Tirmo Ghar

Reads
1
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

3

CHANIRA tampak senang karena disambut hangat oleh Kisan Muda saat sampai di rumahnya. Perkataan Ama bahwa Kisan Muda juga bisa menjadi tempatnya untuk pulang, barangkali ada benarnya, pikir Chanira. Sosok Kisan Muda yang sangat gagah membuat Chanira merasa aman dan berharap bisa menjadi figur ayah baginya. Firasatnya juga memberitahu bahwa ia akan tinggal di rumah ini dalam keadaan yang baik-baik saja.

Di rumah Kisan Muda, terdapat tiga anggota keluarga: Kisan Muda yang biasa dipanggil Kopral Faneel sebagai kepala keluarga, Nyonya Manisya sebagai ibu rumah tangga, dan Gopal; anak tunggal keluarga Thapa yang masih bayi.

Setelah Kopral Faneel mengantar Chanira di depan ruangan yang akan menjadi kamar Chanira, ia segera pergi untuk kembali bertugas. Biasanya, Kopral Faneel akan pulang setiap seminggu sekali, dan sekarang Chanira harus melayani permintaan Nyonya Manisya berdasarkan peraturan yang dibuat oleh Nyonya Manisya sebagai berikut:

1. Chanira harus bekerja dari pukul 04.00 hingga 00.00 setiap hari. Tidak boleh kurang, dan bisa saja lebih.

2. Jika tidak disiplin, mengabaikan tugas, atau tidak dapat menyelesaikan tugas dengan baik, Chanira akan dikenakan hukuman ringan, yaitu dipukul dengan wajan.

3. Jika Chanira berusaha melarikan diri selama kontrak masih berlaku, keluarga Thapa akan meminta ganti rugi kepada Kisan Tua dalam bentuk denda seharga kontrak yang disepakati.

4. Jika terjadi pelanggaran terhadap ketiga poin yang telah disebutkan, Chanira akan dikenakan hukuman berat: dijual ke rumah bordil di Baglung.

Acha[1]? Apa kau mengerti dengan semua aturan yang sudah saya sebutkan, Si Juling Jelek? Mulai besok kau harus mematuhi semua aturan itu. Oh, bantu kami dewa. Semoga bocah ini tidak membawa keburukan,” kata Nyonya Manisya. Ia merasa bahwa bola mata kanan Chanira yang juling itu akan mendatangkan kesialan di rumahnya.

Chanira mengangguk dan diam selama beberapa detik. Sekali lagi, ia mendengar kata \'Baglung,\' yang semakin memperkuat firasat buruknya bahwa tempat itu adalah tempat yang berbahaya. Firasat buruk itu membikin jantung Chanira berdegup lebih kencang. Apa aku bisa melakukan semua pekerjaan ini? Bagaimana jika aku gagal? pikirnya. Namun, saat wajah Nyonya Manisya tampak memerah dan tampaknya akan marah, Chanira segera menjawab, “Saya mengerti, Nyonya. Benar-benar sudah mengerti. Saya juga sudah mengingatnya.”

Biasanya, dalam sehari Chanira hanya makan, tidur, bermain, membantu Ama, makan lagi, tidur lagi, bermain lagi, dan membantu Ama lagi. Namun, hari ini Chanira harus bekerja, bekerja, dan bekerja, dengan sangat disiplin.

Chanira bagun dari tempat tidur yang kasar dan kotor. Tak lama kemudian terdengar suara Nyonya Manisya yang begitu lantang. “Chanira oh Chanira! Sekarang sudah jam empat pagi. Ini waktunya kau mencuci pakaian!”

Chanira segera berlari ke ruang belakang untuk menghampiri sumber suara itu. Ia melewati lorong-lorong berlantai kayu salla menuju sebuah pintu berwarna biru muda. Setelah sampai, ia melihat Nyonya Manisya yang sedang menunggu dengan sekeranjang pakaian kotor. Lalu, Chanira menjawab, “Si-siap, Nyonya Manisya!”

