hasna ngomongnya bukan dengan nada minta dikasihani. Lebih kayak seseorang yang lagi menjelaskan keputusan bisnis yang nggak menguntungkan, datar, kronologis, tanpa ornamen.
"Jadi gue nikah sama dia. Diam-diam. Cuma beberapa orang yang tau."
"Gue minta status kampus gue diurus supaya keliatan kayak pengunduran diri biasa, biar nggak ada yang nyari gue lewat jalur resmi. Dan gue ke sini karena ini satu-satunya tempat yang Rifky nggak berani masuk dengan cara yang kasar."
Fabian belum bisa ngomong sepatah kata pun. Gue tau itu dari cara Rayan cerita, dia bilang kalo Fabian duduk dengan cara yang terlalu diam untuk ukuran seseorang yang biasanya tau harus bilang apa. Tangannya ada di atas meja, dan satu jarinya pelan-pelan mengetuk permukaan kayu itu dua kali sebelum berhenti.
"Lo marah sama gue?" Hasna akhirnya nanya langsung ke Fabian.
Fabian menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak Hasna masuk ke ruangan itu, dia beneran menatap matanya.
"Nggak." Jawabnya pelan.
"Gue cuma... butuh waktu sebentar buat naruh ini di tempat yang bener di kepala gue."
Hasna mengangguk. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk, ada sesuatu di sudut matanya yang sedikit mencair.
"Gue nggak minta kalian ngerti semua keputusan gue. Tapi gue minta kalian percaya bahwa gue nggak punya pilihan yang lebih baik waktu itu."
"Kita percaya." Clara ngomong cepat.
Rayan mengangguk. "Kita percaya, Has."
Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam. Hasna cerita lebih banyak dari yang awalnya dia rencanakan atau mungkin memang itu yang dia butuhkan, seseorang yang mau duduk dan denger tanpa langsung coba memperbaiki sesuatu. Clara yang paling banyak nanya, tapi dengan cara yang nggak terasa kayak interogasi. Rayan yang sesekali nyela dengan hal-hal kecil yang nggak penting, nama menu kafe yang mereka dulu sering tongkrong, atau soal koleksi buku di perpustakaan FIB yang kata Hasna selalu salah shelving dan setiap kali dia lakuin itu, Hasna sedikit lebih rileks dari sebelumnya.
Dan Fabian. Fabian nggak banyak ngomong, tapi dia nggak kemana-mana juga. Kata Rayan, itu yang paling penting buat Hasna, bukan kata-kata yang tepat, bukan solusi yang cepat. Cukup tau bahwa orang-orang ini nggak pergi setelah denger semuanya.
Mereka pulang waktu langit udah mulai gelap. Di motor menuju kos, Rayan nggak ngomong dulu sampai mereka berhenti di lampu merah yang panjang.
"Lo oke?" Ke Fabian, yang duduk di belakang.
"Iya."
"Beneran?"
Fabian nggak jawab langsung. Lampu masih merah.
"Gue nggak tau gimana caranya nggak oke soal ini, Ian. Ini bukan soal gue."
"Tapi lo yang kepikiran paling keras."
"Ya. Dan itu yang bikin gue nggak berhak untuk nggak oke."
Lampu hijau. Rayan nggak nerusin pertanyaannya, tapi gue rasa dia ngerti maksudnya.
• • •
Kunjungan kedua ke Rumah Perempuan Semarang terjadi empat hari setelah yang pertama. Kali ini mereka bawa sesuatu yang lebih konkret. Pak Warsito, yang kata Fabian sudah lama bergerak di jalur yang nggak kelihatan dari permukaan nemuin celah hukum yang bisa dipakai: Hasna bisa mengajukan gugatan pembatalan pernikahan atas dasar tekanan dan paksaan, dan ada lembaga bantuan hukum yang siap mendampingi prosesnya dari awal sampai selesai. Bukan jalan yang mudah, bukan jalan yang cepat. Tapi ada jalan.
Hasna mendengarkan semua itu dengan ekspresi yang susah dibaca, mata yang fokus, tangan yang diam di atas meja, dan sesekali anggukan kecil yang lebih terasa seperti konfirmasi bahwa dia masih menyimak daripada persetujuan.
"Prosesnya bakal panjang?" Dia nanya ke Clara.
"Beberapa bulan. Mungkin lebih. Tapi kamu nggak akan sendirian ngejalaninnya." Hasna mengangguk lagi. Kali ini sedikit lebih berat.
"Rifky bakal tau kalau gue mulai proses ini."
"Dia akan tau dari awal." Clara jawab jujur.
"Makanya kita perlu pastiin kamu aman dulu sebelum langkah pertama diambil."
Obrolan mereka masih berlangsung waktu pintu depan LSM terbuka. Nggak ada yang ketuk. Nggak ada yang minta izin. Rifky masuk seperti orang yang sudah tahu denah ruangan.
Fabian langsung berdiri. Bukan karena panik, tapi karena tubuhnya bereaksi sebelum kepalanya sempat memproses situasi sepenuhnya. Rayan yang ada di sebelahnya ikut berdiri setengah detik kemudian. Clara menarik kursinya sedikit ke belakang, diam-diam memposisikan dirinya di antara Hasna dan pintu.
Rifky bukan dalam seragam. Dia make kaos hitam, celana tactical, dan rambut yang agak berantakan bukan penampilan seseorang yang baru dari tugas, melainkan seseorang yang sudah menunggu di tempat tertentu cukup lama sebelum memutuskan untuk masuk. Pistolnya ada di pinggangnya. Masih di holster. Tapi tangannya ada di sana.
"Hei." Dia nyapa Hasna duluan, dengan nada suara suami yang pulang ke rumah dan menemukan tamunya masih ada.
"Kok belum selesai juga?"
Hasna nggak menjawab. Tapi dia juga nggak bergerak mundur. Rifky akhirnya beralih ke Fabian. Dan di situ, di dalam tatapan yang mereka tukar dari jarak beberapa meter, ada sesuatu yang sudah disimpan terlalu lama dari kedua arah.
"Lo nggak kapok juga, ya?" Suaranya rendah. Bukan marah. Lebih buruk dari marah, dingin.
"Gue nggak ada urusan sama lo, Rifky. Gue ke sini buat Hasna."
"Hasna istri gue."
"Hasna orang yang punya hak buat milih."
Sesuatu bergeser di wajah Rifky. Masih terkontrol, tapi garis rahangnya mengeras.
"Lo pikir lo ngerti situasinya lebih dari gue?"
"Gue pikir situasinya lebih rumit dari yang lo mau akuin."
Rayan maju setengah langkah, bukan ke arah Rifky, tapi ke arah celah di antara keduanya.
"Oke, stop. Kita bisa ngobrol dengan cara yang lebih…"
"Lo siapa?" Rifky motong Rayan tanpa noleh ke arahnya.
"Temennya Fabian."
"Bagus. Kalau lo temennya, saranin dia buat tau batas."
Di sudut ruangan, pendamping dari LSM sudah berdiri dan dengan tenang. Dengan ketenangan orang yang sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini selalu mengeluarkan ponselnya.
"Mas, ini fasilitas pendampingan. Saya minta Mas keluar dari ruangan ini sekarang."
Rifky meliriknya sebentar. Lalu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasinya dia mengambil pistolnya dari holster dan meletakkannya di atas meja. Bukan menodongkan, hanya menaruh. Tapi itu cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu berhenti bernapas selama satu detik penuh.
"Gue nggak mau masalah." Rifky bilang pelan, tangannya masih di dekat senjata itu.
"Gue cuma mau istri gue pulang."
Yang terjadi selanjutnya, Fabian ceritanya ke gue dengan cara yang nggak linier, dia loncat-loncat, mengulang beberapa bagian dua kali, dan ada satu titik di mana dia berhenti di tengah kalimat dan nggak melanjutkan sampai gue nggak nanya lagi.
Tapi dari yang gue susun: Rayan yang bergerak duluan. Bukan ke arah Rifky. Dia bergerak ke arah meja, refleks, kayak orang yang mau bikin jarak antara senjata itu dan semua orang di ruangan dan dalam gerakan itu dia menyenggol meja dengan pinggulnya. Meja bergeser. Pistol bergeser. Dan dalam satu detik yang nggak bisa diulang atau diperlambat oleh siapa pun di ruangan itu, senjata itu meletus.
Satu tembakan, ke langit-langit. Gue nggak ada di sana, tapi gue bisa bayangin suaranya bukan kayak di film, lebih keras, lebih tajam, lebih nyata dengan cara yang langsung memukul dada siapa pun yang mendengarnya. Semua orang ambruk atau berlindung dalam waktu yang hampir bersamaan. Clara menarik Hasna ke sudut. Rayan jatuh ke lantai karena reflek. Fabian mundur dua langkah dan punggungnya menghantam tembok. Debu dari plafon jatuh pelan. Telinga berdenging.
Rifky membeku. Tangannya masih terentang ke arah meja, refleks yang belum sempat ditarik kembali dan di wajahnya ada ekspresi yang mungkin baru pertama kali Fabian lihat di sana: bukan marah, bukan dingin, tapi sesuatu yang lebih jujur dari keduanya. Dia kehilangan kontrol. Dan dia tahu semua orang di ruangan itu melihatnya kehilangan kontrol. Hasna berdiri dari sudut ruangan. Pelan, dengan satu tangan di perut, gerakan refleks yang mungkin bahkan nggak dia sadari sendiri.
Dan dia menatap Rifky. Bukan dengan ketakutan.
"Rifky." Satu kata. Tapi beratnya satu ton.
"Kalau lo tembak salah satu dari mereka hari ini, lo nggak akan pernah lihat anak lo."
Hening yang berbeda dari sebelumnya. Hening yang terasa kayak udara habis dari ruangan. Rifky menatap Hasna lama, terlalu lama. Dan di dalam tatapan itu ada pergulatan yang nggak ada satu pun orang di ruangan itu bisa ikut masuk ke dalamnya. Pak Warsito yang masuk dari pintu luar dia udah ada di luar sejak tadi, denger semuanya, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tenang dan satu kalimat yang diucapkan dengan nada orang yang sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini:
"Satu tembakan sudah cukup untuk laporan. Saya sarankan Anda pergi sekarang." Rifky mengambil pistolnya dari lantai. Dia memasukkannya kembali ke holster dan dia pergi.
Nggak ngomong apa-apa lagi. Nggak noleh ke belakang. Pintu depan LSM ditutup, dan suaranya suara, yang terlalu normal untuk mengakhiri sesuatu yang terlalu luar biasa adalah suara terakhir yang mereka dengar dari Rifky hari itu. Mereka semua diam di lantai masing-masing selama beberapa detik setelah pintu itu menutup.
Rayan yang pertama ngomong.
"Semua orang oke?"
Clara mengangguk. Hasna mengangguk. Fabian yang masih bersandar ke tembok mengangkat satu tangan isyarat yang artinya iya tapi yang mukanya bilang hal yang berbeda. Pendamping LSM sudah menelepon seseorang, nada suaranya tenang dan prosedural, melaporkan insiden dengan kalimat-kalimat yang terdengar seperti sudah pernah diucapkan sebelumnya.
Pak Warsito masuk sepenuhnya dan duduk di kursi yang paling dekat, tangannya dilipat di depan dada.
"Ini akan jadi bagian dari laporan resmi. Penggunaan senjata di luar tugas, intimidasi, memasuki fasilitas perlindungan tanpa izin." Dia bilang ke Hasna.
"Dengan ini, kita punya lebih dari cukup untuk mulai."
Hasna mengangguk. Matanya turun ke lantai sebentar.
Lalu naik lagi, ke arah Fabian, yang masih belum bergerak dari tembok.
"Lo nggak kenapa-napa?"
Hasna nanya pelan. Fabian akhirnya menggeser posisinya. Berdiri tegak. Menarik napas satu kali panjang sebelum menjawab.
"Gue oke." Satu jeda.
"Lo yang gue tanya balik."
Hasna hampir tersenyum. Hampir.
"Gue oke, Fab. Gue udah oke lama sebelum kalian dateng. Gue cuma butuh diingetin bahwa gue nggak sendirian."
Ruangan itu masih berbau sesuatu yang gue nggak bisa deskripsikan karena nggak pernah ada di sana, tapi Fabian bilang baunya kayak asap tipis dan debu tua. Dan di dalamnya, di antara debu yang masih turun pelan dari lubang di langit-langit, ada enam orang yang semuanya masih hidup. Untuk hari itu, semua udah cukup.
• • •
Rifky dilaporkan tiga hari setelah insiden itu. Pak Warsito yang handle jalurnya, laporan tertulis ke Propam, dokumentasi lengkap dari pendamping LSM sebagai saksi, ditambah rekaman audio yang tanpa sengaja terekam di ponsel pendamping tersebut sejak Rifky masuk ke ruangan. Bukan bukti yang sempurna, tapi cukup untuk membuat Rifky tidak bisa bergerak bebas selama proses berjalan.
Status aktifnya sebagai anggota Brimob masih berjalan, dunia bergerak lambat untuk orang-orang seperti Rifky, dan Pak Warsito cukup realistis untuk tidak menjanjikan sesuatu yang belum bisa dia pastikan. Tapi untuk sementara waktu, ada jarak yang dipaksakan secara prosedural antara Rifky dan Hasna. Dan dalam situasi seperti ini, jarak sementara adalah kemewahan.
Hasna memilih untuk tetap di LSM. Bukan karena dia nggak punya pilihan lain, Clara udah menawarkan untuk membantu mencari tempat tinggal, dan Pak Warsito punya koneksi ke beberapa lembaga yang bisa memfasilitasi. Tapi Hasna yang bilang sendiri, dengan cara yang terdengar seperti orang yang sudah lama memikirkan jawabannya:
"Ini tempat pertama yang ngerasa aman buat gue dalam waktu yang gue nggak mau hitung. Gue mau di sini dulu sampai gue siap buat pindah atas kemauan gue sendiri, bukan karena terpaksa."
Nggak ada yang protes. Proses hukum untuk pembatalan pernikahan mulai berjalan. Panjang, berliku, penuh prosedur yang dirancang seolah-olah untuk menguras kesabaran. Tapi Hasna menjalaninya dengan cara yang sama seperti dia duduk di ruangan itu pertama kali: tegak, diam, dan nggak meminta belas kasihan dari siapa pun.
Pertemuan terakhir antara Fabian dan Hasna terjadi di sebuah taman kecil di belakang gedung LSM. Hasna yang minta. Empat mata, tanpa Rayan, tanpa Clara. Tamannya kecil, lebih tepat disebut petak hijau dengan dua bangku besi dan satu pohon mangga yang sudah cukup tua untuk menghasilkan bayangan yang lumayan. Sore itu mendung tipis, angin pelan, dan suasananya terlalu tenang untuk dua orang yang punya terlalu banyak hal yang belum terselesaikan.
Mereka duduk sebentar tanpa ngomong apapun. Bukan canggung, lebih kayak dua orang yang sama-sama sadar bahwa apa pun yang akan diucapkan selanjutnya perlu waktu untuk ditempatkan di posisi yang tepat dulu.
Hasna yang mulai.
"Lo nggak harus nunggu gue, Fab."
Fabian nggak langsung menjawab. Dia lihat ke arah pohon mangga di ujung taman, ke langit yang mendung tipis di atasnya, sebelum akhirnya balik menatap Hasna.
"Gue nggak nunggu lo." Pelan, tapi jelas.
"Gue cuma... belum siap buat nggak peduli."
Hasna diam sebentar. Lalu tersenyum, bukan senyum yang manis atau melegakan, tapi senyum orang yang baru aja mendengar sesuatu yang lebih jujur dari yang mereka minta.
"Itu udah cukup, Fab. Beneran."
Fabian mengangguk pelan. Ada hal-hal yang nggak perlu dijawab karena jawabannya sudah ada di dalam pertanyaan itu sendiri, dan keduanya cukup dewasa untuk membiarkannya seperti itu.
"Lo bakal baik-baik aja?"
