Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
16
Votes
8
Parts
8
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 3 : Menuju Lembaran Baru.

Bab 3 : Kereta menuju lembaran baru.

Di perjalanan menuju lembaran baru, Amara memandangi kaca mobil sepanjang jalan. Wajahnya murung, memikirkan cara berkenalan di sekolah barunya nanti.

“Amara? Kenapa ditekuk begitu mulutnya?” tanya Bunda.

“Eh, tidak apa-apa, Bun. Amara hanya lupa cara berkenalan dengan orang baru.”

“Loh, berkenalan hanya tinggal tanya nama, kan? Kok bingung?”

“Amara malu, Bun. Biasanya Amara tinggal berteman dan bermain saja dengan teman-teman. Tapi nanti aku harus memulai lagi dari awal,” Amara jengkel karena bundanya tidak mengerti perasaannya.

Amara menghela napas panjang. Berpindah kota bukanlah keinginannya, tapi keadaan yang memaksa.

Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya Amara sudah tiba di stasiun. Stasiun ramai hari ini, padahal hari ini bukan akhir pekan. Bunda dan Amara mengantre di depan mesin oranye untuk mencetak tiket. Sambil mengayun-ayunkan kakinya, Amara kebingungan mencari ke mana perginya Ayah.

Ayah berpisah sebentar dengan mereka karena harus mengurus pengiriman mobil agar sampai ke kota tujuan dengan aman. Setelah selesai, Ayah menyusul mereka di lobi utama stasiun. Proses cetak tiket sudah beres, kini mereka sedang menjalani pemeriksaan identitas. Semuanya tuntas, Amara dan kedua orang tuanya tinggal menunggu kereta yang akan membawa mereka menuju lembaran baru.

Raut bahagia Amara kemarin kini berubah menjadi sedih. Hati ayahnya retak mendapati wajah gadis kecilnya tidak ceria lagi. Dalam hatinya ia berkata,

Ayah berinisiatif mengajak Amara membeli es krim kesukaannya, berharap agar putrinya sedikit terhibur. Amara menyetujuinya. Hawa panas campur sesak mulai terasa ketika Amara dan ayahnya berjalan melewati kerumunan orang yang sedang menunggu kedatangan kereta.

Sesampainya di gerai minuman, Amara langsung berlari memilih es krim rasa vanila kesukaannya. Melihat bundanya tadi juga kepanasan dan letih, ia meminta Ayah membelikan minuman dingin untuk Bunda.

Kembali lagi melewati padatnya peron, kali ini Amara menikmatinya sambil menyantap es krim vanila yang masih dingin. Bunda tersenyum ketika melihat tangan Ayah sedang menggenggam minuman dingin. Baru satu tegukan yang membasahi kerongkongan Bunda, tiba-tiba ada suara gemuruh disertai getaran yang sedikit mengguncang tanah. Kereta telah tiba.

Amara menghela napas panjang sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke dalam kereta dengan berat hati. Mereka langsung menuju kursi nomor lima yang berada di tengah. Barang-barang pribadi sudah berada dalam mobil mereka, yang dikirim terpisah. Barang darurat berada dalam tas besar yang dibawa Bunda. Amara hanya membawa kantong plastik berisi boneka kesayangannya—bungkusan rapi itu dikemas oleh Angga sebelum berangkat tadi.

Di dalam kereta, ia terus memandangi gelang di tangan kanannya itu. Gelang cantik yang dibuat oleh tangan kreatifnya Angga. Benda itu akan menjadi sesuatu khas yang akan selalu mengingatkan Amara tentang Angga. Sejenak ia tersenyum melihat gelang itu.

“Betapa beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya, hahaha…” gumam Amara dalam hatinya.

Tanpa ia sadari, Bunda yang sedari tadi mengawasinya ikut tertawa melihat anaknya tersenyum-senyum sendiri.

“Cie, dapat gelang baru nih, sampai tersenyum-senyum, hahaha…” goda Bunda sambil menyenggol tangan Amara.

“Bunda, apaan, sih! Gelangnya bagus banget nih, lihat,” jawab Amara sambil menunjukkan gelang itu.

Ayah yang berada di samping kanan Amara tiba-tiba menyahut.

“Lho, berarti tadi Amara dapat hadiah?” tanya Ayah, karena saat kejadian tadi Ayah sudah berada di dalam mobil bersiap untuk mengemudi.

“Iya, Yah. Tadi dapat gelang dari sahabatnya itu. Dia terlihat senang sekali,” Bunda menyahut.

“Hahaha… jaga baik-baik hadiahnya ya, Nak. Nanti bisa jadi obat kalau lagi rindu dusun loh!” ucap Ayah.

“Benarkah, Yah?” tanya Amara.

“Benar dong!” Ayah meyakinkan.

