Hibur Libur

Reads
159
Votes
2
Parts
4
Vote
Report
Penulis Ankawita

Belum Sadar

Sontak aku terbangun di lantai kamarku, tanpa alas dada ternyata meng-kaku. Terlentang dengan nafas berat kucoba mendorong dadaku menjauh dari ubin yang tak bersekat. Sebuah repetisi yang terus mengulang hingga liburanku penuh terisi, akan sebuah mimpi yang menuju misi berharap akan hadirnya sebuah trophy. Langkahku terselip akan imajinasi yang berkelap kelip, dalam bayangku mereka yang ragu akan ku salip. “Dok… Dok… Dok…” suara ketukan pintu kudengar dari dalam kamar, mataku menerawang akan yang ada dibalik pintu bak sorot mercusuar. “Permisi” Lantun Mbak Kosku sembari melihat samar pergerakanku melalui kaca depan kamarku. Grendel pintu kamarku kubuka perlahan, tak sampai setengahnya dengan mata kakiku tahan. “Kak nanti mau keluar? Kamarnya mau saya bersihkan…” Sambung Mbak Kosku. Mengetahui ini kembali ku mengingat apa yang tak terlihat. Dari luar yang tampak bersih namun dalam ruangan yang perlukan sampah untuk disisih. Kupersilahkan, ku tunggu beliau membersihkan sembari aku melihat ladang jagung milik warga kampung yang kian rampung. Rumpang jika diperhatikan lebih jelas, namun disitulah tempat para petani jagung melangkahkan kakinya walau jarak diantaranya cukup jangkung. Ku dengar lantunan daun yang saling bergesekan, bulir rintih awan mulai berjatuhan. “Ehh… sebentar ya ko, jemuran saya di bawah sebentar ya…” seru nya berjalan keluar dari kamar kos ku. Anggukan balasku padanya, sembari ikut serta jemuran ku pindahkan posisinya. Semakin deras ku dapati rintiknya yang tegas mulai menepi namun tidak menyepi, teduhnya kian tidak imbuh. 

Kembali ku masuk kedalam kamar melihat serba serbi barang yang membaik daripada sebuah kapal pecah terlantar, tidak seperti sedia awal. Ku kunci pintuku, kututup jendela kamarku melihat usang warnanya namun terdengar hujan walaupun menggema. Tetiba kepalaku terasa pusing luar biasa, “bukan lah karena usia…” pikirku kala itu. Rabun kulihat kasur namun imajinasiku meronta bak melihat centaur. Kembali terpejam tanpa kulihat satupun arah jarum jam, dalam beberapa detik badanku terasa tertusuk dengan sajam. Mulutku mengeluarkan nafas panjang sembari ku hentak, hingga cepat jantungku ini jua ikut berdetak. Sempat kukira mataku sudah tak lagi berfungsi, karena saking gelapnya yang kulihat menghilangkan sebuah visi. Meraba coba ku rasa apa yang bisa kujadikan pegangan dalam kamar akan maksud tuk mencari sebuah saklar. Sudah ku sentuh, kucoba tuk menekan apa yang buatku beku. “CETING” Notifikasi mulai muncul berdatangan dalam forum yang berbeda dengan banyak pesan yang beredar. Mungkin sebaiknya aku mulai membacanya dalam skala secara berkala. Beberapa spasi tak terbaca membuatku harus mencari apa maksud dari beberapa pesan dari keluarga. Grup itu seakan ramai dengan harga dan biaya, jam juga terasa cepat ketika ku amati ada tiket kereta yang tertera di media massa. “PROMO AKHIR TAHUN 2025” menjadi topik hangat dengan tagline “yang saat ini jauh bisa mendekat dalam waktu dekat”. 




Other Stories
Saat Cinta Itu Hadir

Zita hancur karena gagal menikah setelah Fauzi ketahuan selingkuh. Saat masih terluka, ia ...

Liburan Ke Rumah Nenek

Affandi, remaja gaul berusia 18 tahun tak dapat berlibur ke lain tempat seperti biasa. Lib ...

Lain Dari Foto Biasanya

Kata yang mungkin saja tepat, yaitu, ada cerita di balik setiap foto yang di abadikan. Mom ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Dream Analyst

Frisky, si “Dream Analyst”, bersama teman-temannya mengalami serangkaian kejadian meny ...

Akibat Salah Gaul

Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...

Download Titik & Koma