Ayah Dan Mama
Dulu, Ayah dan Mama adalah tetangga satu gang.
Rumah mereka hanya beda dua pagar, tapi beda dunia.
Ayah, anak laki-laki yang selalu main ke rumah orang lain karena di rumah sendiri katanya “bosan.”
Mama, gadis manis berseragam SMA putih abu-abu, yang tiap sore menyapu halaman sambil dengerin Dewa 19 dari radio.
Ayah sering main ke rumah Mama karena bersahabat dengan Om Ari, kakak satu-satunya Mama.
Dari situlah semuanya bermula — bukan kisah cinta besar, tapi cerita kecil yang tumbuh pelan-pelan di antara sapaan sore dan suara radio di teras.
Ehem.
Begini ceritanya …
Suatu sore, Mama — yang waktu itu masih sering disuruh-suruh setiap ada teman Om Ari datang — keluar sambil membawa gelas air putih.
“Ini ya, minumannya,” katanya pelan.
Kakek—ayah Mama—yang waktu itu matanya sudah agak rabun, cuma bisa lihat siluet dua anak muda di teras.
Sambil menyeruput kopi dan baca koran, beliau nyeletuk pelan tapi penuh makna,
“Kayaknya mereka ada sesuatu…”
Dari komentar kecil itulah, rumor beredar lebih cepat daripada radio RT.
Muncullah rapat akbar keluarga.
Di ruang tamu penuh kursi plastik dan wajah-wajah penasaran, terdengar kalimat pamungkas:
“Kalau memang serius, sebaiknya segera menikah. Tapi kalau tidak, lebih baik dijauhkan saja,” begitu kira-kira nasihatnya.
Dan Ayah dengan tenang menjawab, “Kalau memang boleh, saya siap menikah dengan Kurnia.”
Mama cuma bisa terdiam — antara bingung, malu, dan entah kenapa, sedikit bahagia.
Mama, seorang gadis SMA berseragam putih abu-abu dengan rambut dikuncir dua, tas kain Elizabeth tergantung di punggung.
Masih punya mimpi kuliah dan bekerja.
Tapi entah kenapa, dalam hati kecilnya, Mama merasa Ayah adalah yang terbaik.
Ayah, bukan orang kaya, bukan pula pria yang pandai bicara — tapi sederhana dan bisa dipercaya.
Dan kadang, itu sudah cukup untuk disebut “jodoh.”
Usia mereka tidak terlalu jauh, hanya terpaut lima tahun.
Waktu menikah, Mama baru 19 tahun, sementara Ayah 24.
Masih muda, tapi sudah berani mengambil keputusan sebesar itu.
Mereka menikah tanpa pesta besar.
Hanya keluarga dekat, doa sederhana, dan sepasang hati muda yang sama-sama bingung tapi juga berani.
Sejak itu, Ayah selalu menjemput Mama sepulang sekolah dengan motor-nya.
Yamaha Alfa—yang kalau dipakai 20 menit langsung “haus” dan harus berhenti dulu di pinggir jalan.
Setiap kali teman-teman bertanya, “Sama siapa pulang, Kurnia?” Mama cuma tersenyum kecil, “Sama Om aku.”
Bukan bohong, tapi juga bukan kebenaran yang penuh.
Belum siap bercerita bahwa di usia belasan, ia sudah jadi istri.
Di awal pernikahan, Ayah tak punya rumah, tak punya mobil, apalagi pekerjaan tetap.
Hanya motor yang rewel, tabungan tipis, dan niat kuat membangun masa depan.
Tapi Mama mau.
Ada malu, tentu saja.
Ada takut, iya.
Tapi juga ada rasa yakin.
Di usia 21, Mama sudah melahirkan Kak Kartika. Dua tahun kemudian, Lydia lahir.
Jadi ibu muda bukan perkara gampang.
Mama belajar dari majalah parenting yang waktu itu masih populer: Ayah Bunda, Femina, bahkan brosur kesehatan dari rumah sakit. Buku-buku itu sampai sekarang masih rapi di rak rumah.
Sejak awal, Mama bukan hanya ibu rumah tangga. Ia juga ikut bantu Ayah. Mereka berdua memulai usaha kecil-kecilan: beli gula karungan dari pasar lalu dikemas ulang dalam plastik-plastik kecil, dijual ke warung tetangga. Pernah juga meracik parfum isi ulang, menakar aroma dari botol kaca bening.
Semua dicoba.
Sampai akhirnya, Ayah menemukan bisnis yang benar-benar cocok: toko material.
Dari situlah hidup mereka mulai lebih stabil.
Dan Mama?
Sekarang sibuk dengan arisan ibu-ibu komplek, mesem-mesem setiap cerita,
“Dulu, aku dapat jodoh cuma modal air putih aja.”
Rumah mereka hanya beda dua pagar, tapi beda dunia.
Ayah, anak laki-laki yang selalu main ke rumah orang lain karena di rumah sendiri katanya “bosan.”
