Lydia

Reads
8
Votes
0
Parts
8
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Masa Sekolah Dasar

Gebyarrrr!
Gebyurrr!

Air kolam muncrat ke segala arah — termasuk ke pot bunga kesayangan Mama, si anggrek ungu yang katanya ‘lagi belajar mekar’.
Suara Lydia dan teman-temannya pecah ketika mereka lompat ke kolam renang.
Bau kaporit bercampur suara tawa—semuanya jadi simfoni masa kecil yang riang.

Bagi mereka, berenang bukan soal olahraga serius.
Yang dihitung bukan berapa panjang kolam yang berhasil ditempuh, tapi berapa kali lompat paling tinggi, paling rame, paling seru.

Setelah puas main air, ritualnya selalu sama: duduk di tepi kolam sambil makan kentang goreng hangat dari dapur, asapnya masih mengepul dan garamnya menempel di jari. Itu appetizer wajib sebelum mandi dan makan ayam goreng buatan Mbak Anah—main course legendaris rumah Lydia.

“Aku suka banget ayam goreng di rumah Lydia!” seru Abel sambil meraih potongan lagi.

“Enak banget, aku juga suka,” tambah Lisa, sibuk menggerogoti tulang muda.

“Ini kulitnya disimpan terakhir, biar makin nikmat,” celetuk Nia dengan nada penuh teori.

Lydia hanya tersenyum puas. Rasanya bangga banget melihat teman-temannya menikmati masakan rumahnya—walau jelas bukan dia yang masak.

Tiba-tiba Mama datang, menggandeng Siska yang menggelayut manja di kakinya. Baru pulang dari arisan ibu-ibu sekolah.
“Halo, apa kabar semuanya?” sapa Mama sambil mencium kening Lydia.

“Kita abis berenang dua jam, Mah!” Lydia buru-buru laporan.

“Pantas lapar,” kata Mama tersenyum.

“Iya, lapar banget tante!” sahut Abel polos.

“Makan yang enak, ya,” balas Mama, lalu berlalu ke kamar dengan Siska masih menempel di kakinya.

Dan tentu saja, makan belum lengkap tanpa dessert.
Jajan es krim di warung depan rumah.
Sistemnya jelas—ambil dulu, bayarnya nanti. Karena toh, Mbak Anah yang akan membereskan semuanya. Hihihi.

Satu per satu teman-teman Lydia dijemput.
Suara sandal dengan kerikil beradu, pintu pagar dibuka dan ditutup.
Rumah pun kembali tenang. Hanya tersisa suara mesin pendingin ruangan dari kamar Ayah dan Mama dan tumpukan handuk basah di kursi teras belakang.

Lydia duduk di pinggir kolam, menggoyangkan kaki ke air yang mulai dingin.
Bau ayam goreng masih tersisa di udara.
Sisa es krim vanilla tertinggal setitik di ujung bibir.
Di permukaan air, bayangan rumah mereka tampak tenang—seperti hidupnya saat itu: sederhana, riuh, tapi penuh cinta.
Itu masa yang Lydia kenang paling hangat di kepalanya.
Masa ketika dunia terasa sesempurna itu.

.

Malamnya, begitu pintu rumah berderit, Lydia langsung bersenandung:

“Ayah pulang bawa oleh-oleh…” lagu itu wajib tiap kali Ayah pulang.

“Ayah…” Siska langsung berlari memeluk Ayah.

“Anak-anak Ayah… Kakak dan Mama mana?” tanya Ayah.

“Kak Kartika lagi di kamar sama Mama. Besok ada ulangan,” jawab Lydia cepat.

Lydia biasanya memilih menjauh kalau Mama sedang menemani Kak Kartika belajar.
Karena di saat itu, Mama yang biasanya lembut bisa langsung berubah jadi … monster!

“Ayah…”
Lydia mendekat manis, sambil menyodorkan selembar kertas orji warna warni.

Ayah menghela napas panjang.
“Perjanjian apa lagi ini?”

Di kertas itu tertulis besar-besar, dengan spidol ungu glitter:

PERJANJIAN SAKRAL

AYAH HARUS BELI HP BUAT LYDIA (NOKIA 3200)
KALO LYDIA NAIK KELAS 5.

TTD:
AYAH ___________________

LYDIA ___________________

“Adek juga mau, Ayah!” Siska ikut-ikutan.

“Ayah kan bilangnya in shaa Allah, kalau ada rezekinya,” kata Ayah.

“Tapi Ayah kan ada uang,” Lydia ngotot.

Ayah mencium kening Lydia, hendak kabur ke kamar. Tapi Lydia tetap mengekor.

“Gapapa Ayah tanda tangan dulu aja…”

Akhirnya Ayah tertawa pasrah, mengambil pulpen pink blink-blink milik Lydia, lalu menandatangani kertas itu dengan gaya orang yang kalah debat.

Kontrak disahkan. Lydia meloncat kegirangan.

Life was good.

Semua itu terasa biasa saja bagi Lydia—
kolam renang, ayam goreng, es krim di warung, tawa teman-teman.
Seakan-akan akan selalu begitu.

Tapi hidup, ternyata seperti musim, punya caranya sendiri untuk berubah.
Dan perlahan, rumah yang dulu riuh oleh suara gebyar-gebyur kini hanya menyisakan sunyi.
Kolam renang yang dulu penuh teriakan dan tawa, sekarang jarang tersentuh.
Airnya tenang, hanya bergelombang ketika daun kering jatuh dari pohon, atau seekor cicak yang tercebur lalu berenang panik ke tepi.

Lydia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tak penting.
Telepon rumah yang bunyinya semakin sering,
suara Mama yang selalu berkata pelan,

“Iya, nanti akan saya selesaikan…”

Ada tumpukan amplop di meja ruang tamu,
dengan logo yang sama dan angka-angka yang panjang.
Lydia sempat mengintip — banyak nol, tapi bukan angka gaji.

Suatu sore, suara mobil Ayah tak terdengar.
Tapi semua orang di rumah seperti tahu harus diam.

Mama kini lebih sering di rumah.
Sesuatu yang dulu selalu Lydia inginkan—lebih banyak waktu dengan Mama.
Tapi entah kenapa, kehadiran Mama kali ini terasa berbeda.
Senyumnya tidak selebar dulu, langkahnya lebih berat, dan sering kali ia hanya duduk diam menatap halaman, seakan ada sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.

Other Stories
Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Yang Dekat Itu Belum Tentu Lekat

Dua puluh tahun sudah aku berkarya disini. Di setiap sudut tempat ini begitu hangat, penuh ...

Egler

Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...

Makna Dibalik Kalimat (never Ending)

Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...

Kutukan Yang Kupanggil Cinta

Sekar Diajeng Wardhani tidak percaya cinta. Bagi perempuan seperti dia, hubungan hanya per ...

Kk

jjj ...

Download Titik & Koma