Bab 1 : Akan Menjadi Kenangan.
Bab 1 : Akan menjadi kenangan.
Berat rasanya meninggalkan teman kecil yang mengisi keceriaan setiap harinya. Keputusan itu harus diambil meski hati masih ingin menetap di dusun penuh kenangan ini. Waktu terasa bergulir semakin cepat, tinggal dua hari lagi sebelum Amara pergi.
Pagi itu, dengan baju yang sudah rapi, Angga mengajak Amara untuk bermain.
"Amara, oh Amara… ,” panggil Angga dari luar rumah Amara.
Amara dengan semangat langsung membuka pintu rumahnya. Begitu gagang pintu berderit, senyum lebar langsung merekah di wajah Angga.
"Ayo bermain. Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu," ajak Angga.
"Tidak biasanya kau seperti ini. Apa yang ingin kau perlihatkan?", tanya Amara pada ajakan Angga.
"Itu masih rahasia. Ikuti aku saja. Jangan lupa bawa sepeda kecilmu itu."
"Apa sih! Sepedaku nggak sekecil itu, kok. Lagian sepeda tuh jangan besar-besar. Nggak pantas dipakai anak kecil, nanti jadinya kayak Mail di kartun Upin Ipin," Amara membalas ejekan Angga.
"Daripada kamu, sepedanya kecil kayak punya anak kecil yang belum sekolah."
"Nanti aku pasti dibeliin yang lebih besar dari ini. Tunggu saja!" sinis Amara.
"Ya sudah cepat, nanti keburu siang."
Amara bergegas mengambil sepedanya. Ia sempat berteriak meminta izin kepada bundanya yang sedang di belakang rumah. Karena tak mendapat jawaban, ia tetap pergi bermain bersama Angga tanpa izin Bunda.
Jalanan hari ini sepi, tidak seperti biasanya. Apa mungkin di detik-detik terakhir Amara akan meninggalkan dusun ini, alam pun mendukung Amara dan Angga untuk mengukir kenangan di setiap sudut dusun tanpa ada yang mengganggu?
Angga berada di depan memimpin Amara untuk mengikutinya, sambil menoleh ke belakang memastikan Amara baik-baik saja. Amara mengayuh sepeda kecilnya dengan sekuat tenaga mengikuti ritme Angga. Sampailah mereka pada sungai desa.
"Kita sampai," ucap Angga dengan lega.
"Kenapa aku tidak pernah tahu ada sungai di desa kita?"
"Orang tuamu tidak pernah bercerita tentang sungai?"
"Mereka hanya bilang sungai di desa ini tersembunyi, tak banyak orang yang tahu. Bagaimana kau bisa tahu?" Amara kebingungan.
"Aku dan Pablo sering ke sini waktu sore, karena kami selalu bermain layang-layang."
"Siapa itu Pablo? Aku pikir temanmu hanya aku."
"Siapa bilang? Pablo itu juga temanku, rumahnya tak jauh dari sini. Memang kamunya saja yang jarang bergaul ke luar rumah."
"Kamu mau kenalan sama Pablo?" Angga menawarkan.
"Boleh. Aku ingin menambah teman."
"Mau ikut aku memanggilnya?"
"Oke!" jawab Amara dengan gembira.
Benar saja, rumah Pablo tak jauh dari sungai. Medannya sedikit menanjak untuk sampai ke rumahnya yang berdekatan dengan persawahan. Sampailah mereka di depan rumah gubuk.
"Ini rumahnya?"
"Iya," jawab Angga secara singkat dan jelas.
"Pablo! Ayo bermain!" Angga berteriak, namun tidak ada jawaban.
Ia turun dari sepedanya, lalu mengetuk pintu yang terbuat dari daun kelapa kering. Memang tidak membuat bunyi, tapi setidaknya Angga berusaha.
"Permisi, apakah Pablo di rumah?"
"Permisi!"
"Pablo?"
Angga tetap memanggil, hingga seorang anak kecil laki-laki dengan baju sedikit lusuh keluar.
"Aku sedang sarapan. Maaf menunggu."
Itu Pablo. Dia berbeda dengan Angga. Bajunya lusuh, rambutnya seperti belum disisir, Amara masih mengamati anak laki-laki itu dari sepedanya.
"Oalah, aku kira kamu sedang pergi. Kamu mau ikut aku ke sungai tidak?" ajak Angga.