“Cuci pakai alat ini! Sabunnya ada di atas dekat baskom warna ungu,” kata Nyonya Manisya sembari menunjuk ke mesin cuci. Chanira yang baru pertama kali melihat mesin cuci, tampak sangat takjub. Di matanya benda tersebut adalah benda ajaib yang berasal dari masa depan, dan tentu saja ia belum mengerti cara menggunakannya.

“Si-siap, Nyonya Manisya!” ucap Chanira. Dan ketika Chanira hendak melanjutkan perkataan dengan sebuah pertanyaan bagaimana cara menggunakan mesin cuci, Nyonya Manisya langsung cepat-cepat pergi karena mendengar suara tangis Gopal.

“Bagaimana ini?” gumam Chanira.

Biasanya, ia dan Ama mencuci pakaian di tepi sungai. Namun, kenyataannya sekarang ia harus mencuci menggunakan mesin cuci. Chanira betul-betul bingung. Di sela-sela kebingungan itu, ia teringat perkataan Ama bahwa dua hal yang harus ada ketika mencuci adalah air dan sikat. Beruntung di sini juga ada sabun. Chanira pun teringat perkataan Ama bahwa sabun juga penting untuk mencuci. Dengan cepat, ia menyiapkan air di baskom, sabun, dan mencari sikat. Namun, sikat tak kunjung ia temukan.

“Hm … apa mungkin Nyonya Manisya menaruh sikat di dalam mesin cuci itu?”

Chanira mengambil dingklik untuk bisa menggapai penutup. Setelah sampai ia pun membu-kanya. Di sana ia melihat sesuatu yang bentuknya mirip seperti roda gerobak milik tetangganya di Dang. Ia terus melihat dan memperhatikan.

“Sepertinya …. Aha! Aku punya ide!”

Chanira memasukkan semua pakaian kotor itu ke mesin cuci beserta air dan sabun, lalu ia juga memasukkan dirinya ke mesin cuci. Ia berencana menjadikan pulsator atau baling-baling mesin cuci itu—yang menurut Chanira bentuknya mirip roda gerobak—sebagai sikat. Ia mengucek baju dan celana ke baling-baling itu. Berfungsi!

“Tapi kenapa harus di dalam sini? Dan buat apa tombol kelap-kelip itu?” keluh Chanira.

Tak berselang lama setelah ia mengeluh, suara Nyonya Manisya kembali terdengar, “Chanira oh Chanira! Siapkan makan!”

Buru-buru Chanira memanjat keluar. Sekarang celananya basah kuyup, tetapi hal tersebut ia abaikan dan langsung berlari menuju dapur.

“Ini daal bhat, nasi, bayam, mangga, dan teko teh. Taruh segera di meja makan! Acha?”

Chanira bergerak ke meja makan, menatanya dengan baik, lalu cepat-cepat kembali ke mesin cuci. Namun, ketika baru saja ia sampai di sana, Nyonya Manisya kembali memanggil, “Chanira oh Chanira! Cuci piring!”

Chanira langsung berlari ke dapur lagi dengan celana yang semakin basah. Di dapur, ia mencuci lima belas piring dengan cepat. Ia cuci-cuci-cuci dengan cepat dan selesai. Kemudian, ia langsung kembali ke mesin cuci dan mengucek pakaian demi pakaian. Ia menyiramkan air busa ke baju dan menguceknya. Ia sedikit mengangkatnya, lalu kembali menguceknya. Sampai kemudian, ia mendengar: pluk, ada yang melempar pakaian kotor, tepat mengenai kepalanya. Ia pun berdiri, tetapi ... plak, ada yang menutup mesin cuci itu. Lalu … ting, suara itu terdengar aneh bagi Chanira. Tak lama kemudian suara lain menyusul dengan begitu keras dan khas. Setelah itu, di dalam sana perlahan-lahan mengucur air yang deras. Semakin lama semakin deras sehingga membikin tubuh Chanira sangat berbusa. Busa-busa itu sampai memasuki hidung dan telinga Chanira.

