Merangkak Bangkit
Selama satu tahun semenjak gempa, aku rutin mengunjungi rumah di Cianjur, untuk memeriksa perbaikan dan penguatan talut, supaya pagar berdiri lebih kokoh. Sedikit perbaikan juga dilakukan pada area kamar mandi, dapur, dan seperti pekerjaan renovasi pada umumnya, melebar sampai area-area lain supaya terlihat lebih layak.
Dalam kunjunganku kali ini, terlihat deretan tenda di jalanan utama Cianjur sudah banyak dilipat. Kehidupan tampak mulai normal, terlihat mobil keluar masuk dari toko bangunan, rumah makan, toko oleh-oleh, dan penginapan. Namun di jalanan pedesaan dekat rumahku masih banyak tenda berdiri, menandakan perbaikan rumah belum selesai seluruhnya. Memang daerah dimana kami tinggal, merupakan area terdampak gempa yang cukup parah, yang menyebabkan sebagian besar rumahnya roboh.
Di belakang rumah kami, reruntuhan rumah yang roboh itu sudah dibersihkan dengan mobil beko, kemudian di atas tanah lapang itu kini mulai tampak beberapa rumah berdiri, siap huni. Secara bertahap, masyarakat kembali ke rumahnya meninggalkan tenda yang masih tegak berdiri. Beberapa pengungsi masih tinggal di dalam tenda, menunggu rumahnya selesai dibangun.
“Teteh, kasihan bu Ati dan keluarganya masih tinggal di tenda, rumahnya masih belum jadi?”, tanyaku menyelidik.
“Iya betul bu, karunya, aya tilu barudak bu Ati masi di tenda, rumahnya masih belum selesai. Kata pak RT, masih ada beberapa rumah setengah jadi tapi developernya sudah pergi” laporan Teteh.
“Lho kenapa developernya ninggalin pekerjaannya ?”
“Kurang tau, bu. Uangnya sudah habis, meureun” jawab Teteh sekenanya.
Tak habis pikir aku mendengar laporan Teteh ini. Dalam suasana duka seperti ini, masih saja ada dana yang tidak sampai utuh kepada penerimanya. Keingintahuanku meningkat, aku ingin lihat langsung kemajuan pembangunan rumah bantuan pemerintah untuk korban gempa itu.
“Teteh, mau dong lihat rumah Teteh, sudah sampai mana dibangunnya”, ujarku.
“Mari bu, saya antar”, katanya. Rumah Teteh masuk dalam kategori rusak berat, dan ia memilih menerima bantuan pemerintah berupa uang tunai. Suaminya tukang bangunan, jadi ia membangun kembali rumahnya di atas tanah yang sudah dibersihkan reruntuhannya. Dengan uang yang didapatnya, ia berhasil membangun rumah yang relatif lebih besar ukurannya, dibandingkan dengan standar rumah bantuan pemerintah.
Pulang dari rumah Teteh, aku berjalan memutar melewati rumah-rumah yang sedang dibangun. Penerima bantuan pemerintah itu, selain uang tunai seperti yang Teteh dapatkan, ada juga yang terima bangunan siap huni, yang pembangunannya diserahkan kepada developer yang ditunjuk pemerintah daerah. Dengan kata lain, tinggal terima kunci, penghuni siap masuk lagi ke rumahnya.
Di sepanjang jalan yang kulalui, sangat terasa suasana gotong royong masyarakat dalam membangun kembali hunian mereka. Ibu-ibu menyediakan makanan untuk para pekerja, bapak-bapak bergotong royong membantu developer supaya pekerjaan cepat selesai. Rupanya pemerintah daerah bertindak cepat, menunjuk developer baru untuk menyelesaikan rumah yang ditinggalkan oleh developer sebelumnya.
Dalam hati aku mengucap syukur tidak mengalami derita seperti yang mereka alami. Aku juga bersyukur keluarga kami mendapat bantuan pemerintah berupa uang tunai untuk memperbaiki talut dan pagar, karena kerusakan rumah kami masuk kategori rusak ringan.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Mereka Yang Tak Terlihat
Saras, anak indigo yang tak dipahami ibunya, hidup dalam pertentangan dan kehilangan. Saat ...
Cinta Buta
Marthy jatuh cinta pada Edo yang dikenalnya lewat media sosial dan rela berkorban meski be ...
Susan Ngesot
Reni yang akrab dipanggil Susan oleh teman-teman onlinenya tewas akibat sumpah serapah Nat ...
Kabinet Boneka
Seorang presiden wanita muda, karismatik di depan publik, ternyata seorang psikopat yang m ...