"Tumben pagi hari seperti ini? Biasanya kamu mengajakku waktu sore," Pablo bertanya-tanya.
"Karena hari ini aku datang bersama temanku. Supaya lebih seru, kami sepakat mengajakmu."
"Anak perempuan di sepeda pink itu?"
"Iya, dia ingin berkenalan denganmu."
"Kenapa?"
"Ya berteman, lah! Apa lagi?"
"Dia satu dusun denganmu?"
"Ah! Kamu banyak bertanya. Kenalan sendiri saja," Angga terlalu risih dengan banyaknya pertanyaan yang Pablo lontarkan.
"Amara, ke sini lah!"
Dengan senyum ramah, Amara mengajak Pablo berjabat tangan.
"Halo! Namaku Amara."
"Aku Pablo."
"Salam kenal, ya."
"Iya."
"Ayo segera pergi ke sungai! Matahari sudah hampir berada di tengah. Jika sudah azan, aku dan Amara harus segera pulang," kata Angga di sela-sela perkenalan Amara dan Pablo.
"Baiklah," sahut Pablo.
Tiga anak kecil itu menuju sungai, menyusuri hijaunya sawah. Terik matahari mengikuti gerak-gerik mereka. Keringat dari masing-masing tubuh mulai menetes. Banyak petani sedang bekerja. Ada banyak burung yang hendak memakan padi, namun mereka tidak bisa memakannya karena dihentikan oleh orang-orangan sawah.
Sampailah mereka pada sumber suara gemericik air. Semuanya sempurna. Cuaca yang mendukung membuat suasana hati Amara begitu gembira. Sepeda mereka parkirkan di pinggir jalan. Amara terkesan dengan indahnya pemandangan sungai yang sekitarnya dikelilingi persawahan.
"Inikah sesuatu yang kau ingin tunjukkan?" tanya Amara.
"Ya, aku tahu kamu belum pernah pergi ke sungai. Jadi hari ini aku mengajakmu," jawab Angga.
"Mengapa kau tidak pernah ke sungai, Ra?" Pablo menyela di antara percakapan Angga dan Amara.
"Tidak apa-apa. Mungkin karena tidak ada yang mengajakku. Jujur, aku takjub dengan keindahan ini. Aku baru pertama kali menyentuh air sungai dan melihat hijaunya persawahan di desa ini," jelas Amara.
"Kamu orang kota, ya?" Pablo terlalu penasaran dengan Amara.
"Tidak juga. Aku lahir di desa ini. Hanya saja aku tidak pernah diajak ke daerah ini."
"Pablo, sudah belum wawancaranya?" ejek Angga dengan sedikit tertawa.
"Wawancara apa? Aku hanya bertanya-tanya saja, kok," jawab Pablo dengan sedikit malu-malu.
"Tapi pertanyaanmu itu terlalu banyak. Hahaha…" gurau Angga.
Amara hanya tersenyum tipis mendengarkan lelucon mereka sambil menikmati indahnya alam ini seperti surga dunia yang tersembunyi.
"Ayo kita mencari udang!" ajak Angga.
"Oh, di sungai ada udang, ya?"
"Kamu pikir udang hidupnya di mana?" sahut Angga.
"Di laut,” dengan percaya diri Amara menjawab.
"Di laut ada udang juga. Tapi kebanyakan ukurannya besar. Kalau di sungai ini udangnya kebanyakan berukuran kecil. Nih, kayak gini nih," jelas Angga sambil memperlihatkan udang yang berhasil ditangkapnya.
"Udangnya emang mau dibuat apa?"
"Bisa dimasak ini. Sini, bantu aku! Nanti hasilnya kita bagi tiga. Berikan kepada bundamu biar dia yang mengolahnya."
"Tapi aku tidak bisa menangkapnya."
"Coba dulu lah! Masa belum nyoba udah nyerah duluan."
"Hmm… Baiklah."
Amara berusaha keras untuk menangkap udang. Ia tak memiliki riwayat pengalaman menjelajah ala si Bolang seperti Angga dan Pablo. Tetapi Angga meyakinkan Amara agar dia mau belajar menangkap udang. Angga memberi contoh kepada Amara agar Amara mau mengikutinya. Dengan niat dan usaha yang seimbang, Amara berhasil menangkap udang untuk pertama kalinya.
"Angga, lihat!! Aku berhasil dapat satu!" teriak Amara antusias.