Fabian nanya setelah hening yang cukup panjang.
"Gue lagi belajar gimana caranya."
Hasna jawab.
"Tapi iya. Gue rasa bakal oke."
"Anak lo…"
"Bakal lahir di tempat yang aman. Itu yang paling penting sekarang."
Fabian ngangguk lagi. Dan gue rasa di titik itu dia akhirnya menemukan tempat yang tepat di dalam kepalanya untuk meletakkan semua ini, bukan sebagai kekalahan, bukan sebagai kehilangan, tapi sebagai sesuatu yang memang tidak pernah sepenuhnya miliknya untuk disimpan. Mereka berpisah tanpa pelukan. Tanpa janji. Tanpa hal-hal yang sebenernya cuma akan mempersulit keduanya. Hanya dua orang yang saling melepas dengan cara yang paling jujur yang bisa mereka temukan.
Fabian balik ke kos malam itu dan mulai packing. Semester genap resmi berakhir. KRS semester depan masih bisa diurus jarak jauh untuk sementara. Dan Jakarta, rumah, ibu, adik, dan semua hal yang sudah lama dia tinggalkan tiba-tiba terasa lebih nyata dari yang pernah dia bayangkan selama dua tahun terakhir. Pamitan dengan Rayan terjadi keesokan paginya, di depan pintu kos Fabian.
Rayan datang dengan dua gelas kopi sachet dari warung bawah yang satu buat dia, yang satu untuk Fabian dan mereka minum sambil berdiri karena bangku depan kos sudah penuh barang bawaan yang menunggu dijemput. Mereka nggak ngobrol soal Hasna. Nggak soal Rifky, nggak soal demo, nggak soal Dimas atau Aldrich atau dua tahun yang berjalan terlalu padat untuk diringkas dalam satu percakapan terakhir.
Mereka ngobrol soal hal-hal kecil. Shift Rayan yang minggu depan dipindah ke sore. Kucing kampus yang minggu ini melahirkan di bawah tangga gedung D. Kopi sachet yang menurut Rayan formulanya berubah tapi menurut Fabian masih sama saja. Jemputan Fabian datang tepat waktu.
Rayan bantu angkat koper terakhir ke bagasi. Dan di depan mobil yang mesinnya sudah menyala, mereka berdiri sebentar dengan cara dua orang yang sama-sama tau ini bukan perpisahan permanen, tapi tetap saja terasa lebih berat dari yang ingin mereka tunjukkan.
"Lo bakal baik-baik aja, Ray." Fabian ngomong duluan.
"Lo juga, Ian." Rayan jawab.
"Serius."
Dua kata. Tapi beratnya dua tahun. Fabian naik ke mobil, Rayan mundur ke trotoar. Dan waktu mobil itu mulai bergerak, Rayan masih berdiri di sana sampai belokan pertama menelan pandangannya. Kereta dari Semarang ke Jakarta berangkat siang hari.
Fabian duduk di dekat jendela. Di luar, kota yang udah dia tinggali selama dua tahun berlalu pelan di awal sebelum makin cepat dan akhirnya menghilang ke belakang seperti semua hal yang sudah selesai. Gue nggak tau persis apa yang Fabian pikirin selama perjalanan itu. Dia nggak cerita, dan gue nggak nanya.
Yang gue tau: dia pulang dengan versi dirinya yang berbeda dari yang berangkat. Lebih berat di beberapa bagian, lebih ringan di bagian yang lain. Dan di dalam tas ranselnya yang sudah penuh, masih ada buku catatan hitam dengan kalimat di halaman pertamanya:
Kita tunggu. Tapi kita nggak berhenti cari.
Kalimat yang ditulis untuk Hasna yang sudah ditemukan. Dan mungkin, tanpa dia sadari, juga untuk orang lain yang belum.
• • •
Ada hari-hari yang dari awal udah keliatan nggak akan beres. Bukan dari satu tanda besar tapi dari akumulasi hal-hal kecil yang kalau dilihat satu per satu terasa biasa, tapi kalau ditumpuk jadi satu terasa kayak alam semesta lagi nyusun sesuatu yang lo nggak ikut diajak diskusi. Hari itu adalah salah satunya.
Jakarta Selatan, Juni 2024. Gue nggak akan cerita terlalu detail soal apa yang terjadi sebelum stasiun, itu bagian yang udah ada di tempat lain, di bagian awal cerita ini yang dimulai dari kejaran SatRes dan pisau lipat dan Ojan si kasir minimarket yang mukanya pucat kayak orang liat hantu. Yang belum gue ceritain adalah bagian sebelum semuanya itu bagian yang terjadi di peron kereta, di antara keramaian jam sibuk Jakarta Selatan, di momen yang gue nggak sempat pilih untuk siap atau enggak. Tapi sebelum gue sampai ke sana, ada satu hal yang perlu lo tau soal hari itu. Fabian Ramadhan baru aja selesai interview kerja buat internship.
Kantornya atau lebih tepatnya, kantor dari perusahaan yang baru aja dia interview, ada di kawasan Sudirman. Firma hukum mid-size yang Fabian temukan lewat referral dari salah satu dosen lamanya di Semarang. Dia udah apply sebulan sebelumnya, lolos administrasi, dan hari itu adalah tahap kedua: interview langsung dengan dua orang dari tim HR dan satu partner muda yang pertanyaannya tajam tapi bisa Fabian jawab dengan cara yang katanya ke gue nanti terasa seperti dia akhirnya ngomong sesuatu yang udah lama dia kumpulkan tanpa tau mau dipakai buat apa.
Interview-nya oke. Setidaknya menurut standardnya sendiri. Dia keluar dari gedung sekitar jam tiga sore, longgarkan kancing kemejanya, dan memutuskan untuk naik KRL pulang ke rumah di Depok daripada order ojek karena masih mau mikir dan jalanan Jakarta jam segitu adalah musuh dari siapa pun yang mau berpikir jernih. Dia naik dari Stasiun Sudirman. Tujuan: Depok. Yang terjadi di antara keduanya adalah hal yang nggak ada di dalam rencananya.
Gue lari masuk ke peron itu dengan satu tujuan: hilang di kerumunan sebelum dua orang yang ada di belakang gue sempat nangkep. SatRes nggak berseragam lengkap, tapi gue tau cara mereka bergerak, terlalu koordinatif, terlalu bertujuan, terlalu nggak kayak penumpang biasa yang lagi buru-buru. Gue udah latihan cukup lama untuk membedakan orang yang bergerak karena mereka mau ke suatu tempat dan orang yang bergerak karena mereka ngejar sesuatu.
Peron sesak. Jam sibuk. Kereta baru aja tiba dan orang-orang bergerak ke dua arah sekaligus — yang mau turun dorong keluar, yang mau naik dorong masuk, dan gue ada di tengah semua itu sambil nyoba keliatan kayak bagian dari arus yang normal. Dan di situ, di antara ratusan orang yang semuanya nggak gue kenal, gue liat satu wajah yang harusnya nggak ada di sana. Fabian. Berdiri di deket tiang peron, ransel di punggung, kemeja yang kancingnya longgar satu di bagian atas, dan ekspresi orang yang lagi deep in thought tentang sesuatu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan apa yang lagi terjadi di sekitarnya.
Dari semua orang. Di semua tempat. Hari ini. Gue punya waktu mungkin tiga detik untuk memutuskan nunduk dan pura-pura nggak lihat, atau mengambil satu-satunya pilihan yang terasa logis dalam situasi yang sama sekali nggak logis. Gue nyamperin dia.
"Fab." Dia noleh.
Dan ekspresi yang muncul di mukanya waktu ngeliat gue campuran antara nggak percaya, lega, dan something else yang gue nggak sempat identifikasi karena gue langsung narik tangannya.
"Jangan nanya dulu. Ikut gue."
Fabian dan ini adalah salah satu hal tentang dia yang nggak pernah berubah sejak SMA nggak pernah protes. Dia ikut. Sisanya lo udah tau dari bagian lain cerita ini. Polisi yang hampir menangkap Ojan. Bang Riko dan Alex yang muncul di waktu yang nggak gue minta tapi nggak bisa gue tolak. Tawaran apartemen yang gue tolak. Chintya yang akhirnya jemput gue. Dan Fabian yang gue tinggalkan di minimarket itu dengan lebih banyak pertanyaan dari yang pernah dia datang.
Tapi ada satu hal yang nggak sempat gue ceritain sebelumnya. Waktu gue dan Fabian duduk di minimarket itu sebelum semua orang datang, sebelum situasinya jadi terlalu ramai untuk bisa ngobrol dengan beneran ada satu momen yang dimana dia noleh ke gue dan nanya dengan cara yang terlalu tenang untuk situasinya:
"Lo mau cerita atau lo mau gue pura-pura nggak tau ada apa?"
Gue mikir sebentar.
"Opsi kedua dulu."
Dia ngangguk. Dan dia nggak nanya lagi. Bukan karena dia nggak peduli. Tapi karena dia cukup kenal gue untuk tau bahwa gue akan cerita waktu gue siap dan kalau gue nggak pernah siap, itu juga jawaban yang dia bisa terima meski nggak dia sukai. Itu yang selalu bikin gue susah jelasin perasaan ini soal Fabian ke siapa pun yang nanya. Dia nggak nuntut lo jadi lebih dari yang lo bisa. Tapi kehadirannya aja udah cukup untuk bikin lo ngerasa kayak lo harusnya jadi lebih baik dari yang lo lagi.
KRL yang harusnya dia tumpangi ke Depok berangkat tanpa dia. Dan gue yang lagi dalam pelarian, yang tangannya masih sedikit gemetar dari adrenalin yang belum sepenuhnya turun, duduk di lantai minimarket itu di sebelah orang yang baru aja selesai interview kerja dan niat pulang ke rumah tapi malah terseret masuk ke kekacauan yang sama sekali bukan miliknya. Salah satu dari kami harusnya minta maaf. Tapi kami dua-duanya terlalu capek untuk memulainya malam itu.
• • •
Basecamp yang gue tempatin bentuknya apartemen. Apartemen itu ada di lantai tiga gedung tua di bilangan, Tebet, bukan gedung mewah, bukan lokasi strategis, dan itu justru yang jadi poinnya. Nggak ada yang nyari orang di gedung yang liftnya sering mati dan catnya ngelupas di bagian lobi. Nggak ada yang curiga sama penghuni yang jarang keluar siang hari dan nggak pernah pesen delivery pake alamat asli. Dan nggak ada CCTV yang masih berfungsi di koridor lantai tiga karena sudah dua bulan dilapor ke pengelola gedung tapi belum ada yang repot memperbaikinya. Chintya yang pilih tempat ini. Dia selalu punya mata yang bagus buat detail yang orang lain skip.
Gue rebahan di kasur yang springnya udah mulai protes kalau diduduki terlalu lama, tatap langit-langit yang ada noda air di pojok kanan dari bocoran musim hujan lalu, dan dengerin bunyi AC yang mendengung nggak rata sementara di meja sebelah Chintya duduk dengan tiga layar terbuka sekaligus.
Chintya Maharani, adalah tipe orang yang otaknya nggak punya mode off. Selama gue kenal dia, gue belum pernah sekalipun lihat dia beneran nggak ngerjain sesuatu. Kalau tangannya nggak di keyboard, dia lagi ngitung sesuatu di kepala. Kalau dia keliatan bengong, itu berarti dia lagi proses data. Malam ini dia lagi ngurusin tiga hal sekaligus: inventory yang perlu di-update sebelum setor ke Adam besok, laporan distribusi minggu ini yang angkanya belum balance, dan satu chat yang dari tadi di-pending karena kata Chintya orangnya 'kebanyakan tanya sebelum deal'.
"Lo dari tadi diem." Chintya ngomong tanpa noleh dari layarnya.
"Gue capek."
"Lo capek fisik atau capek pikiran?"
"Dua-duanya."
"Yang bikin capek pikiran siapa?" Gue nggak jawab.
Chintya akhirnya noleh.
"Cowok yang tadi di minimarket itu." Bukan nanya.
"Temen SMA."
"Iya, gue tau siapa dia. Lo pernah cerita soal dia, meski mungkin nggak sadar lo ceritain."
"Gue nggak pernah cerita soal dia."
"Lo pernah sebut nama dia sekali waktu lo lagi setengah mabuk di Bandung, dua tahun lalu. Fabian. Lo bilang 'ada satu orang yang gue harap nggak perlu ikut terseret ke semua ini'. Gue nyimpen nama itu."
Gue menutup mata sebentar.
"Lo terlalu perhatian buat orang yang kerjaannya jual barang haram."
"Perhatian itu skill, bukan kelemahan."
Chintya balik ke layarnya.
"Dan FYI, kerjaan kita bukan cuma jual barang haram. Itu oversimplifikasi yang menyinggung."
Gue hampir ketawa. Hampir.
Struktur yang gue dan Chintya kerja di dalamnya bukan sesuatu yang gue masuk dengan niat dari awal. Tapi begini cerita yang nggak perlu diromantisasi: gue mulai dari pinggiran, jadi runner kecil waktu masih SMA karena Adam, Adam Suryo, mantan gebetan gue di SMA yang sama, yang kebetulan juga kenal dan pernah bentrok sama Fabian ternyata bukan sekadar anak gaul yang suka foya-foya. Dia ketua dari jaringan yang lebih rapi dari yang siapa pun di sekolah kami sangka.
Adam Suryo Wibisono. Dua puluh satu tahun. Kelihatannya: mahasiswa yang entah kenapa selalu punya uang lebih, selalu tau tempat yang lagi hype sebelum orang lain tau, dan punya lingkaran pertemanan yang luas tapi nggak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Kenyataannya: dia koordinator distribusi untuk wilayah Jakarta Selatan dan sebagian Depok, dengan koneksi ke supplier yang naik langsung ke level yang nggak perlu disebut namanya di sini, dan jaringan ke dalam yang melibatkan beberapa nama di institusi yang harusnya jadi lawan dari semua ini. Dia bahkan keluar dari kampusnya, DO, supaya bisa lebih fokus bisnis gelap ini.
Itu yang bikin Adam nggak bisa disentuh sembarangan. Dan itu yang bikin gue dari awal masuk karena butuh uang dan nggak punya banyak pilihan, susah keluar karena udah tau terlalu banyak.
• • •
"Update dari Bowo masuk." Chintya bilang tiba-tiba, masih menatap layar.
"Isinya apa?"
"Pengiriman minggu depan dimajuin. Adam minta kita standby Kamis malam, bukan Sabtu."
"Kenapa dimajuin?"
"Ada pergerakan dari arah yang nggak perlu lo tau detailnya malam ini."
Gue duduk tegak.
"Chin, itu berarti gue harus reschedule tiga hal."
"Gue tau. Adam tau juga. Dia bilang 'kasih tau Keira kalau ini prioritas'."
Chintya akhirnya noleh penuh ke arah gue.
"Lo kenal Adam cukup lama buat ngerti kalimat itu artinya apa." Gue kenal. Artinya: nggak ada pilihan lain.
Bowo, nama lengkapnya Priyambowo, anak Bekasi, usia dua puluh tahun, yang cara kerjanya paling rapi di antara semua orang dalam lingkaran ini, adalah jembatan komunikasi antara Adam dan lapangan. Dia nggak pernah pegang barang sendiri, nggak pernah hadir di titik distribusi, tapi dia tau segalanya dan dia ada di mana-mana dalam bentuk pesan teks yang selalu dihapus dalam dua puluh empat jam.
Di luar Bowo, ada Rina, perempuan dua puluh tiga tahun yang kerja di klinik kecantikan siang hari dan jadi penghubung ke beberapa klien kelas menengah atas yang lebih suka transaksi diskret. Rina yang paling susah dibaca karena penampilannya nggak pernah mencurigakan dan dia punya kemampuan untuk ngobrol soal lipstik dan jadwal pengiriman dalam satu napas tanpa transisi yang aneh.
