Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
16
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 4 : Hawa Dingin Kota.

Bab 4 : Hawa dingin kota baru.

Mata Amara perlahan terbuka setelah terlelap dalam tidur yang panjang. Ia terbangun dengan posisi masih bersandar di bahu ayahnya. Suasana masih gelap gulita, terlihat dari jendela kereta. Ia melihat waktu pada jam tangan antik milik ayahnya yang menunjukkan pukul 04.20. Sekitarnya hening, Amara mengamati semua mata yang masih tertutup rapat.

Tidak lama setelah itu, Ayah terusik dan ikut terbangun.

“Ayah juga sudah bangun?” bisik Amara namun terdengar jelas di telinga Ayah.

“Hmm, iya. Kamu sejak kapan sudah bangun?” Ayah menjawab dengan suara sedikit serak.

“Baru saja. Apakah sebentar lagi kita akan sampai?”

“Iya, Nak. Kurang setengah jam lagi,” jawab Ayah sambil melihat jam tangannya.

“Lihat, Yah. Bunda belum bangun. Sepertinya Bunda kelelahan.”

“Mungkin iya. Amara pasti juga kelelahan, kan?” Ayah menatap istrinya dengan iba, tapi ia tidak lupa kalau anaknya pasti juga merasa lelah.
“Nanti kita istirahat di tempat baru, ya?” tambah Ayah.

“Siap, Ayah!” seru Amara.

Perbincangan kecil itu rupanya terdengar di telinga Bunda. Meski terasa berat, perlahan ia membuka matanya. Bayangan kedua orang tersayangnya semakin jelas, ia tersenyum tipis. Ketika Amara kembali menatap Bunda, ia juga ikut tersenyum dengan riang.

Suara ponsel terdengar, tanda seseorang sudah bangun dari tidurnya. Sapaan selamat pagi mulai terdengar di sana-sini. Suasana yang tadinya sunyi, kini ramai seperti suara khas penjual dan pembeli yang sedang tawar menawar

Cahaya matahari mulai menyelinap masuk lewat jendela kereta dengan sopan. Amara dan Bunda asyik bermain boneka, sedangkan Ayah sibuk mengamati ponselnya. Setengah jam sudah berlalu, kereta telah sampai di stasiun tujuan.

Dinginnya udara menusuk kulit Amara hingga ia sedikit menggigil. Amara turun dari kereta dan melihat sekeliling. Stasiun masih sepi, hanya terlihat ramai karena banyaknya orang yang baru turun dari kereta.

Bunda memberikan tiket milik Amara yang sedari kemarin ia simpan. Keluar dari kereta, mereka langsung menuju gerbang keluar. Ayah memimpin dengan mengikuti papan petunjuk bertuliskan ‘Exit’. Sesampainya di gerbang, mereka masing-masing harus menempelkan tiketnya pada sebuah mesin otomatis sebelum akhirnya melangkah menuju lobi utama.

Ayah mengajak Bunda dan Amara pergi ke toilet untuk mencuci muka dan menyikat gigi. Airnya tidak terasa dingin seperti yang dipikirkannya, justru malah membuat segar saat air membasahi wajahnya. Amara menggosok giginya dengan teliti agar napasnya segar saat diajak mengobrol nanti.

Agenda mereka selanjutnya adalah beribadah di masjid dekat stasiun. Masjid itu tampak ramai, orang-orang bergilir masuk untuk bersujud. Amara mulai menggosok sela-sela jari lalu melanjutkan berkumur tiga kali dan menyelesaikan wudhunya dengan tertib. Doa dan rasa syukur ia dipanjatkan kepada Sang Pencipta.

Matahari mulai memperlihatkan diri dari persembunyiannya. Suara burung berkicau menyambut pagi. Namun, ditengah kedamaian itu, tiba-tiba terdengar suara perut yang meraung meminta di isi. Suara itu berasal dari perut Amara.

Krukkk…

“Hayolo! Suara perut siapa itu?” goda Bunda menahan tawa.

“Bukan Ayah, tuh. Siapa ya kira-kira?” Ayah ikut bercanda.

Amara tertawa kecil, tersipu malu karena ketahuan sudah lapar padahal jam baru menunjukkan pukul setengah enam pagi.

Terlihat sebuah kedai yang menjual aneka makanan di seberang gedung stasiun. Bunda menyarankan untuk sarapan di sana saja. Dari kejauhan aroma nikmat sudah menggoda selera. Berbagai lauk pauk dan sayuran tersusun rapi di etalase. Amara sudah membayangkan nikmatnya menyantap makanan hangat.

Sesampainya di sana terlihat banyak orang yang turun dari kereta tadi juga sedang menyantap pesanannya. Giliran keluarga Amara memesan sarapan untuk ikut menyantap.

“Amara, mau makan apa, Nak?” Ayah menunjukkan daftar menu yang tertulis rapi di selembar kertas.

“Aku mau soto!” pinta Amara antusias.

“Minumannya?”

“Jeruk hangat!”

“Tidak mau minum es?” goda Ayah.

“Kan masih pagi, Yah. Hawanya juga dingin, masa minum es?” sahut Bunda membela.

“Iya, Yah. Amara mau minum yang hangat-hangat,” jelas Amara.

“Baiklah. Bunda mau pesan apa?”

“Samakan dengan Amara saja.”

“Oke,” jawab Ayah sambil mengacungkan jempolnya.

Ayah memesan makanan di depan etalase. Mereka menyamakan pesanan agar mempermudah pemilik warung. Tidak perlu menunggu lama, tiga soto dengan uap yang masih mengepul dihidangkan di meja tempat Amara dan keluarganya duduk. Aroma khas soto yang semakin dekat membuat Amara tidak sabar ingin cepat menyantapnya.

Satu teguk jeruk hangat masuk dengan sangat sopan di tenggorokan Amara. Sesendok soto ditiupnya perlahan sebelum masuk ke mulut. Perutnya tak lagi meraung, ia sudah tenang karena kenyang.

Mereka menuju ke gedung logistik untuk mengambil mobil. Tempatnya masih satu area dengan stasiun, hanya saja berbeda gedung. Sambil menunggu Ayah yang mengurus dokumen, Amara dan Bunda duduk menunggu. Prosesnya singkat, tapi Amara dan Bunda cukup bosan menunggu Ayah. Sampai pada akhirnya Ayah selesai mengurus semuanya, ia melambai tanda mobil sudah siap diambil.

Akhirnya segala urusan dengan kereta sudah selesai. Masa-masa ini sedikit mengalihkan pikiran Amara dari kesedihan setelah meninggalkan kampung halaman. Dalam perjalanan menuju kontrakan, mata Amara dimanjakan oleh keindahan kota yang khas dengan gedung dan monumen yang unik. Ini adalah pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di kota.

Namun, dalam kekaguman itu ia membatin.

Ternyata kota tidak semengerikan itu ya? Atau hanya belum terlihat aslinya? Semoga saja keindahan ini tidak membohongiku tentang isinya. Semoga keluargaku diberkahi Tuhan, dijauhkan-Nya dari orang-orang jahat. Aamiin…




Other Stories
Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Setinggi Awan

Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...

Mak Comblang Jatuh Cinta

Miko jatuh cinta pada sahabatnya sejak SD, Gladys. Namun, Gladys justru menyukai Vino, kak ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

Katamu Aku Cantik

Ratna adalah korban pelecehan seksual di masa kecil dan memilih untuk merahasiakannya samb ...

Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?

Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...

Download Titik & Koma