Perlahan Mundur
Hari itu di sekolah.
“Ke rumah Lydia yuk besok!” seru Abel, sambil asyik mengunyah makaroni goreng rasa rumput laut favoritnya di kantin.
Biasanya, Lydia akan langsung loncat kegirangan.
Tapi kali ini… dadanya terasa sesak.
“Yuk!” sahut Nia dan Lisa tak kalah semangat.
“Kalian udah izin orang tua kalian?”
Lydia mencoba mencari alasan, menolak pelan-pelan.
“Pasti diizinin kalau ke rumah kamu,” balas Nia, penuh kepastian.
Lydia terdiam. Tak pernah ia membayangkan harus memikirkan banyak kemungkinan hanya untuk sebuah ajakan sederhana.
Kalau mereka lihat kolam renang yang keruh, apa mereka masih mau berenang? Kalau tiba-tiba lapar, Mbak Anah masih bisa gorengin ayam banyak-banyak nggak? Kasihan Mama harus bayar semuanya.
Skenario demi skenario berputar di kepalanya sampai pusing sendiri. Lydia memilih jalan cepat.
“Maaf, aku nggak bisa besok. Aku mau pergi.”
“Yah, yaudah deh. Hari Sabtu aja kalau gitu kita photobox,”
Abel tetap antusias, dengan ajakan tiada habis.
“Aku belum tahu bisa atau enggak,” jawab Lisa.
Dalam hati Lydia bersyukur. Terima kasih ya Allah, Lisa nggak bisa.
.
Sejak hari itu, tanpa sadar semakin banyak monolog yang muncul di kepala Lydia.
Semakin sering ia menolak ajakan teman-temannya dengan berbagai alasan.
Bukan karena Lydia tidak suka mereka lagi.
Tapi karena ia ingin tetap di rumah.
Hanya bersama Mama, Kak Kartika, Siska, dan Mbak Anah.
Di rumah—meski telah berbeda—Lydia tetap merasa aman.
Tidak ada suara-suara skenario yang menghantuinya.
.
Tolakan demi tolakan membuat hubungan Lydia dengan teman-teman sekelasnya perlahan menjauh.
Lydia kecil mungkin tidak paham tentang hukum ketertarikan—bahwa pikiran, perasaan, dan niat, baik sadar maupun tidak, memancarkan energinya sendiri.
Di mata Lydia, ia hanya merasa Abel, Nia, dan Lisa tidak lagi mengajaknya bermain.
Padahal, yang terjadi adalah pergeseran tak kasat mata.
Seiring waktu, kepentingan dan energi mereka berubah, dan tanpa disadari, mereka memilih untuk menjauh, menciptakan jarak yang terasa dingin bagi Lydia.
Dan di situlah, Lydia menemukan koneksi baru.
Namanya Ipeh—seorang anak yang dianggap sedikit aneh oleh teman-teman lain, tapi hatinya baik, dan anehnya, membuat Lydia merasa sangat nyaman.
Ipeh yang penurut bertemu dengan Lydia yang tukang ngatur.
Keduanya kompak.
Suatu hari, di bangku sekolah, Lydia berbisik,
“Ipeh, mulai sekarang aku nggak mau banyak jajan di kantin lagi.”
Ipeh menoleh, bingung.
“Kenapa gitu, Lyd?”
“Uang jajanku cepat habis untuk makan. Padahal, ada orji di TU yang lucu banget, mau aku beli,” jawab Lydia, matanya sudah membayangkan orji itu.
“Oh, berarti bawa bekalnya lebih banyak aja,” saran Ipeh dengan polos, “jadi kamu bisa makan sampai kenyang tanpa harus jajan.”
Mereka tertawa.
Meskipun Ipeh sendiri tidak tertarik membeli orji atau mainan lainnya, ia berusaha mengikuti Lydia. Ia juga memutuskan untuk tidak jajan agar bisa menabung.
Lalu, Lydia menunjukkan dompetnya.
“Peh, uangku udah segini, ada sepuluh ribu!”
“Uangku ada…”
Ipeh mengeluarkan uangnya dan mulai menghitung dengan sangat teliti.
“Peh… kenapa kamu menghitung uangnya lesu kayak gitu?” tanya Lydia.
Ipeh menghentikan hitungannya. “Kenapa, Lyd?”
Lydia menyengir lebar hingga giginya terlihat. Ia mencontohkan,
“Kalau menghitung uang itu harus sambil senyum, kayak gini: ‘seribu, dua ribu, tiga ribu, empat ribu…’”
Mereka pun tertawa lagi.
“Ke rumah Lydia yuk besok!” seru Abel, sambil asyik mengunyah makaroni goreng rasa rumput laut favoritnya di kantin.
Biasanya, Lydia akan langsung loncat kegirangan.
Tapi kali ini… dadanya terasa sesak.
