“Penembakan” Pertama
Hari itu tidak biasa. Jam lima pagi Kak Kartika sudah duduk manis di kasur Lydia, mesem-mesem menunggu adiknya bangun.
“Lyd, nanti jam istirahat Mamet mau nembak kamu,” katanya santai. Info ring satu. The perks of punya kakak kelas 3.
“Iiiih, ngapain sih?” ekspresi Lydia langsung manyun, males banget.
“Kakak nggak bakal bilang siapa-siapa, kok,” Kak Kartika menambahkan.
“Ya mau bilang siapa juga,” Lydia sewot.
“Nanti kamu tanya aja ke Mamet, ya …”
Kak Kartika kasih masukan, senyum-senyum jahil.
“Ihhhhh! Jadi males ke sekolah, aaaaaa!”
Lydia teriak frustasi, nutup muka pake bantal.
“Hahaha … dah, Kakak siap-siap dulu,” ujar Kak Kartika sambil keluar kamar Lydia.
Isi kepala Lydia, “Kenapa harus kejadian sama Lydia, ya Allah? Lydia nggak sanggup ngelewatin hari ini.”
.
.
.
Sampai di parkiran sekolah, Lydia setengah hati untuk turun.
“Lydia ayo turun,” pinta Mama.
“Lydia belum salam kan…” Lydia ngeles, padahal tadi udah. Akhirnya salam (lagi).
“Yuk, sekarang Lydia masuk dulu, ya,” kata Mama.
“Iya iya, Lydia turun …” suaranya lemas.
Untung saat masuk gerbang, hal pertama yang Lydia lihat: Ipin dan Ipeh lagi menikmati es doger di pinggir lapangan.
“Ipinnn! Ipeehhh!” Lydia teriak heboh, langsung berlari menghampiri temannya.
Begitu sampai, Lydia curhat soal penembakan.
Reaksi Ipin dan Ipeh? Ketawa ngakak.
“Hahaha! Seneng banget punya temen populer!”
Ya, memang begitu hukumnya. Anak kelas 1 yang ditembak kakak kelas 3 otomatis naik level jadi “anak populer”.
Lydia si anak populer, katanya …
“Aku harus ngapain dong?” Lydia panik.
“Mari, Kak …” Ipin dan Ipeh tiba-tiba mengangguk tipis ke arah belakang Lydia.
Refleks, Lydia melirik.
Dan bener aja—Kak Mamet plus gengnya lewat.
Tentu saja, geng itu langsung teriak tiga huruf sakti: C-I-E.
Lydia pura-pura tenang, walau jantungnya copot. Begitu mereka menjauh, Ipin dan Ipeh pecah ketawa.
“Hahahaha! Timing-nya pas banget!”
.
.
.
Kriiinggg! Bel istirahat.
Seperti biasa, suasana sekolah kayak lebah keluar dari sarang.
Bedanya, kali ini Lydia bukan lebahnya. Dia duduk manis di kelas.
Deg-degan.
Sesuai saran Ipin tadi pagi: ‘Nanti kita makan siang di kelas Lydia aja, biar Kak Mamet nggak bingung cari Lydia.’
Lydia setuju, meski dalam hati dia cuma ingin “penembakan” ini cepat selesai.
“Kak Kartika kasih tau, tepatnya kamu ditembak jam berapa nggak?”
tanya Ipeh sambil bingung, harus makan sekarang atau nunggu penembakan selesai.
“Enggak, aku lupa nanya,” jawab Lydia lesu.
“Makan sekarang aja dulu, ntar keburu bel masuk,” saran Ipin, praktis banget.
Mereka bertiga pun buka kotak bekal masing-masing.
Tapi sebelum suapan pertama sempat masuk ke mulut Lydia, suara ribut-ribut mulai terdengar dari depan kelas.
Lydia langsung lemas, sendok di tangannya turun pelan.
Ipin dan Ipeh sih masih sempat menyuap satu sendok.
Doa Lydia, “Ya Allah, Lydia cuma mau ini cepat berakhir. Mau makan ayam goreng buatan Mama dan nasi putih.
Nggak mau deg-degan kayak gini.”
Anak-anak kelas 3 ramai-ramai turun ke lantai 1.
Anak kelas 1 pun nggak kalah heboh.
“Wah, siapa lagi yang ditembak?” bisik anak kelas 1.
“Ikutin yuk, penasaran!”
“Mereka ke kelas 1A tuh.”
“Pasti Rike atau Bella, deh!”
Penembakan memang menjadi hiburan tersendiri, apalagi dari kelas 3 ke kelas 1.
