Kehancuran Pertama
Malam itu terasa berbeda di Kerajaan Prabha. Langit cepat menggelap, angin bertiup dingin, dan taman istana yang biasanya tenang terasa muram.
Dari salah satu kamar di sayap timur istana terdengar tangisan.
Tangisan itu milik Putri Raisa.
Baru seminggu sebelumnya, istana masih merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas dengan pesta meriah. Semua orang memandangnya sebagai kebanggaan kerajaan. Namun kini, suasana istana berubah menjadi sunyi dan penuh kecemasan.
Di depan cermin besar, Raisa gemetar menatap tubuhnya sendiri.
Bercak-bercak merah kehitaman muncul di kulitnya. Awalnya kecil di pergelangan tangan, tetapi dalam beberapa hari menyebar ke lengan, leher, wajah, hingga seluruh tubuh. Kulitnya tampak rusak dan terasa sangat sakit.
“Apa yang terjadi padaku?” teriaknya.
Tabib istana mencoba berbagai ramuan, namun tak satu pun berhasil. Penyakit itu justru semakin parah.
Raja Khandra dan Ratu Althea hanya berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh ketakutan. Mereka ingin mendekat, tetapi luka-luka di tubuh Raisa membuat semua orang ragu.
Dalam kepanikan, Raja Khandra bahkan menyalahkan ratu karena membiarkan Raisa terlalu bebas keluar istana. Ratu Althea hanya menangis diam-diam.
Raisa mendengar semuanya.
Ia tertawa pahit.
“Jadi sekarang semua salahku?”
Hari-hari berikutnya berubah menjadi penderitaan.
Kamar Raisa menjadi tempat yang dihindari semua orang. Makanan hanya diletakkan di depan pintu. Para pelayan tidak lagi berani masuk. Bahkan orang tuanya tidak mendekatinya.
Putri yang dulu selalu dikelilingi orang kini benar-benar sendirian.
Hari-hari berlalu dengan tangis, kemarahan, dan keputusasaan. Raisa menjerit setiap melihat cermin, melemparkan benda-benda di kamar, dan menolak ramuan tabib.
Ia tidak mengerti mengapa nasib sekejam itu menimpanya.
Sedikit demi sedikit, hatinya mulai dipenuhi kemarahan, bukan hanya kepada penyakit itu, tetapi juga kepada dunia yang seolah meninggalkannya.
Di luar istana, kabar mulai menyebar.
Orang-orang berbisik bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa. Tabib tidak mampu menyembuhkan. Banyak yang percaya bahwa itu adalah kutukan.
Bisikan itu menyebar dari pasar ke ladang, lalu kembali ke telinga orang-orang istana.
Suatu sore, Raisa berdiri di balkon kamarnya dan memandang kota Prabha yang dulu ia cintai. Ia mendengar dua pelayan berbisik ketakutan tentang dirinya.
Raisa menutup mata.
Ketika ia membukanya kembali, tatapannya berubah dingin.
Jika dunia mulai memandangnya seperti monster, pikirnya, mungkin itulah yang akan mereka dapatkan.
Malam kembali turun di Kerajaan Prabha.
Di dalam kamar gelapnya, Putri Raisa duduk sendirian dengan cermin yang telah ditutup kain hitam.
Di luar, orang-orang mulai menyebut namanya dengan ketakutan.
Dan di dalam hatinya, sesuatu yang rapuh telah hancur untuk pertama kalinya.
Dari salah satu kamar di sayap timur istana terdengar tangisan.
Tangisan itu milik Putri Raisa.
Baru seminggu sebelumnya, istana masih merayakan ulang tahunnya yang ketujuh belas dengan pesta meriah. Semua orang memandangnya sebagai kebanggaan kerajaan. Namun kini, suasana istana berubah menjadi sunyi dan penuh kecemasan.
Di depan cermin besar, Raisa gemetar menatap tubuhnya sendiri.
Bercak-bercak merah kehitaman muncul di kulitnya. Awalnya kecil di pergelangan tangan, tetapi dalam beberapa hari menyebar ke lengan, leher, wajah, hingga seluruh tubuh. Kulitnya tampak rusak dan terasa sangat sakit.
“Apa yang terjadi padaku?” teriaknya.
Tabib istana mencoba berbagai ramuan, namun tak satu pun berhasil. Penyakit itu justru semakin parah.
Raja Khandra dan Ratu Althea hanya berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh ketakutan. Mereka ingin mendekat, tetapi luka-luka di tubuh Raisa membuat semua orang ragu.
Dalam kepanikan, Raja Khandra bahkan menyalahkan ratu karena membiarkan Raisa terlalu bebas keluar istana. Ratu Althea hanya menangis diam-diam.
Raisa mendengar semuanya.
Ia tertawa pahit.
“Jadi sekarang semua salahku?”
Hari-hari berikutnya berubah menjadi penderitaan.
Kamar Raisa menjadi tempat yang dihindari semua orang. Makanan hanya diletakkan di depan pintu. Para pelayan tidak lagi berani masuk. Bahkan orang tuanya tidak mendekatinya.
Putri yang dulu selalu dikelilingi orang kini benar-benar sendirian.
Hari-hari berlalu dengan tangis, kemarahan, dan keputusasaan. Raisa menjerit setiap melihat cermin, melemparkan benda-benda di kamar, dan menolak ramuan tabib.
Ia tidak mengerti mengapa nasib sekejam itu menimpanya.
Sedikit demi sedikit, hatinya mulai dipenuhi kemarahan, bukan hanya kepada penyakit itu, tetapi juga kepada dunia yang seolah meninggalkannya.
Di luar istana, kabar mulai menyebar.
Orang-orang berbisik bahwa penyakit itu bukan penyakit biasa. Tabib tidak mampu menyembuhkan. Banyak yang percaya bahwa itu adalah kutukan.
Bisikan itu menyebar dari pasar ke ladang, lalu kembali ke telinga orang-orang istana.
Suatu sore, Raisa berdiri di balkon kamarnya dan memandang kota Prabha yang dulu ia cintai. Ia mendengar dua pelayan berbisik ketakutan tentang dirinya.
Raisa menutup mata.
Ketika ia membukanya kembali, tatapannya berubah dingin.
Jika dunia mulai memandangnya seperti monster, pikirnya, mungkin itulah yang akan mereka dapatkan.
Malam kembali turun di Kerajaan Prabha.
Di dalam kamar gelapnya, Putri Raisa duduk sendirian dengan cermin yang telah ditutup kain hitam.
Di luar, orang-orang mulai menyebut namanya dengan ketakutan.
Dan di dalam hatinya, sesuatu yang rapuh telah hancur untuk pertama kalinya.
Other Stories
Cinta Dibalik Rasa
Cukup lama menunggu, akhirnya pramusaji kekar itu datang mengantar kopi pesananku tadi. ...
Tersesat
Tak dipungkiri, Qiran memang suka hal-hal baru. Dia suka mencari apa pun yang sekiranya bi ...
Boneka Sempurna
Bagi Abrian, hidup adalah penjara tanpa jeruji. Selama bertahun-tahun, ia adalah korbam ta ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Bukan Cinta Sempurna
Meski populer di sekolah, Dini diam-diam mencintai Widi. Namun Widi justru menjodohkannya ...
Yume Tourou (lentera Mimpi)
Kanzaki Suraha, seorang Shinigami, bertugas menjemput arwah yang terjerumus iblis. Namun i ...