Rahasia Desa Teluk Roban

Reads
33
Votes
901
Parts
3
Vote
Report
rahasia desa teluk roban
Rahasia Desa Teluk Roban
Penulis Anggi Gayatri Purba

Mengapa Harus Liburan Ke Kampung?

Kulit langit sudah terkoyak. Warna jingga kemerahan merembesi langit Teluk Roban. Farhan memandang awan-awan yang menggantung seperti kain basah. Tetes-tetes air berjatuhan di atas kepalanya. Namun anak laki-laki berumur sepuluh tahun itu masih lanjut menggiring bola menuju gawang lawan. Padahal angin laut sudah berembus sangat kencang sampai menggoyang-goyangkan pohon kelapa dan atap seng rumahnya. Farhan merasa hal itu biasa saja. Dari orok ia sudah tinggal di pesisir pantai Desa Teluk Roban. Deru ombak, angin laut, hujan badai, semuanya pernah ia lewati. Sampai sekarang ia juga masih sehat dan tak mati-mati. 
     Ia bahkan pernah hampir hanyut ketika ikut menjaring ikan bersama Pak Tuonya dulu. Saat itu, ia begitu terpana melihat seekor ikan bermoncong panjang mirip buaya lewat di samping perahu. Panjangnya sekitar 45 sentimeter, sisiknya abu-abu berkilau. Jarang-jarang ada ikan seperti itu di laut sekitar tempat tinggalnya. Ia pun meloncat dan berenang berusaha menggapai sang ikan, tetapi ikan itu berenang dengan kecepatan serupa cahaya. Begitu sadar ia sudah jauh dari perahu dan diseret ombak semakin ke tengah. Untungnya Pak Tuo cepat-cepat menghidupkan mesin motor dan membawanya pulang. Sejak itu ia tak diizinkan lagi ikut melaut. 

     "Ikan tu bukan ikan biaso. Pambaok bancana tu, bahayo!" seru Umak dengan nada tinggi.

     "Tapi Mak, urang si Udin samo Pak Tuo panah manjua ikan tu dapek anyo 300 ribu."  Farhan mencoba menjelaskan. 

     "Malawan juo muncung ang tu mak ambo ramekan!" Umak meremas kelima jemarinya dengan geram. 

     Mendengar itu Farhan pun terdiam. Sejak kejadian itu, ia semakin sering dilarang mau kemana-mana. Ia lebih sering membantu Umak mengangkat sisa jualan mi gomak di samping sekolah dasar dan bermain bola di lapangan sore hari. 
     Seperti hari ini. Tanah lapangan terasa lembek setelah hujan mengguyur barusan. Setiap kali bola ditendang, percikan lumpur beterbangan. Tapi anak-anak di lapangan semakin tak mau pulang. Mereka malah merasa seolah sedang bermain di pertandingan internasional karena skor mereka masih 2-2. Babak terakhir ini akan menjadi penentu tim siapa yang paling hebat. Tim yang menang akan menguasai lapangan selama satu bulan.
     Di depan pintu kayu yang diterjang angin,  Umak memanggil-manggil nama Farhan. Tapi anak laki-laki itu pura-pura tak dengar. Ia terus berlari sampai menjebol bola gawang lawannya.

     “Gol!”

     Farhan meluncur dengan kedua lutut sambil mengembangkan kedua tangannya ke atas, bak selebrasi Christiano Ronaldo yang sering dilihatnya di televisi. Dari kejauhan Umak memanggil lagi. Kali ini suaranya lebih keras. Namun hujan justru turun lebih deras dan menelan suaranya. Air langit pun jatuh seperti kerikil yang dilempar terus-menerus ke atap seng rumah.
     Farhan sendiri baru menoleh saat mendengar petir tiba-tiba meletus seperti gunung berapi. Farhan mengamati lapangan yang sudah kosong. Teman-temannya sudah berlarian pulang. Bola merah mereka sudah tergenang. Lapangan itu sudah terendam. Warnanya cokelat pekat. Ranting-ranting hanyut lewat seperti ular kecil yang terseret arus. Beberapa orang dewasa berlarian ke arah gunung dengan tangan yang menghalau-halau. Wajah mereka tegang. Sementara Umak turun dari tangga rumah panggung. Ia berjalan cepat menembus hujan menuju lapangan. Bajunya basah. Rambutnya menempel di pipi. Ia melambaikan tangan pada Farhan.

