Bab 12: Hari Kelulusan
Bab 12: Hari kelulusan
Setelah pengumuman itu, universitas Amara melakukan seremoni kelulusan. Hari itu ia memilih kebaya warna merah sebagai gaunnya. Ia nampak anggun nan cantik dalam balutan toga saat namanya dipanggil naik panggung. Senyumnya menggambarkan kebahagiaan setelah panjangnya rintangan perkuliahan yang ia lalui.
Setelah acara wisuda selesai, ia menyewa fotografer untuk mengabadikan momen bahagia itu. Bunda dan ayahnya mengenakan baju yang selaras dengan Amara, yaitu hitam-merah. Berbagai pose mereka lakukan agar mendapat jepretan yang bagus. Nantinya, foto ini akan dipajang di ruang tamu agar saat tamu datang mereka ikut merasakan keharmonisan keluarga ini.
Perayaan telah usai. Amara melanjutkan hidupnya dengan terus bekerja. Awalnya hidupnya tetap berjalan mulus, hingga akhirnya sebuah kabar dari ponsel membuatnya diam mematung.
Sore itu, sebelum ia pulang dari pekerjaannya, ia ditelpon berulang kali oleh Bundanya. Ia bingung tidak biasanya Bunda menelponnya seperti itu. Hingga ia mengangkatnya.
“Nak, segeralah pulang.”
“Kenapa, Bun? Kenapa suara Bunda bergetar?”
“Ayah, Nak. Segeralah pulang.”
Sebelum mengetahuinya dengan jelas, Bunda sudah lebih dulu menutup telepon.
Di perjalanan pulang, ia menyetir dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah…
Banyak orang sudah berkumpul di rumahnya.
Ayah meninggal.
Setelah perjuangannya selama ini, Ayah kembali ke dalam pangkuan Tuhan.
Amara ikhlas, namun jauh di dalam hatinya ini masih terlalu tiba-tiba.
“Aku ikhlas, Yah. Terimakasih sudah menjadi Iron Man bagi keluarga ini.”
Setelah pengumuman itu, universitas Amara melakukan seremoni kelulusan. Hari itu ia memilih kebaya warna merah sebagai gaunnya. Ia nampak anggun nan cantik dalam balutan toga saat namanya dipanggil naik panggung. Senyumnya menggambarkan kebahagiaan setelah panjangnya rintangan perkuliahan yang ia lalui.
Setelah acara wisuda selesai, ia menyewa fotografer untuk mengabadikan momen bahagia itu. Bunda dan ayahnya mengenakan baju yang selaras dengan Amara, yaitu hitam-merah. Berbagai pose mereka lakukan agar mendapat jepretan yang bagus. Nantinya, foto ini akan dipajang di ruang tamu agar saat tamu datang mereka ikut merasakan keharmonisan keluarga ini.
Perayaan telah usai. Amara melanjutkan hidupnya dengan terus bekerja. Awalnya hidupnya tetap berjalan mulus, hingga akhirnya sebuah kabar dari ponsel membuatnya diam mematung.
Sore itu, sebelum ia pulang dari pekerjaannya, ia ditelpon berulang kali oleh Bundanya. Ia bingung tidak biasanya Bunda menelponnya seperti itu. Hingga ia mengangkatnya.
“Nak, segeralah pulang.”
“Kenapa, Bun? Kenapa suara Bunda bergetar?”
“Ayah, Nak. Segeralah pulang.”
Sebelum mengetahuinya dengan jelas, Bunda sudah lebih dulu menutup telepon.
Di perjalanan pulang, ia menyetir dengan kecepatan tinggi. Sesampainya di rumah…
Banyak orang sudah berkumpul di rumahnya.
Ayah meninggal.
Setelah perjuangannya selama ini, Ayah kembali ke dalam pangkuan Tuhan.
Amara ikhlas, namun jauh di dalam hatinya ini masih terlalu tiba-tiba.
“Aku ikhlas, Yah. Terimakasih sudah menjadi Iron Man bagi keluarga ini.”
Other Stories
Painted Distance (tamat)
Dara memutuskan untuk pergi ke Sapporo bukan hanya sekadar liburan. Perjalanannya di kota ...
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Separuh Dzarah
Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suara ...
Kumpulan Tulisan
Sebuah bentuk tulisan tentang pikiran-pikiran yang jenuh dan amarah yang terpendam. ...
Haruskah Bertemu?
Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...