Mimpi Arutala
Angin bertiup kencang siang itu di bawah pohon besar di taman Kerajaan Prabha. Daun-daun bergesekan lembut, sementara cahaya matahari menembus celah ranting dan jatuh di rumput.
Di sana, Putri Raisa dan Arutala duduk berdampingan sambil membaca buku.
Raisa duduk tegak di bangku batu, membaca dengan suara pelan seperti kebiasaannya. Di sampingnya, Arutala duduk selonjor di rumput dengan buku yang sudah tampak kusut karena sering dibuka.
“ARUTALAAA!” seru Raisa tiba-tiba.
Arutala menatap heran. “Aku belum bicara apa-apa.”
“Aku tahu kamu mau protes.”
“Ya, karena kamu baca keras sekali.”
“Ini pelan!”
“Kalau itu pelan, suara terompet perang apa?”
Raisa menutup bukunya kesal. “Tidak bisa baca bukumu sendiri tanpa menggangguku?”
“Bisa. Kalau kamu baca dalam hati.”
“Tidak bisa. Aku lebih mudah mengerti kalau dibaca pelan.”
“Dan aku lebih sulit mengerti karena mendengarnya.”
Raisa mendengus. “Dasar menyebalkan.”
“Terima kasih, Putri,” jawab Arutala santai.
Gangguan kecil seperti itu sudah biasa bagi mereka. Membaca di bawah pohon itu jarang benar-benar sunyi, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa nyaman.
Raisa melirik buku Arutala. “Kamu baca apa?”
“Tata pemerintahan.”
“Kamu?”
“Apa maksudmu ‘kamu’?”
“Biasanya kamu lebih suka memanjat pohon.”
Arutala tersenyum. “Aku ini orang penuh kedalaman.”
“Kedalaman lumpur.”
Mereka tertawa kecil.
Tak lama kemudian Arutala berkata lebih serius.
“Raisa.”
“Hm?”
“Suatu hari nanti aku akan menjadi Mahapatih.”
Raisa menoleh. Ia tahu itu bukan candaan.
Mahapatih adalah penasihat tertinggi kerajaan, orang yang membantu raja mengambil keputusan dan menjaga keadilan.
“Kenapa Mahapatih?” tanya Raisa.
“Supaya aku bisa membantu kamu memimpin kerajaan,” jawab Arutala tenang. “Melindungi kamu dan membantu membuat keputusan yang benar.”
Raisa langsung meringis malu. “Ih, kedengarannya seperti gombalan.”
“Ini bukan gombalan. Ini kebenaran.”
Ia lalu menjelaskan mimpinya.
Ia ingin belajar hukum, memahami bagaimana aturan dibuat, dan membela orang-orang kecil yang sering kalah bukan karena salah, tetapi karena tidak punya kekuatan.
Raisa terdiam mendengarnya.
Untuk pertama kalinya ia melihat Arutala bukan hanya sebagai sahabat yang usil, tetapi sebagai seseorang dengan mimpi besar, memperjuangkan keadilan.
“Itu mimpi yang bagus,” kata Raisa pelan.
“Sulit juga,” tambahnya.
“Aku tahu,” jawab Arutala.
Sejak hari itu Arutala belajar lebih giat. Ia membaca buku hukum, sejarah kerajaan, dan aturan pemerintahan. Raisa sering membantunya memahami istilah yang sulit.
Suatu hari Arutala bertanya, “Menurutmu, apakah raja selalu benar?”
Raisa berpikir sejenak. “Seorang raja harus berusaha benar. Tapi dia tetap manusia.”
Arutala tersenyum. “Berarti kerajaan tetap butuh orang yang berani mengingatkan.”
“Dan kamu ingin jadi orang itu?”
“Iya. Bahkan kalau yang harus kuingatkan nanti adalah kamu.”
Raisa merasa hangat mendengarnya. Ia tahu itulah arti sahabat sejati, orang yang berani menjaga kita agar tidak salah jalan.
Senja mulai turun di taman kerajaan.
“Kalau suatu hari kamu benar-benar jadi Mahapatih,” kata Raisa, “jangan berubah jadi orang kaku.”
“Tidak akan.”
“Jangan melupakan sawah.”
“Tidak akan.”
“Dan jangan melupakan aku.”
Arutala tersenyum hangat. “Yang terakhir itu justru paling tidak mungkin.”
Di bawah pohon besar itu, dua anak duduk bersama ditemani buku, angin, dan mimpi yang mulai tumbuh.
Hari itu Arutala menemukan mimpinya.
Dan Raisa adalah orang pertama yang mendengarnya.
Di sana, Putri Raisa dan Arutala duduk berdampingan sambil membaca buku.