"Hebat kamu, Amara! Baru belajar sudah langsung bisa," puji Angga pada Amara.
"Terima kasih, Angga," pujian itu mampu membuat senyum manis bahagia terpancar di wajah Amara.
Mereka asyik bermain hingga azan zuhur berkumandang. Angga dan Amara pamit dari Pablo.
"Blo, aku sama Amara pamit duluan, ya? Sudah siang, nih."
"Iya, Ngga. Nanti sore main layang-layang tidak?"
"Hari ini istirahat dulu, Blo. Sampai jumpa!" Angga dan Amara beranjak pergi sambil melambaikan tangan kepada Pablo. Pablo pun membalas lambaian mereka.
Angga mengikuti Amara, memastikan temannya itu sampai ke rumah dengan selamat.
"Sampai jumpa lagi, Amara! Kalau nanti sore aku tidak sibuk, aku main ke rumah kamu, ya?"
"Oke, Angga! Hati hati di jalan!"
"Siap, Mar." Angga lebih suka memanggilnya dengan sebutan ‘Mar’; katanya lebih ringkas daripada harus menyebut nama lengkapnya.
Amara sampai ke rumah dengan seperempat kantong plastik udang di tangannya. Bunda pun baru saja selesai dengan pekerjaan rumahnya.
“Assalamualaikum. Bunda baru selesai beberes rumah, ya?” sapa Amara pada Bundanya.
“Waalaikumsalam. Iya, nih. Kamu bawa apa itu?” tanya Bunda penasaran.
“Oh ini udang sungai, Bun. Kata Angga ini bisa dimasak. Dia menyuruhku memberikannya pada Bunda untuk Bunda olah. Kira-kira dimasak apa ya, Bun?”
“Loh! Kamu tadi main ke sungai?” tanya Bunda karena kaget.
Amara takut dimarahi Bunda jika ia jujur. Tapi ia teringat pesan ayah yang mengajarkannya harus jujur dalam berbagai hal. Akhirnya dia jujur saja meski tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
“Iya, Bun. Bunda jangan marah ya? Tadi aku diajak Angga. Awalnya aku tidak tahu mau diajak ke mana, katanya rahasia jadi aku mengikutinya saja. Maaf, Bun …” Amara menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Enggak. Bunda tidak marah, kok. Bunda kaget saja. Tadi kamu sudah izin ke Bunda belum? Bunda kok tidak dengar, ya?”
“Sudah kok, Bun. Tadi Bunda di belakang, mungkin izinku nggak sampai ke telinga Bunda, hehe…,” jawab Amara sambil sedikit bergurau.
“Oalah, begitu.”
“Ya sudah. Cepat cuci tangan sama kakimu. Habis itu kita masak sama-sama.”
“Seriusan, Bun? Horee! Tunggu aku sebentar ya, Bun,” sorak Amara kegirangan.
Betapa gembiranya hati Amara ketika melihat Bunda tidak marah. Justru Bunda malah mengajaknya memasak bersama. Amara tidak sabar, secepat kilat dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kakinya.
Di dapur, Bunda menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak rempeyek udang. Amara tak henti-hentinya melebarkan senyumannya. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan baginya. Aroma gurih rempeyek yang menyerbak sukses membuat perut Amara keroncongan. Rempeyek sudah siap dihidangkan. Amara menyantap rempeyek itu sepiring dengan Bunda. Hal sederhana ini suatu saat nanti pasti akan menjadi kenangan yang tak bisa Amara lupakan.
Setelah itu, Amara mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang membasahi tubuhnya. Kemudian, ia melaksanakan salat bersama Ibundanya. Ia berpikir dan bertanya pada hatinya.
“Mungkinkah suatu saat nanti aku bisa kembali ke rumah ini setelah pindah nanti? Aku berdoa pada-Mu Ya Allah, izinkan aku bersama ayah dan ibuku kembali mengunjungi rumah ini lagi.”
Apakah mungkin ini akan menjadi serpihan memori yang berkesan bagi Amara saat dewasa nanti? Bisakah Amara kembali ke dusun ini seperti yang ia harapkan?
Berat rasanya meninggalkan teman kecil yang mengisi keceriaan setiap harinya. Keputusan itu harus diambil meski hati masih ingin menetap di dusun penuh kenangan ini. Waktu terasa bergulir semakin cepat, tinggal dua hari lagi sebelum Amara pergi.
