Pangeran Hati
Sore itu taman belakang Kerajaan Prabha tampak indah. Langit memerah keemasan, angin membawa harum bunga melati, dan cahaya senja menyelimuti jalan setapak serta kolam kecil di taman.
Di sana, Putri Raisa berjalan bersama Pangeran Bhima.
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Kerajaan Anantara. Dalam waktu itu mereka beberapa kali berbicara di acara istana, tetapi hari itu menjadi pertama kalinya mereka berjalan berdua lebih lama, meski tetap diawasi pengawal dari jauh.
Bhima menatap Raisa yang memandangi bunga-bunga taman.
“Bolehkah aku mengatakan lagi bahwa kamu begitu cantik?” katanya pelan.
Raisa tertawa kecil, pipinya sedikit memerah.
“Pangeran terlalu pandai memuji.”
“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat,” jawab Bhima jujur.
Pujian itu terasa berbeda bagi Raisa, tidak berlebihan, hanya tulus.
Setelah beberapa saat berjalan, Bhima bertanya,
“Sebentar lagi kamu berulang tahun yang ketujuh belas. Hadiah apa yang kamu inginkan?”
Raisa tersenyum.
“Kedatanganmu saja sudah menjadi kehormatan.”
“Itu jawaban seorang putri,” kata Bhima. “Aku ingin mendengar jawaban dari Raisa.”
Raisa terdiam sejenak, lalu berkata pelan,
“Aku ingin sesuatu yang tidak bisa dibeli.”
“Apa itu?” tanya Bhima.
“Aku belum menemukannya.”
Bhima tersenyum.
“Kalau begitu, aku akan mencarinya.”
Tawa Raisa terdengar lembut di taman, dan bagi Bhima, momen itu terasa sangat berharga.
Sejak hari itu, Bhima mulai sering mengirim perhatian kecil untuk Raisa, bunga langka, buku puisi, dan surat sederhana yang berisi cerita tentang dirinya. Semuanya diberikan dengan tulus dan tanpa paksaan.
Raisa menyukainya. Ia membaca surat-surat itu diam-diam dan kadang tersenyum sendiri.
Namun perlahan, kebingungan mulai muncul di hatinya.
Karena di tengah perhatian Bhima yang begitu lembut, pikirannya justru sering kembali pada satu orang.
Arutala.
Sahabat masa kecilnya yang kini jarang ia temui sejak kedatangan Bhima. Bersama Bhima, Raisa merasa dihormati. Namun bersama Arutala, ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Perbedaan itu membuat hatinya mulai bertanya-tanya.
Sementara itu, Arutala juga menyadari perubahan itu. Ia melihat bunga-bunga yang datang ke kamar Raisa, mendengar bisik-bisik tentang surat dari Bhima, dan melihat senyum Raisa saat membacanya.
Ia tidak pernah bertanya.
Namun diamnya terasa semakin berat.
Suatu sore, Raisa pergi ke taman belakang yang sepi, tempat ia dulu sering membaca bersama Arutala di bawah pohon besar. Ia membawa buku puisi pemberian Bhima, tetapi saat duduk di sana, pikirannya justru melayang pada kenangan bersama sahabatnya itu.
Ia merindukan tawa mereka, ejekan kecil, dan hari-hari sederhana yang pernah mereka jalani.
Raisa memeluk buku itu pelan.
Saat itulah ia mulai menyadari bahwa perhatian yang manis tidak selalu cukup menjawab isi hati. Ada ikatan yang terbentuk dari waktu, tawa, dan kebersamaan yang panjang.
Namun Raisa belum benar-benar mengerti perasaan itu.
Ia hanya tahu satu hal.
Hatinya mulai bingung.
Dan kebingungan itu baru saja dimulai.
Di sana, Putri Raisa berjalan bersama Pangeran Bhima.