Penembakan. Adalah. Suatu. Momen. Penting.
“Lyd, dipanggil Kak Mamet,” suara Irfan, ketua kelas, bikin Lydia tambah lemas.
“Hah? Kenapa?” pura-pura kaget.
Sementara Ipin dan Ipeh? Malah cekikikan.
Thanks, guys.
Akhirnya mereka bertiga keluar kelas.
Dag
dig
dug.
Tangan Lydia basah berkeringat, lebih dari biasanya.
“Halo, Lyd …” Mamet menyapa sambil garuk-garuk kepala.
“Halo, Kak,” jawab Lydia, sambil melirik sekilas ke Kak Kartika yang lagi senyum-senyum berdiri di belakang Mamet.
Karena badan Kak Mamet mungil, Lydia bisa jelas banget melihat ekspresi Kak Kartika dari atas kepalanya.
Kak Kartika ketawa kecil, jelas usil dan penuh arti.
“Mungkin lo udah tau kenapa gue sering kirim DUDU, ya?” tanya Mamet.
“Iya, Kak. Tahu …” Lydia jujur.
“Jadi … langsung aja ya. Lo mau nggak jadi cewek gue?”
OH MY GOD! Walau sudah latihan jawab berkali-kali di kepala, ternyata tetep aja bikin cringe banget saat didengar langsung.
Penonton auto heboh.
“Terima!”
“Terima!”
“Terima!”
Ikutin pesan Kak Kartika tadi pagi nggak ya? Itu penting untuk ditanya nggak sih?
Karena pesan Kak Kartika, Lydia nekat tanya hal super cringe:
“Kak Mamet itu suka sama aku … atau cinta?”
Ihhh!
“Suka dan cinta,” jawab Mamet mantap.
Double ihhhh!
“Tapi maaf, Kak … aku nggak bisa terima.”
Suara Lydia pelan, muka merah padam.
Drama selesai.
Kak Mamet kembali ke lantai 3.
Penonton kecewa, bubar jalan.
Bel masuk berbunyi.
End of show.
“Lyd, nanti jam istirahat Mamet mau nembak kamu,” katanya santai. Info ring satu. The perks of punya kakak kelas 3.
“Iiiih, ngapain sih?” ekspresi Lydia langsung manyun, males banget.
“Kakak nggak bakal bilang siapa-siapa, kok,” Kak Kartika menambahkan.
“Ya mau bilang siapa juga,” Lydia sewot.
“Nanti kamu tanya aja ke Mamet, ya …”
Kak Kartika kasih masukan, senyum-senyum jahil.
“Ihhhhh! Jadi males ke sekolah, aaaaaa!”
Lydia teriak frustasi, nutup muka pake bantal.
“Hahaha … dah, Kakak siap-siap dulu,” ujar Kak Kartika sambil keluar kamar Lydia.
Isi kepala Lydia, “Kenapa harus kejadian sama Lydia, ya Allah? Lydia nggak sanggup ngelewatin hari ini.”
.
.
.
Sampai di parkiran sekolah, Lydia setengah hati untuk turun.
“Lydia ayo turun,” pinta Mama.
“Lydia belum salam kan…” Lydia ngeles, padahal tadi udah. Akhirnya salam (lagi).
“Yuk, sekarang Lydia masuk dulu, ya,” kata Mama.
“Iya iya, Lydia turun …” suaranya lemas.
Untung saat masuk gerbang, hal pertama yang Lydia lihat: Ipin dan Ipeh lagi menikmati es doger di pinggir lapangan.
“Ipinnn! Ipeehhh!” Lydia teriak heboh, langsung berlari menghampiri temannya.
Begitu sampai, Lydia curhat soal penembakan.
Reaksi Ipin dan Ipeh? Ketawa ngakak.
“Hahaha! Seneng banget punya temen populer!”
Ya, memang begitu hukumnya. Anak kelas 1 yang ditembak kakak kelas 3 otomatis naik level jadi “anak populer”.
Lydia si anak populer, katanya …
“Aku harus ngapain dong?” Lydia panik.
“Mari, Kak …” Ipin dan Ipeh tiba-tiba mengangguk tipis ke arah belakang Lydia.
Refleks, Lydia melirik.
Dan bener aja—Kak Mamet plus gengnya lewat.
Tentu saja, geng itu langsung teriak tiga huruf sakti: C-I-E.
Lydia pura-pura tenang, walau jantungnya copot. Begitu mereka menjauh, Ipin dan Ipeh pecah ketawa.
“Hahahaha! Timing-nya pas banget!”
.
.
.
Kriiinggg! Bel istirahat.
