Bab 13: Kembalinya Seseorang.
Bab 13: Kembalinya seseorang.
Pagi hari di taman kota. Amara melepas kerinduan pada ayahnya. Ia melamun di sebuah kursi taman. Menikmati sejuknya angin pagi.
Seseorang datang tanpa diundang. Menanyakan nama kemudian bertanya kabar seperti sahabat karib.
“Amara?”
“Siapa?”
“Aku Angga, bagaimana kabarmu?”
“Sebentar, kamu tidak percaya ya? lihat foto anak kecil ini, itu kita. Aku sahabat kecilmu.”
“Benarkah?”
Amara mencocokkan wajah laki-laki itu dengan foto yang ia tunjukkan. Tanpa berlama-lama ia menyadari bahwa itu Angga, sahabat kecilnya. Ia langsung memeluk Angga. Tangisnya pecah seketika, mengingat kesepian yang selama ini melandanya, terlebih duka yang baru saja menyelimutinya.
Ia menangis dalam pelukan Angga. Angga kebingungan, namun ia membalas pelukan Amara dengan hangat.
Mereka saling bertukar nomor telepon untuk komunikasi. Amara tidak selalu heran mengapa Angga bisa sampai di kota ini. Banyak pertanyaan ia lontarkan kepada Angga, namun Angga selalu menjawab dengan kalimat yang sama, yaitu
“Nanti aku jawab setelah kamu mau aku ajak berlibur.”
“Berlibur? Aku mau. Aku tidak pernah diajak berlibur oleh siapa pun.”
Awalnya Amara tidak mau menjawab karena Angga hanya mengajaknya saja. Setelah ia menerimanya, ternyata Angga tidak hanya mengajaknya tetapi juga Bunda. Angga sudah tahu akhir-akhir ini Amara berduka. Jadi Angga mengajaknya berlibur.
Amara tak tahu kemana tujuannya, yang pasti dipikirannya berlibur kemanapun itu pasti menyenangkan.
Amara tak pernah menduga jika ia akhirnya diajak pergi ke dusun lama kampung halamannya. Selain berlibur, ia juga melampiaskan seluruh duka dan sedihnya di rumah lama. Tempat banyak kenangan bersama Ayah terjadi.
Pagi hari di taman kota. Amara melepas kerinduan pada ayahnya. Ia melamun di sebuah kursi taman. Menikmati sejuknya angin pagi.
Seseorang datang tanpa diundang. Menanyakan nama kemudian bertanya kabar seperti sahabat karib.
“Amara?”
“Siapa?”
“Aku Angga, bagaimana kabarmu?”
“Sebentar, kamu tidak percaya ya? lihat foto anak kecil ini, itu kita. Aku sahabat kecilmu.”
“Benarkah?”
Amara mencocokkan wajah laki-laki itu dengan foto yang ia tunjukkan. Tanpa berlama-lama ia menyadari bahwa itu Angga, sahabat kecilnya. Ia langsung memeluk Angga. Tangisnya pecah seketika, mengingat kesepian yang selama ini melandanya, terlebih duka yang baru saja menyelimutinya.
Ia menangis dalam pelukan Angga. Angga kebingungan, namun ia membalas pelukan Amara dengan hangat.
Mereka saling bertukar nomor telepon untuk komunikasi. Amara tidak selalu heran mengapa Angga bisa sampai di kota ini. Banyak pertanyaan ia lontarkan kepada Angga, namun Angga selalu menjawab dengan kalimat yang sama, yaitu
“Nanti aku jawab setelah kamu mau aku ajak berlibur.”
“Berlibur? Aku mau. Aku tidak pernah diajak berlibur oleh siapa pun.”
Awalnya Amara tidak mau menjawab karena Angga hanya mengajaknya saja. Setelah ia menerimanya, ternyata Angga tidak hanya mengajaknya tetapi juga Bunda. Angga sudah tahu akhir-akhir ini Amara berduka. Jadi Angga mengajaknya berlibur.
Amara tak tahu kemana tujuannya, yang pasti dipikirannya berlibur kemanapun itu pasti menyenangkan.
Amara tak pernah menduga jika ia akhirnya diajak pergi ke dusun lama kampung halamannya. Selain berlibur, ia juga melampiaskan seluruh duka dan sedihnya di rumah lama. Tempat banyak kenangan bersama Ayah terjadi.
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Hati Yang Beku
Jakarta tak pernah tidur: siang dipenuhi kemacetan, malam dengan gemerlap dunia, meski ada ...
Diary Anak Pertama
Sejak ibunya meninggal saat usianya baru menginjak delapan tahun, Alira harus mengurus adi ...