Tiga Belas
Bisakah aku mempercayai orang lain setelah semua yang aku alami ini? —Aru Lohia
***
Aru lagi-lagi mencoba untuk bangkit, tetapi kekuatan di tubuhnya terasa memudar, meninggalkannya jatuh untuk ke sekian kalinya. Namun, tekadnya makin besar agar bisa membantu Mea-Dai yang tertusuk anak panah yang memelesat cepat mengenai dada atasnya.
Aru mengumpulkan tenaganya dan sekali lagi mencoba untuk berdiri dan akhirnya dia mampu mengendalikan rasa sakit di kakinya. Dia kemudian memfokuskan diri untuk menghampiri ibu angkatnya, meski jalannya terseok-seok.
Dalam keadaan yang sangat kacau balau dan orang-orang saling serang menggunakan senjata masing-masing, Aru meraih tangan Mea-Dai yang sudah tak sanggup menopang tubuhnya sendiri, mencoba menariknya ke tempat perlindungan. “Kita harus pergi, Sina. Kita harus pergi seperti katamu,” ucapnya dengan suara gemetar, sementara matanya terus memantau bayangan orang-orang yang tercipta dari lidah-lidah api yang bergerak beringas di sekitarnya.
Mea-Dai menatap mata Aru dengan ekspresi campuran rasa sakit dan kekhawatiran yang dalam. “Aru, pergilah. Jangan khawatirkan Sina. Kau harus menyelamatkan dirimu sendiri,” bisiknya dengan suara yang rapuh.
Namun, Aru menolak untuk meninggalkan ibu angkatnya sendirian di tengah kekacauan tersebut. Dengan tekad yang teguh, dia mencoba mengangkat Mea-Dai, meskipun langkahnya goyah dan sering terhenti.
“Sudahlah, Nak. Tinggalkan Sina.”
“Lasi,” balas Aru penuh tekad. “Sina tak meninggalkanku bertahun-tahun lalu, ketika semua orang ingin membunuhku.”
Ucapan Aru membuat Mea-Dai tertegun.
“Aru—”
“Diamlah, Sina! Aku yakin bisa menyelamatkanmu.”
Saat mereka berdua tersandung dan terjatuh, Aru merasa putus asa dan kehilangan arah. Dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, ketakutan dan kebingungan merajalela di dalam dirinya.
Di bawah bayangan api yang masih membara, mereka berdua berjuang untuk bertahan hidup, terpisah oleh rasa sakit dan keputusasaan yang mendalam.
Sekali lagi mereka terjatuh.
“Aru, cukup.” Mea-Dai yang makin melemah meraih tangan Aru untuk berhenti. “Selamatkan dirimu sendiri.”
Aru mengabaikan Mea-Dai dan terus menarik ibu angkatnya itu dan mencari tempat berlindung.
Mea-Dai yang menahan rasa sakit terus berusaha mengehentikan Aru. Rahangnya bergetar saat dia berbicara dengan suara yang lemah. \"Aru, Sina masih berhutang satu cerita kepadamu, kan,\" ucapnya dengan napas yang tersengal-sengal.
Aru berhenti sejenak dan berkata, “Demi Roh Alam, ini bukan saatnya bercerita, Sina.” Dia berusaha tuli dari racauan Mea-Dai.
“Setelah mendengar ini, kau harus meninggalkan Sina.”
“Lasi.”
Dengan desahan panjang yang terdengar seperti gemuruh badai, Mea-Dai mengungkap sebuah kebenaran. “Aku … aku adalah yang membunuh ibumu, Aru,” ucapnya dengan suara serak, diselingi dengan batuk yang keras.
Aru langsung berhenti. “Apa?” Dia yakin situasi kacau itu membuat pendengarannya memburuk.
Mea-Dai, dengan rasa menyesal yang mendalam dan tubuhnya yang mulai melemah, mencoba menjelaskan alasan di balik tindakannya. “Aku ….”
—Aku, dan sebuah penyesalan—
Inikah akhirnya?
Aku berjalan terlalu cepat hingga menimbulkan suara berisik di hutan yang sunyi ini.
Inikah akhirnya? Kalimat itu terus terulang dalam kepalaku.
Aku pada akhirnya meninggalkan anak itu dalam bahaya besar. Aku meninggalkannya. Akhirnya. Akhirnya aku meninggalkannya.
Aku meninggalkannya.
Tapi, apa ini?
Aku mengusap air mata yang mulai membuat pandanganku buram.
Kenapa aku menangis?
Aku terus mengusap air mataku yang kian mengalir deras. Apa ini? Kenapa aku menangis? Tidak. Seharusnya aku tidak menangis.
Bukankah ini tujuanku sejak awal? Aku ingin membunuhnya. Sejak lama aku ingin membunuhnya.
Tapi kenapa aku menangis?
Aku menghentikan langkahku. Lalu tubuhku memerosot. Aku memukul tanah dengan keras. PERASAAN APA INI? Kenapa aku menangis? Kenapa terasa sakit?