Dan ada Dito. Yang satu ini gue paling nggak nyaman ngomonginnya, dia anak baru, sembilan belas tahun, yang Adam rekrut enam bulan lalu dari lingkaran yang berbeda. Dito terlalu semangat, terlalu cepat mau ambil risiko, dan terlalu banyak nanya soal hal-hal yang harusnya nggak perlu dia tau. Chintya sudah dua kali kasih warning ke Adam soal Dito. Adam cuma bilang "nanti gue handle." Gue nggak tau 'nanti' itu kapan.
"Lo mau ngomong sesuatu soal Fabian atau lo mau pura-pura lo nggak kepikiran?" Chintya tiba-tiba nanya lagi, tanpa preamble.
"Gue nggak kepikiran dia."
"Lo dari tadi nggak gerak. Lo cuma rebahan kayak gitu waktu lo lagi proses sesuatu yang lo nggak mau akuin lagi proses."
Gue memutar badan ke arah tembok.
"Chint."
"Apa."
"Tutup mulut."
"Dengan senang hati kalau lo mau jujur duluan." Hening beberapa detik.
AC masih mendengung. Keyboard Chintya masih tek-tek pelan.
"Dia beda dari waktu SMA." Gue akhirnya ngomong ke tembok.
"Orang emang berubah."
"Bukan gitu maksud gue. Dia berubah dengan cara yang bikin gue ngerasa harusnya gue juga udah berubah. Tapi gue nggak."
Chintya diam sebentar. Ini langka Chintya yang diam.
"Lo udah berubah, Kei."
"Ke arah yang salah."
" Tapi siapa yang nentuin arah yang bener?"
Gue nggak jawab itu. Karena gue nggak punya jawaban yang jujur dan sekaligus nggak menyakitkan.
"Lo takut dia tau lo ngapain aja." Chintya ngomong lagi, kali ini lebih pelan.
"Dia pasti udah curiga dari tadi malam."
"Curiga beda sama tau. Selama dia nggak tau, lo masih bisa kontrol narasi."
"Gue nggak mau kontrol narasi sama dia."
"Berarti lo mau dia tau?"
Gue diam.
"Gue nggak mau dua-duanya." Gue jawab jujur.
"Gue mau dia tetap ada tapi nggak perlu tau. Dan gue tau itu minta yang nggak fair."
Chintya nutup laptop pertamanya.
"Itu namanya sayang, Kei. Yang versi paling nggak bertanggung jawab."
Gue nggak bisa protes karena dia benar.
• • •
Gue akhirnya ketiduran entah jam berapa di atas kasur yang protes itu, dengan lampu yang masih nyala karena Chintya masih kerja, dan pikiran yang akhirnya lelah sendiri setelah terlalu lama berputar di tempat yang sama. Yang terakhir gue inget sebelum tidur adalah satu pertanyaan yang nggak pernah gue tanyakan ke siapa pun dengan lantang, tapi selalu ada di suatu tempat di dalam kepala gue sejak Fabian pertama kali pergi dua tahun lalu:
Gimana caranya gue nggak mau dia terseret, tapi juga nggak bisa beneran ngelepas?
Gue ketiduran sebelum nemuin jawabannya. Seperti biasa.
Fabian sudah hampir tidur waktu hapenya bunyi. Itu yang dia ceritain ke gue kemudian, kalo dia lagi rebahan di kasurnya, lampu kamar sudah mati, dan dia lagi di titik antara sadar dan nggak yang mana pikirannya udah mulai nggak linier. Kamarnya di rumah terasa lebih kecil dari yang dia inget setelah dua tahun tidur di kamar kos Semarang, tapi bukan dalam cara yang buruk. Lebih kayak baju lama yang ternyata masih muat. Notif masuk, dia lihat layarnya. Nama gue. Bukan chat, telepon. Jam 2.15 dini hari.
Gue nelpon karena gue nggak punya pilihan lain. Ini penting untuk dipahami dulu sebelum lo nilai keputusan gue malam itu: gue bukan tipe yang gampang panik. Gue udah terlalu lama di lingkungan yang salah satu syarat bertahannya adalah kemampuan buat tetap mikir jernih waktu semuanya lagi nggak oke. Gue bisa tenang waktu ada masalah distribusi yang nyalip jadwal. Gue bisa tenang waktu ada yang hampir ketangkep. Gue bahkan relatif tenang tadi malam waktu lari dari SatRes di stasiun. Tapi apa yang terjadi malam itu berbeda. Dan satu-satunya orang yang namanya muncul di kepala gue adalah dia.
• • •
Kronologinya begini. Gue ketiduran sekitar jam satu. Chintya masih kerja di mejanya, ini normal, dia sering begadang sampai subuh kalau lagi ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Gue nggak tau persis jam berapa dia akhirnya tidur karena gue udah keburu nggak sadar.
Yang gue tau: gue kebangun karena suara yang nggak harusnya ada. Bukan suara keras. Justru sebaliknya, suara yang terlalu diam tapi jenis diamnya salah. Kayak ketika lo di dalam ruangan dan tiba-tiba lo sadar bahwa suara AC yang tadi ada sekarang nggak ada, tapi lo nggak ingat kapan berhentinya. Gue duduk di kasur. Kamar gelap. Tapi di bawah celah pintu, ada bayangan yang bergerak, lebih dari satu.
Chintya sudah melek waktu gue keluar dari kamar, dia duduk di sofa dengan posisi yang terlalu tegak untuk seseorang yang harusnya lagi istirahat, dan matanya langsung ke gue waktu gue keluar. Dua jari tangannya menempel ke bibirnya. Diam. Gue ngerti. Gue nggak nyalain lampu, gue nggak ngomong apa-apa. Gue pelan-pelan geser ke sisi tembok dan dari sana gue bisa lihat ke arah pintu depan yang kuncinya, dari sudut pandang gue, keliatan seperti baru aja bergerak. Ada seseorang di luar yang tau kita ada di dalam.
Opsi gue waktu itu terbatas dan semuanya jelek. Keluar lewat pintu depan: nggak mungkin kalau memang ada yang nungguin di sana. Jendela: lantai tiga, dan di bawahnya bukan tanah lunak. Hubungin Adam: dia yang paling tau posisi kita, tapi kalau yang di luar itu datang dari arahnya gue nggak mau selesaikan kalimat itu. Dan di dalam kepala gue yang lagi nyoba milih opsi sambil jantungnya udah nggak di posisi normal, muncul satu nama.
Bukan nama yang logis untuk situasinya. Bukan nama yang bisa dateng tepat waktu bahkan kalau dia mau. Tapi otak manusia waktu takut nggak selalu milih yang logis selalu pilih yang terasa paling aman. Gue unlock hape gue. Dial nomornya. Fabian angkat di dering pertama.
"Kei?" Suaranya bukan suara orang yang baru kebangun. Dia belum tidur.
"Fab…" Gue pelankan suara gue sampai hampir nggak kedengeran.
"Lo lagi di mana?"
"Di rumah. Kenapa? Lo oke?"
Di luar pintu, sesuatu bergeser.
"Gue di Tebet. Apartemen. Ada yang…"
Chintya tiba-tiba berdiri dari sofa dan menggerakkan tangannya isyarat yang artinya stop, sekarang, jangan lanjut. Gue lihat ke arahnya. Dia tunjuk ke jendela sisi kanan. Di luar jendela itu, di gedung seberang yang jaraknya cukup dekat, ada satu titik cahaya kecil yang nggak bergerak. Ukurannya terlalu kecil dan terlalu stabil untuk jadi puntung rokok. Laser.
"Fab…"
Gue nggak selesaikan kalimatnya. Gue tutup teleponnya.
Fabian menatap layar hapenya yang tiba-tiba mati selama beberapa detik. Itu yang dia ceritain ke gue jauh kemudian, kalo dia duduk di kasurnya dalam gelap, menatap nama gue di layar yang sudah kembali ke home screen, dan nggak tau harus ngapain. Dia coba callback. Nggak diangkat. Coba lagi. Nggak diangkat.
Kirim pesan: 'Kei lo oke?? Jawab'.
Dibaca. Tapi nggak dibalas. Fabian yang sudah belajar cukup banyak selama dua tahun terakhir ntuk tau kapan sesuatu bukan kebetulan, duduk di kamarnya yang terasa lebih kecil dari yang dia inget, dan untuk pertama kalinya sejak pulang ke Jakarta, dia nggak bisa nemuin cara buat tetap tenang.
Gue nggak akan cerita apa yang terjadi setelah gue nutup telepon itu. Bukan karena nggak ada yang terjadi, justru sebaliknya. Tapi karena ini bukan bagian cerita itu. Ini adalah bagian sebelumnya, konteks yang lo butuhkan untuk memahami kenapa gue lari ke stasiun, kenapa gue nggak punya banyak waktu untuk milih, dan kenapa dari semua orang yang bisa gue temuin di peron itu, ketemunya Fabian.
Yang perlu lo tau sekarang cuma ini: Gue nelpon dia karena gue takut. Dan gue nutup teleponnya karena gue sadar bahwa menariknya masuk ke dalam apa yang lagi terjadi malam itu adalah hal paling berbahaya yang bisa gue lakukan untuk seseorang yang selama ini gue coba jaga dari dunia yang gue tinggali. Ironis. Gue yang lari dari dunia itu justru lari ke arah dia. Dan dia yang nggak tau apa-apa, yang cuma mau pulang ke rumah setelah interview kerja, yang hidupnya udah cukup rumit tanpa tambahan masalah dari gue ada di sana.
Berdiri di peron itu dengan ransel di punggung dan ekspresi orang yang lagi deep in thought.Seperti biasa. Tepat waktu. Untuk hal yang salah.
• • •
Setelah gue nutup telepon tadi malam itu, Fabian nggak bisa tidur. Dia cerita itu ke gue beberapa waktu kemudian, dengan cara yang udah biasa, singkat, nggak banyak ornamen, tapi cukup untuk gue ngerti beratnya. Dia bilang dia duduk di kasurnya sampai hampir subuh, nunggu notif yang nggak dateng, nyoba mikir semua skenario yang mungkin dan nggak satupun yang bikin dia lebih tenang dari sebelumnya.
Dan di suatu titik di antara dini hari dan pagi, dia akhirnya ngambil hapenya dan nulis satu pesan yang nggak dia kirim:
'Gue nggak tau lo lagi ngapain atau ada di mana atau sama siapa. Tapi gue harap lo oke.'
Dia draft itu, baca ulang dua kali, lalu hapus. Karena kata dia, kalimat itu terlalu banyak bilang sesuatu yang belum tentu dia siap untuk direspon. Gue ngerti itu. Gue juga punya kalimat-kalimat kayak gitu yang gue tulis, baca ulang, lalu hapus sebelum sempat terkirim. Bedanya, punya gue jumlahnya lebih banyak. Dan semuanya, satu cara atau cara yang lain, selalu ada namanya di sana.
Titik laser di jendela sudah hilang dan itu bukan kabar baik. Chintya sudah tau itu sebelum gue sempat ngomong, dia sudah berdiri dari sofa, sudah cabut router dari stopkontak, dan jari-jarinya sudah bergerak di bawah meja mencari sesuatu yang gue tau dia simpan di sana sejak hari pertama kami pindah ke sini: hard drive kecil seukuran telapak tangan, casing hitam, label kosong. Dia masukkan ke dalam jaket bagian dalam zip, rapi, prosedur. Ini prosedur yang sudah pernah dibahas, bukan dalam sesi formal, tapi dalam percakapan-percakapan malam yang dimulai dengan 'kalau suatu hari nanti' dan berakhir dengan dua orang yang sama-sama berharap percakapan itu nggak perlu jadi kenyataan.
"Lo udah hubungi siapa?"
Chintya nanya tanpa noleh.
"Alex. Baru kirim lokasi."
"Bowo?"
"Belum."
Chintya diam sebentar. Terlalu sebentar.
"Jangan Bowo malam ini."
Gue mau nanya kenapa. Tapi suara itu datang duluan dari bawah.
Bukan suara keras, bukan gedebuk atau teriakan atau hal-hal yang lo bayangkan waktu kata 'bahaya' muncul di kepala. Ini suara yang lebih biasa dan justru karena itu lebih mengganggu: langkah kaki di tangga. Teratur. Satu-satu. Nggak terburu-buru. Kayak orang yang udah hapal berapa anak tangga dari lobi ke lantai tiga dan nggak perlu ngitung lagi.
"Chint."
"Gue denger." Dia jawab sebelum gue selesai ngomong.
"Kamar belakang. Sekarang."
Kamar belakang adalah ruangan paling kecil di unit itu. Satu kasur lipat, lemari plastik, dan jendela yang menghadap gang belakang gedung. Bukan tempat yang nyaman untuk bertahan tapi itu bukan fungsinya. Fungsinya adalah memberi waktu dua puluh detik lebih lama dari ruang utama. Kadang dua puluh detik adalah seluruh perbedaan yang lo punya. Kami masuk. Chintya tutup pintu pelan nggak dikunci, karena bunyi kunci justru jadi penanda posisi. Kami berdiri di sisi yang sama, punggung ke tembok, dalam gelap yang cukup untuk bikin siluet kami nggak keliatan dari bawah celah pintu.
Dari ruang utama, suara pintu depan. Bukan diketuk dulu atau mungkin diketuk sekali, sangat pelan, lebih seperti basa-basi yang nggak mengharapkan jawaban. Lalu sesuatu yang lebih keras. Lalu pintu itu terbuka dengan cara yang artinya kuncinya sudah bukan halangan lagi. Gue tahan napas. Langkah masuk ke ruang utama pelan-pelan. Bukan langkah orang yang panik atau terburu-buru tapi langkah orang yang sedang memeriksa sesuatu yang sudah mereka perkirakan akan ada di sana. Dan di celah tipis antara pintu kamar yang nggak tertutup rapat, gue lihat sebentar.
Satu sosok. Postur yang lumayan, Chintya narik lengan gue mundur sebelum gue sempat fokus. Tapi gue sudah cukup lihat satu hal. Kalung tipis dengan liontin berbentuk poin kompas yang berkilat kena cahaya hape yang masih menyala di meja. Liontin yang gue pernah lihat sebelumnya. Di tempat yang konteksnya sangat berbeda dari malam ini. Gue freeze selama setengah detik, lalu otak gue paksa diri gue untuk bergerak lagi.
Chintya sudah di kamar mandi. Ventilasi di atas bak mandi, panel plastik yang udah dia longgarin bautnya sejak minggu pertama kami di sini, dengan alasan yang waktu itu gue pikir terlalu paranoid. Ukurannya cukup untuk satu orang dewasa kalau mau sedikit susah payah. Turunnya ke gang belakang yang sempit, gelap, dan bau campuran got dan asap dapur warung yang ada di ujung gang.
"Lo duluan." Chintya bisik.
"Barengan aja..”
"Kei."
Satu kata. Dengan nada yang nggak ada ruang untuk debat.
"Hard drive ini nggak boleh ketangkep. Lo yang paling tau cara bawa ini keluar tanpa ketauan. Pergi."
Gue mau bilang sesuatu. Gue mau bilang banyak hal, bahwa gue nggak mau pergi tanpa dia, bahwa ini bukan rencana yang fair, bahwa ada cara lain yang belum kita coba. Tapi langkah di ruang utama sudah lebih dekat ke pintu kamar. Chintya udah mendorong gue ke atas bak mandi sebelum gue sempat memilih kata yang tepat. Gue naik. Gue dorong panel ventilasi. Gue masuk ke dalam lubang yang terlalu sempit dan terlalu gelap itu dengan cara yang nggak ada satu pun bagian dari tubuh gue yang setuju. Dan waktu gue sudah setengah jalan keluar, gue dengar pintu kamar terbuka dari dalam unit.