     "Farhan! Apo lai nang ang tunggu? Pulang!" teriak Umak.

     Farhan mengangguk. Namun sebelum Farhan berlari, suara aneh datang dari arah sungai. Gemuruh panjang. Bukan seperti petir. Lebih seperti ratusan batu yang digulingkan dari gunung sekaligus. 

     “Lari!” Teriakan Umak seperti api yang menyambar jerami. Perempuan setengah baya itu berlari ke arah Farhan yang masih terpaku di lapangan. Farhan juga ingin berlari ke arah gunung, namun arus kecil mulai menyeretnya perlahan. Umak semakin dekat. Namun tanah di kakinya tiba-tiba terasa bergerak. Air menyeretnya begitu cepat. Farhan mencoba menggapai tangan Umak yang memeluk batang pohon kelapa. Tapi belum sempat ia meraih tangan perempuan yang melahirkannya itu, gelombang lumpur datang dan menelan ingatannya.

***

     Farhan sering bermimpi tentang sore itu. Kadang dalam mimpi Farhan berhasil meraih tangan Umak. Kadang juga tidak. Kadang lapangan itu penuh anak-anak. Kadang kosong. Namun setiap mimpi selalu berakhir sama, air bah datang tiba-tiba dan melahap semuanya.
     Bertahun setelah peristiwa itu, Farhan dan Umak pindah ke Kota Binjai. Sebab setelah sekolah dasar dan semua desa terendam, Umak tak punya lapak jualan lagi. Ia pun ikut saudara pindah ke kota dengan jarak 10 jam perjalanan. Umak tak lagi berjualan, tapi bekerja sebagai buruh pabrik goni. Rumah mereka berada di gang sempit yang selalu ramai oleh suara sepeda motor. Dindingnya tembok tipis yang memantulkan panas siang hari. Di kota ini tidak ada bau lumpur sungai. Yang ada hanya bau knalpot dan gorengan dari warung di ujung gang. 
     Setiap pagi Umak berangkat sebelum matahari benar-benar tinggi. Seragamnya berwarna cokelat kusam. Tangannya sering dipenuhi goresan kecil akibat serat karung yang kasar. Kadang ia pulang dengan wajah lelah dan rambut berdebu. Namun setiap malam ia selalu memasak dua piring nasi. Satu untuknya. Satu untuk Farhan. Padahal sering kali Farhan tak makan. Nasinya sering dibiarkan basi dan bau busuk. 

     “Manga dak dimakan?" tanya Umak suatu hari.

     Farhan diam saja.

     "Ala batahun ko Han, apo juo lai trauma-trauma ko. Ala dak sikola, makan juo pilih-pilih! Ang kiro ang anak raja?"     

     Farhan hanya menunduk takut. Ia memang sudah bertahun tak sekolah. Setiap melihat air di ember, Farhan selalu teringat akan banjir. Ia menjadi anak yang tertutup dan tak mau keluar rumah. Takut tiba-tiba banjir datang lagi. Padahal mereka sekarang berada di tengah kota. 
     Para tetangga juga hampir tak ada yang mengenalinya. Sebab sepanjang hari ia tak pernah keluar rumah. Pernah suatu ketika ada tetangga yang hendak mengantarkan kupon kurban. Tapi Farhan tak keluar. Sudah tiga kali diketuk tak keluar juga. Sampai ketika Umak pulang, tetangga itu datang lagi.

     "Permisi Bu, tadi nggak ada orang di rumah ya?"

     "Kenapa Bu?" 

      "Tadi siang saya ketuk-ketuk pintu mau kasih kupon kurban dari masjid nggak ada yang buka. Padahal ada suara di dalam."

     "Oh maaf Bu, itu anak saya lagi sakit, nggak bisa jalan, jarang keluar rumah. Maklum ya Bu." 

     "Oh, tapi pendiam juga ya Bu anaknya. Salam saya nggak dijawab." Tetangga itu menyindir Umak. 

     Umak diam saja. Ia mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Berbulan setelahnya Farhan menjadi lebih murung. Ia tak ingin Umak dihina orang punya anak yang tak bisa apa-apa. Ia pun bertekad untuk kembali ke sekolah. Tapi beberapa hari lagi libur semester akhir tahun. Umak sudah mengancang-ancang akan melakukan hal yang sama. Ia akan membuka lemari kayu tua di kamar. Mengeluarkan tas besar yang sudah pudar warnanya. Lalu berkata dengan nada yang tidak bisa dibantah.

