Bagian Dua
Di sudut kota lain, dalam rute yang mengarah ke Kota S, sebuah sedan melaju dengan kecepatan stabil membelah jalan tol. Namun, berbeda dengan jalanan yang mulai sunyi, di dalam kabin mobil itu ada ketegangan yang lebih bising dari suara mesin.
Hening mengemudi dengan jemari yang mencengkeram kemudi hingga memutih. Di kursi penumpang, Endaru sudah memaku pandangan ke arah jendela, memunggunginya. Ia mencuri pandang melalui spion tengah. Ia mencoba mengenali kembali garis rahang putrinya itu. Ada goresan kecil di pipi kanannya. Selama lima tahun terakhir, ia hanya bisa memantau pertumbuhan Endaru lewat unggahan foto di media sosial. Lima tahun itu juga tidak mampu menghapus bayangan Endaru kecil dari benaknya.
Kini, saat anak semata wayangnya itu benar-benar ada di dalam jangkauan lengannya, keheningan di antara mereka justru terasa lebih menyesakkan daripada jarak ribuan kilometer yang sebenarnya memisahkan mereka.
Hening melirik botol minuman kesukaan Endaru di samping tuas transmisi. Masih penuh, berembun, dan tak tersentuh. Ia juga ingin bertanya apakah suhunya terlalu dingin, namun ia menahan lidahnya. Ia takut suara sedikit saja akan menghancurkan keberhasilan kecil yang membutuhkan usaha besar untuk membawa Endaru masuk ke dalam mobil ini.
“Mau makan sesuatu?”
“Nanti.” Endaru menjawab dengan datar.
Hening kembali fokus pada kemudi. Sejak setengah jam yang lalu setelah meninggalkan apartemen studio Endaru, mereka nyaris tidak berbicara. Kalau dipikir lagi, rasa bersalah tetap membuatnya menjadi seorang ibu yang tidak berguna. Tidak pernah hadir, sekali datang menggagalkan rencana liburan akhir tahun anaknya ke Bangkok.
“Kalau sakitnya tidak parah, aku tetap akan ke Bangkok setelahnya.”
“Iya.”
“Ini rencana Mama?”
“Nenek sakit?” Hening balik bertanya. Pertanyaan itu membuat Endaru berbalik menatap wajahnya.
“Mama ingin pulang karena inisiatif sendiri?”
“Ya.” Hening mencoba tertawa.
“Baguslah, biasanya saudara Mama yang memaksa.”
Sebenarnya, dua hari yang lalu, Lukman, kakak HEning menelepon bahwa Ibunya mendadak sakit. KOndisinya memburuk dan terus memanggil nama Hening dan Endaru.
Hening memutuskan untuk meninggalkan ibunya. Hubungan mereka memang memburuk sejak Hening remaja. Baginya, hubungan ibu dan anak bisa saja menjadi buruk. Tidak ada bedanya dengan hubungannya dengan orang lain. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun sejak hidup dan rumah tangganya hancur, hubungannya dengan Endaru juga memburuk. Diam-diam, Hening merasa takut jika anaknya memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya dulu. Ia takut hubungan mereka berakhir sama seperti hubungan Hening dengan ibu kandungnya sendiri.
Apa ketakutan terbesarmu, bu? Kenapa sekarang Ibu memintaku kembali? Kenapa baru sekarang? Haruskah aku pulang? Apa yang akan aku lakukan setelah melihatmu nanti?
Mobil tetap melaju dengan kecepatan stabil. Hening tidak ingin membuat manuver yang membuat penumpangnya merasa tidak nyaman.
“Kamu ke Bangkok sama siapa?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Hening. Endaru masih menatap ke luar jendela. “Maaf kalau Mama sok ingin tahu.”
“Sama teman kantor.”
“Kamu masih kerja di perbankan.”
“Pindah ke agensi.”
“Sejak kapan?” HEning sadar, suaranya terdengar bersemangat. Seperti ingin lebih tahu.
“Sudah dua tahun.”
Bagus. Selama lima tahun tidak bertemu, anaknya sudah melalui berbagai fase kehidupan. Bekerja, pindah pekerjaan dan dekat dengan seseorang. Perjalanan yang memakan waktu hampir 12 jam itu akhirnya ditempuh dengan jarak yang sama jauhnya.
Menjelang pagi, Hening membangunkan Endaru ketika sudah istirahat cukup di sebuah rest area. Mereka makan berdua tanpa banyak bicara. Saat sedang makan itulah, Hening melihat gelang di tangan putrinya. Ia tahu betul siapa pemilik gelang itu. Mungkin ia akan membenci laki-laki itu seumur hidupnya, namun laki-laki itu seorang ayah di mata anak perempuan.
Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota S.
Hening mengemudi dengan jemari yang mencengkeram kemudi hingga memutih. Di kursi penumpang, Endaru sudah memaku pandangan ke arah jendela, memunggunginya. Ia mencuri pandang melalui spion tengah. Ia mencoba mengenali kembali garis rahang putrinya itu. Ada goresan kecil di pipi kanannya. Selama lima tahun terakhir, ia hanya bisa memantau pertumbuhan Endaru lewat unggahan foto di media sosial. Lima tahun itu juga tidak mampu menghapus bayangan Endaru kecil dari benaknya.