Gue turun ke gang belakang dengan cara yang lebih mirip jatuh dari naik. Lutut gue kena aspal. Tangan gue reflek menangkap badan sendiri. Gue berdiri, nggak cek luka, dan mundur ke bayangan dinding gedung sebelah. Di atas, dari ventilasi yang masih terbuka, gue dengar suara. Bukan teriakan, bukan suara kekerasan. Yang gue dengar justru lebih menggelisahkan dari itu, percakapan. Dua suara, pelan. Nggak bisa gue make out kalimatnya karena jaraknya dan karena jantung gue sendiri terlalu berisik di telinga gue. Tapi satu kata, satu nama terucap cukup jelas untuk gue tangkap sebelum angin membawa sisanya pergi.
Nama itu harusnya nggak ada hubungannya dengan malam ini. Tapi waktu gue dengar nama itu di mulut suara yang nggak gue kenali dari sana, tiba-tiba semua yang nggak masuk akal dari beberapa minggu terakhir mulai membentuk pola. Gue berdiri di gang yang bau got itu selama mungkin tiga detik lalu gue lari.
• • •
Gang belakang gedung itu tembus ke jalan kecil yang tembus ke jalan yang lebih besar yang akhirnya tembus ke mana pun yang lebih jauh dari lantai tiga gedung tua di Tebet itu. Gue lari tanpa tau persis mau ke mana. Ini bukan strategi, ini tubuh yang bergerak karena nggak punya instruksi lain selain menjauh. Di suatu titik gue berhenti di depan minimarket yang tutup. Bungkuk, tangan di lutut, napas yang nggak mau diatur. Gue ngecek jaket bagian dalam, Hard drive masih ada, gue ngecek hape, tiga missed call dari Alex. Satu dari nomor yang nggak tersimpan yang gue nggak angkat karena nggak punya kapasitas untuk itu sekarang. Dan nol dari Fabian, yang artinya dia sudah tidur, atau dia sudah coba balik tidur setelah gue nutup teleponnya tadi.
Gue mau nelpon dia lagi, tangan gue sudah di atas nama-nya di layar.Tapi gue berhenti. Karena kalau gue nelpon sekarang, kalau gue bilang apa yang baru saja terjadi, kalau gue kasih dia cukup untuk dia memutuskan bahwa dia perlu ke sini, gue nggak bisa kontrol apa yang terjadi selanjutnya. Dan ada hal-hal yang gue tau soal malam ini yang membuat gue nggak yakin membawa Fabian masuk ke dalamnya adalah keputusan yang aman. Bukan untuk dia, bukan untuk orang yang namanya baru gue dengar dari gang belakang tadi.
Gue lock hape gue, masukkin ke kantong. Dan mulai jalan ke arah yang paling tidak ada hubungannya dengan tempat yang gue kenal. Kadang menghilang adalah satu-satunya cara untuk menjaga orang-orang yang lo sayang tetap aman. Gue harap ini cukup waktu untuk percaya itu sebelum gue berubah pikiran.
• • •
Fabian tiba di alamat itu sekitar pukul empat pagi. Alamat yang dia punya cuma 'Tebet, apartemen lantai tiga', empat kata yang Keira sempat ucapkan sebelum telepon itu terputus. Dia naik ojek, turun di blok yang paling masuk akal berdasarkan konteks tipis yang dia punya, dan dari sana dia cari sisanya dengan cara lama: jalan, perhatikan, dan percaya bahwa sesuatu akan terasa salah waktu dia sudah dekat.
Sesuatu yang terasa salah, pintu lobi gedung yang belum terkunci di jam itu, lampu koridor lantai tiga yang satu bolanya mati sehingga ada bagian gelap di ujung, dan unit di ujung koridor yang pintunya nggak sepenuhnya tertutup. Fabian berdiri di depan pintu itu lama sebelum masuk. Bukan karena takut, tapi karena dia sudah cukup menghadapi situasi yang nggak terduga selama dua tahun terakhir untuk tau bahwa masuk ke dalam sesuatu yang nggak dia pahami penuh butuh satu detik keputusan yang nggak bisa diambil kembali. Dia masuk.
Ruangannya udah berubah dari apa yang pernah jadi tempat tinggal seseorang. Bukan hancur total, bukan kekerasan yang acak dan penuh amarah. Lebih seperti penggeledahan yang dilakukan oleh orang yang tau apa yang mereka cari dan cukup terlatih untuk mencarinya dengan efisien. Beberapa laci terbuka tapi isinya nggak dibuang ke lantai. Kabel-kabel komputer dicabut tapi perangkatnya masih di tempat. Kursi digeser, bukan dibalik.
Fabian bergerak pelan di dalam ruangan. Hapenya di tangan dengan senter menyala, tapi nggak semua cahaya dia arahkan ke depan — beberapa ke samping, beberapa ke bawah, karena detail seringkali ada di tempat yang orang nggak sengaja menaruhnya. Di atas meja, ada mug kopi. Fabian letakkan punggung tangannya di sisi luar mug itu, masih hangat. Bukan hangat yang udah dingin jadi suam-suam kuku, tapi hangat yang artinya ini baru. Mungkin satu jam, mungkin kurang. Dia geser ke kamar belakang.
Ke kamar mandi, panel ventilasi di atas bak mandi terbuka bautnya nggak hilang, tapi sudah dilonggarkan dari dalam. Ini bukan vandalisme, ini akses yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Artinya setidaknya satu orang keluar dari sini dengan cara yang nggak melalui pintu depan. Fabian berlutut di pinggir bak mandi dan arahkan senternya ke lantai. Di ubin putih yang sudah menguning di beberapa bagian, ada bekas tapak sepatu ukuran kecil, pola sol yang tipis. Seseorang mendarat dari ketinggian dan bertumpu di sini sebelum bergerak. Dia kembali ke ruang utama. Meja, sofa, tiga kabel monitor yang ujungnya tergeletak tanpa perangkat. Dan di sudut meja, sesuatu yang kecil berkilat kena cahaya senternya.
Fabian mendekat. Satu anting model hoop kecil, perak, dengan satu lekukan kecil di bagian sambungannya yang artinya ini jatuh bukan dilepas. Posisinya ada di antara meja dan ventilasi kamar mandi seperti jatuh dalam pergerakan dari satu titik ke titik lain. Dia nggak ambil, dia foto. Lalu dia lanjut ke meja dan temukan sesuatu yang lebih membingungkan: di sisi kanan meja, di bawah tatakan gelas, ada kertas kecil yang dilipat tidak rapi. Tulisan tangan, bukan tulisan Keira, terlalu tegak, terlalu presisi, dari seseorang yang terbiasa menulis dengan tangan tapi dalam konteks yang berbeda dari catatan harian.
Tiga karakter: *14-C*.
Fabian menatap itu lama. Angka dan huruf yang nggak punya konteks yang cukup untuk diterjemahkan sekarang, tapi juga bukan sesuatu yang terasa seperti kebetulan. Dia foto lagi. Lalu lipat kembali dan taruh persis di tempat asalnya. Karena kalau ada yang kembali ke sini malam ini, dia nggak mau ada yang tau bahwa seseorang sudah menemukannya.
• • •
Tiba-tiba denger suara langkah di koridor. Fabian sudah berdiri di sisi dinding jauh sebelum pintu terbuka, posisi yang ngasih dia pandangan ke seluruh ruangan dan cukup bayangan untuk nggak langsung terlihat dari ambang pintu. Yang masuk bukan ancaman atau setidaknya bukan ancaman yang baru.
Alex Rizza Wahyudiningrat, masuk dengan cara seseorang yang sudah terlalu sering masuk ke situasi seperti ini untuk masih merasa perlu bersikap dramatis. Sweater gelap, celana yang terlalu rapi untuk jam segini, dan cara matanya menyapu ruangan dalam tiga detik pertama yang menunjukkan ini bukan respons amatir. Dia lihat Fabian di sudut, ekspresinya nggak berubah banyak sekedip mata, lalu dia masuk sepenuhnya dan tutup sisa pintu yang rusak itu semampunya.
"Ngapain lo?" Tanya Alex.
"Lo sendiri? Ngapain kesini?" Tanya Fabian.
"Keira nelpon lo?" Alex yang nanya duluan.
"Telepon. Tapi putus di tengah, Lo?"
"Pesan. Sebelum semuanya terjadi. Lokasi sama satu kata."
Fabian ngangguk pelan. Alex bergerak ke meja, matanya langsung ke mug kopi, ke kabel yang tercabut, ke posisi kursi yang sudah bergeser. Cara dia baca ruangan itu bukan cara orang yang panik mencari temannya, lebih terstruktur dari itu. Lebih dingin.
"Lo udah cek semuanya?"
"Sebagian. Ventilasi di kamar mandi. Ada yang keluar dari sana."
"Ukuran tapaknya?"
"Kecil. Satu orang."
Alex diam sebentar. Rahangnya mengeras tipis.
"Berarti mereka kepisah." Bukan pertanyaan, konklusi.
Fabian menatap Alex. "Lo tau lebih banyak dari yang lo bilang."
Alex nggak langsung jawab. Dia ambil kursi yang sudah bergeser itu, duduk di atasnya, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, ekspresinya kehilangan sedikit dari lapisan kontrolnya.
"Iya." Dia jawab akhirnya.
"Dan lo juga udah curiga dari tadi kan kalau ini bukan random. Ini bukan maling biasa, ini bukan SatRes yang nyasar. Ini orang yang tau persis di mana unit ini, tau layout-nya, dan tau apa yang mau dicari."
"Siapa?"
Alex menatap Fabian sebentar, dengan cara orang yang sedang menimbang seberapa banyak yang aman untuk dikatakan ke seseorang yang dia belum sepenuhnya bisa dia baca.
"Gue belum tau pasti. Tapi gue punya teori yang gue nggak mau salah."
"Teori lo butuh apa buat jadi lebih dari sekadar teori?"
"Informasi yang ada di sini."
Alex noleh ke meja.
"Yang udah nggak ada."
Fabian ikut noleh ke meja. Ke tempat di mana tiga layar tadi terhubung ke perangkat yang sekarang sudah pergi.
"Hard drive-nya dibawa kabur atau dibawa masuk?"
Alex menatap Fabian dengan ekspresi yang pertama kalinya sejak tadi terasa seperti dia nggak terduga.
"Pertanyaan yang bagus." Pelan.
"Chintya yang megang hard drive itu. Chintya udah nggak ada di sini." Hening.
Di luar, langit sudah mulai abu-abu di bagian timur bukan terang, tapi abu-abu yang mengisyaratkan bahwa gelap sudah kehilangan sebagian kepekatannya.
"Lo mau tau lebih jauh atau lo mau pulang?" Alex nanya pelan. Tanpa intonasim bukan intimidasi, bukan tantangan. Murni pertanyaan.
Fabian nggak langsung menjawab. Dia lihat ruangan itu satu kali lagi, mug kopi yang sudah mulai benar-benar dingin, anting perak yang masih di lantai, kertas kecil dengan tiga karakter yang masih terlipat di bawah tatakan gelas. Kemarin dia selesai interview di firma hukum Sudirman. Dan sorenya dia ketemu Keira di peron KRL dan dia nggak sempat nanya banyak karena situasinya nggak kasih ruang untuk itu. Kemarin malam dia rebahan di kasur kamarnya yang terasa lebih kecil dari yang dia inget, dan dia hampir tidur sebelum satu telepon masuk dan mengubah malam itu jadi sesuatu yang nggak akan dia bisa pura-pura nggak pernah terjadi.
Dan sekarang dia berdiri di sini. Di ruangan yang bukan miliknya, dengan orang yang nggak sepenuhnya dia percaya, tanpa tau persis di mana Keira berada dan apakah dia baik-baik saja.
"Gue mau tau lebih jauh." Fabian jawab.
Alex mengangguk pelan. Berdiri. Dan dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa malam ini butuh lebih dari satu orang untuk diselesaikan, dia buka mulutnya dan mulai bicara.
• • •
Mereka berdua keluar dari unit itu menjelang subuh. Pintu yang rusak ditarik semampunya, lift yang mati membuat mereka turun lewat tangga yang sama yang tadi malam dilalui seseorang dengan langkah yang terlalu teratur untuk dilewati tanpa meninggalkan bekas. Di lobi gedung, mereka berhenti.
"Gue butuh dua puluh empat jam." Alex bilang.
"Buat apa?"
"Buat verifikasi sesuatu. Kalau gue salah — kita buang waktu dua puluh empat jam. Kalau gue bener—" Dia nggak nerusin.
"Kalau lo bener?"
Alex menatap Fabian dengan cara yang untuk pertama kalinya malam itu terasa seperti dia nggak menyimpan jarak.
"Kalau gue bener, ini lebih dalam dari yang kita berdua mau akuin sekarang."
Fabian ngangguk. Mereka berpisah di depan gedung, Alex ke mobilnya yang parkir di seberang jalan, Fabian ke trotoar dengan hape di tangan dan tiga karakter di kepalanya yang belum punya tempat yang tepat.
*14-C.*
Fabian berdiri di trotoar Tebet yang sudah mulai diterangi cahaya subuh yang tipis, di antara suara adzan pertama yang datang dari masjid di ujung jalan dan suara motor pertama yang mulai lewat, dan dia tau satu hal dengan cara yang nggak butuh konfirmasi: Dia baru saja memilih untuk masuk ke dalam sesuatu yang pintunya sudah nggak bisa dia tutup lagi dari luar. Dan di suatu tempat di kota yang sama, di gang yang sempit atau jalan yang ramai atau ruangan yang nggak gue bisa deskripsikan sekarang, ada dua orang yang gue sayang yang nggak ada yang tau di mana. Yang pertama: Chintya, yang pergi bukan karena dia mau. Yang kedua: gue, yang ninggalin dia karena gue tau kalau nggak pergi, yang lain juga akan kena.
Tapi dari kepingan-kepingan itu, gue bisa nyusun satu gambar yang cukup utuh. Dan gambar itu sampai sekarang masih bikin dada gue sesak kalau gue terlalu lama mikirin.
LSM itu namanya Rumah Perempuan Semarang. Gedungnya nggak besar, ruko dua lantai di jalan yang cukup sepi, cat tembok putih yang mulai kusam di beberapa sudut, dan papan nama yang tulisannya udah agak pudar. Tapi di dalamnya rapi, bersih, dan ada sesuatu di sana yang terasa kayak tempat yang sengaja dibangun supaya orang bisa napas lagi.
Clara yang ngatur semuanya. Dia yang bolak-balik ke sana selama tiga minggu sebelum akhirnya dapet izin, izin yang dateng bukan dari pihak LSM, tapi dari Hasna sendiri. Karena syaratnya jelas dari awal: semua keputusan ada di tangan perempuan itu. Mau ketemu atau nggak, kapan, dan seberapa lama — itu hak Hasna sepenuhnya. Hasna milih sore hari. Di ruang tamu LSM yang kecil, dengan satu orang pendamping dari lembaga yang duduk diam di sudut bukan untuk ikut campur, tapi untuk memastikan ruang itu tetap aman. Fabian, Rayan, dan Clara dateng lima menit lebih awal. Dan mereka nunggu.
Yang keluar dari pintu dalam itu bukan Hasna yang sama. Fabian tau itu langsung bukan karena ada yang berubah secara drastis, tapi karena justru semuanya terlalu berbeda dari cara yang nggak mencolok. Hasna jalan lebih pelan. Gerakannya lebih hati-hati, kayak orang yang udah lama terbiasa mengambil ruang sesedikit mungkin. Matanya menyapu ruangan sebelum dia masuk sepenuhnya — bukan dari kebiasaan, tapi dari naluri yang terbentuk karena terlalu sering perlu waspada.
Dan satu hal lagi yang langsung semua orang lihat tapi nggak ada yang berani sebut duluan. Perutnya.
Rayan yang pertama kali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Clara yang paling cepat menyesuaikan ekspresinya. Dan Fabian — Fabian berdiri di sana dengan semua pertanyaan yang udah dia susun selama berbulan-bulan tiba-tiba terasa seperti benda yang salah ukuran.
Hasna duduk. Tangannya dilipat rapi di atas meja, dan cara dia menatap mereka bertiga adalah cara orang yang udah cukup lama menghadapi situasi sulit sendirian sampai dia nggak lagi takut untuk duduk tegak di tengahnya.