     “Lake siap-siap, beko malam kito balik ka Sorkam."    

     Farhan selalu mengeluh.

     “Manga harus kasinin lai? Tiok taun, tiok taun, antah nahapo nan dicalik disinin," gerutu Farhan.   

     Umak tidak langsung menjawab. Ia masih melipat pakaian bola Farhan ke dalam tas.

     “Rumah kito dak ado nan mangurus disinin. Pak Tuo ang nandak pindah ka Sidempuan," ucap Umak meyakinkan.

     Farhan mendengkus. Rumah panggung kayu itu bahkan hampir roboh sejak banjir besar itu. Atap sengnya rontok. Beberapa papan dindingnya lepas. Menurut Farhan rumah itu sudah tidak ada bagus-bagusnya.

     “Mak, manga kito dak pai ka Binjai Mall sajo ato ka Lapangan Merdeka, daripado ka kampung, bosan," usul Farhan lagi. 

     Umak berhenti melipat baju. Ia menatap Farhan lama. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.

     “Dak mangarti juo ang,” katanya pelan.

     Jika Umak sudah mulai menangis, perdebatan selalu selesai. Farhan akhirnya menyerah seperti biasa. Esoknya, mereka naik bus dari Stasiun Sampri. Perjalanan 10 jam menuju pesisir barat Sumatra biasanya membuat Farhan mual. Bus melaju melewati sawah, hutan, dan jalan berkelok yang menempel pada lereng bukit. Semakin jauh dari kota, semakin ia merasa pusing. Farhan menatap keluar jendela.
     Dari jendela kaca bus putih-hijau itu, tampak rumah-rumah panggung yang berjejer dengan pohon kelapa. Udara mulai asin. Suara ombak juga samar-samar terdengar. Pertanda kampung sudah dekat. 
      Farhan turun dari bus dengan perasaan yang selalu sama. Umak pun seperti orang yang tak bahagia. Namun entah mengapa pula setiap tahun harus terus pulang kemari. Orang-orang kampung sudah banyak yang migrasi. Kebun ubi di belakang rumah juga sudah terbengkalai menjadi kebun semak. Desa Teluk Roban hanya menyimpan sisa-sisa dari teman-teman Farhan yang tak tahu entah dimana.  Lapangan samping rumah pun tetap kosong meski sudah musim liburan. Entah apa yang Umak cari di sini. Hanya satu hal yang pasti. Setiap kali Farhan kembali ke desa ini, malamnya ia selalu dipenuhi mimpi tentang air. 

***

 1. Ikan itu bukan ikan biasa. Pembawa bencana itu, bahaya! (dalam bahasa pesisir)

 2. Tapi Mak, si Udin sama Paman pernah menjual ikan itu, dapatnya 300 ribu.

 3. Melawan juga mulutmu itu biar kuremas!

4. Farhan, tunggu apalagi? Pulang!

5. Kenapa nggak dimakan? 

6. Sudah bertahun ini Han, trauma apalagi ini. Udah nggak sekolah, makan pun pilih-pilih. Kau kira kau nak raja?

7. Cepat siap-siap nanti kita balik ke Sorkam

8. Kenapa harus ke sana lagi? Tiap tahun, tiap tahun, entah apa yang dilihat disitu.

9. Rumah kita nggak ada yang urus. Pak Tuo sebentar lagi pindah ke Sidempuan.

10. Mak, kenapa kita nggak pergi ke Binjai Mall saja, atau ke Lapangan Merdeka, daripada di kampung, bosan.

11. Nggak mengerti juga kamu.



Other Stories
Kala Cinta Di Dermaga

Saat hatimu patah, di mana kamu akan berlabuh? Bagi Gisel, jawabannya adalah dermaga tua y ...

Broken Wings

Bermimpi menjadi seorang ballerina bukan hanya tentang gerakan indah, tapi juga tentang ke ...

Keluarga Baru

Surya masih belum bisa memaafkan ayahnya karena telah meninggalkannya sejak kecil, disaat ...

Keeper Of Destiny

Kim Rangga Pradipta Sutisna, anak dari ayah Korea dan ibu Sunda, tumbuh di Bandung dengan ...

Hafidz Cerdik

Jarum jam menunjuk di angka 4 kurang beberapa menit ketika Adnan terbangun dari tidurnya ...

Hopeless Cries

Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...

Download Titik & Koma