Bab 2: Retakan
Maren tidak tidur sepanjang malam. Matanya tetap terbuka menatap plafon, tubuhnya kaku setiap kali terdengar suara aneh. Namun beberapa saat kemudian, apartemen kembali hening, seolah kejadian tadi malam hanya ilusi. Ia mencoba menenangkan diri. “Mungkin hanya pipa atau kayu yang bergerak,” gumamnya, tetapi kata-kata itu terdengar hampa di telinganya sendiri.
Ketika ia berdiri di tengah kamar dan menatap plafon lagi, senyum tipisnya menghilang. Retakan itu kini tampak lebih panjang dan nyata. Ia menarik kursi dan menaikinya untuk melihat lebih dekat. Dari jarak dekat, retakan terlihat seperti garis tipis yang memanjang di permukaan plafon, seolah sesuatu pernah menekan dari atas. Beberapa bagian plafon tampak menonjol, memberikan kesan bahwa ada sesuatu bergerak di baliknya. Suara napas yang samar terdengar lagi, membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasakan ketegangan yang tak tertahankan di seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan tipis dari atas. Bukan langkah kali ini, tetapi suara sesuatu yang bergerak di ruang sempit. Maren menelan ludah dan menatap retakan itu dengan mata membesar. Tubuhnya kaku. Beberapa detik kemudian, suara itu berhenti, namun retakan bergerak sedikit. Dengan tangan gemetar, ia menaruh tangan di sana. Ada tekanan yang menekan balik, lembut tapi nyata. Jantungnya berdegup kencang. Panik memenuhi seluruh pikirannya. Ia merasa seperti diawasi, seperti sesuatu di atas plafon itu menunggu reaksi kecilnya.
Ia menarik tangan dan berlari keluar apartemen sambil berteriak. Penghuni lain keluar, mengira Maren mabuk atau bercanda. Hanya satu orang bertanya, “Nak, kamu kenapa? Perlu bantuan?”
Maren mencoba menjelaskan, tetapi tidak ada yang percaya. Tangisnya pecah. Akhirnya, ia menelepon Elara, sahabatnya. “Ela, tolong aku. Tidak ada yang percaya aku. Tolong datang ke apartemen baruku,” katanya sambil terengah-engah.
Elara segera datang. Ia menenangkan Maren dan mendengarkan ceritanya. Namun saat mereka bersama, tidak terdengar suara apa pun dari plafon. Hanya retakan kecil yang tampak sudah tua. Elara skeptis. “Ruang antara plafon dan atap terlalu sempit untuk menampung sesuatu yang besar. Mungkin kamu terlalu lelah,” katanya, menyarankan Maren beristirahat. Maren kecewa, tetapi dia tidak menolak nasihat Elara. Ia menghabiskan hari berikutnya berbaring di kamar, mencoba menenangkan diri. Awalnya semuanya terasa tenang, terlalu tenang, hingga malam kedua, suara napas pelan terdengar lagi di atas kepalanya.
Ketika ia berdiri di tengah kamar dan menatap plafon lagi, senyum tipisnya menghilang. Retakan itu kini tampak lebih panjang dan nyata. Ia menarik kursi dan menaikinya untuk melihat lebih dekat. Dari jarak dekat, retakan terlihat seperti garis tipis yang memanjang di permukaan plafon, seolah sesuatu pernah menekan dari atas. Beberapa bagian plafon tampak menonjol, memberikan kesan bahwa ada sesuatu bergerak di baliknya. Suara napas yang samar terdengar lagi, membuat bulu kuduknya meremang. Ia merasakan ketegangan yang tak tertahankan di seluruh tubuhnya.
Tiba-tiba terdengar suara gesekan tipis dari atas. Bukan langkah kali ini, tetapi suara sesuatu yang bergerak di ruang sempit. Maren menelan ludah dan menatap retakan itu dengan mata membesar. Tubuhnya kaku. Beberapa detik kemudian, suara itu berhenti, namun retakan bergerak sedikit. Dengan tangan gemetar, ia menaruh tangan di sana. Ada tekanan yang menekan balik, lembut tapi nyata. Jantungnya berdegup kencang. Panik memenuhi seluruh pikirannya. Ia merasa seperti diawasi, seperti sesuatu di atas plafon itu menunggu reaksi kecilnya.
Ia menarik tangan dan berlari keluar apartemen sambil berteriak. Penghuni lain keluar, mengira Maren mabuk atau bercanda. Hanya satu orang bertanya, “Nak, kamu kenapa? Perlu bantuan?”
Maren mencoba menjelaskan, tetapi tidak ada yang percaya. Tangisnya pecah. Akhirnya, ia menelepon Elara, sahabatnya. “Ela, tolong aku. Tidak ada yang percaya aku. Tolong datang ke apartemen baruku,” katanya sambil terengah-engah.
Elara segera datang. Ia menenangkan Maren dan mendengarkan ceritanya. Namun saat mereka bersama, tidak terdengar suara apa pun dari plafon. Hanya retakan kecil yang tampak sudah tua. Elara skeptis. “Ruang antara plafon dan atap terlalu sempit untuk menampung sesuatu yang besar. Mungkin kamu terlalu lelah,” katanya, menyarankan Maren beristirahat. Maren kecewa, tetapi dia tidak menolak nasihat Elara. Ia menghabiskan hari berikutnya berbaring di kamar, mencoba menenangkan diri. Awalnya semuanya terasa tenang, terlalu tenang, hingga malam kedua, suara napas pelan terdengar lagi di atas kepalanya.
Other Stories
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Desa Seribu Sesajen
"Sukma yang datang, sukma yang pulang sebagai persembahan." Liburan semester enam mahasis ...
Wajah Tak Dikenal
Ketika Mahesa mengungkapkan bahwa ia mengidap prosopagnosia, ketidakmampuan mengenali waja ...
November Kelabu
Veya hanya butuh pengakuan, sepercik perhatian, dan seulas senyum dari orang yang seharusn ...
Ilusi Yang Sama
Jatuh cinta pada wanita yang selalu tersakiti, Rian bertekad menjadi pria yang berbeda. Na ...
First Snow At Laiden
Bunda Diftri mendidik Naomi dengan keras demi disiplin renang. Naomi sayang padanya, tapi ...