Lydia

Reads
651
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
Penulis Nabila Sungkar

Sekejap Ilfeel

Kelas 3 SMP.

Momen menegangkan untuk semua murid kelas 3.
Mulai dari ujian sekolah, ujian nasional, sampai persiapan memasuki babak baru di putih abu-abu — the coolest era of life.

“Kamu udah kepikiran mau masuk SMA mana?” tanya Windha, teman sekelas Lydia di kelas unggulan.

“Udah tahu. Aku masuk sekolah swasta Islam lagi.”

“Oh, kayak kakak kamu?”

“Bukan. Aku nggak mau boarding school.”

Selain karena Lydia sekarang tahu boarding school itu mahal, dia juga lihat sendiri Kak Kartika yang empot-empotan di sana.
Sampai-sampai Mama harus bawa Kak Kartika ke psikolog.

Firasat Lydia sih… Kayaknya Kak Kartika punya pacar di luar sekolah dan lagi berantem gara-gara jatah pakai HP di boarding school super terbatas, hihi.

“Kalau kamu mau SMA mana?” Lydia gantian bertanya.

“Aku mau masuk SMA negeri unggulan di Tebet. Tapi susah banget masuk situ katanya.”

“Kamu pasti bisa kok.”

Lydia mencoba memberi semangat sambil mengepalkan tangan.
Aneh rasanya, karena memberi semangat bukan keahliannya.
Suaranya datar, seolah apa yang diucapkannya … tidak terasa menguatkan sama sekali.

.
.
.

Beberapa bulan terakhir, Lydia punya kegiatan baru di ponselnya:
membalas SMS dari Reza Adrianto.

Reza dulunya anak kelas “biasa”. Tapi sejak nilai-nilainya naik, kelas 3 ia dipindah ke kelas unggulan —
dan jadi sekelas dengan Lydia.

Awalnya sederhana ngomong langsung.
“Lyd, boleh pinjam catatan matematika nggak?”

Tapi lama-lama, obrolan berlanjut via SMS. Dari pertanyaan pelajaran, sampai …
“Lydia, lagi apa?”

Lydia ramah dan supel di awal.
Tapi begitu ada tanda-tanda seseorang mulai mendekat lebih jauh, biasanya dia punya seribu cara untuk mundur perlahan.

.
.
.

6 Februari 2006
Ponsel Lydia berbunyi.

Beberapa bulan terakhir, Lydia jadi jauh lebih waspada soal ponselnya.
Siska nggak boleh lagi pinjam buat main Snake.
Ponsel pun selalu diletakkan terbalik—takut kalau-kalau di rumah ada yang kepo lihat isi pesannya.

Reza: Lydia, kenapa lo sekarang berubah?

Lydia membaca SMS itu di kamar Mama lalu refleks, ia kabur ke kamarnya sendiri.

Aku harus bales apa nih? Ihhh kenapa sih SMS kayak gini?!

Seperti biasa, daripada pusing, Lydia memilih mengabaikan dulu. Balik lagi ke kamar Ayah dan Mama, pura-pura santai nonton bareng Siska.

Tapi jelas pikirannya nggak tenang. Aku bales apa ya?

Akhirnya, Lydia nggak tahan. Balik ke kamar, cek ponsel.

Whatttt???????

Ada SMS lanjutan.

Reza: Gue suka sama lo. Lo mau nggak jadi cewek gue?

Lydia panik. Harus balas apa ini???

Kalau Kak Mamet dulu nembaknya sekampung, Reza cukup berdua. Lebih sakral.
Reza yang berbehel, rambut cepak, dan lumayan tinggi itu somehow bikin Lydia merasa ada sedikit rasa “sefrekuensi.”
Walau faktanya, mereka hampir nggak pernah ngobrol beneran di sekolah.


Lydia bingung harus jawab apa.
Jadi, solusi klasik: musyawarah.

Telepon Ipin dan Ipeh satu-satu.

