Bab 3: Meniruku
Pagi datang terlalu cepat bagi Maren. Ia masih duduk di tepi tempat tidur, mata lelah menatap plafon, tubuh terasa kaku setelah hampir tidak tidur semalaman. Sinar matahari yang menembus jendela tidak mampu mengusir ketegangan di dadanya. Segalanya tampak normal, hingga ia berdiri dan menatap ke atas lagi. Retakan kini lebih panjang, serbuk putih jatuh perlahan, membentuk garis tipis di lantai. Aroma debu dan cat baru terasa lebih pekat saat partikel itu berjatuhan.
Dengan hati-hati, ia menarik kursi ke tengah kamar dan menaikinya. Plafon menonjol di beberapa titik, seolah sesuatu bergerak di atasnya, menekan dengan tangan tak terlihat. Maren menahan napas, ingin menyentuh retakan itu untuk memastikan. Namun sebelum ia sempat menyentuh, sesuatu bergerak di baliknya.
Suara itu muncul, pelan dan serak. “Ma… ren…”
Mata Maren membesar. Itu suaranya sendiri, tetapi lambat dan kaku, seperti baru belajar berbicara. Tubuhnya gemetar hebat. Serbuk putih jatuh lagi, retakan bergerak perlahan. Makhluk itu menirunya. Maren menundukkan kepala, mencoba menenangkan diri, tetapi ketegangan menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ia sadar malam itu, apa pun yang ada di atas plafon tidak lagi pasif. Sesuatu sedang diperhatikan, dipelajari, menunggu waktu yang tepat untuk turun.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tapi begitu membuka mata, ia mendengar gerakan pelan dari atas plafon. Setiap kali ia bergerak sedikit, suara di atas ikut bergerak. Seolah sesuatu di sana sedang mencoba mengikuti apa yang ia lakukan. Maren berbisik pelan, “Ini tidak mungkin…” tapi kata-kata itu tenggelam dalam ketegangan yang membekunya.
Dengan hati-hati, ia menarik kursi ke tengah kamar dan menaikinya. Plafon menonjol di beberapa titik, seolah sesuatu bergerak di atasnya, menekan dengan tangan tak terlihat. Maren menahan napas, ingin menyentuh retakan itu untuk memastikan. Namun sebelum ia sempat menyentuh, sesuatu bergerak di baliknya.
Suara itu muncul, pelan dan serak. “Ma… ren…”
Mata Maren membesar. Itu suaranya sendiri, tetapi lambat dan kaku, seperti baru belajar berbicara. Tubuhnya gemetar hebat. Serbuk putih jatuh lagi, retakan bergerak perlahan. Makhluk itu menirunya. Maren menundukkan kepala, mencoba menenangkan diri, tetapi ketegangan menjalar dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Ia sadar malam itu, apa pun yang ada di atas plafon tidak lagi pasif. Sesuatu sedang diperhatikan, dipelajari, menunggu waktu yang tepat untuk turun.
Ia menutup mata sejenak, menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya yang kacau. Tapi begitu membuka mata, ia mendengar gerakan pelan dari atas plafon. Setiap kali ia bergerak sedikit, suara di atas ikut bergerak. Seolah sesuatu di sana sedang mencoba mengikuti apa yang ia lakukan. Maren berbisik pelan, “Ini tidak mungkin…” tapi kata-kata itu tenggelam dalam ketegangan yang membekunya.
Other Stories
Kesempurnaan Cintamu
Devi putus dari Rifky karena tak direstui. Ia didekati dua pria, tapi memilih Revando. Saa ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Langit Ungu
Cerita tentang Oc dari Penulis. karakter utama - Moon Light "Hidup cuma sekali? Lalu be ...
Tertipu Atau Terlalu Berharap
Seorang mahasiswa yang sedang menempuh perkuliahan di salah satu kampus ternama di wilayah ...
Dua Bintang
Bintang memang selalu setia. Namun, hujan yang selalu turun membuatku tak menyadari keha ...