Kilas Balik
14 Juli 2003, pukul 5.30 pagi.
Tin… tin… tin…
Klakson mobil Pak Haji Firman sudah memekakkan telinga.
Ia sedang menunggu anak keduanya, Lydia (kelas 4 SD) untuk berangkat sekolah.
Kartika (kelas 6 SD) dan Siska (TK B) sudah berada di dalam mobil. Tentu ada Mama juga.
Siska masuk sekolah lebih siang, tapi ritual pagi ini tak pernah berubah: seluruh keluarga harus berangkat bersama.
Berlima, berdesakan di mobil.
"Ayo dong, sudah siang ini. Jalanan macet, nanti terlambat ke sekolah!" suara Ayah terdengar lantang dari luar. Klakson terus berbunyi.
Lydia heran, kenapa tetangga tidak pernah komplain, ya? Jika ada yang protes, mungkin ia—anak kelas 4 yang suka pura-pura sakit—tak akan kena teror klakson setiap pagi.
Lydia masih di dalam rumah. Tali sepatunya sedang diikat oleh Mbak Anah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja lima tahun di keluarga ini.
Ayam goreng buatan Mbak Anah adalah yang terenak di dunia.
"Telat lagi hari ini, Lydia," kata Mbak Anah, sambil merapikan pita di tali sepatu Lydia.
"Apa sih? Sekolahnya aja masuk jam 7.30. Kan deket, Mbak," gerutu Lydia.
Setelah tali sepatunya terpasang sempurna, Lydia bangkit. Ia melangkah malas-malasan ke mobil.
Pagar sudah terbuka, mobil sudah menunggu.
Mbak Anah berdiri di belakangnya, membawakan tas sekolah.
Sesampainya di mobil, Lydia membuka pintu dan langsung melontarkan jurus pamungkasnya.
"Ya ampun, Ayah. Tadi Lydia muntah..."
Jurus ini sudah jadi andalan. Seringnya, itu hanya akal-akalan. Lydia yakin Ayah tahu ia berbohong, tapi selama Ayah diam saja, jurus ini akan terus ia gunakan.
.
Mobil Kuda biru milik Ayah selalu menjadi yang pertama nongkrong di parkiran sekolah. Para satpam sudah hapal betul dengan mobil itu.
Soal sarapan? Itu urusan gampang. Sarapan di dalam mobil, di parkiran sekolah.
Sambil menunggu bel masuk, keluarga Pak Haji Firman berdiskusi tentang kegiatan ketiga anaknya di sekolah, dan juga jam pulang sekolah—harus rinci dan detail, karena Lydia sering ngambek kalau dijemput telat dan harus menunggu di bawah terik matahari.
Di tengah diskusi, Lydia menyisipkan agenda tersembunyinya.
"Teman Lydia ada yang punya HP Nokia 3200," katanya, memulai aksinya.
"Oh iya? Kamu coba pegang gak?" tanya Kak Kartika, ikut penasaran.
"Aku gak pegang. Cuma lihat aja."
Ayah dan Mama diam saja. Lydia menyeringai.
"Lydia mau deh."
"Insyaallah. Lydia belajar dulu yang serius, ya," jawab Ayah, jawaban tipikal yang selalu ia berikan.
"Jadi kalau Lydia naik kelas 5, hadiahnya itu?" Lydia terus merongrong.
"Insyaallah..."
"Yeyeyeyee! HP baru!" Lydia bersorak senang.
Mungkin Ayah bingung, kenapa jawaban 'Insyaallah' darinya bisa berubah jadi 'iya, tentu saja akan Ayah belikan' di telinga Lydia.
"Ayo Lyd, turun mobil. Sudah mau bel masuk sekolah," kata Kak Kartika, mengakhiri perbincangan.
Tin… tin… tin…
Klakson mobil Pak Haji Firman sudah memekakkan telinga.
Ia sedang menunggu anak keduanya, Lydia (kelas 4 SD) untuk berangkat sekolah.