Pelan-pelan. Jangan sampai ada yang dengar.
Untung rumahnya luas, Lydia yakin suaranya nggak akan terdengar.

.
.
.

Telepon ke rumah Ipeh:

Lydia: Assalamualaikum.

Tante Wahyu: Waalaikumsalam. Dengan siapa ini?

Lydia: Ini Lydia. Dhienda ada, Tante?” (Tante Wahyu nggak suka anaknya dipanggil Ipeh)

Tante Wahyu: Ini Dhiendanya, ya sayang.

Ipeh: Halo?

Lydia: Ipeeehhh, Reza nembak aku lewat SMS. Gimana dong?

Ipeh: Hahahaha! Yaudah terima aja. Paling nggak, satu dari kita pernah pacaran.

Lydia: Aku juga agak sedikit suka sih …

Telepon ke rumah Ipin:

Lydia: Assalamualaikum.

Ipin: Waalaikumsalam. (Lydia langsung tahu itu suara Ipin.)

Lydia: Pin, Reza nembak aku!

Ipin: Ha? Dia ke rumah kamu?

Lydia: Nggak. SMS-an aja. Aku terima atau nggak?

Ipin: Dia baik, kan? Pintar juga, bisa masuk kelas unggulan …

Lydia: Aku juga sedikit suka sih …

Hasil musyawarah: diterima.

Kali ini tanpa berpikir panjang, Lydia membalas pesan Reza.

Lydia: Ok, diterima.
Terkirim.

Pesan baru masuk.

Reza: Jadi kita jadian tanggal 6 Februari 2006. Aku seneng banget.

Secepat itu, gaya bahasa Reza berubah dari “gue” jadi “aku.”
Dan secepat itu juga, Lydia langsung ilfeel.

Whattt? Kenapa jadi “aku” sih? Biasanya kan “gue”!

Baru juga jadian, udah berubah gini?

Aduh gimana cara putusinnya?

.
.
.

Esok harinya.
Lydia serba bingung.

Apa sih yang harus dilakukan orang yang pacaran? Harus sapa atau nggak? Gimana cara putusin Reza?

Reza pun sama bingungnya. Alih-alih sok akrab, dia justru memilih untuk diam.

Sampai akhirnya, bel istirahat berbunyi.
Dengan bahasa isyarat, Lydia memanggil Reza untuk keluar kelas.

Di lorong sekolah, sambil menunduk, Lydia memberanikan diri.

“Maaf, kita putus ya.”

“Ha? Kenapa?” Reza jelas kaget.

“Ak… Gue nggak boleh pacaran.” Hampir aja Lydia keceplosan bilang aku.

Yaa, dari awal juga emang nggak boleh sih.
Tapi ini alasan aman, Lydia pikir.
Nggak perlu repot bohong yang ribet-ribet.

Tanpa banyak kata, Lydia langsung pergi, meninggalkan Reza yang masih berdiri bengong di lorong.

Hubungan itu cuma bertahan satu hari.
Tapi tetap aja, Lydia bisa dengan bangga bilang: pernah pacaran.

Other Stories
Rembulan Di Mata Syua

Pisah. Satu kata yang mengubah hidup Syua Sapphire. Rambut panjangnya dipotong pendek s ...

Chronicles Of The Lost Heart

Ketika seorang penulis novel gagal menemukan akhir bahagia dalam hidupnya sendiri, sebuah ...

Romance Reloaded

Luna, gadis miskin jenius di dunia FPS, mendadak viral setelah aksi no-scope gila di turna ...

Cowok Hujan

Ia selalu terlihat tenang. Tapi setiap kali langit mulai gelap dan angin berhembus kencang ...

The Museum

Mario Tongghost, penangkap hantu asal Medan, menjadi penjaga malam di Museum Bamboe Kuning ...

Mother & Son

Zyan tak sengaja merusak gitar Dana. Rasa bersalah membawanya pulang dalam diam, hingga na ...

Download Titik & Koma