Chanira berusaha keras untuk meloloskan diri dari mesin cuci yang semakin menenggelamkannya. Namun, usaha tersebut gagal. Sekarang, suara mesin cuci sedikit berubah yang membikin baling-baling berputar kencang. Chanira menyadari hal buruk apabila baling-baling itu berputar kencang, ia pun langsung menahannya menggunakan kaki. Namun, tenaga Chanira tidak cukup kuat sehingga membuat tubuhnya berputar-putar seperti melakukan tarian dhime naach khas komunitas Newar di lembah Kathmandu.

Beberapa saat kemudian, Nyonya Manisya kembali memanggil Chanira, tetapi tentu saja Chanira tidak dapat mendengarnya.

“Chanira oh Chanira! Sapu lantai!”

“Chanira oh Chanira!”

“CHA-NI-RA!”

Beruntung, Chanira diselamatkan oleh Bibi Sita—si juru masak keluarga Thapa—ketika Bibi Sita mendengar suara yang tak biasa dari mesin cuci tersebut. Ia pun berkata kepada Chanira, “Beruntung Bibi cepat sadar. Maafkan Bibi, Bibi pikir kamu lupa menutupnya, Nak. Apa kamu terluka?”

Chanira menggeleng, lalu dirinya hanya mematung karena selain Bibi Sita, Nyonya Manisya juga sedang berada tepat di depannya.

“Chanira oh Chanira! Kenapa kau malah basah-basahan? Kau mau main-main, ya?” bentak Nyonya Manisya, bola matanya memelotot seperti mau copot. Chanira hanya menunduk, diam. “Baru dua jam kerja, kau sudah seperti ini! Itu namanya mesin cuci, dasar kampungan! Oh, bantu kami dewa ….”

“Ma-maaf, Nyonya Manisya. Ksama[2] … ksama,” ujar Chanira sambil berlutut dan menundukkan kepala di hadapan Nyonya Manisya. Sementara itu, Bibi Sita yang tidak berani membela Chanira karena takut akan dimarahi Nyonya Manisya, segera kembali ke dapur.

Mendengar permintaan maaf dari Chanira, Nyonya Manisya seolah tidak peduli. Ia menarik Chanira dan menggeretnya menuju dapur. “Sini! Ikut saya!”

Di dapur, Nyonya Manisya mengambil sebuah wajan, lalu ia berteriak sembari memukulkan wajan itu ke pantat Chanira. “Inilah akibatnya jika tidak becus bekerja! Oh, bantu kami dewa.”

Chanira memohon, ia begitu kesakitan. “Sakit Nyonya Manisya! Sakit! Ampun! Ampun! Ampun!”

Namun, tetap saja Nyonya Manisya berkali-kali memukulinya tanpa rasa kasihan.

“Satu! Dua! … tiga puluh! Mengerti, acha? Lebih baik seperti ini daripada kami jual ke Baglung!”

“Ampun-ampun-ampun-ampun-ampun!”

Chanira semakin mengerang. Kini, kedua kakinya gemetar dan tak sanggup lagi menahan tubuh bagian belakang yang semakin bengkak itu, sehingga ia jatuh terguling dengan wajah menghadap lantai. Ia hanya bisa pasrah dan menunggu, sambil berharap bahwa bentakan dan pukulan dari Nyonya Manisya akan dihentikan langsung oleh dewa, oleh leluhur, oleh roh alam.

Alam memang selalu baik kepada manusia, ia betul-betul pandai mengelola hukum sebab akibat. Sebab di dapur Nyonya Manisya begitu bising memukuli Chanira, akibatnya Gopal, yang sedang tidur, terbangun dan menangis dengan begitu kuat. Suara itu membikin Nyonya Manisya berhenti memukuli Chanira. Wajan dibanting begitu saja, Nyonya Manisya cepat-cepat menghampiri Gopal, dan perlahan-lahan Chanira bangkit dan terduduk lemas di lantai.