Pagi itu, dengan baju yang sudah rapi, Angga mengajak Amara untuk bermain.
"Amara, oh Amara… ,” panggil Angga dari luar rumah Amara.
Amara dengan semangat langsung membuka pintu rumahnya. Begitu gagang pintu berderit, senyum lebar langsung merekah di wajah Angga.
"Ayo bermain. Aku ingin memperlihatkanmu sesuatu," ajak Angga.
"Tidak biasanya kau seperti ini. Apa yang ingin kau perlihatkan?", tanya Amara pada ajakan Angga.
"Itu masih rahasia. Ikuti aku saja. Jangan lupa bawa sepeda kecilmu itu."
"Apa sih! Sepedaku nggak sekecil itu, kok. Lagian sepeda tuh jangan besar-besar. Nggak pantas dipakai anak kecil, nanti jadinya kayak Mail di kartun Upin Ipin," Amara membalas ejekan Angga.
"Daripada kamu, sepedanya kecil kayak punya anak kecil yang belum sekolah."
"Nanti aku pasti dibeliin yang lebih besar dari ini. Tunggu saja!" sinis Amara.
"Ya sudah cepat, nanti keburu siang."
Amara bergegas mengambil sepedanya. Ia sempat berteriak meminta izin kepada bundanya yang sedang di belakang rumah. Karena tak mendapat jawaban, ia tetap pergi bermain bersama Angga tanpa izin Bunda.
Jalanan hari ini sepi, tidak seperti biasanya. Apa mungkin di detik-detik terakhir Amara akan meninggalkan dusun ini, alam pun mendukung Amara dan Angga untuk mengukir kenangan di setiap sudut dusun tanpa ada yang mengganggu?
Angga berada di depan memimpin Amara untuk mengikutinya, sambil menoleh ke belakang memastikan Amara baik-baik saja. Amara mengayuh sepeda kecilnya dengan sekuat tenaga mengikuti ritme Angga. Sampailah mereka pada sungai desa.
"Kita sampai," ucap Angga dengan lega.
"Kenapa aku tidak pernah tahu ada sungai di desa kita?"
"Orang tuamu tidak pernah bercerita tentang sungai?"
"Mereka hanya bilang sungai di desa ini tersembunyi, tak banyak orang yang tahu. Bagaimana kau bisa tahu?" Amara kebingungan.
"Aku dan Pablo sering ke sini waktu sore, karena kami selalu bermain layang-layang."
"Siapa itu Pablo? Aku pikir temanmu hanya aku."
"Siapa bilang? Pablo itu juga temanku, rumahnya tak jauh dari sini. Memang kamunya saja yang jarang bergaul ke luar rumah."
"Kamu mau kenalan sama Pablo?" Angga menawarkan.
"Boleh. Aku ingin menambah teman."
"Mau ikut aku memanggilnya?"
"Oke!" jawab Amara dengan gembira.
Benar saja, rumah Pablo tak jauh dari sungai. Medannya sedikit menanjak untuk sampai ke rumahnya yang berdekatan dengan persawahan. Sampailah mereka di depan rumah gubuk.
"Ini rumahnya?"
"Iya," jawab Angga secara singkat dan jelas.
"Pablo! Ayo bermain!" Angga berteriak, namun tidak ada jawaban.
Ia turun dari sepedanya, lalu mengetuk pintu yang terbuat dari daun kelapa kering. Memang tidak membuat bunyi, tapi setidaknya Angga berusaha.
"Permisi, apakah Pablo di rumah?"
"Permisi!"
"Pablo?"
Angga tetap memanggil, hingga seorang anak kecil laki-laki dengan baju sedikit lusuh keluar.
"Aku sedang sarapan. Maaf menunggu."
Itu Pablo. Dia berbeda dengan Angga. Bajunya lusuh, rambutnya seperti belum disisir, Amara masih mengamati anak laki-laki itu dari sepedanya.
"Oalah, aku kira kamu sedang pergi. Kamu mau ikut aku ke sungai tidak?" ajak Angga.
"Tumben pagi hari seperti ini? Biasanya kamu mengajakku waktu sore," Pablo bertanya-tanya.
"Karena hari ini aku datang bersama temanku. Supaya lebih seru, kami sepakat mengajakmu."
"Anak perempuan di sepeda pink itu?"
"Iya, dia ingin berkenalan denganmu."
"Kenapa?"
"Ya berteman, lah! Apa lagi?"
