Aru Dan Memoar Yang Hilang

Reads
25
Votes
0
Parts
20
Vote
Report
aru dan memoar yang hilang
Aru Dan Memoar Yang Hilang
Penulis Atpress2014

Tujuh Belas

Manusia diciptakan oleh alam, hidup dengan alam, lalu mati dan kembali kepada alam. Namun, apakah kematian itu menjadi anugerah atau hukuman, manusia itu sendiri yang menentukan. —Aru Lohia

***

“Kenapa kau membawanya kemari?”

“Dia tak berbicara sepatah kata pun. Aku harus apa selain membawanya kemari?”

“Ya, dia benar. Joseph menyuruh kita menyelamatkan semua yang bisa diselamatkan. Kita berutang budi kepadanya dan dia pun membayar ini dengan mahal. Kita tak bisa curang.”

“Lalu kapan Joseph dan rombongannya akan datang?”

“Entah, mungkin besok?”

Aru duduk menjauh dari yang lain. Arah matanya berpindah-pindah mengamati ekspresi orang-orang yang berbicara. Namun, tetap saja dia tak mampu memahami perkataan mereka.

Mengabaikan orang-orang yang masih berbincang, mata Aru beralih meneliti gua besar yang ditempatinya. Gua itu … lebih tampak seperti rumah besar yang ditinggali lebih dari sepuluh orang dalam satu kelompok. Terasa hangat dan nyaman.

Beberapa saat kemudian, sebuah rombongan datang memasuki gua. Terdiri dari empat pria berkulit putih yang disambut ramah.

Siapa lagi mereka?

“Kalian datang lebih awal dari perkiraan,” kata seorang pria tua menyambut rombongan orang putih itu. Mereka bercengkerama dengan hangat. Aru bahkan bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka bisa akrab begitu saja?

Salah satu orang putih itu menyadari keberadaan Aru. Dia mendekat, lalu berjongkok di dekat anak perempuan itu.

Aru refleks mundur karena ketakutan.

“Siapa dia?” tanya orang putih itu. Dia memegang janggutnya yang ditumbuhi jenggot berwarna kemerahan, sewarna dengan rambutnya.

“Kami menyelamatkannya dari kelompok pemburu kepala. Dia tak berbicara sedikit pun, jadi kami membawanya kemari.”

Orang itu bertubuh besar, hampir sama dengan pria yang menyiksanya waktu itu. Dia mendekat lagi hingga membuat Aru makin takut. Mau mereka apakan dia?

“La-lasi,” cicit Aru.

“Lasi?” ulang orang putih yang berjenggot. “Apa dia dari Port Moresby?” gumamnya.

“Ada masalah apa, Mate?” tanya orang putih lainnya. Yang satu ini rambutnya lebih gelap, kulitnya juga lebih cokelat, tetapi masih tampak putih jika disandingkan dengan Aru dan orang-orang dari suku di gua ini.

“Kurasa dia orang Motu atau mungkin Koitabu,” bisik pria berjenggot.

“Benarkah?” tanya pria yang rambutnya lebih gelap. “Bagaimana mungkin bisa sampai sejauh ini?”

Pria yang rambutnya lebih gelap kemudian mendekati Aru dan bertanya, “Siapa kamu?” menggunakan bahasa orang-orang Motu.

Mata Aru melebar. Dia bisa bahasanya?

“Sepertinya kau mengerti bahasa ini, ya? Kutanya sekali lagi, siapa kamu?” Pria itu mendekat dengan raut yang bersahabat. “Aku tidak akan menyakitimu,” tambahnya.

Bisakah Aru mempercayainya?

Aru tak menjawab, tetapi dia menggeleng untuk pura-pura tidak mengerti.

Akan tetapi, gerakan polosnya itu membuat pria berambut cokelat gelap langsung tertawa antusias, lalu mengatakan pada rombongannya bahwa ‘anak itu benar-benar orang Motu’.

Rombongan orang-orang putih itu langsung menggerombol mengelilingi Aru, membuat anak perempuan itu merasa tak nyaman. Aru menggigiti jempolnya karena mereka berebutan untuk mengajaknya mengobrol.

Mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengannya. Bisakah Aru mempercayai mereka? Atau haruskah dia menunjukkan sikap bahwa dia menolak berbicara dengan mereka?

Bagaimana dia harus bertindak? Sudah lama dia tak bercakap-cakap dengan orang asing.



Other Stories
Haruskah Bertemu?

Aku bertemu dengan wanita di gerbong yang sama dengan satu kursi juga. Dia sangat riang se ...

Anak Singkong

Sebuah tim e-sport dari desa, "Anak Singkong", mengguncang panggung nasional. Dengan strat ...

Sinopsis

hdhjjfdseetyyygfd ...

Perjalanan Terakhir Bersama Bapak

Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...

Bali Before Sun Set

Perjalanan di pulau dewata tak hanya menyajikan sesuatu yang amat indah untuk di pandang t ...

Dengan Ini, Saya Terima Nikahnya

Penulis pernah menuntut Tuhan memenuhi keinginannya, namun akhirnya sadar bahwa ketetapan- ...

Download Titik & Koma