Lantai itu basah akibat air yang menetes dari pakaian Chanira. Semakin lama semakin basah karena air mata Chanira juga menetes. Bibi Sita yang sejak tadi hanya bisa menyaksikan Chanira dari balik lemari makanan, kini membantu Chanira untuk berdiri. Ia pun mengelap air mata Chanira menggunakan serbet, lalu mengantarnya ke kamar. Di kamar, ia membantu Chanira untuk mengganti pakaian, kemudian mengolesi minyak urut ke tubuh Chanira yang bengkak.

“Pantatku ngilu. Tubuhku gemetaran. Aku kesulitan berjalan,” rengek Chanira di depan Bibi Sita.

“Seperti itulah sifat Nyonya Manisya. Kamu harus kuat. Kamu harus bisa melayaninya dengan baik, Nak,” ucap Bibi Sita.

“Aku tidak menyangka sifat Nyonya Manisya itu seperti monster,” kata Chanira sambil mengelap air mata dengan saputangan pemberian Ama. “Aku, kan masih anak kecil, Bi. Tidak seperti Bibi yang sudah besar, yang sudah mengerti banyak hal.”

“Sekarang bukan saatnya membandingkan siapa yang masih kecil dan siapa yang sudah besar, Nak. Bibi juga sering kena pukul Nyonya Manisya. Sekarang adalah tentang bagaimana cara menyesuaikan diri agar orang-orang miskin macam kita bisa menyambung hidup di tempat orang kaya.”

“Ba-bagaimana caranya, Bi?”

“Kata mendiang buba Bibi, setiap orang memiliki kemampuan unik yang berbeda, Nak. Kemampuan itulah yang membuat Bibi mampu menyesuaikan diri dan bertahan di tempat ini.”

“Kemampuan unik? Tapi, aku tidak tahu apa kemampuan unikku, Bi. Kemampuan unik Bibi apa?”

“Mungkin Bibi pandai memasak, makanya Nyonya Manisya mempertahankan Bibi untuk bekerja. Jika kamu belum mengetahui apa kemampuan unikmu, lakukan saja segalanya dengan sebaik mungkin. Suatu saat kamu juga pasti akan mengetahuinya, Nak.”

Setelah tiga puluh menit Chanira mengobrol dengan Bibi Sita, ia segera kembali melayani perintah Nyonya Manisya untuk menyapu, mengepel, dan membersihkan perabot. Meskipun Chanira masih merasakan sakit, ia terus menyanggupi perintah Nyonya Manisya dengan baik, agar rasa sakit tersebut tidak bertambah. Namun, dua jam setelah berhasil mengerjakan tugas dengan baik, Nyonya Manisya kembali memukuli Chanira karena bau amis dari piring yang dicuci Chanira; yang dianggap Nyonya Manisya tidak bersih.

Empat jam, delapan jam, sembilan belas jam, dan hingga tengah malam tiba, Chanira telah menerima 120 pukulan hari ini. Ia benar-benar ketakutan dan kesakitan. Di hadapan patung dewa, ia berdoa, “Dewa, bawa Ama ke sini untuk menjemputku pulang. Kripaya[3] … kripaya … kripaya.




[1] Baik.

[2] Maaf.

[3] Mohon.


Other Stories
Dia Bukan Dia

Sebuah pengkhianatan yang jauh lebih gelap dari perselingkuhan biasa. Malam itu, di tengah ...

Separuh Dzrah

Saat salam terakhir dalam salat mulai terdengar, di sana juga akan mulai terdengar suar ...

Sumpah Cinta

Gibriel Alexander,penulis muda blasteran Arab-Jerman, menulis novel demi membuat mantannya ...

Cahaya Dalam Ketidakmungkinan

Nara pernah punya segalanya—hidup yang tampak sempurna, bahagia tanpa cela. Hingga suatu ...

...

Kamera Sekali Pakai

Seorang perempuan menghabiskan liburan singkat di sebuah kota wisata, berharap jarak dapat ...

Download Titik & Koma