Dua : Manusia Mesin
\"Kalian baru boleh menikah setelah punya rumah!\" kata Bianca dengan menirukan gaya bicara sang mama di hadapan teman-teman kantornya yang pagi itu tengah mengobrol di table, sebelum memulai pekerjaan.
Obrolan ringan perihal hubungan dan pernikahan. Mengingat hanya dialah yang satu-satunya perempuan tidak single yang belum menikah di kantor, berbeda dengan Laura yang memang terang-terangan tidak mau berubah tangga, dan lebih memilih menjomlo hingga akhir usia.
Sisil yang sejak tadi mendengarkan dengan saksama manggut-manggut, sambil sesekali mengelus perut buncitnya. \"Tapi memang benar sih, Bi. Zaman sekarang kita memang harus lebih realistis. Siapa coba orang tua yang nggak mau anaknya punya rumah?
\"Jujur, sebagai orang yang sudah berumah tangga cukup lama dan sering pindah dari satu kontrakan ke kontrakan lain, gue bisa ceritakan betapa cepaknya pindahan. Belum lagi anak-anak yang harus beradaptasi. Riwehnya minta ampun.\"
\"Realistis sih realistis.\" Mbak Jenar, sang editor yang sejak tadi berdiri di samping Bianca akhirnya ikut menyahut. \"Tapi emaknya si Bian harusnya realistis juga. Coba lo pikir, harga rumah sekarang berapa? Ini sudah bukan zaman dulu yang harga tanah dan bangunan di kota besar cuma lima ribu perak. Gue saja KPR bertahun-tahun nggak kunjung lunas. Terus si Bian mau nikah umur berapa?\"
\"Keburu bangkotan,\" celetuk Mia.
\"Atau, mending lo nggak usah nikah sekalian, Bi. Nemenin gue,\" canda Laura. \"Duit lo kumpulin saja buat nanti kita nyewa panti jompo bareng.\"
\"Anjing lo!\" Bianca tak bisa menyembunyikan tawa. \"Terus si Michael, bagaimana? Masa iya mau dibuang?\" Lalu, dia meraih segelas kopi hitam yang dibuatnya untuk di bawa ke meja kerjanya. \"Sudah. Kerja! Kerja! Pak Raden sudah datang itu.\"
\"Ya elah, baru jam segini sudah muncul saja itu makhluk,\" keluh Mia. Dia ikut mengangkat kopi susu miliknya, menyusul Bianca sebelum Pak Reza, kepala redaksi mereka mengomel.
*_*
Semua karyawan Myth Media sudah tahu betapa cerewet dan menyebalkannya Pak Reza Martadanu. Itulah kenapa para karyawan diam-diam memberinya julukan, meskipun sebenarnya nama Pak Raden terlalu bagus, tetapi dengan badan gempal dan kumis jamplang itu, karakter mana lagi yang lebih cocok untuk menyebutnya?
Toh, menurut Bian dan teman-temannya, nama Pak Raden juga cocok dengannya. Persis karakter Pak Raden dalam serial boneka Si Unyil. Bedanya, ini versi lebih kenyih, lebih sadis dan hobi merasa menang sendiri.
\"Bianca! Mana Bianca?\" kata Pak Reza tepat ketika sampai di depan pintu ruang kerjanya, yang sebenarnya hanya berjarak dua meter dari bangku Bianca. Kalau kata Lau, dengan jarak sedekat itu orang buta pun bisa melihatnya dengan jelas, tapi seakan dunia akan kiamat jika dia tak berteriak, Pak Reza membiarkan suaranya menggema ke seluruh ruangan.
\"Ya, Pak?\" Bianca berdiri dari kursi. Kemudian mengekori pria berbadan tambun itu masuk ke ruangan berdinding kaca tersebut. \"Ada apa ya?\"
Pak Reza tidak langsung menjawab, melainkan mengatur napasnya yang terengah-engah persis setelah mendudukkan bokongnya ke atas kursi kerjanya yang empuk. Setelah dirasa cukup, barulah dia berkata dengan ketus, \"Kamu masih tanya?\" Yang tentu langsung membuat Bianca berpikir, mengorek-ngorek informasi dari kepalanya sendiri, guna mencari apakah akhir pekan lalu baru berbuat kesalahan. \"Astaga, Bianca! Bianca! Harus berapa kali saya bilang, kamu harusnya stand by dua puluh empat jam. Jadi, kalau saya butuh kamu bisa langsung dihubungi. Kalau sudah begini kan kita jadi kehilangan berita penting.\"
\"Tapi kan kemarin memang jatah libur saya, Pak.\" Bianca membela diri. \"Harusnya Bapak hubungi Kak Tari, bukan saya.\"
Pak Reza tampak terkejut, tetapi kemudian malah berkata, \"Lho, jadi kamu berani nyalahin saya?\"
\"Bukan begitu, Pak. Mana berani saya nyalahin Bapak?\"
\"Terus? Siapa dong yang salah di sini?\"
Meski sebal, tetapi sebagai karyawan Bianca bisa apa selain tidak menunjuk dirinya sendiri. \"Saya. Saya yang salah. Karena harusnya kemarin saya angkat telepon Bapak, lalu menyambungkannya ke Kak Tari. Maaf ya, Pak.\"
\"Begitu dong!\" Pak Reza tersenyum, menampilkan deretan gigi renggangnya yang tak lagi rapi. Selain karena sudah berumur, pria itu pun aktif merokok hingga membuat penampilannya persis seperti bapak-bapak cabul di fb, begitu kata Laura. Dan kabarnya, Pak Reza memang doyan mencari mangsa di sana. \"Ya sudah, sana kamu kerja lagi! Cari tahu apa yang belum di dapat media lain soal kejadian topik itu.\"
\"Topik ..., apa ya, Pak?\" tanya Bianca ragu-ragu.
