Tawa Sesak Di Restoran Manado
Malam itu, restoran Manado dipenuhi tawa tim kantor Lydia. Mereka sedang makan malam bersama. "Jangan pulang malam-malam, nanti Ibam nggak kelihatan!" teriak Bangkit, suaranya menggelegar di seluruh ruangan. Sontak, seluruh meja tertawa.
Lydia ikut tertawa, suaranya sedikit dipaksakan. Tentu saja Ibam, yang berkulit gelap, tetap terlihat walau lampu jalanan Jakarta redup. Apa perlu Ibam diteriaki dan dijadikan bahan lelucon?
"Ibam, lo utang beli sepeda ke Aldri, kan?" tanya Faiz dengan lantang, menambah rentetan ejekan.
"Hahaha, iya, tapi gue bayar kok tiap bulan, woyyy," balas Ibam. Ia tertawa santai, seolah tak ada yang salah.
Ibam memang selalu menjadi bahan lelucon, mulai dari warna kulitnya yang gelap hingga kariernya yang tak pernah beranjak.
Hati Lydia terasa berat.
Ada perasaan ingin menjadi pahlawan super—seorang power ranger yang bisa membela temannya.
Dadanya sesak. Ia tahu rasanya pasti tidak nyaman menjadi bahan tertawaan.
Namun, dia kembali menahan diri.
"Buat apa menolong orang yang bahkan dia sendiri tidak merasa keberatan dijadikan bahan candaan?" bisiknya pada diri sendiri.
"Nggak usah nambah masalah, Lyd."
Di tengah keramaian itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Besok jadi makan siang bareng?"
Lydia mengetik balasan. "Yuk. Makan di mana, ya? hehehe."
Setelah itu, ia pergi ke toilet. Di depan cermin, Lydia menatap pantulan dirinya. Kenapa dia begini? Kenapa ia cepat merasa iba? Kenapa ia menggunakan hehehe di setiap konteks yang sebenarnya tidak butuh tawa?
Hehehe—kata itu bukan lagi sekadar tawa, tapi sebuah tanda.
Pengakuan bahwa dia baik-baik saja.
Bahwa dia legowo, supel, dan ramah.
Hehehe adalah perisai yang ia pakai untuk meyakinkan orang lain bahwa ia tidak terluka.
Tapi, apakah ia benar-benar baik-baik saja? Ataukah ia hanya ingin orang lain berpikir demikian?
Hehehe seperti perisai yang dia pakai untuk menyembunyikan kerapuhannya.
Tawa riuh di luar terdengar, tapi yang paling berisik adalah pertanyaan dalam benaknya. Sebuah pertanyaan yang tidak akan dia bagikan ke siapa pun.
Lydia ikut tertawa, suaranya sedikit dipaksakan. Tentu saja Ibam, yang berkulit gelap, tetap terlihat walau lampu jalanan Jakarta redup. Apa perlu Ibam diteriaki dan dijadikan bahan lelucon?
"Ibam, lo utang beli sepeda ke Aldri, kan?" tanya Faiz dengan lantang, menambah rentetan ejekan.
"Hahaha, iya, tapi gue bayar kok tiap bulan, woyyy," balas Ibam. Ia tertawa santai, seolah tak ada yang salah.
Ibam memang selalu menjadi bahan lelucon, mulai dari warna kulitnya yang gelap hingga kariernya yang tak pernah beranjak.
Hati Lydia terasa berat.
Ada perasaan ingin menjadi pahlawan super—seorang power ranger yang bisa membela temannya.
Dadanya sesak. Ia tahu rasanya pasti tidak nyaman menjadi bahan tertawaan.
Namun, dia kembali menahan diri.
"Buat apa menolong orang yang bahkan dia sendiri tidak merasa keberatan dijadikan bahan candaan?" bisiknya pada diri sendiri.
"Nggak usah nambah masalah, Lyd."
Di tengah keramaian itu, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk.
"Besok jadi makan siang bareng?"
Lydia mengetik balasan. "Yuk. Makan di mana, ya? hehehe."
Setelah itu, ia pergi ke toilet. Di depan cermin, Lydia menatap pantulan dirinya. Kenapa dia begini? Kenapa ia cepat merasa iba? Kenapa ia menggunakan hehehe di setiap konteks yang sebenarnya tidak butuh tawa?
Hehehe—kata itu bukan lagi sekadar tawa, tapi sebuah tanda.
Pengakuan bahwa dia baik-baik saja.
Bahwa dia legowo, supel, dan ramah.
Hehehe adalah perisai yang ia pakai untuk meyakinkan orang lain bahwa ia tidak terluka.
Tapi, apakah ia benar-benar baik-baik saja? Ataukah ia hanya ingin orang lain berpikir demikian?
Hehehe seperti perisai yang dia pakai untuk menyembunyikan kerapuhannya.
Tawa riuh di luar terdengar, tapi yang paling berisik adalah pertanyaan dalam benaknya. Sebuah pertanyaan yang tidak akan dia bagikan ke siapa pun.
Other Stories
Autumns Journey
Akhirnya, Henri tiba juga di lantai sepuluh Apartemen Thamrin. Seluruh badannya terasa p ...
Kepingan Hati Alisa
Menurut Ibu, dia adalah jodoh yang sudah menemani Alisa selama lebih dari lima tahun ini. ...
Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra Di Samudra Hindia
Liburan kelulusan SMA membawa Cakra Abiyoga dan sahabat-sahabatnya ke Pantai Parangtritis. ...
Kucing Emas
Suasana kelas 11 IPA SMA Kartini, Jakarta senin pagi cukup kondusif. Berhubung ada rapat ...
Tukar Pasangan
Ratna, wanita dengan hiperseksualitas ekstrem, menyadari suaminya Ardi berselingkuh dengan ...
Kau Bisa Bahagia
Airin harus menikah dalam 40 hari demi warisan ayahnya, namun hatinya tetap pada Arizal, c ...