"Makasih udah mau nunggu gue siap." Itu yang pertama dia ucapkan. Pelan, tapi bukan lemah.
"Kita yang harusnya makasih." Clara jawab duluan.
Hasna mengangguk kecil. Matanya beralih ke Fabian sebentar — hanya sebentar — sebelum turun lagi ke meja.
"Gue tau kalian nyari gue lama. Dan gue tau kalian pasti nggak ngerti kenapa gue nggak balik atau kasih kabar."
Nggak ada yang menjawab. Karena jawaban yang paling jujur — ya, kita nggak ngerti — terasa terlalu kecil untuk ukuran seberapa lama mereka menunggu.
"Sore itu, waktu Rifky bawa gue pergi dari kafe…" Hasna mulai pelan.
"Gue nggak melawan. Bukan karena gue nggak mau. Tapi karena gue udah tau kalau gue melawan di situ, yang kena duluan bukan gue."
Rayan menelan ludah.
"Beberapa minggu setelah itu, gue tau gue hamil." Hening.
Bukan hening yang canggung tapi hening yang berat, jenis yang terjadi ketika semua orang di ruangan sedang mencoba menempatkan informasi baru itu di dalam diri mereka masing-masing tanpa menunjukkan prosesnya ke luar.
"Rifky minta kita nikah. Katanya ini yang dia tunggu, ini bukti bahwa janji kita dulu beneran. Gue nggak punya posisi buat nolak waktu itu. Dia tahu di mana gue, dia tahu siapa aja yang deket sama gue, dan dia punya cukup koneksi buat bikin hidup orang-orang yang gue sayang jadi ribet." Hasna ngomongnya bukan dengan nada minta dikasihani. Lebih kayak seseorang yang lagi menjelaskan keputusan bisnis yang nggak menguntungkan, datar, kronologis, tanpa ornamen.
"Jadi gue nikah sama dia. Diam-diam. Cuma beberapa orang yang tau."
"Gue minta status kampus gue diurus supaya keliatan kayak pengunduran diri biasa, biar nggak ada yang nyari gue lewat jalur resmi. Dan gue ke sini karena ini satu-satunya tempat yang Rifky nggak berani masuk dengan cara yang kasar."
Fabian belum bisa ngomong sepatah kata pun. Gue tau itu dari cara Rayan cerita, dia bilang kalo Fabian duduk dengan cara yang terlalu diam untuk ukuran seseorang yang biasanya tau harus bilang apa. Tangannya ada di atas meja, dan satu jarinya pelan-pelan mengetuk permukaan kayu itu dua kali sebelum berhenti.
"Lo marah sama gue?" Hasna akhirnya nanya langsung ke Fabian.
Fabian menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak Hasna masuk ke ruangan itu, dia beneran menatap matanya.
"Nggak." Jawabnya pelan.
"Gue cuma... butuh waktu sebentar buat naruh ini di tempat yang bener di kepala gue."
Hasna mengangguk. Dan untuk pertama kalinya sejak dia masuk, ada sesuatu di sudut matanya yang sedikit mencair.
"Gue nggak minta kalian ngerti semua keputusan gue. Tapi gue minta kalian percaya bahwa gue nggak punya pilihan yang lebih baik waktu itu."
"Kita percaya." Clara ngomong cepat.
Rayan mengangguk. "Kita percaya, Has."
Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam. Hasna cerita lebih banyak dari yang awalnya dia rencanakan atau mungkin memang itu yang dia butuhkan, seseorang yang mau duduk dan denger tanpa langsung coba memperbaiki sesuatu. Clara yang paling banyak nanya, tapi dengan cara yang nggak terasa kayak interogasi. Rayan yang sesekali nyela dengan hal-hal kecil yang nggak penting, nama menu kafe yang mereka dulu sering tongkrong, atau soal koleksi buku di perpustakaan FIB yang kata Hasna selalu salah shelving dan setiap kali dia lakuin itu, Hasna sedikit lebih rileks dari sebelumnya.
Dan Fabian. Fabian nggak banyak ngomong, tapi dia nggak kemana-mana juga. Kata Rayan, itu yang paling penting buat Hasna, bukan kata-kata yang tepat, bukan solusi yang cepat. Cukup tau bahwa orang-orang ini nggak pergi setelah denger semuanya.
Mereka pulang waktu langit udah mulai gelap. Di motor menuju kos, Rayan nggak ngomong dulu sampai mereka berhenti di lampu merah yang panjang.
"Lo oke?" Ke Fabian, yang duduk di belakang.
"Iya."
"Beneran?"
Fabian nggak jawab langsung. Lampu masih merah.
"Gue nggak tau gimana caranya nggak oke soal ini, Ian. Ini bukan soal gue."
"Tapi lo yang kepikiran paling keras."
"Ya. Dan itu yang bikin gue nggak berhak untuk nggak oke."
Lampu hijau. Rayan nggak nerusin pertanyaannya, tapi gue rasa dia ngerti maksudnya.
• • •
Kunjungan kedua ke Rumah Perempuan Semarang terjadi empat hari setelah yang pertama. Kali ini mereka bawa sesuatu yang lebih konkret. Pak Warsito, yang kata Fabian sudah lama bergerak di jalur yang nggak kelihatan dari permukaan nemuin celah hukum yang bisa dipakai: Hasna bisa mengajukan gugatan pembatalan pernikahan atas dasar tekanan dan paksaan, dan ada lembaga bantuan hukum yang siap mendampingi prosesnya dari awal sampai selesai. Bukan jalan yang mudah, bukan jalan yang cepat. Tapi ada jalan.
Hasna mendengarkan semua itu dengan ekspresi yang susah dibaca, mata yang fokus, tangan yang diam di atas meja, dan sesekali anggukan kecil yang lebih terasa seperti konfirmasi bahwa dia masih menyimak daripada persetujuan.
"Prosesnya bakal panjang?" Dia nanya ke Clara.
"Beberapa bulan. Mungkin lebih. Tapi kamu nggak akan sendirian ngejalaninnya." Hasna mengangguk lagi. Kali ini sedikit lebih berat.
"Rifky bakal tau kalau gue mulai proses ini."
"Dia akan tau dari awal." Clara jawab jujur.
"Makanya kita perlu pastiin kamu aman dulu sebelum langkah pertama diambil."
Obrolan mereka masih berlangsung waktu pintu depan LSM terbuka. Nggak ada yang ketuk. Nggak ada yang minta izin. Rifky masuk seperti orang yang sudah tahu denah ruangan.
Fabian langsung berdiri. Bukan karena panik, tapi karena tubuhnya bereaksi sebelum kepalanya sempat memproses situasi sepenuhnya. Rayan yang ada di sebelahnya ikut berdiri setengah detik kemudian. Clara menarik kursinya sedikit ke belakang, diam-diam memposisikan dirinya di antara Hasna dan pintu.
Rifky bukan dalam seragam. Dia make kaos hitam, celana tactical, dan rambut yang agak berantakan bukan penampilan seseorang yang baru dari tugas, melainkan seseorang yang sudah menunggu di tempat tertentu cukup lama sebelum memutuskan untuk masuk. Pistolnya ada di pinggangnya. Masih di holster. Tapi tangannya ada di sana.
"Hei." Dia nyapa Hasna duluan, dengan nada suara suami yang pulang ke rumah dan menemukan tamunya masih ada.
"Kok belum selesai juga?"
Hasna nggak menjawab. Tapi dia juga nggak bergerak mundur. Rifky akhirnya beralih ke Fabian. Dan di situ, di dalam tatapan yang mereka tukar dari jarak beberapa meter, ada sesuatu yang sudah disimpan terlalu lama dari kedua arah.
"Lo nggak kapok juga, ya?" Suaranya rendah. Bukan marah. Lebih buruk dari marah, dingin.
"Gue nggak ada urusan sama lo, Rifky. Gue ke sini buat Hasna."
"Hasna istri gue."
"Hasna orang yang punya hak buat milih."
Sesuatu bergeser di wajah Rifky. Masih terkontrol, tapi garis rahangnya mengeras.
"Lo pikir lo ngerti situasinya lebih dari gue?"
"Gue pikir situasinya lebih rumit dari yang lo mau akuin."
Rayan maju setengah langkah, bukan ke arah Rifky, tapi ke arah celah di antara keduanya.
"Oke, stop. Kita bisa ngobrol dengan cara yang lebih…"
"Lo siapa?" Rifky motong Rayan tanpa noleh ke arahnya.
"Temennya Fabian."
"Bagus. Kalau lo temennya, saranin dia buat tau batas."
Di sudut ruangan, pendamping dari LSM sudah berdiri dan dengan tenang. Dengan ketenangan orang yang sudah terlatih menghadapi situasi seperti ini selalu mengeluarkan ponselnya.
"Mas, ini fasilitas pendampingan. Saya minta Mas keluar dari ruangan ini sekarang."
Rifky meliriknya sebentar. Lalu dengan gerakan yang terlalu tenang untuk situasinya dia mengambil pistolnya dari holster dan meletakkannya di atas meja. Bukan menodongkan, hanya menaruh. Tapi itu cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu berhenti bernapas selama satu detik penuh.
"Gue nggak mau masalah." Rifky bilang pelan, tangannya masih di dekat senjata itu.
"Gue cuma mau istri gue pulang."
Yang terjadi selanjutnya, Fabian ceritanya ke gue dengan cara yang nggak linier, dia loncat-loncat, mengulang beberapa bagian dua kali, dan ada satu titik di mana dia berhenti di tengah kalimat dan nggak melanjutkan sampai gue nggak nanya lagi.
Tapi dari yang gue susun: Rayan yang bergerak duluan. Bukan ke arah Rifky. Dia bergerak ke arah meja, refleks, kayak orang yang mau bikin jarak antara senjata itu dan semua orang di ruangan dan dalam gerakan itu dia menyenggol meja dengan pinggulnya. Meja bergeser. Pistol bergeser. Dan dalam satu detik yang nggak bisa diulang atau diperlambat oleh siapa pun di ruangan itu, senjata itu meletus.
Satu tembakan, ke langit-langit. Gue nggak ada di sana, tapi gue bisa bayangin suaranya bukan kayak di film, lebih keras, lebih tajam, lebih nyata dengan cara yang langsung memukul dada siapa pun yang mendengarnya. Semua orang ambruk atau berlindung dalam waktu yang hampir bersamaan. Clara menarik Hasna ke sudut. Rayan jatuh ke lantai karena reflek. Fabian mundur dua langkah dan punggungnya menghantam tembok. Debu dari plafon jatuh pelan. Telinga berdenging.
Rifky membeku. Tangannya masih terentang ke arah meja, refleks yang belum sempat ditarik kembali dan di wajahnya ada ekspresi yang mungkin baru pertama kali Fabian lihat di sana: bukan marah, bukan dingin, tapi sesuatu yang lebih jujur dari keduanya. Dia kehilangan kontrol. Dan dia tahu semua orang di ruangan itu melihatnya kehilangan kontrol. Hasna berdiri dari sudut ruangan. Pelan, dengan satu tangan di perut, gerakan refleks yang mungkin bahkan nggak dia sadari sendiri.
Dan dia menatap Rifky. Bukan dengan ketakutan.
"Rifky." Satu kata. Tapi beratnya satu ton.
"Kalau lo tembak salah satu dari mereka hari ini, lo nggak akan pernah lihat anak lo."
Hening yang berbeda dari sebelumnya. Hening yang terasa kayak udara habis dari ruangan. Rifky menatap Hasna lama, terlalu lama. Dan di dalam tatapan itu ada pergulatan yang nggak ada satu pun orang di ruangan itu bisa ikut masuk ke dalamnya. Pak Warsito yang masuk dari pintu luar dia udah ada di luar sejak tadi, denger semuanya, berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang tenang dan satu kalimat yang diucapkan dengan nada orang yang sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini:
"Satu tembakan sudah cukup untuk laporan. Saya sarankan Anda pergi sekarang." Rifky mengambil pistolnya dari lantai. Dia memasukkannya kembali ke holster dan dia pergi.
Nggak ngomong apa-apa lagi. Nggak noleh ke belakang. Pintu depan LSM ditutup, dan suaranya suara, yang terlalu normal untuk mengakhiri sesuatu yang terlalu luar biasa adalah suara terakhir yang mereka dengar dari Rifky hari itu. Mereka semua diam di lantai masing-masing selama beberapa detik setelah pintu itu menutup.
Rayan yang pertama ngomong.
"Semua orang oke?"
Clara mengangguk. Hasna mengangguk. Fabian yang masih bersandar ke tembok mengangkat satu tangan isyarat yang artinya iya tapi yang mukanya bilang hal yang berbeda. Pendamping LSM sudah menelepon seseorang, nada suaranya tenang dan prosedural, melaporkan insiden dengan kalimat-kalimat yang terdengar seperti sudah pernah diucapkan sebelumnya.
Pak Warsito masuk sepenuhnya dan duduk di kursi yang paling dekat, tangannya dilipat di depan dada.
"Ini akan jadi bagian dari laporan resmi. Penggunaan senjata di luar tugas, intimidasi, memasuki fasilitas perlindungan tanpa izin." Dia bilang ke Hasna.
"Dengan ini, kita punya lebih dari cukup untuk mulai."
Hasna mengangguk. Matanya turun ke lantai sebentar.
Lalu naik lagi, ke arah Fabian, yang masih belum bergerak dari tembok.
"Lo nggak kenapa-napa?"
Hasna nanya pelan. Fabian akhirnya menggeser posisinya. Berdiri tegak. Menarik napas satu kali panjang sebelum menjawab.
"Gue oke." Satu jeda.
"Lo yang gue tanya balik."
Hasna hampir tersenyum. Hampir.
"Gue oke, Fab. Gue udah oke lama sebelum kalian dateng. Gue cuma butuh diingetin bahwa gue nggak sendirian."
Ruangan itu masih berbau sesuatu yang gue nggak bisa deskripsikan karena nggak pernah ada di sana, tapi Fabian bilang baunya kayak asap tipis dan debu tua. Dan di dalamnya, di antara debu yang masih turun pelan dari lubang di langit-langit, ada enam orang yang semuanya masih hidup. Untuk hari itu, semua udah cukup.
• • •
Rifky dilaporkan tiga hari setelah insiden itu. Pak Warsito yang handle jalurnya, laporan tertulis ke Propam, dokumentasi lengkap dari pendamping LSM sebagai saksi, ditambah rekaman audio yang tanpa sengaja terekam di ponsel pendamping tersebut sejak Rifky masuk ke ruangan. Bukan bukti yang sempurna, tapi cukup untuk membuat Rifky tidak bisa bergerak bebas selama proses berjalan.
Status aktifnya sebagai anggota Brimob masih berjalan, dunia bergerak lambat untuk orang-orang seperti Rifky, dan Pak Warsito cukup realistis untuk tidak menjanjikan sesuatu yang belum bisa dia pastikan. Tapi untuk sementara waktu, ada jarak yang dipaksakan secara prosedural antara Rifky dan Hasna. Dan dalam situasi seperti ini, jarak sementara adalah kemewahan.
Hasna memilih untuk tetap di LSM. Bukan karena dia nggak punya pilihan lain, Clara udah menawarkan untuk membantu mencari tempat tinggal, dan Pak Warsito punya koneksi ke beberapa lembaga yang bisa memfasilitasi. Tapi Hasna yang bilang sendiri, dengan cara yang terdengar seperti orang yang sudah lama memikirkan jawabannya:
"Ini tempat pertama yang ngerasa aman buat gue dalam waktu yang gue nggak mau hitung. Gue mau di sini dulu sampai gue siap buat pindah atas kemauan gue sendiri, bukan karena terpaksa."
Nggak ada yang protes. Proses hukum untuk pembatalan pernikahan mulai berjalan. Panjang, berliku, penuh prosedur yang dirancang seolah-olah untuk menguras kesabaran. Tapi Hasna menjalaninya dengan cara yang sama seperti dia duduk di ruangan itu pertama kali: tegak, diam, dan nggak meminta belas kasihan dari siapa pun.