\"Lho, bagaimana sih kamu, Bi!\" Pak Reza terlihat sangat jengkel. \"Semalam. Yang lagi heboh di sosmed. Kelinci kesayangannya Randy Bagaskara ...,\" dia sengaja menjeda, memberi sinyal agar Bianca melanjutkan kalimatnya.
Bianca mengerutkan kening, semakin bingung. \"Randy Bagaskara yang artis itu?\"
\"Nah! Benar!\" Senyuman puas merekah di wajah berminyak Pak Reza. \"Itu kamu tahu. Cepat kerjakan.\" Akan tetapi, melihat keheranan belum hilang dari muka Bianca, pria itu segera berdecih sebal. \"Jangan bilang kamu nggak tahu kalau kelincinya meninggal? Ya ampun, Bianca. Kamu ini jurnalis lho. Masa iya ketinggalan berita sepenting ini.\"
*_*
Penting?
Sejak menjadi jurnalis, Bianca bingung apa arti kata penting sebenarnya? Karena dulu, saat belum bergabung dengan media, dia berpikir bahwa menjadi jurnalis artinya akan memberinya kesempatan mengabarkan informasi-informasi penting pada masyarakat.
Namun sayangnya, ketika sudah benar-benar terjun ke dalamnya, Bianca justru harus menulis berita duka dari seekor kelinci yang mati keracunan.
\"Penting buat lo, bukan berarti penting buat orang lain, Bi, begitu pun sebaliknya,\" ujar Mia saat mendapati Bianca mengomel di depan laptop. \"Sudahlah, turuti saja apa maunya. Toh, masyarakat sendiri memang lebih demen kan sama berita ginian. Coba deh lo kasih berita politik atau korupsi, kagak bakal dibaca.
\"Berita kecelakaan saja bukannya fokus ke kenapa bisa terjadi, mereka malah lebih senang cari konspirasinya. \'Apa Anda punya firasat?\', \'Apakah tempat ini angker\', \'Ini pasti ada inilah dan itulah\'.\" Mia melanjutkan dengan cara bicara yang dilebih-lebihkan, membuat Bianca mau tak mau tertawa. \"Begitu dong, ketawa. Orang kayak kita kerja harus bahagia, Bi. Biar nggak cepat tua.\"
\"Ya, ya.\"
\"Ingat, demi rumah! Jadi bertahanlah.\"
Bianca nyengir.
\"Namanya juga kerja ikut orang, kalau mau enak ya kerja saja ikut keluarga!\" sahut Laura dari kursi di belakang Bianca, membuat gadis itu melirik cepat. \"Eh, nggak ding, kerja sama keluarga juga kadang bisa lebih ribet. Kayak sepupu gue noh, dia kerja ikut emaknya jualan kerupuk, tiap hari dimarahi mulu. Akhirnya, dia buku pabrik kerupuk sendiri.\"
Benar. Kali itu Bianca setuju.
Sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga Harsono Wijaya, bohong kalau Bianca tidak akan diberi pekerjaan kalau meminta, bahkan kalau mau, Bianca bisa saja langsung diberi jabatan bagus di perusahaan keluarganya. Masalahnya, dengan status hubungannya bersama Michael, mau sampai kapan Bianca menggantungkan hidup pada orang tuanya? Yang ada, dia akan terus terkungkung dalam bayang-bayang dan ketek orang tuanya. Selain tidak bisa mandiri, mamanya pasti akan membahasnya terus menerus. Sialnya, kuping Bianca tak sekuat itu untuk mendengar makian mamanya.
