Era Emas Keluarga Pak Haji Firman
Siang itu, matahari terik. Tapi Lydia kecil tetap semangat berlari ke depan sekolah, menuju bilik telepon umum yang catnya sudah mulai pudar.
Ia merogoh saku baju seragamnya, mengeluarkan beberapa keping koin logam—suara cling cling cling terdengar jelas di sela napasnya yang ngos-ngosan.
Koin pertama masuk. Klik.
“Halo, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Itu suara Mbak Anah. Dari nada bicaranya, jelas ia langsung tahu ini Lydia. Biasa—selalu ada aja barang Lydia yang ketinggalan di rumah. Kadang tas, kadang tempat minum, kadang alat tulis.
“Mbak Anah, ada Mama nggak?” tanya Lydia.
“Ada, lagi main sama Dek Siska. Kenapa, Lydia?”
“Nanti temen-temen Lydia mau berenang di rumah. Boleh nggak?”
“Ya boleh.” Jawaban singkat, mewakili Mama.
“Ok deh. Nanti yang dateng Abel, Nia, sama Lisa ya. Mau ayam goreng yaa Mbak.”
“Siap.”
Abel, Nia, dan Lisa. Trio sahabat dekat. Mereka sering gantian main di rumah masing-masing, tapi paling sering kumpul di rumah Lydia. Alasannya: cuma rumah Lydia yang punya kolam renang.
Lydia kecil tidak pernah benar-benar paham kesulitan yang pernah dilalui Ayah dan Mama di masa lalu. Yang ia tahu, rumahnya selalu ramai, meja makan selalu penuh, dan hampir semua keinginannya terpenuhi.
Itu masa yang Lydia kenang sebagai golden era. Masa emas keluarga Pak Haji Firman.
Ia merogoh saku baju seragamnya, mengeluarkan beberapa keping koin logam—suara cling cling cling terdengar jelas di sela napasnya yang ngos-ngosan.
Koin pertama masuk. Klik.
“Halo, Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Itu suara Mbak Anah. Dari nada bicaranya, jelas ia langsung tahu ini Lydia. Biasa—selalu ada aja barang Lydia yang ketinggalan di rumah. Kadang tas, kadang tempat minum, kadang alat tulis.
“Mbak Anah, ada Mama nggak?” tanya Lydia.
“Ada, lagi main sama Dek Siska. Kenapa, Lydia?”
“Nanti temen-temen Lydia mau berenang di rumah. Boleh nggak?”
“Ya boleh.” Jawaban singkat, mewakili Mama.
“Ok deh. Nanti yang dateng Abel, Nia, sama Lisa ya. Mau ayam goreng yaa Mbak.”
“Siap.”
Abel, Nia, dan Lisa. Trio sahabat dekat. Mereka sering gantian main di rumah masing-masing, tapi paling sering kumpul di rumah Lydia. Alasannya: cuma rumah Lydia yang punya kolam renang.
Lydia kecil tidak pernah benar-benar paham kesulitan yang pernah dilalui Ayah dan Mama di masa lalu. Yang ia tahu, rumahnya selalu ramai, meja makan selalu penuh, dan hampir semua keinginannya terpenuhi.
Itu masa yang Lydia kenang sebagai golden era. Masa emas keluarga Pak Haji Firman.
Other Stories
Camara Derie
Zola mendapat informasi mengenai sanak saudara yang masih hidup. Ia memutuskan untuk menem ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...
Love Of The Death
Segala sumpah serapah memenuhi isi hati Gina. Tatapan matanya penuh dendam. Bisikan-bisika ...
DAISY’s
Kisah Tiga Bersaudari ...
Final Call
Aku masih hidup dalam kemewahan—rumah, mobil, pakaian, dan layanan asisten—semua berka ...
7 Misteri Di Korea
Untuk membuat acara spesial di ulang tahun ke lima majalah pariwisata Arsha Magazine, Om D ...