Randa Pulau Rante

Reads
319
Votes
14
Parts
13
Vote
Report
Randa pulau rante
Randa Pulau Rante
Penulis Janiva Ayu Lestari

Putri Raisa Dan Anak Petani

"Raisa, awaaass!”
Teriakan itu terlambat.
Byurrr!

Lumpur dari bajak sawah memercik mengenai gaun biru muda seorang gadis kecil di pematang. Ia melompat kaget, bajunya kini penuh bercak cokelat.
“ARUTALA!” serunya kesal.
Anak laki-laki di depannya tertawa lepas. Kakinya penuh lumpur, sementara sapi di sampingnya masih menarik bajak.
“Aku sudah bilang awas!” katanya sambil tertawa.
“Jangan mengejekku!”
“Aku tidak mengejek. Aku kagum keberanian Putri Kerajaan Prabha berdiri di tempat paling berbahaya di sawah.”
Raisa mendengus kesal, tetapi sulit benar-benar marah pada Arutala, anak petani yang sejak kecil menjadi sahabatnya.
Raisa adalah putri tunggal Raja Khandra dan Ratu Althea dari Kerajaan Prabha. Namun ia bukan putri yang betah duduk di istana. Ia lebih suka berlari di taman, menyelinap keluar tembok kerajaan, dan bermain di desa bersama Arutala.
Mereka sering bermain di tepi sungai, membuat perahu dari daun pisang, atau memanjat pohon mangga. Bagi mereka, perbedaan status tidak pernah berarti. Raisa tidak melihat Arutala sebagai anak petani, dan Arutala jarang mengingat bahwa sahabatnya adalah seorang putri.
“Jangan panggil aku Aru,” protes Arutala suatu hari.
“Aruu… aruu…” ejek Raisa.
Arutala mengangkat segenggam lumpur. “Aku tambahin lagi di bajumu!”
“Jangaaann!” Raisa langsung berlari menuju rumah sederhana di dekat sawah.
Dari dalam rumah keluar Mbok Iyem, ibu Arutala.
“Aduh, Yang Mulia, bajunya kotor sekali!” katanya panik, lalu menatap tajam anaknya. “Arutala!”
“Kenapa selalu aku yang disalahkan?” protes Arutala.
Raisa menahan tawa. “Ibu, katanya ini hadiah ulang tahunku yang ke sepuluh.”
“Hadiah lumpur?” Mbok Iyem tertawa.
Rumah kecil itu bukan tempat asing bagi Raisa. Mbok Iyem juga bekerja sebagai juru masak istana dan sering merawat Raisa kecil, sehingga Raisa terbiasa memanggilnya “Ibu”.
Di dalam rumah yang sederhana namun hangat itu, Raisa sarapan nasi hangat, telur dadar, dan tempe goreng bersama Arutala.
“Kalau suatu hari aku jadi ratu,” kata Raisa tiba-tiba, “aku akan membuat aturan baru.”
“Apa?”
“Semua putri kerajaan wajib bermain di sawah seminggu sekali.”
Arutala tertawa keras. “Kerajaanmu pasti kacau.”
Meski bercanda, Raisa diam-diam mulai menyadari perbedaan besar antara kehidupan istana dan desa. Pertanyaan tentang keadilan sering muncul di pikirannya.
Setelah makan, Arutala menggambar peta dunia di tanah.
“Kalau suatu hari aku melihat dunia,” katanya, “kamu mau ikut?”
Raisa menatap jauh ke arah menara istana. “Aku putri kerajaan. Mungkin tidak bisa.”
“Kalau aturan melarangmu melihat dunia,” kata Arutala jujur, “berarti aturannya bodoh.”
Raisa belum sempat menjawab ketika dua pengawal istana datang menjemputnya.
Putri kecil itu akhirnya kembali ke istana, namun sebelum pergi ia melambaikan tangan kepada Arutala dan Mbok Iyem.
Ia belum tahu bahwa masa depan akan mengubah segalanya.
Untuk saat ini, ia hanyalah seorang putri berusia sepuluh tahun dengan baju penuh lumpur, hati penuh tawa, dan seorang sahabat yang melihatnya bukan sebagai putri, melainkan hanya sebagai Raisa.


Other Stories
7 Misteri Di Korea

Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...

Sebelum Ya

Hidup adalah proses menuju pencapaian, seperti alif menuju ya. Kesalahan wajar terjadi, na ...

Di Bawah Langit Al-ihya

Meski jarak dan waktu memisahkan, Amri dan Vara tetap dikuatkan cinta dan doa di bawah lan ...

Impianku

ini adalah sebuah cerita tentang impianku yang tertunda selama 10 tahun ...

Mr. Perfectionist

Arman dan Audi sebenarnya tetangga dekat, namun baru akrab setelah satu sekolah. Meski ser ...

Dengan Ini Saya Terima Nikahnya

Hubungan Dara dan Erik diuji setelah Erik dipilih oleh perusahaannya sebagai perwakilan ma ...

Download Titik & Koma