Kartika (kelas 6 SD) dan Siska (TK B) sudah berada di dalam mobil. Tentu ada Mama juga.
Siska masuk sekolah lebih siang, tapi ritual pagi ini tak pernah berubah: seluruh keluarga harus berangkat bersama.
Berlima, berdesakan di mobil.
"Ayo dong, sudah siang ini. Jalanan macet, nanti terlambat ke sekolah!" suara Ayah terdengar lantang dari luar. Klakson terus berbunyi.
Lydia heran, kenapa tetangga tidak pernah komplain, ya? Jika ada yang protes, mungkin ia—anak kelas 4 yang suka pura-pura sakit—tak akan kena teror klakson setiap pagi.
Lydia masih di dalam rumah. Tali sepatunya sedang diikat oleh Mbak Anah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja lima tahun di keluarga ini.
Ayam goreng buatan Mbak Anah adalah yang terenak di dunia.
"Telat lagi hari ini, Lydia," kata Mbak Anah, sambil merapikan pita di tali sepatu Lydia.
"Apa sih? Sekolahnya aja masuk jam 7.30. Kan deket, Mbak," gerutu Lydia.
Setelah tali sepatunya terpasang sempurna, Lydia bangkit. Ia melangkah malas-malasan ke mobil.
Pagar sudah terbuka, mobil sudah menunggu.
Mbak Anah berdiri di belakangnya, membawakan tas sekolah.
Sesampainya di mobil, Lydia membuka pintu dan langsung melontarkan jurus pamungkasnya.
"Ya ampun, Ayah. Tadi Lydia muntah..."
Jurus ini sudah jadi andalan. Seringnya, itu hanya akal-akalan. Lydia yakin Ayah tahu ia berbohong, tapi selama Ayah diam saja, jurus ini akan terus ia gunakan.
.
Mobil Kuda biru milik Ayah selalu menjadi yang pertama nongkrong di parkiran sekolah. Para satpam sudah hapal betul dengan mobil itu.
Soal sarapan? Itu urusan gampang. Sarapan di dalam mobil, di parkiran sekolah.
Sambil menunggu bel masuk, keluarga Pak Haji Firman berdiskusi tentang kegiatan ketiga anaknya di sekolah, dan juga jam pulang sekolah—harus rinci dan detail, karena Lydia sering ngambek kalau dijemput telat dan harus menunggu di bawah terik matahari.
Di tengah diskusi, Lydia menyisipkan agenda tersembunyinya.
"Teman Lydia ada yang punya HP Nokia 3200," katanya, memulai aksinya.
"Oh iya? Kamu coba pegang gak?" tanya Kak Kartika, ikut penasaran.
"Aku gak pegang. Cuma lihat aja."
Ayah dan Mama diam saja. Lydia menyeringai.
"Lydia mau deh."
"Insyaallah. Lydia belajar dulu yang serius, ya," jawab Ayah, jawaban tipikal yang selalu ia berikan.
"Jadi kalau Lydia naik kelas 5, hadiahnya itu?" Lydia terus merongrong.
"Insyaallah..."
"Yeyeyeyee! HP baru!" Lydia bersorak senang.
Mungkin Ayah bingung, kenapa jawaban 'Insyaallah' darinya bisa berubah jadi 'iya, tentu saja akan Ayah belikan' di telinga Lydia.
"Ayo Lyd, turun mobil. Sudah mau bel masuk sekolah," kata Kak Kartika, mengakhiri perbincangan.
Other Stories
Nala
Nala tumbuh dalam keluarga sederhana yang perlahan berubah sejak kepergian Ayahnya. Gadis ...
Sweet Haunt
Di sebuah rumah kos tua penuh mitos, seorang mahasiswi pendiam tanpa sengaja berbagi kamar ...
Mewarnai
ini adalah contoh uplot buku ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Loren Ipsum
test ...
Terlupakan
Pras, fotografer berbakat namun pemalu, jatuh hati pada Gadis, seorang reporter. Gadis mem ...