Masa Sekolah Menengah Pertama
Hari itu adalah hari pertamanya mengenakan jilbab ke sekolah.
Walaupun ia tidak percaya diri dengan rambutnya yang frizzy dan bergelombang, mengenakan kerudung tetap terasa seperti sebuah drama besar.
“Anak Mama cantiknya pakai kerudung,” puji Mama, yang baru saja mulai mengenakan jilbab belum lama ini.
“Lydia, kerudungnya berantakan,” celetuk Siska, si bungsu yang masih SD dan belum diwajibkan memakai kerudung ke sekolah.
Mendengar celetukan Siska, Lydia hanya meleweh—mengeluarkan lidah dan membuat suara mengejek yang tak jelas.
"Hari ini kan baru hari pertama Lydia ke sekolah pakai kerudung," Mama membela, sambil memegang kedua pundak Lydia.
Di sisi lain, Kak Kartika sibuk mencari peniti.
"Peniti Kakak yang tadi Kakak taruh di sini mana, ya?" Lydia diam. Padahal dialah yang mengambilnya.
"Ambil lagi aja, Kak, di kamar Mama," jawab Mama dengan tenang.
"Ayo, sudah jam 5.35 pagi nih! Ditunggu di mobil ya," teriak Mama sambil berjalan menuju mobil.
Lydia mengikat sepatunya sendiri, menyandang ransel, lalu berangkat ke mobil.
Rasanya ada yang beda.
Tak ada lagi Mbak Anah yang biasa mengingatkan sepatu atau masak ayam goreng terenak sedunia.
Tak ada lagi Ayah yang selalu menelakson mobil keras-keras.
Pelan-pelan Lydia terbiasa dengan keadaan baru, meski kadang isak tangisnya masih muncul.
Segala pengeluaran memang harus dipangkas agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah di sekolah Islam terbaik versi Mama.
.
.
.
SD dan SMP masih di naungan yang sama, jadi masih banyak wajah familiar buat Lydia, tapi rasanya… tetap jauh di hati.
“Lydiaaaaa!” teriak Ipeh panjang di lapangan, saat akan upacara pertama di SMP.
“Ipehhhh!” balas Lydia sama semangatnya.
Mereka berangkulan sebentar, lalu cepat-cepat lepas karena harus masuk barisan kelas masing-masing.
Lydia masuk kelas unggulan.
Ipeh di kelas… ya, kelas biasa.
-
Kriiinggg… bel istirahat.
Suasana seperti lebah keluar dari sarang.
Lydia membawa bekalnya ke kelas Ipeh.
Tapi ternyata Ipeh lagi asik mengobrol dengan teman barunya.
“Lydia!” sapa Ipeh, melambaikan tangan dari tempat duduknya, melihat Lydia berdiri di depan pintu.
Senyum Lydia merekah. Ia langsung berjalan cepat ke meja Ipeh.
“Kenalin, ini Ipin,” kata Ipeh. “Ipin, ini Lydia.”
Sejak hari itu, Ipin, Ipeh, dan Lydia menjadi trio biasa-biasa saja. tapi kalau ngumpul? Ketawanya bisa kedengeran satu lantai.
“Peh, kalau makan jangan ngomong,” Lydia sering mengingatkan.
“Kenapa sih, Lyd?” sahut Ipeh, sambil sedikit nyipratin liur (iyuh).
“Peh, muncrat-muncrat tuh. Stop ngomong,” lanjut Ipin.
Lalu mereka bertiga diam makan… dan setelahnya meledak ketawa bareng.
Walaupun ia tidak percaya diri dengan rambutnya yang frizzy dan bergelombang, mengenakan kerudung tetap terasa seperti sebuah drama besar.
“Anak Mama cantiknya pakai kerudung,” puji Mama, yang baru saja mulai mengenakan jilbab belum lama ini.
“Lydia, kerudungnya berantakan,” celetuk Siska, si bungsu yang masih SD dan belum diwajibkan memakai kerudung ke sekolah.
Mendengar celetukan Siska, Lydia hanya meleweh—mengeluarkan lidah dan membuat suara mengejek yang tak jelas.
"Hari ini kan baru hari pertama Lydia ke sekolah pakai kerudung," Mama membela, sambil memegang kedua pundak Lydia.
Di sisi lain, Kak Kartika sibuk mencari peniti.
"Peniti Kakak yang tadi Kakak taruh di sini mana, ya?" Lydia diam. Padahal dialah yang mengambilnya.
"Ambil lagi aja, Kak, di kamar Mama," jawab Mama dengan tenang.
"Ayo, sudah jam 5.35 pagi nih! Ditunggu di mobil ya," teriak Mama sambil berjalan menuju mobil.
Lydia mengikat sepatunya sendiri, menyandang ransel, lalu berangkat ke mobil.
Rasanya ada yang beda.
Tak ada lagi Mbak Anah yang biasa mengingatkan sepatu atau masak ayam goreng terenak sedunia.
Tak ada lagi Ayah yang selalu menelakson mobil keras-keras.
Pelan-pelan Lydia terbiasa dengan keadaan baru, meski kadang isak tangisnya masih muncul.
Segala pengeluaran memang harus dipangkas agar anak-anaknya bisa tetap bersekolah di sekolah Islam terbaik versi Mama.
.
.
.
SD dan SMP masih di naungan yang sama, jadi masih banyak wajah familiar buat Lydia, tapi rasanya… tetap jauh di hati.
“Lydiaaaaa!” teriak Ipeh panjang di lapangan, saat akan upacara pertama di SMP.
“Ipehhhh!” balas Lydia sama semangatnya.
Mereka berangkulan sebentar, lalu cepat-cepat lepas karena harus masuk barisan kelas masing-masing.
Lydia masuk kelas unggulan.
Ipeh di kelas… ya, kelas biasa.
-
Kriiinggg… bel istirahat.
Suasana seperti lebah keluar dari sarang.
Lydia membawa bekalnya ke kelas Ipeh.
Tapi ternyata Ipeh lagi asik mengobrol dengan teman barunya.
“Lydia!” sapa Ipeh, melambaikan tangan dari tempat duduknya, melihat Lydia berdiri di depan pintu.
Senyum Lydia merekah. Ia langsung berjalan cepat ke meja Ipeh.
“Kenalin, ini Ipin,” kata Ipeh. “Ipin, ini Lydia.”
Sejak hari itu, Ipin, Ipeh, dan Lydia menjadi trio biasa-biasa saja. tapi kalau ngumpul? Ketawanya bisa kedengeran satu lantai.
“Peh, kalau makan jangan ngomong,” Lydia sering mengingatkan.
“Kenapa sih, Lyd?” sahut Ipeh, sambil sedikit nyipratin liur (iyuh).
“Peh, muncrat-muncrat tuh. Stop ngomong,” lanjut Ipin.
Lalu mereka bertiga diam makan… dan setelahnya meledak ketawa bareng.
Other Stories
Melupakan
Agatha Zahra gadis jangkung berwajah manis tengah memandang hujan dari balik kaca kamarn ...
Mendua
Dita berlari menjauh, berharap semua hanya mimpi. Nyatanya, Gama yang ia cintai telah mend ...
Luka
LUKA Tiga sahabat. Tiga jalan hidup. Tiga luka yang tak kasatmata. Moana, pejuang garis ...
Mother & Son
Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...
Dua Tanda Baca
Di sebuah persimpangan kota yang ramai, Rafi bertemu Alyaperempuan yang selalu tersenyum l ...
Senja Terakhir Bunda
Sejak suaminya pergi merantau, Siska harus bertahan sendiri. Surat dan kiriman uang sempat ...