“Yuk!” sahut Nia dan Lisa tak kalah semangat.
“Kalian udah izin orang tua kalian?”
Lydia mencoba mencari alasan, menolak pelan-pelan.
“Pasti diizinin kalau ke rumah kamu,” balas Nia, penuh kepastian.
Lydia terdiam. Tak pernah ia membayangkan harus memikirkan banyak kemungkinan hanya untuk sebuah ajakan sederhana.
Kalau mereka lihat kolam renang yang keruh, apa mereka masih mau berenang? Kalau tiba-tiba lapar, Mbak Anah masih bisa gorengin ayam banyak-banyak nggak? Kasihan Mama harus bayar semuanya.
Skenario demi skenario berputar di kepalanya sampai pusing sendiri. Lydia memilih jalan cepat.
“Maaf, aku nggak bisa besok. Aku mau pergi.”
“Yah, yaudah deh. Hari Sabtu aja kalau gitu kita photobox,”
Abel tetap antusias, dengan ajakan tiada habis.
“Aku belum tahu bisa atau enggak,” jawab Lisa.
Dalam hati Lydia bersyukur. Terima kasih ya Allah, Lisa nggak bisa.
.
Sejak hari itu, tanpa sadar semakin banyak monolog yang muncul di kepala Lydia.
Semakin sering ia menolak ajakan teman-temannya dengan berbagai alasan.
Bukan karena Lydia tidak suka mereka lagi.
Tapi karena ia ingin tetap di rumah.
Hanya bersama Mama, Kak Kartika, Siska, dan Mbak Anah.
Di rumah—meski telah berbeda—Lydia tetap merasa aman.
Tidak ada suara-suara skenario yang menghantuinya.
.
Tolakan demi tolakan membuat hubungan Lydia dengan teman-teman sekelasnya perlahan menjauh.
Lydia kecil mungkin tidak paham tentang hukum ketertarikan—bahwa pikiran, perasaan, dan niat, baik sadar maupun tidak, memancarkan energinya sendiri.
Di mata Lydia, ia hanya merasa Abel, Nia, dan Lisa tidak lagi mengajaknya bermain.
Padahal, yang terjadi adalah pergeseran tak kasat mata.
Seiring waktu, kepentingan dan energi mereka berubah, dan tanpa disadari, mereka memilih untuk menjauh, menciptakan jarak yang terasa dingin bagi Lydia.
Dan di situlah, Lydia menemukan koneksi baru.
Namanya Ipeh—seorang anak yang dianggap sedikit aneh oleh teman-teman lain, tapi hatinya baik, dan anehnya, membuat Lydia merasa sangat nyaman.
Ipeh yang penurut bertemu dengan Lydia yang tukang ngatur.
Keduanya kompak.
Suatu hari, di bangku sekolah, Lydia berbisik,
“Ipeh, mulai sekarang aku nggak mau banyak jajan di kantin lagi.”
Ipeh menoleh, bingung.
“Kenapa gitu, Lyd?”
“Uang jajanku cepat habis untuk makan. Padahal, ada orji di TU yang lucu banget, mau aku beli,” jawab Lydia, matanya sudah membayangkan orji itu.
“Oh, berarti bawa bekalnya lebih banyak aja,” saran Ipeh dengan polos, “jadi kamu bisa makan sampai kenyang tanpa harus jajan.”
Mereka tertawa.
Meskipun Ipeh sendiri tidak tertarik membeli orji atau mainan lainnya, ia berusaha mengikuti Lydia. Ia juga memutuskan untuk tidak jajan agar bisa menabung.
Lalu, Lydia menunjukkan dompetnya.
“Peh, uangku udah segini, ada sepuluh ribu!”
“Uangku ada…”
Ipeh mengeluarkan uangnya dan mulai menghitung dengan sangat teliti.
“Peh… kenapa kamu menghitung uangnya lesu kayak gitu?” tanya Lydia.
Ipeh menghentikan hitungannya. “Kenapa, Lyd?”
Lydia menyengir lebar hingga giginya terlihat. Ia mencontohkan,
“Kalau menghitung uang itu harus sambil senyum, kayak gini: ‘seribu, dua ribu, tiga ribu, empat ribu…’”
Mereka pun tertawa lagi.
Other Stories
Warung Kopi Reformasi
Di sebuah warung kopi sederhana di pinggir alun-alun Garut tahun 1998, hidup berjalan deng ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Bali Before Sun Set
Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...
Labirin Rumit
Di tengah asiknya membicarakan liburan sekolah, Zian bocah SD mencari gara-gara di tengah ...
Aku Bukan Pilihan
Cukup lama Rama menyendiri selepas hubungannya dengan Santi kandas, kini rasa cinta itu da ...
Kepentok Kacung Kampret
Renata bagai langit yang sulit digapai karena kekayaan dan kehormatan yang melingkupi diri ...