Hari itu, ayahku meninggal secara mendadak. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Yang kutahu, beberapa waktu sebelumnya dia mengeluhkan rasa sakit di dadanya. Saat kematiannya itu, aku sangat bingung. Sementara suku kami tidak menerima jika ada orang yang mati secara mendadak. Perempuan selalu menjadi orang pertama yang disalahkan. Maka demi mengamankan diriku sendiri, aku menuduh Noa membunuh ayah kami.
Aku menuduhnya menggunakan sihir, hal yang paling dianggap hina oleh warga desa kami. Aku juga yang memberitahukan letak gubuk itu dan mengatakan, “Dia pergi diam-diam, meninggalkan api suaminya, dan melakukan sihir untuk menguasai semua harta keluarga dan rumah.”
Tak kusangka jika ibuku juga dibunuh saat itu juga. Rumah kami juga ikut dimusnahkan. Aku merasa terkejut, tetapi kebencian membutakan diriku. Yang kupikirkan saat itu hanyalah: bagaimana jika Lohia tiba-tiba pulang dari perjalanan hiri? Apa yang harus aku katakan?
Aku membawa anak itu pergi dari desa. Aku yang membawanya masuk ke hutan. Aku ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri, alih-alih membiarkan warga desa yang melakukannya.
Harusnya aku segera meninggalkannya begitu ada hewan buas yang mendekati kami. Harusnya aku segera mendorongnya begitu kami melewati tepi jurang. Harusnya aku menenggelamkannya di sungai, bukan malah mengajarinya berenang.
Aku …. Apa yang yang aku lakukan selama ini?
Aku membawanya pergi agar seolah-olah dipandang sebagai perempuan berbudi yang berusaha menyelamatkan seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Aku membawanya pergi dengan sebuah siasat: membunuhnya, kemudian segera kembali ke desa dan menemui Lohia, ayah anak itu, pria yang kucinta.
Sudah kususun skenario agar aku tampak seperti penyelamat di hadapan Lohia, tetapi aku tak mampu sepenuhnya melindungi anak itu sebab alam lebih kejam. Namun ….
KENAPA AKU JUSTRU SELALU MELINDUNGINYA? Lagi dan lagi. Aku terus menerus melindunginya dari bahaya.
Kenapa?
Aku memukul-mukul dadaku. Kenapa rasanya sesak sekali?
Aku membencinya. Aku seharusnya membencinya. Dia anaknya Noa. Dia anak Noa, orang yang paling aku benci karena telah menyebabkan semua penderitaan dalam hidupku.
Noa ….
Aku tertawa getir mengingat bagaimana saudariku selalu tampil sempurna di mata semua orang, termasuk orang tuaku. Aku tertawa makin keras saat mengingat bagaimana dia dengan mudah mendapat semua yang dia mau dari orang tua kami. Bahkan Lohia, orang yang juga kucintai secara diam-diam.
Aku membencinya!
Maka seharusnya aku bahagia ketika meninggalkan anak itu, anak Noa.
Aku tahu apa yang pria itu katakan. Pria penuh luka yang terjatuh di hadapan kami waktu itu. Dia mengatakan, “Jangan menyeberangi sungai.”
Aku tahu dengan sadar bahwa tempat itu pasti sangat berbahaya. Maka aku mengajak anak itu pergi ke sana sebab aku ingin membunuhnya. Aku ingin membawanya ke tempat yang berbahaya.
Apa yang terjadi? Apa ini? Perasaan apa yang aku hadapi kali ini?
Untuk terakhir kalinya aku mengusap air mataku, lantas lekas berdiri. Aku harus segera pergi. Ya, aku harus pergi dari tempat ini. Mungkin aku bisa kembali ke desa. Mungkin Lohia menungguku di sana. Namun, kakiku malah berbalik dan berlari kencang ke arah sebelumnya.
“Lasi.”
Aku terus berlari dengan perasaan takut.
Aku takut anak itu mati. Tidak, tidak. Bahkan aku takut dia terluka sedikit saja.
Tidak bisa. Dia tidak boleh mati. Aku harus kembali. Aku harus menyelamatkannya. Aku harus kembali untuknya.
Anakku ….
Dia anakku. Aku yang membesarkannya selama sepuluh tahun terakhir. Aku yang mengajarinya banyak hal. Dia anakku, kan?
Aku ibunya.
Tak pernah aku merasakan perasaan sebesar ini. Apakah ini hukuman dari alam? Apakah ini harga yang harus kubayar karena melenyapkan keluargaku sendiri?
“Lasi.”
Anakku, Aru. Tolong bertahanlah.
Other Stories
Akibat Salah Gaul
Nien, gadis desa penerima beasiswa di sekolah elite Jakarta, kerap dibully hingga dihadapk ...
Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya
Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...
Makna Dibalik Kalimat (never Ending)
Rangkaian huruf yang menjadi kata. Rangkaian kata yang menjadi kalimat. Kalimat yang mungk ...
Melepasmu Dalam Senja
Cinta pertama yang melukis warna Namun, mengapa ada warna-warna kelabu yang mengikuti? M ...
Ruf Mainen Namen
Lieben .... Hoffe .... Auge .... Traurig .... ...
Kasih Ibu #1 ( Hhalusinada )
pengorbanan seorang ibu untuk putranya, Angga, yang memiliki penyakit skizofrenia. Ibu rel ...