Setelah Perayaan Itu Usai.

Reads
336
Votes
58
Parts
14
Vote
Report
Setelah perayaan itu usai.
Setelah Perayaan Itu Usai.
Penulis Vixza Diendra

Bab 10: Sebuah Pesan Yang Janggal.

Bab 10: Sebuah Pesan yang Janggal.

Seluruh urusan skripsi selesai, Amara tinggal menunggu keputusan para dosen penguji. Keputusan inilah yang akan menentukan kelulusannya.

Setelah keluar dari aula kemarin, Amara merasa bangga pada dirinya. Kebanggaan itu membuat Amara berpikir positif pada hasil sidangnya. Ia yakin hasilnya pasti sesuai dengan ekspektasinya. Jikapun harus mengulang sidang, ia akan melakukannya dengan maksimal dan belajar dari kelengahan kemarin.

Malam itu sebelum tidur, ia membaringkan tubuh di atas kasur sembari berangan tentang kehidupannya setelah lulus nanti. Yang jelas, ia akan tetap bekerja di pekerjaannya saat ini. Penghasilannya lumayan membantu keluarga, sehingga ia nyaman bekerja di situ.

Tetapi, jika suatu saat keadaan memaksanya mencari uang lebih banyak, ia harus melamar ke mana? Penghasilannya tidak cukup jika harus memenuhi segala kebutuhan rumah sendirian. Amara bingung bagaimana Ayah bisa mencari kerja dengan penghasilan yang cukup untuk menafkahi keluarga. Bagaimana Ayah bisa sekuat itu mencari uang.

Selama ini, apa yang ia inginkan selalu diusahakan oleh Ayah. Padahal, penghasilan Ayah selalu sama, tidak lebih dan tidak kurang. Setiap gajian jatahnya tetap, cukup untuk kebutuhan dan disisihkan sedikit untuk menabung.

Pernah pada awal Amara masuk SMA, ia meminta laptop pada ayahnya. Memang tidak langsung dikabulkan, tetapi keinginannya itu terpenuhi. Ayah mengusahakannya sampai lembur demi gaji tambahan. Amara pun menyisihkan uang saku untuk membantu biaya membeli laptop, meski hanya sedikit.

Laptopnya bukan bekas, bukan juga yang termurah. Ayah sengaja memilih laptop dengan kualitas tinggi agar awet. Tidak peduli biayanya mahal, yang terpenting fiturnya lengkap.

Amara sudah meminta agar dibelikan yang murah saja, nanti kalau sudah banyak uang baru beli yang mahal. Tapi Ayah mengusahakannya waktu itu juga agar saat kuliah, Amara tidak perlu beli lagi. Uangnya bisa digunakan untuk biaya perkuliahan.

Mungkin itu salah satu hal yang membawa Amara sampai di titik ini. Selain doa Bunda, ada pula berkat Ayah yang menyertai laptop itu. Amara lagi dan lagi bersyukur karena dikaruniai keluarga yang sangat harmonis.

“Ya Tuhan, berikanlah panjang umur kepada kedua orang tuaku, ampunilah segala dosa mereka, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku.”

Amara tidak terlalu mementingkan hasil sidang. Ia malah bernostalgia mengingat perjuangan kedua orang tuanya hingga akhirnya memejamkan matanya.

Malam itu Amara bermimpi. Di sana, ia merayakan hari kelulusannya. Dirinya cantik sekali mengenakan balutan kebaya berwarna merah. Ibundanya memakai gamis hitam-putih dan Ayahnya terbungkus dalam balutan jubah putih. Mereka berswafoto mengabadikan momen itu.

Senyuman mereka manis sekali, seolah akan menjadi keluarga abadi. Setelah sesi foto selesai, Ayah memeluk Bunda erat dan membisikkan sesuatu kepada Bunda. Amara tidak mendengar itu. Ia hanya menangkap momen itu dengan haru.

Setelah Bunda, Ayah memeluknya, erat sekali. Bahkan lebih erat daripada pelukannya kepada Bunda. Ayah memberi nasihat kepadanya.

“Nak, kamu harus tumbuh menjadi kuat, ya. Rawat Bundamu dengan baik dan tulus. Jangan pernah tinggalkan ibadahmu. Ayah sayang kepada kalian berdua.”