Seperti biasa, suasana sekolah kayak lebah keluar dari sarang.
Bedanya, kali ini Lydia bukan lebahnya. Dia duduk manis di kelas.
Deg-degan.
Sesuai saran Ipin tadi pagi: ‘Nanti kita makan siang di kelas Lydia aja, biar Kak Mamet nggak bingung cari Lydia.’
Lydia setuju, meski dalam hati dia cuma ingin “penembakan” ini cepat selesai.
“Kak Kartika kasih tau, tepatnya kamu ditembak jam berapa nggak?”
tanya Ipeh sambil bingung, harus makan sekarang atau nunggu penembakan selesai.
“Enggak, aku lupa nanya,” jawab Lydia lesu.
“Makan sekarang aja dulu, ntar keburu bel masuk,” saran Ipin, praktis banget.
Mereka bertiga pun buka kotak bekal masing-masing.
Tapi sebelum suapan pertama sempat masuk ke mulut Lydia, suara ribut-ribut mulai terdengar dari depan kelas.
Lydia langsung lemas, sendok di tangannya turun pelan.
Ipin dan Ipeh sih masih sempat menyuap satu sendok.
Doa Lydia, “Ya Allah, Lydia cuma mau ini cepat berakhir. Mau makan ayam goreng buatan Mama dan nasi putih.
Nggak mau deg-degan kayak gini.”
Anak-anak kelas 3 ramai-ramai turun ke lantai 1.
Anak kelas 1 pun nggak kalah heboh.
“Wah, siapa lagi yang ditembak?” bisik anak kelas 1.
“Ikutin yuk, penasaran!”
“Mereka ke kelas 1A tuh.”
“Pasti Rike atau Bella, deh!”
Penembakan memang menjadi hiburan tersendiri, apalagi dari kelas 3 ke kelas 1.
Penembakan. Adalah. Suatu. Momen. Penting.
“Lyd, dipanggil Kak Mamet,” suara Irfan, ketua kelas, bikin Lydia tambah lemas.
“Hah? Kenapa?” pura-pura kaget.
Sementara Ipin dan Ipeh? Malah cekikikan.
Thanks, guys.
Akhirnya mereka bertiga keluar kelas.
Dag
dig
dug.
Tangan Lydia basah berkeringat, lebih dari biasanya.
“Halo, Lyd …” Mamet menyapa sambil garuk-garuk kepala.
“Halo, Kak,” jawab Lydia, sambil melirik sekilas ke Kak Kartika yang lagi senyum-senyum berdiri di belakang Mamet.
Karena badan Kak Mamet mungil, Lydia bisa jelas banget melihat ekspresi Kak Kartika dari atas kepalanya.
Kak Kartika ketawa kecil, jelas usil dan penuh arti.
“Mungkin lo udah tau kenapa gue sering kirim DUDU, ya?” tanya Mamet.
“Iya, Kak. Tahu …” Lydia jujur.
“Jadi … langsung aja ya. Lo mau nggak jadi cewek gue?”
OH MY GOD! Walau sudah latihan jawab berkali-kali di kepala, ternyata tetep aja bikin cringe banget saat didengar langsung.
Penonton auto heboh.
“Terima!”
“Terima!”
“Terima!”
Ikutin pesan Kak Kartika tadi pagi nggak ya? Itu penting untuk ditanya nggak sih?
Karena pesan Kak Kartika, Lydia nekat tanya hal super cringe:
“Kak Mamet itu suka sama aku … atau cinta?”
Ihhh!
“Suka dan cinta,” jawab Mamet mantap.
Double ihhhh!
“Tapi maaf, Kak … aku nggak bisa terima.”
Suara Lydia pelan, muka merah padam.
Drama selesai.
Kak Mamet kembali ke lantai 3.
Penonton kecewa, bubar jalan.
Bel masuk berbunyi.
End of show.
Other Stories
Dari 0 Hingga 0
Tentang Rima dan Faldi yang menikah ketika baru saja lulus sekolah dengan komitmen ingin m ...
The Pavilion
35 siswa 12 IPA 3 dan 4 guru mereka, sudah bersiap untuk berangkat guna liburan bersama ke ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...
Kastil Piano
Kastil Piano. Sebuah benda transparan mirip bangunan kastil kuno yang di dalamnya terdapat ...
Lantas, Kepada Siapa Ayah Bercerita?
Asdar terpaksa menjalani perjalanan liburan akhir tahun ke kampung halaman sang nenek sela ...
Liburan Di Pulau Terpilih
Setelah putus cinta yang menghancurkan, Anna Mariana mencoba menjalani hari-harinya dalam ...