Pertemuan terakhir antara Fabian dan Hasna terjadi di sebuah taman kecil di belakang gedung LSM. Hasna yang minta. Empat mata, tanpa Rayan, tanpa Clara. Tamannya kecil, lebih tepat disebut petak hijau dengan dua bangku besi dan satu pohon mangga yang sudah cukup tua untuk menghasilkan bayangan yang lumayan. Sore itu mendung tipis, angin pelan, dan suasananya terlalu tenang untuk dua orang yang punya terlalu banyak hal yang belum terselesaikan.
Mereka duduk sebentar tanpa ngomong apapun. Bukan canggung, lebih kayak dua orang yang sama-sama sadar bahwa apa pun yang akan diucapkan selanjutnya perlu waktu untuk ditempatkan di posisi yang tepat dulu.
Hasna yang mulai.
"Lo nggak harus nunggu gue, Fab."
Fabian nggak langsung menjawab. Dia lihat ke arah pohon mangga di ujung taman, ke langit yang mendung tipis di atasnya, sebelum akhirnya balik menatap Hasna.
"Gue nggak nunggu lo." Pelan, tapi jelas.
"Gue cuma... belum siap buat nggak peduli."
Hasna diam sebentar. Lalu tersenyum, bukan senyum yang manis atau melegakan, tapi senyum orang yang baru aja mendengar sesuatu yang lebih jujur dari yang mereka minta.
"Itu udah cukup, Fab. Beneran."
Fabian mengangguk pelan. Ada hal-hal yang nggak perlu dijawab karena jawabannya sudah ada di dalam pertanyaan itu sendiri, dan keduanya cukup dewasa untuk membiarkannya seperti itu.
"Lo bakal baik-baik aja?"
Fabian nanya setelah hening yang cukup panjang.
"Gue lagi belajar gimana caranya."
Hasna jawab.
"Tapi iya. Gue rasa bakal oke."
"Anak lo…"
"Bakal lahir di tempat yang aman. Itu yang paling penting sekarang."
Fabian ngangguk lagi. Dan gue rasa di titik itu dia akhirnya menemukan tempat yang tepat di dalam kepalanya untuk meletakkan semua ini, bukan sebagai kekalahan, bukan sebagai kehilangan, tapi sebagai sesuatu yang memang tidak pernah sepenuhnya miliknya untuk disimpan. Mereka berpisah tanpa pelukan. Tanpa janji. Tanpa hal-hal yang sebenernya cuma akan mempersulit keduanya. Hanya dua orang yang saling melepas dengan cara yang paling jujur yang bisa mereka temukan.
Fabian balik ke kos malam itu dan mulai packing. Semester genap resmi berakhir. KRS semester depan masih bisa diurus jarak jauh untuk sementara. Dan Jakarta, rumah, ibu, adik, dan semua hal yang sudah lama dia tinggalkan tiba-tiba terasa lebih nyata dari yang pernah dia bayangkan selama dua tahun terakhir. Pamitan dengan Rayan terjadi keesokan paginya, di depan pintu kos Fabian.
Rayan datang dengan dua gelas kopi sachet dari warung bawah yang satu buat dia, yang satu untuk Fabian dan mereka minum sambil berdiri karena bangku depan kos sudah penuh barang bawaan yang menunggu dijemput. Mereka nggak ngobrol soal Hasna. Nggak soal Rifky, nggak soal demo, nggak soal Dimas atau Aldrich atau dua tahun yang berjalan terlalu padat untuk diringkas dalam satu percakapan terakhir.
Mereka ngobrol soal hal-hal kecil. Shift Rayan yang minggu depan dipindah ke sore. Kucing kampus yang minggu ini melahirkan di bawah tangga gedung D. Kopi sachet yang menurut Rayan formulanya berubah tapi menurut Fabian masih sama saja. Jemputan Fabian datang tepat waktu.
Rayan bantu angkat koper terakhir ke bagasi. Dan di depan mobil yang mesinnya sudah menyala, mereka berdiri sebentar dengan cara dua orang yang sama-sama tau ini bukan perpisahan permanen, tapi tetap saja terasa lebih berat dari yang ingin mereka tunjukkan.
"Lo bakal baik-baik aja, Ray." Fabian ngomong duluan.
"Lo juga, Ian." Rayan jawab.
"Serius."
Dua kata. Tapi beratnya dua tahun. Fabian naik ke mobil, Rayan mundur ke trotoar. Dan waktu mobil itu mulai bergerak, Rayan masih berdiri di sana sampai belokan pertama menelan pandangannya. Kereta dari Semarang ke Jakarta berangkat siang hari.
Fabian duduk di dekat jendela. Di luar, kota yang udah dia tinggali selama dua tahun berlalu pelan di awal sebelum makin cepat dan akhirnya menghilang ke belakang seperti semua hal yang sudah selesai. Gue nggak tau persis apa yang Fabian pikirin selama perjalanan itu. Dia nggak cerita, dan gue nggak nanya.
Yang gue tau: dia pulang dengan versi dirinya yang berbeda dari yang berangkat. Lebih berat di beberapa bagian, lebih ringan di bagian yang lain. Dan di dalam tas ranselnya yang sudah penuh, masih ada buku catatan hitam dengan kalimat di halaman pertamanya:
Kita tunggu. Tapi kita nggak berhenti cari.
Kalimat yang ditulis untuk Hasna yang sudah ditemukan. Dan mungkin, tanpa dia sadari, juga untuk orang lain yang belum.
• • •
Ada hari-hari yang dari awal udah keliatan nggak akan beres. Bukan dari satu tanda besar tapi dari akumulasi hal-hal kecil yang kalau dilihat satu per satu terasa biasa, tapi kalau ditumpuk jadi satu terasa kayak alam semesta lagi nyusun sesuatu yang lo nggak ikut diajak diskusi. Hari itu adalah salah satunya.
Jakarta Selatan, Juni 2024. Gue nggak akan cerita terlalu detail soal apa yang terjadi sebelum stasiun, itu bagian yang udah ada di tempat lain, di bagian awal cerita ini yang dimulai dari kejaran SatRes dan pisau lipat dan Ojan si kasir minimarket yang mukanya pucat kayak orang liat hantu. Yang belum gue ceritain adalah bagian sebelum semuanya itu bagian yang terjadi di peron kereta, di antara keramaian jam sibuk Jakarta Selatan, di momen yang gue nggak sempat pilih untuk siap atau enggak. Tapi sebelum gue sampai ke sana, ada satu hal yang perlu lo tau soal hari itu. Fabian Ramadhan baru aja selesai interview kerja buat internship.
Kantornya atau lebih tepatnya, kantor dari perusahaan yang baru aja dia interview, ada di kawasan Sudirman. Firma hukum mid-size yang Fabian temukan lewat referral dari salah satu dosen lamanya di Semarang. Dia udah apply sebulan sebelumnya, lolos administrasi, dan hari itu adalah tahap kedua: interview langsung dengan dua orang dari tim HR dan satu partner muda yang pertanyaannya tajam tapi bisa Fabian jawab dengan cara yang katanya ke gue nanti terasa seperti dia akhirnya ngomong sesuatu yang udah lama dia kumpulkan tanpa tau mau dipakai buat apa.
Interview-nya oke. Setidaknya menurut standardnya sendiri. Dia keluar dari gedung sekitar jam tiga sore, longgarkan kancing kemejanya, dan memutuskan untuk naik KRL pulang ke rumah di Depok daripada order ojek karena masih mau mikir dan jalanan Jakarta jam segitu adalah musuh dari siapa pun yang mau berpikir jernih. Dia naik dari Stasiun Sudirman. Tujuan: Depok. Yang terjadi di antara keduanya adalah hal yang nggak ada di dalam rencananya.
Gue lari masuk ke peron itu dengan satu tujuan: hilang di kerumunan sebelum dua orang yang ada di belakang gue sempat nangkep. SatRes nggak berseragam lengkap, tapi gue tau cara mereka bergerak, terlalu koordinatif, terlalu bertujuan, terlalu nggak kayak penumpang biasa yang lagi buru-buru. Gue udah latihan cukup lama untuk membedakan orang yang bergerak karena mereka mau ke suatu tempat dan orang yang bergerak karena mereka ngejar sesuatu.
Peron sesak. Jam sibuk. Kereta baru aja tiba dan orang-orang bergerak ke dua arah sekaligus — yang mau turun dorong keluar, yang mau naik dorong masuk, dan gue ada di tengah semua itu sambil nyoba keliatan kayak bagian dari arus yang normal. Dan di situ, di antara ratusan orang yang semuanya nggak gue kenal, gue liat satu wajah yang harusnya nggak ada di sana. Fabian. Berdiri di deket tiang peron, ransel di punggung, kemeja yang kancingnya longgar satu di bagian atas, dan ekspresi orang yang lagi deep in thought tentang sesuatu yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan apa yang lagi terjadi di sekitarnya.
Dari semua orang. Di semua tempat. Hari ini. Gue punya waktu mungkin tiga detik untuk memutuskan nunduk dan pura-pura nggak lihat, atau mengambil satu-satunya pilihan yang terasa logis dalam situasi yang sama sekali nggak logis. Gue nyamperin dia.
"Fab." Dia noleh.
Dan ekspresi yang muncul di mukanya waktu ngeliat gue campuran antara nggak percaya, lega, dan something else yang gue nggak sempat identifikasi karena gue langsung narik tangannya.
"Jangan nanya dulu. Ikut gue."
Fabian dan ini adalah salah satu hal tentang dia yang nggak pernah berubah sejak SMA nggak pernah protes. Dia ikut. Sisanya lo udah tau dari bagian lain cerita ini. Polisi yang hampir menangkap Ojan. Bang Riko dan Alex yang muncul di waktu yang nggak gue minta tapi nggak bisa gue tolak. Tawaran apartemen yang gue tolak. Chintya yang akhirnya jemput gue. Dan Fabian yang gue tinggalkan di minimarket itu dengan lebih banyak pertanyaan dari yang pernah dia datang.
Tapi ada satu hal yang nggak sempat gue ceritain sebelumnya. Waktu gue dan Fabian duduk di minimarket itu sebelum semua orang datang, sebelum situasinya jadi terlalu ramai untuk bisa ngobrol dengan beneran ada satu momen yang dimana dia noleh ke gue dan nanya dengan cara yang terlalu tenang untuk situasinya:
"Lo mau cerita atau lo mau gue pura-pura nggak tau ada apa?"
Gue mikir sebentar.
"Opsi kedua dulu."
Dia ngangguk. Dan dia nggak nanya lagi. Bukan karena dia nggak peduli. Tapi karena dia cukup kenal gue untuk tau bahwa gue akan cerita waktu gue siap dan kalau gue nggak pernah siap, itu juga jawaban yang dia bisa terima meski nggak dia sukai. Itu yang selalu bikin gue susah jelasin perasaan ini soal Fabian ke siapa pun yang nanya. Dia nggak nuntut lo jadi lebih dari yang lo bisa. Tapi kehadirannya aja udah cukup untuk bikin lo ngerasa kayak lo harusnya jadi lebih baik dari yang lo lagi.
KRL yang harusnya dia tumpangi ke Depok berangkat tanpa dia. Dan gue yang lagi dalam pelarian, yang tangannya masih sedikit gemetar dari adrenalin yang belum sepenuhnya turun, duduk di lantai minimarket itu di sebelah orang yang baru aja selesai interview kerja dan niat pulang ke rumah tapi malah terseret masuk ke kekacauan yang sama sekali bukan miliknya. Salah satu dari kami harusnya minta maaf. Tapi kami dua-duanya terlalu capek untuk memulainya malam itu.
• • •
Basecamp yang gue tempatin bentuknya apartemen. Apartemen itu ada di lantai tiga gedung tua di bilangan, Tebet, bukan gedung mewah, bukan lokasi strategis, dan itu justru yang jadi poinnya. Nggak ada yang nyari orang di gedung yang liftnya sering mati dan catnya ngelupas di bagian lobi. Nggak ada yang curiga sama penghuni yang jarang keluar siang hari dan nggak pernah pesen delivery pake alamat asli. Dan nggak ada CCTV yang masih berfungsi di koridor lantai tiga karena sudah dua bulan dilapor ke pengelola gedung tapi belum ada yang repot memperbaikinya. Chintya yang pilih tempat ini. Dia selalu punya mata yang bagus buat detail yang orang lain skip.
Gue rebahan di kasur yang springnya udah mulai protes kalau diduduki terlalu lama, tatap langit-langit yang ada noda air di pojok kanan dari bocoran musim hujan lalu, dan dengerin bunyi AC yang mendengung nggak rata sementara di meja sebelah Chintya duduk dengan tiga layar terbuka sekaligus.
Chintya Maharani, adalah tipe orang yang otaknya nggak punya mode off. Selama gue kenal dia, gue belum pernah sekalipun lihat dia beneran nggak ngerjain sesuatu. Kalau tangannya nggak di keyboard, dia lagi ngitung sesuatu di kepala. Kalau dia keliatan bengong, itu berarti dia lagi proses data. Malam ini dia lagi ngurusin tiga hal sekaligus: inventory yang perlu di-update sebelum setor ke Adam besok, laporan distribusi minggu ini yang angkanya belum balance, dan satu chat yang dari tadi di-pending karena kata Chintya orangnya 'kebanyakan tanya sebelum deal'.
"Lo dari tadi diem." Chintya ngomong tanpa noleh dari layarnya.
"Gue capek."
"Lo capek fisik atau capek pikiran?"
"Dua-duanya."
"Yang bikin capek pikiran siapa?" Gue nggak jawab.
Chintya akhirnya noleh.
"Cowok yang tadi di minimarket itu." Bukan nanya.
"Temen SMA."
"Iya, gue tau siapa dia. Lo pernah cerita soal dia, meski mungkin nggak sadar lo ceritain."
"Gue nggak pernah cerita soal dia."
"Lo pernah sebut nama dia sekali waktu lo lagi setengah mabuk di Bandung, dua tahun lalu. Fabian. Lo bilang 'ada satu orang yang gue harap nggak perlu ikut terseret ke semua ini'. Gue nyimpen nama itu."
Gue menutup mata sebentar.
"Lo terlalu perhatian buat orang yang kerjaannya jual barang haram."
"Perhatian itu skill, bukan kelemahan."
Chintya balik ke layarnya.
"Dan FYI, kerjaan kita bukan cuma jual barang haram. Itu oversimplifikasi yang menyinggung."
Gue hampir ketawa. Hampir.
Struktur yang gue dan Chintya kerja di dalamnya bukan sesuatu yang gue masuk dengan niat dari awal. Tapi begini cerita yang nggak perlu diromantisasi: gue mulai dari pinggiran, jadi runner kecil waktu masih SMA karena Adam, Adam Suryo, mantan gebetan gue di SMA yang sama, yang kebetulan juga kenal dan pernah bentrok sama Fabian ternyata bukan sekadar anak gaul yang suka foya-foya. Dia ketua dari jaringan yang lebih rapi dari yang siapa pun di sekolah kami sangka.
Adam Suryo Wibisono. Dua puluh satu tahun. Kelihatannya: mahasiswa yang entah kenapa selalu punya uang lebih, selalu tau tempat yang lagi hype sebelum orang lain tau, dan punya lingkaran pertemanan yang luas tapi nggak semua orang bisa masuk ke dalamnya. Kenyataannya: dia koordinator distribusi untuk wilayah Jakarta Selatan dan sebagian Depok, dengan koneksi ke supplier yang naik langsung ke level yang nggak perlu disebut namanya di sini, dan jaringan ke dalam yang melibatkan beberapa nama di institusi yang harusnya jadi lawan dari semua ini. Dia bahkan keluar dari kampusnya, DO, supaya bisa lebih fokus bisnis gelap ini.
Itu yang bikin Adam nggak bisa disentuh sembarangan. Dan itu yang bikin gue dari awal masuk karena butuh uang dan nggak punya banyak pilihan, susah keluar karena udah tau terlalu banyak.
