Ciee Mamet Ciee
Berbanding terbalik dengan Lydia yang cenderung menutup diri, Kak Kartika itu anak populer.
Ekskul tari saman iya, paskib iya, selalu nonton basket dan pensi ramai-ramai bareng teman-temannya.
Mama pun setia jadi supir pribadi.
Lydia? Pilihannya jatuh ke ekskul Jurnalistik.
Alasannya simpel: suka menulis diary.
Realitanya? Jauh banget dari bayangan. Menulis artikel hanya boleh kakak kelas.
Jobdesknya Lydia: ngurus DUDU—Dari Untuk Dengan Ucapan. Mengumpulkan surat ke setiap kelas, lalu mengetiknya untuk majalah sekolah.
Ekskul Jurnalistik nggak banyak peminatnya. Di angkatan Lydia, hanya ada dua orang.
Bisa ditebak: Lydia dan Ipeh.
Ipin? Dia tentunya ogah ikut ekskul.
Karena hanya berdua, mereka harus bergantian setiap minggu mengumpulkan DUDU.
Minggu itu, giliran Lydia.
“Peh, kamu dong yang ke lantai 3,” Lydia merayu.
“Hahaha! LyMet—Lydia Mamet,” Ipeh malah meledek.
Lydia melipir ke toilet, ngaca sebentar.
Kerudung keriting di bagian atas, muka lusuh kena panas, ketawa gede kalau bareng Ipin dan Ipeh.
Lalu berpikir, “Kenapa sih Kak Mamet bisa suka sama aku? Emangnya aku cantik banget ya?”
Lydia berjalan ke lantai 3, tempatnya anak-anak kelas 3.
3A aman.
3B — kelas Kak Kartika, tapi Kak Kartika lagi nggak ada.
Padahal Lydia pengen banget nyapa, biar kelihatan punya kakak kelas 3. Bangga gitu loh.
3C? Duh.
Sesuai dugaan, tiga huruf itu—C I E—langsung terdengar begitu Lydia sampai di pintu kelas.
“Cieee Mamet cieee,” suara-suara usil bersahutan.
“Permisi, mau ngumpulin DUDU,” kata Lydia sopan ke ketua kelas.
“Kasih gak nih, Met?” teriak ketua kelas ke arah Mamet.
Lydia hanya diam, menunggu.
“Kasihin langsung ya,” kata Mamet, lembut banget.
Alih-alih baper, Lydia cuma bergidik. Ihh geli.
Sore itu, saat mengetik DUDU bareng Ipeh—tentunya ditemani Ipin yang asik makan lidi pedas, sampai bumbu merahnya menempel semua di kerudung putihnya.
Sesuai dugaan, DUDU dari Mamet sudah konsisten muncul sebulan terakhir:
Dari: Mamet
Untuk: Lydia
Dengan Ucapan: Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa makan.
Lydia langsung melempar kertasnya.
“Hahaha!” Ipin dan Ipeh ngakak nggak berhenti.
Ekskul tari saman iya, paskib iya, selalu nonton basket dan pensi ramai-ramai bareng teman-temannya.
Mama pun setia jadi supir pribadi.
Lydia? Pilihannya jatuh ke ekskul Jurnalistik.
Alasannya simpel: suka menulis diary.
Realitanya? Jauh banget dari bayangan. Menulis artikel hanya boleh kakak kelas.
Jobdesknya Lydia: ngurus DUDU—Dari Untuk Dengan Ucapan. Mengumpulkan surat ke setiap kelas, lalu mengetiknya untuk majalah sekolah.
Ekskul Jurnalistik nggak banyak peminatnya. Di angkatan Lydia, hanya ada dua orang.
Bisa ditebak: Lydia dan Ipeh.
Ipin? Dia tentunya ogah ikut ekskul.
Karena hanya berdua, mereka harus bergantian setiap minggu mengumpulkan DUDU.
Minggu itu, giliran Lydia.
“Peh, kamu dong yang ke lantai 3,” Lydia merayu.
“Hahaha! LyMet—Lydia Mamet,” Ipeh malah meledek.
Lydia melipir ke toilet, ngaca sebentar.
Kerudung keriting di bagian atas, muka lusuh kena panas, ketawa gede kalau bareng Ipin dan Ipeh.
Lalu berpikir, “Kenapa sih Kak Mamet bisa suka sama aku? Emangnya aku cantik banget ya?”
Lydia berjalan ke lantai 3, tempatnya anak-anak kelas 3.
3A aman.
3B — kelas Kak Kartika, tapi Kak Kartika lagi nggak ada.
Padahal Lydia pengen banget nyapa, biar kelihatan punya kakak kelas 3. Bangga gitu loh.
3C? Duh.
Sesuai dugaan, tiga huruf itu—C I E—langsung terdengar begitu Lydia sampai di pintu kelas.
“Cieee Mamet cieee,” suara-suara usil bersahutan.
“Permisi, mau ngumpulin DUDU,” kata Lydia sopan ke ketua kelas.
“Kasih gak nih, Met?” teriak ketua kelas ke arah Mamet.
Lydia hanya diam, menunggu.
“Kasihin langsung ya,” kata Mamet, lembut banget.
Alih-alih baper, Lydia cuma bergidik. Ihh geli.
Sore itu, saat mengetik DUDU bareng Ipeh—tentunya ditemani Ipin yang asik makan lidi pedas, sampai bumbu merahnya menempel semua di kerudung putihnya.
Sesuai dugaan, DUDU dari Mamet sudah konsisten muncul sebulan terakhir:
Dari: Mamet
Untuk: Lydia
Dengan Ucapan: Semoga harimu menyenangkan. Jangan lupa makan.
Lydia langsung melempar kertasnya.
“Hahaha!” Ipin dan Ipeh ngakak nggak berhenti.
Other Stories
Chromatic Goodbye
"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...
Tajwid Cinta Di Tanah Tinggi
Fatimah (Fafa), seorang gadis kota yang lebih akrab dengan diskon skincare daripada kitab ...
Blind
Ketika dunia gelap, seorang hampir kehilangan harapan. Tapi di tengah kegelapan, cinta dar ...
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik
Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...
Egler
Anton mengempaskan tas ke atas kasur. Ia melirik jarum pendek jam dinding yang berada di ...
Cahaya Di Ujung Mihrab
Amara adalah seorang wanita yang terjebak dalam gemerlap dunia malam yang hampa, hingga se ...