“Wah, kalau begitu aku pasti akan selalu menjaganya. Tidak akan kulepas gelang ini!” seru Amara.

“Pintar!” puji Ayah sambil mengelus pelan rambut Amara.

Keheningan cukup lama membuat suasananya menegang. Amara memberanikan dirinya untuk bertanya kepada ayahnya, meski dengan suara lirih.

“Eummm… Ayah.”

“Ada apa, Nak?”

“Mobil kita tadi ditinggal begitu saja?”

“Tidak, dong, Nak. Tadi kan kita berpisah sebentar, karena Ayah sedang mengurus mobilnya”

“Diurus bagaimana?”

“Tadi Ayah mengurus mobilnya untuk dikirim ke kota baru nanti supaya aman. Mobil kita juga naik kereta, tapi pakai kereta barang khusus, jadi tidak satu rangkaian dengan kita,” jelas Ayah.

“Oalah,” Amara mengangguk paham.
“Sekarang mobilnya sudah berangkat ya, Yah?”

“Tidak tahu. Itu sudah menjadi tanggung jawab dan urusan petugas di sana tadi. Kita nanti tinggal menerima mobilnya saat sudah sampai di sana.”

“Oh, begitu.”

“Amara kangen mobilnya, ya?”

“Tidak kok, Yah. Amara bingung saja. Aku kira mobilnya ditinggal di sana tadi. Kalau begitu terus kita nanti di kota baru pakai apa? Ternyata mobilnya juga naik kereta, hahaha…”

“Nanti kita jemput kalau sudah sampai sana. Amara tidur saja kalau ngantuk, nanti Ayah sama Bunda bangunkan.”

“Nanti Ayah tinggalkan Amara di sini. Tidak mau ah,” Amara pikir itu kalimat jebakan Ayah, jadi Amara menolak saran ayahnya.

“Heh, tidak dong. Nanti kalau Ayah lelah juga tidur. Lihat itu, sudah ada yang tidur. Karena perjalanannya lama, jadi kita bisa memanfaatkan waktunya untuk istirahat,” jelas Ayah sambil menunjuk seorang penumpang yang tertidur bersandar ke dinding kereta.

“Ya sudah, nanti saja deh. Aku belum ngantuk. Tapi nanti kalau Ayah bohong, nanti Ayah bisulan, ya!” ancam Amara pada ayahnya.

“Jahat sekali doamu, Nak, hahaha… Ya sudah, kalau bosan mainkan bonekamu saja, ya? Maaf kalau Ayah nanti bablas ketiduran.”

“Aku sama Bunda nanti akan meninggalkan Ayah kalau Ayah ketiduran. Iya kan, Bun?”

Bunda mengangguk setuju sambil tertawa kecil mendengar guyonan Ayah dengan Amara. Tingkah lucu Amara membuat orang tuanya terhibur di sela hawa panas kereta.

“Jangan begitu dong. Nanti siapa yang menyetir untuk kalian?”

“Amara bisa kok menyetir mobil untuk Bunda.”

“Yakin? Mobil-mobilan atau mobil beneran?”

“Hehehe…” pipi Amara memerah tersipu malu.

Perdebatan lucu tersebut sedikit menghibur penumpang di sekitar mereka. Suasananya menjadi cair, hingga akhirnya keheningan datang karena Amara mulai mengantuk. Matanya mulai menyipit, kepalanya mulai terasa berat. Ia tidak kuat lagi menahan kepalanya, ia memutuskan menyandarkan tubuhnya di kursi miliknya sebelum mulai turun ke bahu milik ayahnya.

Ayah tersenyum sambil mengelus pelan rambut Amara. Ayah memberi isyarat dengan desisan pada Bunda agar melihat putri mereka yang tertidur pulas akibat kelelahan menempuh jarak yang teramat jauh. Bunda pun ikut bersandar lembut. Ayah hanya bisa duduk tegak bersandar di kursinya menikmati momen harmoni ini.

Ayah menyadari keluarganya hidup dengan harmonis, mungkin di luar sana keluarga lain tidak sebahagia keluarga yang dimilikinya.

Alhamdulillah, Ya Allah, terima kasih atas karunia-Mu telah memberikan keluarga yang begitu manis padaku. Semoga aku bisa terus mempertahankan kebahagiaan ini.




Other Stories
Jaki & Centong Nasi Mamak

Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...

Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Melinda Dan Dunianya Yang Hilang

Melinda seorang gadis biasa menjalani hari-hari seperti biasa, hingga pada suatu saat ia b ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

People Like Us

Setelah 2 tahun di Singapura,Diaz kembali ke Bandung dengan kenangan masa lalu & konflik k ...

Bunga Untuk Istriku (21+)

Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...

Download Titik & Koma