Malapetaka
Malapetaka. Menjadi kata yang pertama muncul untuk ekspektasi liburanku tahun lalu. Tahun ini menjadi tahun yang baru, termasuk cara baru ku untuk memandang hari minggu. Liburan tahun ini entah mengapa sekencang-kencangnya deruh angin menghantam jalurku, lajurnya tetap sama. Bertumpu sebelum melangkah, walau hanya selangkah namun percayalah ini usah. Hari pertama liburan aku menelaah swafoto yang ku rekam. Diberikan tanda favorit dalam setiap perjalanan yang telah kutempuh sebelumnya. Tidak terasa ku kata jika kulihat kembali halaman yang pernah terlaksana. Tidak hanya terabadikan melalui media, masih nampak robekan pada buku tulis yang aku taruh diatas meja. Sebuah panorama yang bisa kulihat dari mana sumber dayanya, menjadi sebuah karya yang ku garap sebagai kepala dari sebuah kelompok yang memiliki minat yang sama. Film. Satu kata yang menggambarkan minatku dan perjalananku selama ini. Ditengah kuliah yang mayoritas waktu nya aku berserah, aku mulai melihat sebuah cahaya yang walau secercah bisa membuatku kembali menentang sebagai penyerah.
Kembali pada malapetaka, bukan soal film atau liburannya. Namun tiada lagi waktu untukku sendiri, meratapi terik mentari namun tak terasa kalau panasnya menyengat sampai sanubari. Dinginnya malam juga bervisi hanya pada cerahnya layar media, bertambah kabur ketika kucoba lihat barang di kamarku yang bertabur. Terkadang jam tidurku terbangun, sesaat mimpiku masih membangun. Sudah selama itu, sudah selama itu aku berinteraksi tanpa adanya aksi. Ufuk yang berkabut mewarnai kejutnya dini hari itu membuat telingaku kian berdenging. Memperhatikan pantulan diri dari sebuah cermin. Kantung mata yang mulai tampak dengan rambut yang teracak-acak, berat suaraku diikuti serak yang mulai menyeruak.
Melihat ekspektasi dari utopia yang ku alami, hingga deja vu yang terasa kembali. Sebuah imitasi dari instansi yang menjadi saksiku berkembang. “1… 2… 3… Action!” seolah menyadarkanku lagi pada realita, sadarkanku akan hasil yang aku review dari kamera. Kondisi tengah hening karena salah satu dari alat kami jatuh ke lantai, tak lagi rekat bak saling merantai. Rasi bintang mengarah ke tempat kami melakukan pengambilan gambar, seolah langit beritahukan pada cakrawala yang tak sukar menyebar. Hiasi malamku di setiap kami mlaku-mlaku, berpindah set lokasi dan waktu. “CUT!” kata terakhir pada malam itu yang kuucapkan untuk mengakhiri produksi film kami. Tepuk tangan, teriakan dan siulan bersua di telinga kanan dan kiri.
Tarikan nafas panjang, keluarkan perlahan. “Sudah selesai” jawabku pada pikiran yang masih menggebu-gebu akan apa yang aku kerjakan kemarin malam. “TING!” notifikasi pesan baru muncul di beranda ponselku. Ku sipitkan kedua mataku hingga kedua alis bertemu, membaca akan apa yang terjadi selanjutnya. Belum habis ku membaca, alarm ponselku tiba-tiba menyala. Disusul oleh pesan dari ku punya sanak yang pada waktu itu jua menenangkanku sejenak. Kubalas semampuku, kuceritakan seingatku dan kukirim dengan maksud rindu. Selepas itu notifikasi ponselku sudah tidak bergetar, bukan karena mereka tidak membalas. Namun karena saku celanaku terlalu rapat sehingga mustahil untuk sebuah ruas, ruas yang mengizinkanku mengetahui sekian balasan mereka.
Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu
Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...
Broken Wings
Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...
Cowok Hujan
Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Hati Yang Beku
Jasmine menatap hamparan metropolitan dari lantai tiga kostannya. Kerlap-kerlip ibukota ...
Jodoh Nyasar Alina
Alina, si sarjana dari Eropa, pulang kampung cuma gara-gara restu Nyak-nya. Nggak bisa ker ...