• • •
"Update dari Bowo masuk." Chintya bilang tiba-tiba, masih menatap layar.
"Isinya apa?"
"Pengiriman minggu depan dimajuin. Adam minta kita standby Kamis malam, bukan Sabtu."
"Kenapa dimajuin?"
"Ada pergerakan dari arah yang nggak perlu lo tau detailnya malam ini."
Gue duduk tegak.
"Chin, itu berarti gue harus reschedule tiga hal."
"Gue tau. Adam tau juga. Dia bilang 'kasih tau Keira kalau ini prioritas'."
Chintya akhirnya noleh penuh ke arah gue.
"Lo kenal Adam cukup lama buat ngerti kalimat itu artinya apa." Gue kenal. Artinya: nggak ada pilihan lain.
Bowo, nama lengkapnya Priyambowo, anak Bekasi, usia dua puluh tahun, yang cara kerjanya paling rapi di antara semua orang dalam lingkaran ini, adalah jembatan komunikasi antara Adam dan lapangan. Dia nggak pernah pegang barang sendiri, nggak pernah hadir di titik distribusi, tapi dia tau segalanya dan dia ada di mana-mana dalam bentuk pesan teks yang selalu dihapus dalam dua puluh empat jam.
Di luar Bowo, ada Rina, perempuan dua puluh tiga tahun yang kerja di klinik kecantikan siang hari dan jadi penghubung ke beberapa klien kelas menengah atas yang lebih suka transaksi diskret. Rina yang paling susah dibaca karena penampilannya nggak pernah mencurigakan dan dia punya kemampuan untuk ngobrol soal lipstik dan jadwal pengiriman dalam satu napas tanpa transisi yang aneh.
Dan ada Dito. Yang satu ini gue paling nggak nyaman ngomonginnya, dia anak baru, sembilan belas tahun, yang Adam rekrut enam bulan lalu dari lingkaran yang berbeda. Dito terlalu semangat, terlalu cepat mau ambil risiko, dan terlalu banyak nanya soal hal-hal yang harusnya nggak perlu dia tau. Chintya sudah dua kali kasih warning ke Adam soal Dito. Adam cuma bilang "nanti gue handle." Gue nggak tau 'nanti' itu kapan.
"Lo mau ngomong sesuatu soal Fabian atau lo mau pura-pura lo nggak kepikiran?" Chintya tiba-tiba nanya lagi, tanpa preamble.
"Gue nggak kepikiran dia."
"Lo dari tadi nggak gerak. Lo cuma rebahan kayak gitu waktu lo lagi proses sesuatu yang lo nggak mau akuin lagi proses."
Gue memutar badan ke arah tembok.
"Chint."
"Apa."
"Tutup mulut."
"Dengan senang hati kalau lo mau jujur duluan." Hening beberapa detik.
AC masih mendengung. Keyboard Chintya masih tek-tek pelan.
"Dia beda dari waktu SMA." Gue akhirnya ngomong ke tembok.
"Orang emang berubah."
"Bukan gitu maksud gue. Dia berubah dengan cara yang bikin gue ngerasa harusnya gue juga udah berubah. Tapi gue nggak."
Chintya diam sebentar. Ini langka Chintya yang diam.
"Lo udah berubah, Kei."
"Ke arah yang salah."
" Tapi siapa yang nentuin arah yang bener?"
Gue nggak jawab itu. Karena gue nggak punya jawaban yang jujur dan sekaligus nggak menyakitkan.
"Lo takut dia tau lo ngapain aja." Chintya ngomong lagi, kali ini lebih pelan.
"Dia pasti udah curiga dari tadi malam."
"Curiga beda sama tau. Selama dia nggak tau, lo masih bisa kontrol narasi."
"Gue nggak mau kontrol narasi sama dia."
"Berarti lo mau dia tau?"
Gue diam.
"Gue nggak mau dua-duanya." Gue jawab jujur.
"Gue mau dia tetap ada tapi nggak perlu tau. Dan gue tau itu minta yang nggak fair."
Chintya nutup laptop pertamanya.
"Itu namanya sayang, Kei. Yang versi paling nggak bertanggung jawab."
Gue nggak bisa protes karena dia benar.
• • •
Gue akhirnya ketiduran entah jam berapa di atas kasur yang protes itu, dengan lampu yang masih nyala karena Chintya masih kerja, dan pikiran yang akhirnya lelah sendiri setelah terlalu lama berputar di tempat yang sama. Yang terakhir gue inget sebelum tidur adalah satu pertanyaan yang nggak pernah gue tanyakan ke siapa pun dengan lantang, tapi selalu ada di suatu tempat di dalam kepala gue sejak Fabian pertama kali pergi dua tahun lalu:
Gimana caranya gue nggak mau dia terseret, tapi juga nggak bisa beneran ngelepas?
Gue ketiduran sebelum nemuin jawabannya. Seperti biasa.
Fabian sudah hampir tidur waktu hapenya bunyi. Itu yang dia ceritain ke gue kemudian, kalo dia lagi rebahan di kasurnya, lampu kamar sudah mati, dan dia lagi di titik antara sadar dan nggak yang mana pikirannya udah mulai nggak linier. Kamarnya di rumah terasa lebih kecil dari yang dia inget setelah dua tahun tidur di kamar kos Semarang, tapi bukan dalam cara yang buruk. Lebih kayak baju lama yang ternyata masih muat. Notif masuk, dia lihat layarnya. Nama gue. Bukan chat, telepon. Jam 2.15 dini hari.
Gue nelpon karena gue nggak punya pilihan lain. Ini penting untuk dipahami dulu sebelum lo nilai keputusan gue malam itu: gue bukan tipe yang gampang panik. Gue udah terlalu lama di lingkungan yang salah satu syarat bertahannya adalah kemampuan buat tetap mikir jernih waktu semuanya lagi nggak oke. Gue bisa tenang waktu ada masalah distribusi yang nyalip jadwal. Gue bisa tenang waktu ada yang hampir ketangkep. Gue bahkan relatif tenang tadi malam waktu lari dari SatRes di stasiun. Tapi apa yang terjadi malam itu berbeda. Dan satu-satunya orang yang namanya muncul di kepala gue adalah dia.
• • •
Kronologinya begini. Gue ketiduran sekitar jam satu. Chintya masih kerja di mejanya, ini normal, dia sering begadang sampai subuh kalau lagi ada sesuatu yang perlu diselesaikan. Gue nggak tau persis jam berapa dia akhirnya tidur karena gue udah keburu nggak sadar.
Yang gue tau: gue kebangun karena suara yang nggak harusnya ada. Bukan suara keras. Justru sebaliknya, suara yang terlalu diam tapi jenis diamnya salah. Kayak ketika lo di dalam ruangan dan tiba-tiba lo sadar bahwa suara AC yang tadi ada sekarang nggak ada, tapi lo nggak ingat kapan berhentinya. Gue duduk di kasur. Kamar gelap. Tapi di bawah celah pintu, ada bayangan yang bergerak, lebih dari satu.
Chintya sudah melek waktu gue keluar dari kamar, dia duduk di sofa dengan posisi yang terlalu tegak untuk seseorang yang harusnya lagi istirahat, dan matanya langsung ke gue waktu gue keluar. Dua jari tangannya menempel ke bibirnya. Diam. Gue ngerti. Gue nggak nyalain lampu, gue nggak ngomong apa-apa. Gue pelan-pelan geser ke sisi tembok dan dari sana gue bisa lihat ke arah pintu depan yang kuncinya, dari sudut pandang gue, keliatan seperti baru aja bergerak. Ada seseorang di luar yang tau kita ada di dalam.
Opsi gue waktu itu terbatas dan semuanya jelek. Keluar lewat pintu depan: nggak mungkin kalau memang ada yang nungguin di sana. Jendela: lantai tiga, dan di bawahnya bukan tanah lunak. Hubungin Adam: dia yang paling tau posisi kita, tapi kalau yang di luar itu datang dari arahnya gue nggak mau selesaikan kalimat itu. Dan di dalam kepala gue yang lagi nyoba milih opsi sambil jantungnya udah nggak di posisi normal, muncul satu nama.
Bukan nama yang logis untuk situasinya. Bukan nama yang bisa dateng tepat waktu bahkan kalau dia mau. Tapi otak manusia waktu takut nggak selalu milih yang logis selalu pilih yang terasa paling aman. Gue unlock hape gue. Dial nomornya. Fabian angkat di dering pertama.
"Kei?" Suaranya bukan suara orang yang baru kebangun. Dia belum tidur.
"Fab…" Gue pelankan suara gue sampai hampir nggak kedengeran.
"Lo lagi di mana?"
"Di rumah. Kenapa? Lo oke?"
Di luar pintu, sesuatu bergeser.
"Gue di Tebet. Apartemen. Ada yang…"
Chintya tiba-tiba berdiri dari sofa dan menggerakkan tangannya isyarat yang artinya stop, sekarang, jangan lanjut. Gue lihat ke arahnya. Dia tunjuk ke jendela sisi kanan. Di luar jendela itu, di gedung seberang yang jaraknya cukup dekat, ada satu titik cahaya kecil yang nggak bergerak. Ukurannya terlalu kecil dan terlalu stabil untuk jadi puntung rokok. Laser.
"Fab…"
Gue nggak selesaikan kalimatnya. Gue tutup teleponnya.
Fabian menatap layar hapenya yang tiba-tiba mati selama beberapa detik. Itu yang dia ceritain ke gue jauh kemudian, kalo dia duduk di kasurnya dalam gelap, menatap nama gue di layar yang sudah kembali ke home screen, dan nggak tau harus ngapain. Dia coba callback. Nggak diangkat. Coba lagi. Nggak diangkat.
Kirim pesan: 'Kei lo oke?? Jawab'.
Dibaca. Tapi nggak dibalas. Fabian yang sudah belajar cukup banyak selama dua tahun terakhir ntuk tau kapan sesuatu bukan kebetulan, duduk di kamarnya yang terasa lebih kecil dari yang dia inget, dan untuk pertama kalinya sejak pulang ke Jakarta, dia nggak bisa nemuin cara buat tetap tenang.
Gue nggak akan cerita apa yang terjadi setelah gue nutup telepon itu. Bukan karena nggak ada yang terjadi, justru sebaliknya. Tapi karena ini bukan bagian cerita itu. Ini adalah bagian sebelumnya, konteks yang lo butuhkan untuk memahami kenapa gue lari ke stasiun, kenapa gue nggak punya banyak waktu untuk milih, dan kenapa dari semua orang yang bisa gue temuin di peron itu, ketemunya Fabian.
Yang perlu lo tau sekarang cuma ini: Gue nelpon dia karena gue takut. Dan gue nutup teleponnya karena gue sadar bahwa menariknya masuk ke dalam apa yang lagi terjadi malam itu adalah hal paling berbahaya yang bisa gue lakukan untuk seseorang yang selama ini gue coba jaga dari dunia yang gue tinggali. Ironis. Gue yang lari dari dunia itu justru lari ke arah dia. Dan dia yang nggak tau apa-apa, yang cuma mau pulang ke rumah setelah interview kerja, yang hidupnya udah cukup rumit tanpa tambahan masalah dari gue ada di sana.
Berdiri di peron itu dengan ransel di punggung dan ekspresi orang yang lagi deep in thought.Seperti biasa. Tepat waktu. Untuk hal yang salah.
• • •
Setelah gue nutup telepon tadi malam itu, Fabian nggak bisa tidur. Dia cerita itu ke gue beberapa waktu kemudian, dengan cara yang udah biasa, singkat, nggak banyak ornamen, tapi cukup untuk gue ngerti beratnya. Dia bilang dia duduk di kasurnya sampai hampir subuh, nunggu notif yang nggak dateng, nyoba mikir semua skenario yang mungkin dan nggak satupun yang bikin dia lebih tenang dari sebelumnya.
Dan di suatu titik di antara dini hari dan pagi, dia akhirnya ngambil hapenya dan nulis satu pesan yang nggak dia kirim:
'Gue nggak tau lo lagi ngapain atau ada di mana atau sama siapa. Tapi gue harap lo oke.'
Dia draft itu, baca ulang dua kali, lalu hapus. Karena kata dia, kalimat itu terlalu banyak bilang sesuatu yang belum tentu dia siap untuk direspon. Gue ngerti itu. Gue juga punya kalimat-kalimat kayak gitu yang gue tulis, baca ulang, lalu hapus sebelum sempat terkirim. Bedanya, punya gue jumlahnya lebih banyak. Dan semuanya, satu cara atau cara yang lain, selalu ada namanya di sana.
Titik laser di jendela sudah hilang dan itu bukan kabar baik. Chintya sudah tau itu sebelum gue sempat ngomong, dia sudah berdiri dari sofa, sudah cabut router dari stopkontak, dan jari-jarinya sudah bergerak di bawah meja mencari sesuatu yang gue tau dia simpan di sana sejak hari pertama kami pindah ke sini: hard drive kecil seukuran telapak tangan, casing hitam, label kosong. Dia masukkan ke dalam jaket bagian dalam zip, rapi, prosedur. Ini prosedur yang sudah pernah dibahas, bukan dalam sesi formal, tapi dalam percakapan-percakapan malam yang dimulai dengan 'kalau suatu hari nanti' dan berakhir dengan dua orang yang sama-sama berharap percakapan itu nggak perlu jadi kenyataan.
"Lo udah hubungi siapa?"
Chintya nanya tanpa noleh.
"Alex. Baru kirim lokasi."
"Bowo?"
"Belum."
Chintya diam sebentar. Terlalu sebentar.
"Jangan Bowo malam ini."
Gue mau nanya kenapa. Tapi suara itu datang duluan dari bawah.
Bukan suara keras, bukan gedebuk atau teriakan atau hal-hal yang lo bayangkan waktu kata 'bahaya' muncul di kepala. Ini suara yang lebih biasa dan justru karena itu lebih mengganggu: langkah kaki di tangga. Teratur. Satu-satu. Nggak terburu-buru. Kayak orang yang udah hapal berapa anak tangga dari lobi ke lantai tiga dan nggak perlu ngitung lagi.
"Chint."
"Gue denger." Dia jawab sebelum gue selesai ngomong.
"Kamar belakang. Sekarang."
Kamar belakang adalah ruangan paling kecil di unit itu. Satu kasur lipat, lemari plastik, dan jendela yang menghadap gang belakang gedung. Bukan tempat yang nyaman untuk bertahan tapi itu bukan fungsinya. Fungsinya adalah memberi waktu dua puluh detik lebih lama dari ruang utama. Kadang dua puluh detik adalah seluruh perbedaan yang lo punya. Kami masuk. Chintya tutup pintu pelan nggak dikunci, karena bunyi kunci justru jadi penanda posisi. Kami berdiri di sisi yang sama, punggung ke tembok, dalam gelap yang cukup untuk bikin siluet kami nggak keliatan dari bawah celah pintu.
Dari ruang utama, suara pintu depan. Bukan diketuk dulu atau mungkin diketuk sekali, sangat pelan, lebih seperti basa-basi yang nggak mengharapkan jawaban. Lalu sesuatu yang lebih keras. Lalu pintu itu terbuka dengan cara yang artinya kuncinya sudah bukan halangan lagi. Gue tahan napas. Langkah masuk ke ruang utama pelan-pelan. Bukan langkah orang yang panik atau terburu-buru tapi langkah orang yang sedang memeriksa sesuatu yang sudah mereka perkirakan akan ada di sana. Dan di celah tipis antara pintu kamar yang nggak tertutup rapat, gue lihat sebentar.
Satu sosok. Postur yang lumayan, Chintya narik lengan gue mundur sebelum gue sempat fokus. Tapi gue sudah cukup lihat satu hal. Kalung tipis dengan liontin berbentuk poin kompas yang berkilat kena cahaya hape yang masih menyala di meja. Liontin yang gue pernah lihat sebelumnya. Di tempat yang konteksnya sangat berbeda dari malam ini. Gue freeze selama setengah detik, lalu otak gue paksa diri gue untuk bergerak lagi.