Kini, saat anak semata wayangnya itu benar-benar ada di dalam jangkauan lengannya, keheningan di antara mereka justru terasa lebih menyesakkan daripada jarak ribuan kilometer yang sebenarnya memisahkan mereka.
Hening melirik botol minuman kesukaan Endaru di samping tuas transmisi. Masih penuh, berembun, dan tak tersentuh. Ia juga ingin bertanya apakah suhunya terlalu dingin, namun ia menahan lidahnya. Ia takut suara sedikit saja akan menghancurkan keberhasilan kecil yang membutuhkan usaha besar untuk membawa Endaru masuk ke dalam mobil ini.
“Mau makan sesuatu?”
“Nanti.” Endaru menjawab dengan datar.
Hening kembali fokus pada kemudi. Sejak setengah jam yang lalu setelah meninggalkan apartemen studio Endaru, mereka nyaris tidak berbicara. Kalau dipikir lagi, rasa bersalah tetap membuatnya menjadi seorang ibu yang tidak berguna. Tidak pernah hadir, sekali datang menggagalkan rencana liburan akhir tahun anaknya ke Bangkok.
“Kalau sakitnya tidak parah, aku tetap akan ke Bangkok setelahnya.”
“Iya.”
“Ini rencana Mama?”
“Nenek sakit?” Hening balik bertanya. Pertanyaan itu membuat Endaru berbalik menatap wajahnya.
“Mama ingin pulang karena inisiatif sendiri?”
“Ya.” Hening mencoba tertawa.
“Baguslah, biasanya saudara Mama yang memaksa.”
Sebenarnya, dua hari yang lalu, Lukman, kakak HEning menelepon bahwa Ibunya mendadak sakit. KOndisinya memburuk dan terus memanggil nama Hening dan Endaru.
Hening memutuskan untuk meninggalkan ibunya. Hubungan mereka memang memburuk sejak Hening remaja. Baginya, hubungan ibu dan anak bisa saja menjadi buruk. Tidak ada bedanya dengan hubungannya dengan orang lain. Ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri bahwa semua akan baik-baik saja.
Namun sejak hidup dan rumah tangganya hancur, hubungannya dengan Endaru juga memburuk. Diam-diam, Hening merasa takut jika anaknya memiliki pemikiran yang sama dengan dirinya dulu. Ia takut hubungan mereka berakhir sama seperti hubungan Hening dengan ibu kandungnya sendiri.
Apa ketakutan terbesarmu, bu? Kenapa sekarang Ibu memintaku kembali? Kenapa baru sekarang? Haruskah aku pulang? Apa yang akan aku lakukan setelah melihatmu nanti?
Mobil tetap melaju dengan kecepatan stabil. Hening tidak ingin membuat manuver yang membuat penumpangnya merasa tidak nyaman.
“Kamu ke Bangkok sama siapa?” Pertanyaan itu akhirnya keluar dari bibir Hening. Endaru masih menatap ke luar jendela. “Maaf kalau Mama sok ingin tahu.”
“Sama teman kantor.”
“Kamu masih kerja di perbankan.”
“Pindah ke agensi.”
“Sejak kapan?” HEning sadar, suaranya terdengar bersemangat. Seperti ingin lebih tahu.
“Sudah dua tahun.”
Bagus. Selama lima tahun tidak bertemu, anaknya sudah melalui berbagai fase kehidupan. Bekerja, pindah pekerjaan dan dekat dengan seseorang. Perjalanan yang memakan waktu hampir 12 jam itu akhirnya ditempuh dengan jarak yang sama jauhnya.
Menjelang pagi, Hening membangunkan Endaru ketika sudah istirahat cukup di sebuah rest area. Mereka makan berdua tanpa banyak bicara. Saat sedang makan itulah, Hening melihat gelang di tangan putrinya. Ia tahu betul siapa pemilik gelang itu. Mungkin ia akan membenci laki-laki itu seumur hidupnya, namun laki-laki itu seorang ayah di mata anak perempuan.
Setelah selesai sarapan, mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota S.
Other Stories
Pra Wedding Escape
Nastiti yakin menikah dengan Bram karena pekerjaan, finansial, dan restu keluarga sudah me ...
After Honeymoon
Sama-sama tengah menyembuhkan rasa sakit hati, bertemu dengan nuansa Pulau Dewata yang sel ...
Sayonara ( Halusinada )
Raga berlari di tengah malam, tanpa sekalipun menengok ke belakang. Ia kelalahan hingga te ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...
After Honeymoon (17+)
Dipaksa menikah demi ambisi keluarga, Kirana dan Rhea terjebak dalam pernikahan tanpa cint ...
Cinta Di 7 Keajaiban Dunia
Menjelang pernikahan, Devi dan Dimas ditugaskan meliput 7 keajaiban dunia. Pertemuan Devi ...