"Dia satu dusun denganmu?"
"Ah! Kamu banyak bertanya. Kenalan sendiri saja," Angga terlalu risih dengan banyaknya pertanyaan yang Pablo lontarkan.
"Amara, ke sini lah!"
Dengan senyum ramah, Amara mengajak Pablo berjabat tangan.
"Halo! Namaku Amara."
"Aku Pablo."
"Salam kenal, ya."
"Iya."
"Ayo segera pergi ke sungai! Matahari sudah hampir berada di tengah. Jika sudah azan, aku dan Amara harus segera pulang," kata Angga di sela-sela perkenalan Amara dan Pablo.
"Baiklah," sahut Pablo.
Tiga anak kecil itu menuju sungai, menyusuri hijaunya sawah. Terik matahari mengikuti gerak-gerik mereka. Keringat dari masing-masing tubuh mulai menetes. Banyak petani sedang bekerja. Ada banyak burung yang hendak memakan padi, namun mereka tidak bisa memakannya karena dihentikan oleh orang-orangan sawah.
Sampailah mereka pada sumber suara gemericik air. Semuanya sempurna. Cuaca yang mendukung membuat suasana hati Amara begitu gembira. Sepeda mereka parkirkan di pinggir jalan. Amara terkesan dengan indahnya pemandangan sungai yang sekitarnya dikelilingi persawahan.
"Inikah sesuatu yang kau ingin tunjukkan?" tanya Amara.
"Ya, aku tahu kamu belum pernah pergi ke sungai. Jadi hari ini aku mengajakmu," jawab Angga.
"Mengapa kau tidak pernah ke sungai, Ra?" Pablo menyela di antara percakapan Angga dan Amara.
"Tidak apa-apa. Mungkin karena tidak ada yang mengajakku. Jujur, aku takjub dengan keindahan ini. Aku baru pertama kali menyentuh air sungai dan melihat hijaunya persawahan di desa ini," jelas Amara.
"Kamu orang kota, ya?" Pablo terlalu penasaran dengan Amara.
"Tidak juga. Aku lahir di desa ini. Hanya saja aku tidak pernah diajak ke daerah ini."
"Pablo, sudah belum wawancaranya?" ejek Angga dengan sedikit tertawa.
"Wawancara apa? Aku hanya bertanya-tanya saja, kok," jawab Pablo dengan sedikit malu-malu.
"Tapi pertanyaanmu itu terlalu banyak. Hahaha…" gurau Angga.
Amara hanya tersenyum tipis mendengarkan lelucon mereka sambil menikmati indahnya alam ini seperti surga dunia yang tersembunyi.
"Ayo kita mencari udang!" ajak Angga.
"Oh, di sungai ada udang, ya?"
"Kamu pikir udang hidupnya di mana?" sahut Angga.
"Di laut,” dengan percaya diri Amara menjawab.
"Di laut ada udang juga. Tapi kebanyakan ukurannya besar. Kalau di sungai ini udangnya kebanyakan berukuran kecil. Nih, kayak gini nih," jelas Angga sambil memperlihatkan udang yang berhasil ditangkapnya.
"Udangnya emang mau dibuat apa?"
"Bisa dimasak ini. Sini, bantu aku! Nanti hasilnya kita bagi tiga. Berikan kepada bundamu biar dia yang mengolahnya."
"Tapi aku tidak bisa menangkapnya."
"Coba dulu lah! Masa belum nyoba udah nyerah duluan."
"Hmm… Baiklah."
Amara berusaha keras untuk menangkap udang. Ia tak memiliki riwayat pengalaman menjelajah ala si Bolang seperti Angga dan Pablo. Tetapi Angga meyakinkan Amara agar dia mau belajar menangkap udang. Angga memberi contoh kepada Amara agar Amara mau mengikutinya. Dengan niat dan usaha yang seimbang, Amara berhasil menangkap udang untuk pertama kalinya.
"Angga, lihat!! Aku berhasil dapat satu!" teriak Amara antusias.
"Hebat kamu, Amara! Baru belajar sudah langsung bisa," puji Angga pada Amara.
"Terima kasih, Angga," pujian itu mampu membuat senyum manis bahagia terpancar di wajah Amara.
Mereka asyik bermain hingga azan zuhur berkumandang. Angga dan Amara pamit dari Pablo.
"Blo, aku sama Amara pamit duluan, ya? Sudah siang, nih."