Chintya sudah di kamar mandi. Ventilasi di atas bak mandi, panel plastik yang udah dia longgarin bautnya sejak minggu pertama kami di sini, dengan alasan yang waktu itu gue pikir terlalu paranoid. Ukurannya cukup untuk satu orang dewasa kalau mau sedikit susah payah. Turunnya ke gang belakang yang sempit, gelap, dan bau campuran got dan asap dapur warung yang ada di ujung gang.
"Lo duluan." Chintya bisik.
"Barengan aja..”
"Kei."
Satu kata. Dengan nada yang nggak ada ruang untuk debat.
"Hard drive ini nggak boleh ketangkep. Lo yang paling tau cara bawa ini keluar tanpa ketauan. Pergi."
Gue mau bilang sesuatu. Gue mau bilang banyak hal, bahwa gue nggak mau pergi tanpa dia, bahwa ini bukan rencana yang fair, bahwa ada cara lain yang belum kita coba. Tapi langkah di ruang utama sudah lebih dekat ke pintu kamar. Chintya udah mendorong gue ke atas bak mandi sebelum gue sempat memilih kata yang tepat. Gue naik. Gue dorong panel ventilasi. Gue masuk ke dalam lubang yang terlalu sempit dan terlalu gelap itu dengan cara yang nggak ada satu pun bagian dari tubuh gue yang setuju. Dan waktu gue sudah setengah jalan keluar, gue dengar pintu kamar terbuka dari dalam unit.
Gue turun ke gang belakang dengan cara yang lebih mirip jatuh dari naik. Lutut gue kena aspal. Tangan gue reflek menangkap badan sendiri. Gue berdiri, nggak cek luka, dan mundur ke bayangan dinding gedung sebelah. Di atas, dari ventilasi yang masih terbuka, gue dengar suara. Bukan teriakan, bukan suara kekerasan. Yang gue dengar justru lebih menggelisahkan dari itu, percakapan. Dua suara, pelan. Nggak bisa gue make out kalimatnya karena jaraknya dan karena jantung gue sendiri terlalu berisik di telinga gue. Tapi satu kata, satu nama terucap cukup jelas untuk gue tangkap sebelum angin membawa sisanya pergi.
Nama itu harusnya nggak ada hubungannya dengan malam ini. Tapi waktu gue dengar nama itu di mulut suara yang nggak gue kenali dari sana, tiba-tiba semua yang nggak masuk akal dari beberapa minggu terakhir mulai membentuk pola. Gue berdiri di gang yang bau got itu selama mungkin tiga detik lalu gue lari.
• • •
Gang belakang gedung itu tembus ke jalan kecil yang tembus ke jalan yang lebih besar yang akhirnya tembus ke mana pun yang lebih jauh dari lantai tiga gedung tua di Tebet itu. Gue lari tanpa tau persis mau ke mana. Ini bukan strategi, ini tubuh yang bergerak karena nggak punya instruksi lain selain menjauh. Di suatu titik gue berhenti di depan minimarket yang tutup. Bungkuk, tangan di lutut, napas yang nggak mau diatur. Gue ngecek jaket bagian dalam, Hard drive masih ada, gue ngecek hape, tiga missed call dari Alex. Satu dari nomor yang nggak tersimpan yang gue nggak angkat karena nggak punya kapasitas untuk itu sekarang. Dan nol dari Fabian, yang artinya dia sudah tidur, atau dia sudah coba balik tidur setelah gue nutup teleponnya tadi.
Gue mau nelpon dia lagi, tangan gue sudah di atas nama-nya di layar.Tapi gue berhenti. Karena kalau gue nelpon sekarang, kalau gue bilang apa yang baru saja terjadi, kalau gue kasih dia cukup untuk dia memutuskan bahwa dia perlu ke sini, gue nggak bisa kontrol apa yang terjadi selanjutnya. Dan ada hal-hal yang gue tau soal malam ini yang membuat gue nggak yakin membawa Fabian masuk ke dalamnya adalah keputusan yang aman. Bukan untuk dia, bukan untuk orang yang namanya baru gue dengar dari gang belakang tadi.
Gue lock hape gue, masukkin ke kantong. Dan mulai jalan ke arah yang paling tidak ada hubungannya dengan tempat yang gue kenal. Kadang menghilang adalah satu-satunya cara untuk menjaga orang-orang yang lo sayang tetap aman. Gue harap ini cukup waktu untuk percaya itu sebelum gue berubah pikiran.
• • •
Fabian tiba di alamat itu sekitar pukul empat pagi. Alamat yang dia punya cuma 'Tebet, apartemen lantai tiga', empat kata yang Keira sempat ucapkan sebelum telepon itu terputus. Dia naik ojek, turun di blok yang paling masuk akal berdasarkan konteks tipis yang dia punya, dan dari sana dia cari sisanya dengan cara lama: jalan, perhatikan, dan percaya bahwa sesuatu akan terasa salah waktu dia sudah dekat.
Sesuatu yang terasa salah, pintu lobi gedung yang belum terkunci di jam itu, lampu koridor lantai tiga yang satu bolanya mati sehingga ada bagian gelap di ujung, dan unit di ujung koridor yang pintunya nggak sepenuhnya tertutup. Fabian berdiri di depan pintu itu lama sebelum masuk. Bukan karena takut, tapi karena dia sudah cukup menghadapi situasi yang nggak terduga selama dua tahun terakhir untuk tau bahwa masuk ke dalam sesuatu yang nggak dia pahami penuh butuh satu detik keputusan yang nggak bisa diambil kembali. Dia masuk.
Ruangannya udah berubah dari apa yang pernah jadi tempat tinggal seseorang. Bukan hancur total, bukan kekerasan yang acak dan penuh amarah. Lebih seperti penggeledahan yang dilakukan oleh orang yang tau apa yang mereka cari dan cukup terlatih untuk mencarinya dengan efisien. Beberapa laci terbuka tapi isinya nggak dibuang ke lantai. Kabel-kabel komputer dicabut tapi perangkatnya masih di tempat. Kursi digeser, bukan dibalik.
Fabian bergerak pelan di dalam ruangan. Hapenya di tangan dengan senter menyala, tapi nggak semua cahaya dia arahkan ke depan — beberapa ke samping, beberapa ke bawah, karena detail seringkali ada di tempat yang orang nggak sengaja menaruhnya. Di atas meja, ada mug kopi. Fabian letakkan punggung tangannya di sisi luar mug itu, masih hangat. Bukan hangat yang udah dingin jadi suam-suam kuku, tapi hangat yang artinya ini baru. Mungkin satu jam, mungkin kurang. Dia geser ke kamar belakang.
Ke kamar mandi, panel ventilasi di atas bak mandi terbuka bautnya nggak hilang, tapi sudah dilonggarkan dari dalam. Ini bukan vandalisme, ini akses yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Artinya setidaknya satu orang keluar dari sini dengan cara yang nggak melalui pintu depan. Fabian berlutut di pinggir bak mandi dan arahkan senternya ke lantai. Di ubin putih yang sudah menguning di beberapa bagian, ada bekas tapak sepatu ukuran kecil, pola sol yang tipis. Seseorang mendarat dari ketinggian dan bertumpu di sini sebelum bergerak. Dia kembali ke ruang utama. Meja, sofa, tiga kabel monitor yang ujungnya tergeletak tanpa perangkat. Dan di sudut meja, sesuatu yang kecil berkilat kena cahaya senternya.
Fabian mendekat. Satu anting model hoop kecil, perak, dengan satu lekukan kecil di bagian sambungannya yang artinya ini jatuh bukan dilepas. Posisinya ada di antara meja dan ventilasi kamar mandi seperti jatuh dalam pergerakan dari satu titik ke titik lain. Dia nggak ambil, dia foto. Lalu dia lanjut ke meja dan temukan sesuatu yang lebih membingungkan: di sisi kanan meja, di bawah tatakan gelas, ada kertas kecil yang dilipat tidak rapi. Tulisan tangan, bukan tulisan Keira, terlalu tegak, terlalu presisi, dari seseorang yang terbiasa menulis dengan tangan tapi dalam konteks yang berbeda dari catatan harian.
Tiga karakter: *14-C*.
Fabian menatap itu lama. Angka dan huruf yang nggak punya konteks yang cukup untuk diterjemahkan sekarang, tapi juga bukan sesuatu yang terasa seperti kebetulan. Dia foto lagi. Lalu lipat kembali dan taruh persis di tempat asalnya. Karena kalau ada yang kembali ke sini malam ini, dia nggak mau ada yang tau bahwa seseorang sudah menemukannya.
• • •
Tiba-tiba denger suara langkah di koridor. Fabian sudah berdiri di sisi dinding jauh sebelum pintu terbuka, posisi yang ngasih dia pandangan ke seluruh ruangan dan cukup bayangan untuk nggak langsung terlihat dari ambang pintu. Yang masuk bukan ancaman atau setidaknya bukan ancaman yang baru.
Alex Rizza Wahyudiningrat, masuk dengan cara seseorang yang sudah terlalu sering masuk ke situasi seperti ini untuk masih merasa perlu bersikap dramatis. Sweater gelap, celana yang terlalu rapi untuk jam segini, dan cara matanya menyapu ruangan dalam tiga detik pertama yang menunjukkan ini bukan respons amatir. Dia lihat Fabian di sudut, ekspresinya nggak berubah banyak sekedip mata, lalu dia masuk sepenuhnya dan tutup sisa pintu yang rusak itu semampunya.
"Ngapain lo?" Tanya Alex.
"Lo sendiri? Ngapain kesini?" Tanya Fabian.
"Keira nelpon lo?" Alex yang nanya duluan.
"Telepon. Tapi putus di tengah, Lo?"
"Pesan. Sebelum semuanya terjadi. Lokasi sama satu kata."
Fabian ngangguk pelan. Alex bergerak ke meja, matanya langsung ke mug kopi, ke kabel yang tercabut, ke posisi kursi yang sudah bergeser. Cara dia baca ruangan itu bukan cara orang yang panik mencari temannya, lebih terstruktur dari itu. Lebih dingin.
"Lo udah cek semuanya?"
"Sebagian. Ventilasi di kamar mandi. Ada yang keluar dari sana."
"Ukuran tapaknya?"
"Kecil. Satu orang."
Alex diam sebentar. Rahangnya mengeras tipis.
"Berarti mereka kepisah." Bukan pertanyaan, konklusi.
Fabian menatap Alex. "Lo tau lebih banyak dari yang lo bilang."
Alex nggak langsung jawab. Dia ambil kursi yang sudah bergeser itu, duduk di atasnya, dan untuk pertama kalinya sejak masuk, ekspresinya kehilangan sedikit dari lapisan kontrolnya.
"Iya." Dia jawab akhirnya.
"Dan lo juga udah curiga dari tadi kan kalau ini bukan random. Ini bukan maling biasa, ini bukan SatRes yang nyasar. Ini orang yang tau persis di mana unit ini, tau layout-nya, dan tau apa yang mau dicari."
"Siapa?"
Alex menatap Fabian sebentar, dengan cara orang yang sedang menimbang seberapa banyak yang aman untuk dikatakan ke seseorang yang dia belum sepenuhnya bisa dia baca.
"Gue belum tau pasti. Tapi gue punya teori yang gue nggak mau salah."
"Teori lo butuh apa buat jadi lebih dari sekadar teori?"
"Informasi yang ada di sini."
Alex noleh ke meja.
"Yang udah nggak ada."
Fabian ikut noleh ke meja. Ke tempat di mana tiga layar tadi terhubung ke perangkat yang sekarang sudah pergi.
"Hard drive-nya dibawa kabur atau dibawa masuk?"
Alex menatap Fabian dengan ekspresi yang pertama kalinya sejak tadi terasa seperti dia nggak terduga.
"Pertanyaan yang bagus." Pelan.
"Chintya yang megang hard drive itu. Chintya udah nggak ada di sini." Hening.
Di luar, langit sudah mulai abu-abu di bagian timur bukan terang, tapi abu-abu yang mengisyaratkan bahwa gelap sudah kehilangan sebagian kepekatannya.
"Lo mau tau lebih jauh atau lo mau pulang?" Alex nanya pelan. Tanpa intonasim bukan intimidasi, bukan tantangan. Murni pertanyaan.
Fabian nggak langsung menjawab. Dia lihat ruangan itu satu kali lagi, mug kopi yang sudah mulai benar-benar dingin, anting perak yang masih di lantai, kertas kecil dengan tiga karakter yang masih terlipat di bawah tatakan gelas. Kemarin dia selesai interview di firma hukum Sudirman. Dan sorenya dia ketemu Keira di peron KRL dan dia nggak sempat nanya banyak karena situasinya nggak kasih ruang untuk itu. Kemarin malam dia rebahan di kasur kamarnya yang terasa lebih kecil dari yang dia inget, dan dia hampir tidur sebelum satu telepon masuk dan mengubah malam itu jadi sesuatu yang nggak akan dia bisa pura-pura nggak pernah terjadi.
Dan sekarang dia berdiri di sini. Di ruangan yang bukan miliknya, dengan orang yang nggak sepenuhnya dia percaya, tanpa tau persis di mana Keira berada dan apakah dia baik-baik saja.
"Gue mau tau lebih jauh." Fabian jawab.
Alex mengangguk pelan. Berdiri. Dan dengan cara seseorang yang sudah memutuskan bahwa malam ini butuh lebih dari satu orang untuk diselesaikan, dia buka mulutnya dan mulai bicara.
• • •
Mereka berdua keluar dari unit itu menjelang subuh. Pintu yang rusak ditarik semampunya, lift yang mati membuat mereka turun lewat tangga yang sama yang tadi malam dilalui seseorang dengan langkah yang terlalu teratur untuk dilewati tanpa meninggalkan bekas. Di lobi gedung, mereka berhenti.
"Gue butuh dua puluh empat jam." Alex bilang.
"Buat apa?"
"Buat verifikasi sesuatu. Kalau gue salah — kita buang waktu dua puluh empat jam. Kalau gue bener—" Dia nggak nerusin.
"Kalau lo bener?"
Alex menatap Fabian dengan cara yang untuk pertama kalinya malam itu terasa seperti dia nggak menyimpan jarak.
"Kalau gue bener, ini lebih dalam dari yang kita berdua mau akuin sekarang."
Fabian ngangguk. Mereka berpisah di depan gedung, Alex ke mobilnya yang parkir di seberang jalan, Fabian ke trotoar dengan hape di tangan dan tiga karakter di kepalanya yang belum punya tempat yang tepat.
*14-C.*
Fabian berdiri di trotoar Tebet yang sudah mulai diterangi cahaya subuh yang tipis, di antara suara adzan pertama yang datang dari masjid di ujung jalan dan suara motor pertama yang mulai lewat, dan dia tau satu hal dengan cara yang nggak butuh konfirmasi: Dia baru saja memilih untuk masuk ke dalam sesuatu yang pintunya sudah nggak bisa dia tutup lagi dari luar. Dan di suatu tempat di kota yang sama, di gang yang sempit atau jalan yang ramai atau ruangan yang nggak gue bisa deskripsikan sekarang, ada dua orang yang gue sayang yang nggak ada yang tau di mana. Yang pertama: Chintya, yang pergi bukan karena dia mau. Yang kedua: gue, yang ninggalin dia karena gue tau kalau nggak pergi, yang lain juga akan kena.
Other Stories
Losmen Kembang Kuning
Rumah bordil berkedok losmen, mau tak mau Winarti tinggal di sana. Bapaknya gay, ibunya pe ...
315 Kilometer [end]
Yatra, seorang pegawai kantoran di Surabaya, yang merasa jenuh dengan kehidupan serba hedo ...
Don't Touch Me
Dara kehilangan kabar dari Erik yang lama di Spanyol, hingga ia ragu untuk terus menunggu. ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Cinta Dua Rasa
Aruna merasa memiliki kehidupan yang sempurna setelah dinikahi oleh Saka, seorang arsitek ...