Mama, gadis manis berseragam SMA putih abu-abu, yang tiap sore menyapu halaman sambil dengerin Dewa 19 dari radio.
Ayah sering main ke rumah Mama karena bersahabat dengan Om Ari, kakak satu-satunya Mama.
Dari situlah semuanya bermula — bukan kisah cinta besar, tapi cerita kecil yang tumbuh pelan-pelan di antara sapaan sore dan suara radio di teras.
Ehem.
Begini ceritanya …
Suatu sore, Mama — yang waktu itu masih sering disuruh-suruh setiap ada teman Om Ari datang — keluar sambil membawa gelas air putih.
“Ini ya, minumannya,” katanya pelan.
Kakek—ayah Mama—yang waktu itu matanya sudah agak rabun, cuma bisa lihat siluet dua anak muda di teras.
Sambil menyeruput kopi dan baca koran, beliau nyeletuk pelan tapi penuh makna,
“Kayaknya mereka ada sesuatu…”
Dari komentar kecil itulah, rumor beredar lebih cepat daripada radio RT.
Muncullah rapat akbar keluarga.
Di ruang tamu penuh kursi plastik dan wajah-wajah penasaran, terdengar kalimat pamungkas:
“Kalau memang serius, sebaiknya segera menikah. Tapi kalau tidak, lebih baik dijauhkan saja,” begitu kira-kira nasihatnya.
Dan Ayah dengan tenang menjawab, “Kalau memang boleh, saya siap menikah dengan Kurnia.”
Mama cuma bisa terdiam — antara bingung, malu, dan entah kenapa, sedikit bahagia.
Mama, seorang gadis SMA berseragam putih abu-abu dengan rambut dikuncir dua, tas kain Elizabeth tergantung di punggung.
Masih punya mimpi kuliah dan bekerja.
Tapi entah kenapa, dalam hati kecilnya, Mama merasa Ayah adalah yang terbaik.
Ayah, bukan orang kaya, bukan pula pria yang pandai bicara — tapi sederhana dan bisa dipercaya.
Dan kadang, itu sudah cukup untuk disebut “jodoh.”
Usia mereka tidak terlalu jauh, hanya terpaut lima tahun.
Waktu menikah, Mama baru 19 tahun, sementara Ayah 24.
Masih muda, tapi sudah berani mengambil keputusan sebesar itu.
Mereka menikah tanpa pesta besar.
Hanya keluarga dekat, doa sederhana, dan sepasang hati muda yang sama-sama bingung tapi juga berani.
Sejak itu, Ayah selalu menjemput Mama sepulang sekolah dengan motor-nya.
Yamaha Alfa—yang kalau dipakai 20 menit langsung “haus” dan harus berhenti dulu di pinggir jalan.
Setiap kali teman-teman bertanya, “Sama siapa pulang, Kurnia?” Mama cuma tersenyum kecil, “Sama Om aku.”
Bukan bohong, tapi juga bukan kebenaran yang penuh.
Belum siap bercerita bahwa di usia belasan, ia sudah jadi istri.
Di awal pernikahan, Ayah tak punya rumah, tak punya mobil, apalagi pekerjaan tetap.
Hanya motor yang rewel, tabungan tipis, dan niat kuat membangun masa depan.
Tapi Mama mau.
Ada malu, tentu saja.
Ada takut, iya.
Tapi juga ada rasa yakin.
Di usia 21, Mama sudah melahirkan Kak Kartika. Dua tahun kemudian, Lydia lahir.
Jadi ibu muda bukan perkara gampang.
Mama belajar dari majalah parenting yang waktu itu masih populer: Ayah Bunda, Femina, bahkan brosur kesehatan dari rumah sakit. Buku-buku itu sampai sekarang masih rapi di rak rumah.
Sejak awal, Mama bukan hanya ibu rumah tangga. Ia juga ikut bantu Ayah. Mereka berdua memulai usaha kecil-kecilan: beli gula karungan dari pasar lalu dikemas ulang dalam plastik-plastik kecil, dijual ke warung tetangga. Pernah juga meracik parfum isi ulang, menakar aroma dari botol kaca bening.
Semua dicoba.
Sampai akhirnya, Ayah menemukan bisnis yang benar-benar cocok: toko material.
Dari situlah hidup mereka mulai lebih stabil.
Dan Mama?
Sekarang sibuk dengan arisan ibu-ibu komplek, mesem-mesem setiap cerita,
“Dulu, aku dapat jodoh cuma modal air putih aja.”
Other Stories
Bekasi Dulu, Bali Nanti
Tersesat dari Bali ke Bekasi, seorang chef-vlogger berdarah campuran mengubah aturan no-ca ...
First Love Fall
Rena mengira dengan mendapat beasiswa akan menjadi petualangan yang menyenangkan. Tapi sia ...
Hafidz Cerdik
Adnan bersyukur masih ada acara bermanfaat seperti *Hafidz Cilik Indonesia*, tempat ia dan ...
Setinggi Awan
Di sebuah desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota, Awan tumbuh dengan mimpi besar. Ia i ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
Osaka Meet You
Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...