The Innocent

Reads
364
Votes
2
Parts
10
Vote
Report
Penulis CaRyn

Bab 4 Yang Aku Ingat

Hari keempat setelah kematian Arya. Suasana pabrik sablon perlahan kembali normal. Beberapa masih mendiskusikannya saat di kantin. Tapi tatapan curiga yang dialamatkan padaku mulai berkurang, mungkin akhirnya mereka menyadari aku hanyalah orang yang berada di waktu dan tempat yang salah. Dadaku sedikit lebih ringan. Sampai siang itu…

Indra seorang operator sablon lainnya, duduk di kantin denganku, di kursi yang biasa diduduki Arya.

“Yo…aku dengar selentingan saat lewat di depan meja Staff. Katanya mereka sudah memutuskan untuk mengangkat kepala produksi yang baru.” Ucap Indra sambil menyuap sesendok penuh nasi.

Aku tidak menjawab. Aku pura-pura tak acuh, namun kali ini aku yakin, akulah orangnya.

“Kamu tahu siapa yang naik jabatan jadi kepala produksi?” Lanjutnya.

Aku menggeleng pelan.

“Aku nggak nyangka bakal dia orangnya.” Sahutnya lagi sambil menggeleng. “Dia baru dua tahun kerja di sini…” Lanjutnya tak percaya.

“Siapa…?” tanyaku akhirnya penasaran.

“Si Joko… yang satu tim sama kamu.” Sahut Indra sambil melanjutkan makannya.

Wajahku tetap datar. Tapi ada sesuatu yang mengeras di dalam dada. Setelah Arya… Sekarang Joko. Seolah-olah posisi itu memang tidak ditakdirkan untukku.

***

Siang itu, suara mesin sablon masih berdengung seperti biasa. Sampai Langkah sepatu itu masuk, memotong ritme yang sudah mulai terasa normal. Polisi datang.

Polisi yang sama yang menginterogasiku saat malam kejadian. Ia meminta izin kepada HRD untuk menanyai beberapa orang. Termasuk aku, lagi.

“Selamat siang Pak Rio, kita bertemu lagi.”

Aku hanya mengangguk pelan.

“Saya memerlukan keterangan tambahan.” Ucapnya menjelaskan.

“Waktu itu anda pernah mengatakan bahwa yang menyerang Pak Arya memakai topi biru muda dan jake hijau army.” Tanyanya, “Bisa lebih spesifik, mungkin ada detail yang terlewat.”

Aku terdiam. Berusaha mengingat apa yang aku katakana pada polisi waktu itu.

Topi biru muda. Ya, topi yang selalu dipakai Joko.

“Kalau saya tidak salah ingat, ditengah topinya ada logo huruf C besar. Untuk jaket saya tidak terlalu ingat.” Kataku berusaha menjelaskan.

“Anda juga waktu itu bilang, pak Arya berselisih dengan salah satu rekan kerja, bisa tunjukkan siapa orangnya?”

“Untuk itu…anda bisa mewawancarai operator mesin grup dua yang lain. Mungkin mereka bisa membantu. Mereka satu grup dengan Arya dan saya.”

Polisi mengangguk dan mulai menanyai satu per satu. Hingga tiba giliran Joko. Hari itu, Joko masih memakai topi biru muda, ciri khasnya.

Ia membantah semua yang ditanyakan polisi. Suaranya terdengar tegas, tapi bisik-bisik mulai muncul di meja belakang. Tatapan yang tadinya sekilas, kini bertahan sedikit lebih lama padanya. Dan Aku… tetap bekerja. Tanganku bergerak seperti biasa, seolah-olah semua ini tidak ada hubungannya denganku.

Polisi akhirnya pergi tanpa hasil. Tidak ada bukti. Tidak ada rekaman. Dan kesaksianku… tidak cukup untuk menahan siapapun. Namun sesuatu sudah terlanjur berubah. Orang-orang mulai membicarakan Joko. Mencari-cari alasan yang terasa masuk akal. Menyusun potongan-potongan kecil, hingga perlahan membentuk sebuah cerita mereka sendiri. Saat mereka bertanya padaku… aku memilih diam. Itu lebih aman. Joko urung menjadi kepala produksi yang baru. Bos terlalu takut pada suara-suara yang mulai tumbuh di dalam pabrik. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah dari cara Joko memandangku.

Dan aku tidak perduli.

***

Seperti biasa, kami melanjutkan pekerjaan. Joko berdiri di sampingku, tapi tak sepatah kata pun dia ucapkan. Aku pun begitu. Kami seperti dua orang yang tidak saling mengenal, hanya bergerak dalam ritme mesin yang sama, tanpa suara. Hari ini kami mencetak kaos dengan sablon warna merah. Saat screen di depanku mulai bocor, cat merembes pelan, lalu tiba-tiba meluber. Mengenai tanganku.

Aku segera menghentikan mesin dan menyuruh operator lain mengganti screen itu. Tapi catnya sudah terlanjur mengotori kulitku.

Merah.

Hanya cat.

Tapi ada sesuatu yang lain.

Bau logam tiba-tiba menyengat. Lebih tajam dari biasanya. Menusuk sampai ke tenggorokan.

Aku terdiam.

Menatap tanganku lebih lama dari seharusnya. Seolah-olah… aku pernah melihat ini sebelumnya. Joko menatapku.

Tajam. Diam. Terlalu lama. Dadaku terasa sesak.

Aku buru-buru meraih lap dan menggosok tanganku kasar. Sekali. Dua kali.

Tapi entah kenapa… baunya tidak benar-benar hilang.

Aku berhenti menggosok. Menarik napas pelan. Lalu menghembuskannya perlahan, seolah mencoba menenangkan sesuatu yang tidak terlihat.

Hanya cat.

Aku sudah bilang pada diriku sendiri.

Dan itu cukup.

Di sampingku, Joko masih berdiri. Diam. Tapi aku bisa merasakan tatapannya. Atau mungkin… aku hanya terlalu tahu harus melihat ke mana. Aku tidak menoleh. Tanganku kembali ke mesin. Menarik screen. Menekan tinta. Mengulang gerakan yang sama, seperti tidak ada yang terjadi.

Seperti seharusnya.

Karena memang… tidak ada yang terjadi.

Bukan aku.


Other Stories
My Love

Sandi dan Teresa menunda pernikahan karena Teresa harus mengajar di Timor Leste. Lama tak ...

Perahu Kertas

Satu tahun lalu, Rehan terpaksa putus sekolah karena keadaan ekonomi keluarganya. Sekarang ...

Bahagiakan Ibu

Ibu Faiz merasakan ketenteraman dan kebahagiaan mendalam ketika menyaksikan putranya mampu ...

Lam Biru

Suatu hari muncul kalimat asing di layar laptop Harit, kalimat itu berupa deskripsi penamp ...

Weird Husband

Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...

Curahan Hati Seorang Kacung

Saat sekolah kita berharap nantinya setelah lulus akan dapat kerjaan yang bagus. Kerjaan ...

Download Titik & Koma