Surat Cinta
Suatu pagi, saat Arutala baru saja mendarat dengan membawa persediaan baru, ia menemukan Raisa sedang tersenyum menatap selembar kertas perkamen yang wangi.
"Kabar baik?" tanya Arutala, mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Raisa menoleh dengan mata berbinar. "Arutala, lihat! Pangeran Bhima... dia tidak melupakanku. Lewat burung pengirim pesan, dia selalu mengirimiku surat. Dia berjanji sedang mencari ramuan kuno di negeri seberang untuk menyembuhkanku. Dia bilang, dia akan datang ke Pulau Rante ini dan membawaku pulang ke istana."
Hati Arutala mencelos. Setiap kata "Pangeran Bhima" yang keluar dari bibir Raisa terasa seperti duri yang menusuk dadanya. "Ramuan?" suara Arutala memberat. "Aku di sini setiap hari membantumu bertahan hidup, Raisa. Tanah ini yang memberimu kekuatan, bukan janji-janji manis dari jauh."
"Tapi dia seorang pangeran, Arutala! Dia punya sumber daya untuk menyembuhkanku sepenuhnya," balas Raisa, tidak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.
Cemburu yang selama ini dipendam Arutala akhirnya meledak. Ia mencengkeram bahu Raisa, matanya berkaca-kaca karena luka yang mendalam. "Apakah kau benar-benar buta? Aku mempertaruhkan nyawaku setiap malam melintasi lautan hanya untuk melihatmu bernapas! Aku mencintaimu, Raisa! Lebih dari sekadar sahabat, lebih dari apa pun yang bisa ditawarkan pangeran itu dengan ramuannya!"
Raisa terpaku, lidahnya kelu. Ia tidak pernah menyangka bahwa perhatian Arutala didasari oleh perasaan sedalam itu. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka.
Melihat keterdiaman Raisa, Arutala melepaskan genggamannya. Amarah, kesedihan, dan rasa rendah diri sebagai anak petani bercampur aduk. "Ternyata, di matamu aku tetaplah anak petani yang hanya bisa membantumu menanam sawi, sementara dia adalah penyelamatmu," ucapnya getir.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arutala berbalik arah. Ia menaiki perahunya dan mendayung sekuat tenaga meninggalkan Pulau Rante. Raisa memanggil namanya berkali-kali dari pinggir pantai, namun Arutala tidak menoleh. Ia kembali ke Kerajaan Prabha dengan hati yang hancur, bersumpah dalam kepedihannya bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di pulau itu. Arutala menghilang dalam keramaian pasar Prabha, meninggalkan Raisa sendirian dalam penyesalan yang baru saja dimulai.
"Kabar baik?" tanya Arutala, mencoba menyembunyikan rasa ingin tahunya.
Raisa menoleh dengan mata berbinar. "Arutala, lihat! Pangeran Bhima... dia tidak melupakanku. Lewat burung pengirim pesan, dia selalu mengirimiku surat. Dia berjanji sedang mencari ramuan kuno di negeri seberang untuk menyembuhkanku. Dia bilang, dia akan datang ke Pulau Rante ini dan membawaku pulang ke istana."
Hati Arutala mencelos. Setiap kata "Pangeran Bhima" yang keluar dari bibir Raisa terasa seperti duri yang menusuk dadanya. "Ramuan?" suara Arutala memberat. "Aku di sini setiap hari membantumu bertahan hidup, Raisa. Tanah ini yang memberimu kekuatan, bukan janji-janji manis dari jauh."
"Tapi dia seorang pangeran, Arutala! Dia punya sumber daya untuk menyembuhkanku sepenuhnya," balas Raisa, tidak menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.
Cemburu yang selama ini dipendam Arutala akhirnya meledak. Ia mencengkeram bahu Raisa, matanya berkaca-kaca karena luka yang mendalam. "Apakah kau benar-benar buta? Aku mempertaruhkan nyawaku setiap malam melintasi lautan hanya untuk melihatmu bernapas! Aku mencintaimu, Raisa! Lebih dari sekadar sahabat, lebih dari apa pun yang bisa ditawarkan pangeran itu dengan ramuannya!"
Raisa terpaku, lidahnya kelu. Ia tidak pernah menyangka bahwa perhatian Arutala didasari oleh perasaan sedalam itu. Keheningan yang menyakitkan menyelimuti mereka.
Melihat keterdiaman Raisa, Arutala melepaskan genggamannya. Amarah, kesedihan, dan rasa rendah diri sebagai anak petani bercampur aduk. "Ternyata, di matamu aku tetaplah anak petani yang hanya bisa membantumu menanam sawi, sementara dia adalah penyelamatmu," ucapnya getir.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Arutala berbalik arah. Ia menaiki perahunya dan mendayung sekuat tenaga meninggalkan Pulau Rante. Raisa memanggil namanya berkali-kali dari pinggir pantai, namun Arutala tidak menoleh. Ia kembali ke Kerajaan Prabha dengan hati yang hancur, bersumpah dalam kepedihannya bahwa ia tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di pulau itu. Arutala menghilang dalam keramaian pasar Prabha, meninggalkan Raisa sendirian dalam penyesalan yang baru saja dimulai.
Other Stories
Hikayat Cinta
Irna tumbuh dalam keyakinan bahwa cinta adalah sesuatu yang harus ditemukan—pada seseora ...
Testing
testing ...
Suara Dari Langit
Apei tulus mencintai Nola meski ditentang keluarganya. Tragedi demi tragedi menimpa, terma ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Kenangan Indah Bersama
tentang cinta masa smk,di buat dengan harapan tentang kenangan yang tidak bisa di ulang ...
Deru Suara Kagum
Perlahan keadaan mulai berubah. Pertemuan-pertemuan sederhana, duduk berdekatan , atau sek ...