Raisa duduk tegak di bangku batu, membaca dengan suara pelan seperti kebiasaannya. Di sampingnya, Arutala duduk selonjor di rumput dengan buku yang sudah tampak kusut karena sering dibuka.
“ARUTALAAA!” seru Raisa tiba-tiba.
Arutala menatap heran. “Aku belum bicara apa-apa.”
“Aku tahu kamu mau protes.”
“Ya, karena kamu baca keras sekali.”
“Ini pelan!”
“Kalau itu pelan, suara terompet perang apa?”
Raisa menutup bukunya kesal. “Tidak bisa baca bukumu sendiri tanpa menggangguku?”
“Bisa. Kalau kamu baca dalam hati.”
“Tidak bisa. Aku lebih mudah mengerti kalau dibaca pelan.”
“Dan aku lebih sulit mengerti karena mendengarnya.”
Raisa mendengus. “Dasar menyebalkan.”
“Terima kasih, Putri,” jawab Arutala santai.
Gangguan kecil seperti itu sudah biasa bagi mereka. Membaca di bawah pohon itu jarang benar-benar sunyi, tetapi justru itulah yang membuatnya terasa nyaman.
Raisa melirik buku Arutala. “Kamu baca apa?”
“Tata pemerintahan.”
“Kamu?”
“Apa maksudmu ‘kamu’?”
“Biasanya kamu lebih suka memanjat pohon.”
Arutala tersenyum. “Aku ini orang penuh kedalaman.”
“Kedalaman lumpur.”
Mereka tertawa kecil.
Tak lama kemudian Arutala berkata lebih serius.
“Raisa.”
“Hm?”
“Suatu hari nanti aku akan menjadi Mahapatih.”
Raisa menoleh. Ia tahu itu bukan candaan.
Mahapatih adalah penasihat tertinggi kerajaan, orang yang membantu raja mengambil keputusan dan menjaga keadilan.
“Kenapa Mahapatih?” tanya Raisa.
“Supaya aku bisa membantu kamu memimpin kerajaan,” jawab Arutala tenang. “Melindungi kamu dan membantu membuat keputusan yang benar.”
Raisa langsung meringis malu. “Ih, kedengarannya seperti gombalan.”
“Ini bukan gombalan. Ini kebenaran.”
Ia lalu menjelaskan mimpinya.
Ia ingin belajar hukum, memahami bagaimana aturan dibuat, dan membela orang-orang kecil yang sering kalah bukan karena salah, tetapi karena tidak punya kekuatan.
Raisa terdiam mendengarnya.
Untuk pertama kalinya ia melihat Arutala bukan hanya sebagai sahabat yang usil, tetapi sebagai seseorang dengan mimpi besar, memperjuangkan keadilan.
“Itu mimpi yang bagus,” kata Raisa pelan.
“Sulit juga,” tambahnya.
“Aku tahu,” jawab Arutala.
Sejak hari itu Arutala belajar lebih giat. Ia membaca buku hukum, sejarah kerajaan, dan aturan pemerintahan. Raisa sering membantunya memahami istilah yang sulit.
Suatu hari Arutala bertanya, “Menurutmu, apakah raja selalu benar?”
Raisa berpikir sejenak. “Seorang raja harus berusaha benar. Tapi dia tetap manusia.”
Arutala tersenyum. “Berarti kerajaan tetap butuh orang yang berani mengingatkan.”
“Dan kamu ingin jadi orang itu?”
“Iya. Bahkan kalau yang harus kuingatkan nanti adalah kamu.”
Raisa merasa hangat mendengarnya. Ia tahu itulah arti sahabat sejati, orang yang berani menjaga kita agar tidak salah jalan.
Senja mulai turun di taman kerajaan.
“Kalau suatu hari kamu benar-benar jadi Mahapatih,” kata Raisa, “jangan berubah jadi orang kaku.”
“Tidak akan.”
“Jangan melupakan sawah.”
“Tidak akan.”
“Dan jangan melupakan aku.”
Arutala tersenyum hangat. “Yang terakhir itu justru paling tidak mungkin.”
Di bawah pohon besar itu, dua anak duduk bersama ditemani buku, angin, dan mimpi yang mulai tumbuh.
Hari itu Arutala menemukan mimpinya.
Dan Raisa adalah orang pertama yang mendengarnya.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Kado Dari Dunia Lain
Kamu pasti pernah lelah akan kehidupan? Bahkan sampai di titik ingin mengakhirinya? Sepert ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Plan B
Liburan tiga sahabat di desa terpencil berubah jadi mimpi buruk saat satu dari mereka meng ...
Langit Di Atas Warteg Bu Sari
hari libur kita ngapain yaa ...
Death Cafe
Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...