"Iya, Ngga. Nanti sore main layang-layang tidak?"
"Hari ini istirahat dulu, Blo. Sampai jumpa!" Angga dan Amara beranjak pergi sambil melambaikan tangan kepada Pablo. Pablo pun membalas lambaian mereka.
Angga mengikuti Amara, memastikan temannya itu sampai ke rumah dengan selamat.
"Sampai jumpa lagi, Amara! Kalau nanti sore aku tidak sibuk, aku main ke rumah kamu, ya?"
"Oke, Angga! Hati hati di jalan!"
"Siap, Mar." Angga lebih suka memanggilnya dengan sebutan ‘Mar’; katanya lebih ringkas daripada harus menyebut nama lengkapnya.
Amara sampai ke rumah dengan seperempat kantong plastik udang di tangannya. Bunda pun baru saja selesai dengan pekerjaan rumahnya.
“Assalamualaikum. Bunda baru selesai beberes rumah, ya?” sapa Amara pada Bundanya.
“Waalaikumsalam. Iya, nih. Kamu bawa apa itu?” tanya Bunda penasaran.
“Oh ini udang sungai, Bun. Kata Angga ini bisa dimasak. Dia menyuruhku memberikannya pada Bunda untuk Bunda olah. Kira-kira dimasak apa ya, Bun?”
“Loh! Kamu tadi main ke sungai?” tanya Bunda karena kaget.
Amara takut dimarahi Bunda jika ia jujur. Tapi ia teringat pesan ayah yang mengajarkannya harus jujur dalam berbagai hal. Akhirnya dia jujur saja meski tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
“Iya, Bun. Bunda jangan marah ya? Tadi aku diajak Angga. Awalnya aku tidak tahu mau diajak ke mana, katanya rahasia jadi aku mengikutinya saja. Maaf, Bun …” Amara menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
“Enggak. Bunda tidak marah, kok. Bunda kaget saja. Tadi kamu sudah izin ke Bunda belum? Bunda kok tidak dengar, ya?”
“Sudah kok, Bun. Tadi Bunda di belakang, mungkin izinku nggak sampai ke telinga Bunda, hehe…,” jawab Amara sambil sedikit bergurau.
“Oalah, begitu.”
“Ya sudah. Cepat cuci tangan sama kakimu. Habis itu kita masak sama-sama.”
“Seriusan, Bun? Horee! Tunggu aku sebentar ya, Bun,” sorak Amara kegirangan.
Betapa gembiranya hati Amara ketika melihat Bunda tidak marah. Justru Bunda malah mengajaknya memasak bersama. Amara tidak sabar, secepat kilat dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kakinya.
Di dapur, Bunda menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak rempeyek udang. Amara tak henti-hentinya melebarkan senyumannya. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan baginya. Aroma gurih rempeyek yang menyerbak sukses membuat perut Amara keroncongan. Rempeyek sudah siap dihidangkan. Amara menyantap rempeyek itu sepiring dengan Bunda. Hal sederhana ini suatu saat nanti pasti akan menjadi kenangan yang tak bisa Amara lupakan.
Setelah itu, Amara mandi untuk membersihkan diri dari keringat yang membasahi tubuhnya. Kemudian, ia melaksanakan salat bersama Ibundanya. Ia berpikir dan bertanya pada hatinya.
“Mungkinkah suatu saat nanti aku bisa kembali ke rumah ini setelah pindah nanti? Aku berdoa pada-Mu Ya Allah, izinkan aku bersama ayah dan ibuku kembali mengunjungi rumah ini lagi.”
Apakah mungkin ini akan menjadi serpihan memori yang berkesan bagi Amara saat dewasa nanti? Bisakah Amara kembali ke dusun ini seperti yang ia harapkan?
Other Stories
Prince Reckless Dan Miss Invisible
Naes, yang insecure dengan hidupnya, bertemu dengan Raka yang insecure dengan masa depann ...
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. A ...
Ibu, Kuizinkan Engkau Jadi Egois Malam Ini
Setiap akhir tahun, ia pulang dengan harapan ibunya ada di rumah. Yang berulang justru dap ...
Menantimu
Sejak dikhianati Beno, ia memilih jalan kelam menjajakan tubuh demi pelarian. Hingga Raka ...
Bumi
Seni mencintai terkadang memang menyenangkan, tetapi tak selamanya berada dalam titik mani ...