Inilah kenapa dia lebih memilih bekerja di bawah tekanan Pak Reza, yang melihatnya murni sebagai pekerja, bukan sekadar anak dari Harsono Wijaya. Terbukti dari dua tahun Bianca bekerja di sana, tanpa membawa nama orang tuanya, dia bisa bertahan.
*_*
Bianca mencitrakan dirinya sebagai anak pedagang rawon, tidak sepenuhnya bohong sebab orang tuanya memang punya restoran yang menjual makanan tradisional, salah satunya rawon.
Sebagai bukti, dia sering membawa rawon buatan mamanya ke kantor. Yang menurut teman-temannya, \"rasa masakan nyokap lo autentik, mirip yang dijual di restoran Mama Tia.\"
\"Coba deh suruh nyokap lo jualan di ojol. Pasti laris banget.\"
\"Kalau seenak ini sih gue rela beli tiap hari.\"
\"Kalian biasa saja,\" kata Bianca malu-malu, membuat temannya mengira dia tersipu karena dipuji, tanpa mereka tahu bahwa yang dimakannya memang buatan Mama Tia alias Sintia, ibu kandung Bianca. \"Nyokap gue sudah tua. Kasihan kalau harus masak beginian tiap hari.\"
\"Terus, kenapa nggak lo saja yang mewarisi resepnya?\"
\"Lo kan tahu, Lau, kalau gue nggak bisa masak? Nggak bakat.\" Bianca membuat alasan.
Namun, kalau teman-temannya benar-benar sudah kepingin, dan ada acara spesial di kantor, Bianca tetap akan mencuri-curi alasan agar mamanya mau memasakkannya, atau kalau tidak, dia akan membeli sendiri ke restoran, meskipun untuk pilihan terakhir jelas menguras kantongnya.
Tepat ketika Bianca sedang mencari-cari bahan penunjang artikelnya, tiba-tiba saja gawainya berdering, menampilkan nama MAK LAMPIR di sana. Dia menghela napas panjang, lalu mengangkatnya. \"Halo, Ma?\"
\"Kamu bagaimana sih, Bi?\" Alih-alih sapaan balik, yang Bianca terima justru bentakan. \"Mama kan sudah bilang kalau hari ini kita harus ke notaris, kok kamu malah ngantor?\"
Bianca diam sejenak, melirik ke arah kalendar yang dia pasang di sudut meja. \"Argh, aku lupa, Ma. Ya sudahlah, Mama sama Kak Tommy saja cukup. Aku manut apa pun hasilnya.\"
\"Ya tidak bisa begitu dong, Bi. Mama nggak mau ya kalau di masa depan anak-anak Mama berantem gara-gara warisan. Pokoknya kamu harus dateng. Titik.\"
\"Aduh! Aku lagi banyak kerjaan ini, Ma.\"
\"Kamu pikir dirimu doang yang sibuk? Mama dan kakakmu juga sibuk, Bianca, tapi kami meluangkan waktu. Ini bukan hanya demi kamu, tapi juga keluarga dan seluruh karyawan kita.
\"Sudahlah! Mama nggak mau tahu pokoknya kamu harus ke sini. Cepetan!\"
\"Ta –\"
Klik.
Sambungan diputus.
Bianca menghela napas panjang, lalu memutar bola matanya malas. Merutuki nasibnya yang terjebak antara dua bos galak.
*_*
\"Izin lagi, izin lagi!\" Pak Reza berkomentar saat Bianca menyampaikan keperluannya. \"Kamu itu dibayar buat kerja, Bi. Bukan buat leha-leha.\"
\"Saya tahu, Pak, tapi ini darurat,\" pinta Bianca dengan muka se-me-melas mungkin. \"Ibu saya sendirian lho, Pak. Kalau sampai dia kenapa-kenapa, bagaimana? Memang Bapak mau tanggung jawab?\"
\"Kenapa jadi saya?\" Pak Reza berdecih. \"Ya sudah, kamu boleh pulang. Tapi ingat, kamu bawa laptop sekalian ya? Kerjain tugasmu di jalan. Kalau sudah selesai nganterin ibumu ke puskesmas, cepat balik ke sini. Paham?\"
Other Stories
Bunga Untuk Istriku (21+)
Laras merasa pernikahannya dengan Rendra telah mencapai titik jenuh yang aman namun hambar ...
Weird Husband
Kanaya bersinar di ballroom Grand Hyatt Jakarta, mengenakan gaun emerald dan kalung berlia ...
Lydia
Di usianya yang menginjak tiga puluh satu tahun, Lydia merasa waktu berjalan terlalu cepat ...
Gm.
menakutkan. ...
Bungkusan Rindu
Setelah kehilangan suami tercintanya karena ganasnya gelombang laut, Anara kembali menerim ...
O
o ...