Si Cantik-Cantik
Walaupun dalam hati Lydia sering nggak percaya diri di sekolah ini, di luar ia selalu berusaha tampil ceria, pede, dengan gaya polos khas dirinya.
Bahkan Lydia nekat ikut ekskul paling bergengsi di sekolah: tari saman. Semua kakak kelas kece masuk sini, kabarnya kalau lolos bisa tampil sampai ke luar negeri.
Wow.
Selain itu, Lydia juga punya geng: Fely, Icha, Citra, dan Fae.
Mereka menamai diri mereka Si Cantik-Cantik. Sebagai doa.
Kata guru agama: setiap ucapan adalah doa.
Jadi ya sudah—cantik, cantik, cantik.
At least by branding.
Apakah branding ini otomatis bikin wajah glowing? Nggak juga. Tapi kalau vibes udah cantik, kamera biasanya ikutan percaya.
Lewat Fely—yang punya akses VIP ke anak-anak populer—Lydia jadi kecipratan undangan fancy: ulang tahun mewah, slumber party di hotel, makan di restoran hits.
Dari luar, hidup Lydia terlihat happy-happy aja.
Tapi di dalam, selalu ada rasa waswas: jangan sampai ada yang tahu kondisi keluarga.
Bagian hati lain Lydia berbisik: nggak ada yang salah kok sama keluargaku. Tapi kenapa aku nggak pede ya?
Rumah Lydia yang jauh dari sekolah sekarang jadi berkah, hampir mustahil ada yang tiba-tiba main. Sekali dua kali ada yang nyeletuk:
“Kita belum pernah nih ke rumah Lydia.”
“Hehe, ayok kapan-kapan,” jawab Lydia diplomatis.
Dan topik pun selesai. Kemacetan ibu kota jadi penyelamat.
Padahal, Lydia nggak malu dengan rumahnya.
Rumah besar dan Mama pasti senang kalau Lydia bawa teman untuk sekali dua kali.
Mama bahkan pernah tanya kenapa sejak SMP Lydia nggak pernah lagi bawa teman.
Jadi… apa sebenarnya yang Lydia tutupi?
Di luar, Lydia easy-going, lucu, centil.
Di dalam, penuh perlawanan.
Ia ingin tampil apa adanya, tapi nggak tahu caranya.
Kadang Lydia sendiri bingung—apa sih sebenarnya yang ia sembunyikan?
Bahkan Lydia nekat ikut ekskul paling bergengsi di sekolah: tari saman. Semua kakak kelas kece masuk sini, kabarnya kalau lolos bisa tampil sampai ke luar negeri.
Wow.
Selain itu, Lydia juga punya geng: Fely, Icha, Citra, dan Fae.
Mereka menamai diri mereka Si Cantik-Cantik. Sebagai doa.
Kata guru agama: setiap ucapan adalah doa.
Jadi ya sudah—cantik, cantik, cantik.
At least by branding.
Apakah branding ini otomatis bikin wajah glowing? Nggak juga. Tapi kalau vibes udah cantik, kamera biasanya ikutan percaya.
Lewat Fely—yang punya akses VIP ke anak-anak populer—Lydia jadi kecipratan undangan fancy: ulang tahun mewah, slumber party di hotel, makan di restoran hits.
Dari luar, hidup Lydia terlihat happy-happy aja.
Tapi di dalam, selalu ada rasa waswas: jangan sampai ada yang tahu kondisi keluarga.
Bagian hati lain Lydia berbisik: nggak ada yang salah kok sama keluargaku. Tapi kenapa aku nggak pede ya?
Rumah Lydia yang jauh dari sekolah sekarang jadi berkah, hampir mustahil ada yang tiba-tiba main. Sekali dua kali ada yang nyeletuk:
“Kita belum pernah nih ke rumah Lydia.”
“Hehe, ayok kapan-kapan,” jawab Lydia diplomatis.
Dan topik pun selesai. Kemacetan ibu kota jadi penyelamat.
Padahal, Lydia nggak malu dengan rumahnya.
Rumah besar dan Mama pasti senang kalau Lydia bawa teman untuk sekali dua kali.
Mama bahkan pernah tanya kenapa sejak SMP Lydia nggak pernah lagi bawa teman.
Jadi… apa sebenarnya yang Lydia tutupi?
Di luar, Lydia easy-going, lucu, centil.
Di dalam, penuh perlawanan.
Ia ingin tampil apa adanya, tapi nggak tahu caranya.
Kadang Lydia sendiri bingung—apa sih sebenarnya yang ia sembunyikan?
Other Stories
Bisikan Lada
Kejadian pagi tadi membuat heboh warga sekitar. Penemuan tiga mayat pemuda yang diketahui ...
Absolute Point
Sebuah sudut pandang mahasiswa semester 13 diambang Drop Out yang terlalu malu menceritaka ...
Chromatic Goodbye
"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...
Buah Mangga
buah mangga enak rasanya ...
Jaki & Centong Nasi Mamak
Jaki, pria 27 tahun. Setiap hari harus menerima pentungan centong nasi di kepalanya gara-g ...
Metafora Diri
Cerita ini berkisah tentang seorang wanita yang mengalami metafora sejenak ia masih kanak- ...