Ratu Dan Pulaunya
Pulau Rante tidaklah seseram namanya. Meski dikelilingi tebing karang yang tajam seolah merantai siapa pun yang datang, bagian tengah pulau itu adalah surga yang tersembunyi. Tanah di sana hitam dan gembur, dipenuhi tanaman liar yang berbuah lebat dan sumber air tawar yang jernih. Di sanalah Raisa ditempatkan, di sebuah pondok kayu sederhana yang dibangun terburu-buru oleh prajurit sebelum mereka pergi meninggalkannya karena takut tertular.
Hari-hari pertama adalah siksaan bagi Raisa. Jemari yang biasanya memetik kecapi kini harus belajar mencangkul tanah dan memetik buah hutan. Namun, alam justru menjadi tabib baginya. Udara laut yang bersih dan ketenangan pulau mulai meredakan amarah di kulitnya, meski bekas luka itu masih ada.
Suatu sore, saat Raisa sedang duduk di tepi pantai menatap cakrawala, sebuah perahu kecil tampak memecah ombak. Hatinya berdebar kencang antara takut dan harap. Dari perahu itu, muncul sosok yang sangat ia kenal.
"Arutala?" bisik Raisa tak percaya.
Arutala melompat ke pasir, membawa bungkusan besar berisi bibit tanaman, kain bersih, dan makanan kesukaan Raisa. "Aku berjanji tidak akan membiarkanmu sendirian, bukan?" katanya dengan senyum yang sedikit lelah namun tulus.
Sejak hari itu, Arutala rutin mengunjungi Raisa secara sembunyi-sembunyi, menempuh perjalanan laut yang berbahaya di bawah kegelapan malam. Mereka berkebun bersama, menanam sayuran di tanah Rante yang subur. Di bawah naungan pohon rindang, mereka tertawa, berbagi mimpi, dan saling menjaga. Bagi Raisa, kehadiran Arutala adalah penyambung nyawanya, sahabat terbaik yang tidak memandangnya sebagai monster. Namun, di balik setiap perhatian kecil Arutala, caranya menatap Raisa saat gadis itu tertidur, atau bagaimana ia selalu memberikan porsi makanan terbaiknya, ada cinta yang mendalam yang belum mampu dibaca oleh Raisa.
Hari-hari pertama adalah siksaan bagi Raisa. Jemari yang biasanya memetik kecapi kini harus belajar mencangkul tanah dan memetik buah hutan. Namun, alam justru menjadi tabib baginya. Udara laut yang bersih dan ketenangan pulau mulai meredakan amarah di kulitnya, meski bekas luka itu masih ada.
Suatu sore, saat Raisa sedang duduk di tepi pantai menatap cakrawala, sebuah perahu kecil tampak memecah ombak. Hatinya berdebar kencang antara takut dan harap. Dari perahu itu, muncul sosok yang sangat ia kenal.
"Arutala?" bisik Raisa tak percaya.
Arutala melompat ke pasir, membawa bungkusan besar berisi bibit tanaman, kain bersih, dan makanan kesukaan Raisa. "Aku berjanji tidak akan membiarkanmu sendirian, bukan?" katanya dengan senyum yang sedikit lelah namun tulus.
Sejak hari itu, Arutala rutin mengunjungi Raisa secara sembunyi-sembunyi, menempuh perjalanan laut yang berbahaya di bawah kegelapan malam. Mereka berkebun bersama, menanam sayuran di tanah Rante yang subur. Di bawah naungan pohon rindang, mereka tertawa, berbagi mimpi, dan saling menjaga. Bagi Raisa, kehadiran Arutala adalah penyambung nyawanya, sahabat terbaik yang tidak memandangnya sebagai monster. Namun, di balik setiap perhatian kecil Arutala, caranya menatap Raisa saat gadis itu tertidur, atau bagaimana ia selalu memberikan porsi makanan terbaiknya, ada cinta yang mendalam yang belum mampu dibaca oleh Raisa.
Other Stories
Cahaya Menembus Senesta
Manusia tidak akan mampu hidup sendiri, mereka membutuhkan teman. Sebab dengan pertemanan, ...
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
32 Detik
Hanya 32 detik untuk menghancurkan cinta dan hidup Kirana. Saat video pribadinya bocor, du ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Mimi & Peri
Mimi, seorang gadis pecinta alam dari pesisir Bali, menghabiskan liburan sekolahnya di Flo ...
Bangkit Dari Luka
Almira Brata Qeenza punya segalanya. Kecuali satu hal, yaitu kasih sayang. Sejak kecil, ia ...