Beberapa hari telah berlalu sejak kedatangan Kerajaan Anantara. Dalam waktu itu mereka beberapa kali berbicara di acara istana, tetapi hari itu menjadi pertama kalinya mereka berjalan berdua lebih lama, meski tetap diawasi pengawal dari jauh.
Bhima menatap Raisa yang memandangi bunga-bunga taman.
“Bolehkah aku mengatakan lagi bahwa kamu begitu cantik?” katanya pelan.
Raisa tertawa kecil, pipinya sedikit memerah.
“Pangeran terlalu pandai memuji.”
“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat,” jawab Bhima jujur.
Pujian itu terasa berbeda bagi Raisa, tidak berlebihan, hanya tulus.
Setelah beberapa saat berjalan, Bhima bertanya,
“Sebentar lagi kamu berulang tahun yang ketujuh belas. Hadiah apa yang kamu inginkan?”
Raisa tersenyum.
“Kedatanganmu saja sudah menjadi kehormatan.”
“Itu jawaban seorang putri,” kata Bhima. “Aku ingin mendengar jawaban dari Raisa.”
Raisa terdiam sejenak, lalu berkata pelan,
“Aku ingin sesuatu yang tidak bisa dibeli.”
“Apa itu?” tanya Bhima.
“Aku belum menemukannya.”
Bhima tersenyum.
“Kalau begitu, aku akan mencarinya.”
Tawa Raisa terdengar lembut di taman, dan bagi Bhima, momen itu terasa sangat berharga.
Sejak hari itu, Bhima mulai sering mengirim perhatian kecil untuk Raisa, bunga langka, buku puisi, dan surat sederhana yang berisi cerita tentang dirinya. Semuanya diberikan dengan tulus dan tanpa paksaan.
Raisa menyukainya. Ia membaca surat-surat itu diam-diam dan kadang tersenyum sendiri.
Namun perlahan, kebingungan mulai muncul di hatinya.
Karena di tengah perhatian Bhima yang begitu lembut, pikirannya justru sering kembali pada satu orang.
Arutala.
Sahabat masa kecilnya yang kini jarang ia temui sejak kedatangan Bhima. Bersama Bhima, Raisa merasa dihormati. Namun bersama Arutala, ia merasa menjadi dirinya sendiri.
Perbedaan itu membuat hatinya mulai bertanya-tanya.
Sementara itu, Arutala juga menyadari perubahan itu. Ia melihat bunga-bunga yang datang ke kamar Raisa, mendengar bisik-bisik tentang surat dari Bhima, dan melihat senyum Raisa saat membacanya.
Ia tidak pernah bertanya.
Namun diamnya terasa semakin berat.
Suatu sore, Raisa pergi ke taman belakang yang sepi, tempat ia dulu sering membaca bersama Arutala di bawah pohon besar. Ia membawa buku puisi pemberian Bhima, tetapi saat duduk di sana, pikirannya justru melayang pada kenangan bersama sahabatnya itu.
Ia merindukan tawa mereka, ejekan kecil, dan hari-hari sederhana yang pernah mereka jalani.
Raisa memeluk buku itu pelan.
Saat itulah ia mulai menyadari bahwa perhatian yang manis tidak selalu cukup menjawab isi hati. Ada ikatan yang terbentuk dari waktu, tawa, dan kebersamaan yang panjang.
Namun Raisa belum benar-benar mengerti perasaan itu.
Ia hanya tahu satu hal.
Hatinya mulai bingung.
Dan kebingungan itu baru saja dimulai.
Other Stories
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Pitstop: Rewrite The Stars. Menepi Dari Dunia, Menulis Ulang Takdir
Bagaimana jika hidup Anda yang tampak sempurna runtuh hanya dalam sekejap? Dari ruang rapa ...
Cahaya Menembus Semesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Takdir Cinta
Di balik keluarga yang tampak sempurna, tersimpan rahasia pahit: sang suami memilih pria l ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Hopeless Cries
Merasa kesepian, tetapi sama sekali tidak menginginkan kehadiran seseorang untuk menemanin ...