Ayah mengecup dahi Bunda, kemudian Amara. Kalimat itu terasa janggal bagi Amara, lebih mendekati kalimat perpisahan.

Mengapa aku hanya disuruh merawat Bunda? Kenapa bukan Ayah dan Bunda? Ah, mungkin Ayah sungkan menyebut dirinya sendiri.

Keesokan pagi saat berkumpul di meja makan, Amara menceritakan mimpinya semalam.

“Tahu tidak, Bun. Semalam aku bermimpi sudah wisuda, loh.”

“Wah, itu pertanda kamu akan lulus dalam waktu dekat. Kamu sudah sidang, kan?” jawab Ayah antusias.

“Iya, sudah, Yah. Tinggal menunggu hasil kelulusan.”

“Wah, selamat ya, Amara! Kamu sudah melewati masa-masa sulit kuliah,” ucap Bunda sambil bertepuk tangan.

“Tapi, ada yang aneh, Bun.”

“Memangnya apa?” tanya Bunda penasaran.

“Di mimpi itu, Ayah berkata kepadaku kalau aku harus merawat Bunda dengan baik dan tulus.”

“Padahal, Bunda bukan tanaman, kok harus dirawat ya,” canda Bunda.

“Hahaha… Bunda ih, bisa-bisanya,” Amara tertawa kecil.

“Lalu apa yang aneh, Amara? Bunda rasa itu tidak ada yang aneh.”

“Masa Ayah cuma nyuruh aku merawat Bunda doang, kan Ayah juga harus dirawat.”

“Itu karena Ayah sudah bisa merawat diri sendiri, hahaha…” gurau Ayah.

“Halah, kalau bisa merawat diri sendiri kok kemarin bisa jatuh sakit?” ucap Bunda memalingkan wajahnya.

“Hehehe… kemarin Iron Man mau istirahat dulu,” gurau Ayah.

“Apa sih Yah, segala jadi Iron Man pula,” Amara menggelengkan kepala sembari tertawa.

Iron Man kok tumbang, gimana mau jaga bumi,” sindir Bunda.

Iron man kan juga manusia, wajar dong butuh istirahat, hehehe…”

“Yee, Ayah ini ada-ada saja,” balas Bunda sambil menunjuk kecil ke arah Ayah.

Mereka melanjutkan sarapan dengan tenang. Setelah sarapan selesai, Amara dan Ayah pergi bekerja dan Bunda melanjutkan aktivitasnya.

Di tempat kerja, Amara fokus pada tugasnya. Ia tidak seperti mahasiswa lain yang terlalu memikirkan hasil sidang. Prinsipnya: jika di tempat kerja, fokuslah pada pekerjaan tanpa membawa pikiran luar. Jika ia di luar, barulah fokus pada dunia luar.

Amara sudah berjuang dan berdoa, untuk hasilnya biar Tuhan yang mengurus. Yang terpenting ia sudah melakukan yang terbaik untuk dirinya sendiri dan kedua orang tuanya.

Orang tuanya selalu berkata,

“Jatuh bangunnya kamu, kami akan selalu merayakanmu. Jangan takut mencoba, jangan takut gagal. Yang penting usahamu, hasil itu menjadi urusan belakangan. Jika kamu gagal pun kami tidak masalah. Ingat! Yang terpenting adalah usahamu, Amara!”

Kalimat itu menjadi pedoman baginya untuk tetap fokus. Namun, Amara tetaplah manusia biasa yang tak luput dari rasa cemas. Terkadang, bayangan di luar aktivitasnya tetap menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Seperti rasa khawatir saat Ayah jatuh sakit kemarin. Juga pikiran buruk yang tiba-tiba melintas di pikiran Amara saat akan melakukan presentasi kemarin.















Other Stories
Bisikan Lada

Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Kota Ini

Plak! Terdengar tamparan keras yang membuat Jesse terperanjat dari tempat tidurnya. "S ...

2r

Fajri tak sengaja mendengar pembicaraan Ryan dan Rafi, ia terkejut ketika mengetahui kalau ...

Pra Wedding Escape

Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...

Darah Naga

Handoyo, harus menjaga portal yang terbuka agar mahkluk dunia fantasy tidak masuk ke bumi. ...

Download Titik & Koma