Aru Dan Memoar Yang Hilang

Reads
7
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
aru dan memoar yang hilang
Aru Dan Memoar Yang Hilang
Penulis Atpress2014

Dua

Sepanjang hidup, aku berlari dan terus berlari menjauh dari para manusia yang memburuku tanpa aku tahu alasan yang membuatku diburu. Bahkan aku tak diberi kesempatan bertanya, sekalipun itu tentang ibu kandungku sendiri. —Aru Lohia

***

Dengan hati yang berdegup kencang, langkah kaki telanjang Aru semakin cepat. Suara dedaunan kering berpadu dengan ranting yang terinjak kaki anak perempuan berambut keriting itu menembus kesunyian malam. Dia merambah lebatnya belukar untuk memintas jalan tanpa memedulikan duri-duri kecil yang menggores tubuh gelapnya.

Kaki Aru berhenti secara mendadak. Sebuah lembah yang tak terlalu curam menyambutnya di depan sana.

Tak ada waktu lagi untuk berpikir, sementara langkah lainnya menyusul dari belakang, makin mendekat, diiringi gonggongan anjing liar dengan melodi khasnya.

Anak perempuan berkulit gelap itu langsung memerosotkan tubuhnya ke dalam lembah dan tubuhnya berguling-guling menghantam apa pun yang menghalangi jalannya.

“Ah!” pekik Aru saat pinggangnya menghantam batu. Lantas dia berusaha bangkit semampunya dan merangkak pelan mencari persembunyian.

Suara anjing liar masih menggaung, tetapi terdengar mulai menjauh. Aru menghela napas karena berhasil melarikan diri dari singing dog itu.

Aru bersandar pada bebatuan di belakangnya sambil mengatur pernapasannya yang putus-putus. Diraupnya keringat yang membasahi wajah tirus yang makin tampak dewasa.

“Sial!” umpatnya. Dia gagal mendapat hewan buruan dan hampir saja nyawanya terancam karena terlalu dekat dengan peradaban manusia.

Dia menghela napas sekali lagi sebelum beranjak dari tempatnya. Dia terpaksa kembali dengan tangan kosong. Untung saja tak ada manusia yang melihatnya.

“Manusia bisa lebih berbahaya dari makhluk apa pun di alam ini,” pesan seseorang sejak sepuluh tahun lalu.

Ya, sepuluh tahun lalu. Ketika sebuah peristiwa mengerikan di mana ibu dan neneknya dibunuh dengan keji. Namun, seseorang tiba-tiba membawa Aru kecil pergi jauh ke dalam hutan, menyelamatkannya sebelum orang-orang desa yang marah menangkapnya untuk dibunuh. Hingga kini, dia masih sering berpindah-pindah dari hutan satu ke hutan lainnya untuk menghindari manusia-manusia yang memburunya.

***

Mea-Dai berdiri di depan api sambil berkacak pinggang ketika Aru datang dengan cengiran tanpa dosa.

“Kau keluar selarut ini lagi?” tanya wanita itu. Dialah penyelamat Aru yang kini menjadi ibu angkatnya. Dia juga adalah saudari Noa-Dai, ibu kandung Aru.

Aru melebarkan cengiran di bibir, hingga memperlihatkan deretan gigi yang putih karena rutin dia gosok dengan arang. “Aku hanya ingin menangkap seekor tupai untuk makan malam,” jawabnya sambil mengedikkan bahu.

Mea-Dai menghela napas, berbalik, dan berjalan mengitari api. “Sudah berapa kali Sina bilang untuk menjauh dari peradaban manusia.”

“Aku tidak—”

“Jangan berbohong.”

Aru cemberut. “Sampai kapan, Sina?”

“Sampai kapan apa?”

“Bukankah kita sudah pergi terlalu jauh?

Mea-Dai mengangkat sebelah alis. “Lalu?”

“Mungkinkah kita 'kan kembali ke desa?” Aru menunduk karena takut melihat ibu angkatnya.

“Tidak,” jawab Mea-Dai tanpa basa-basi. Wanita berambut panjang itu tak menghiraukan pertanyaan yang entah berapa kali pernah Aru ucapkan. Baginya, Aru hanya butuh waktu sedikit lagi untuk menyadari bahwa dunianya kini tak lagi sama dengan sepuluh tahun lalu.

Mendengar jawaban Mea-Dai membuat bahu Aru meluruh. Ada sedikit harapan dalam hatinya untuk bisa bertemu ayahnya, Lohia Raga. Dia pikir dengan bertemu kembali dengan sang ayah akan memperbaiki segalanya.

Akan tetapi … apa ayahnya mencarinya?

Aru menggeleng cepat demi menghalau pikiran buruk itu. Yang dia tahu, ayahnya sangat menyayanginya. Pria itu pasti mencari Aru dan suatu saat mereka akan berkumpul bersama-sama untuk mengenang kepergian Noa-Dai.

Aru beralih menatap Mea-Dai yang kini duduk di sebuah batu di dekat api unggun. Wanita itu tampak sibuk membuat sesuatu.

“Apa yang Sina buat malam-malam begini, huh?”

Mea-Dai menoleh sebentar. “Membuatkan rok rumput baru untukmu. Sina lihat itu sudah kependekan.” Dagu lancipnya menunjuk paha Aru.

Aru menunduk, melihat rok rumputnya yang menutupi hingga pertengahan paha. Yah, benar kata Mea-Dai. Dulu rok itu panjangnya menutupi lutut Aru. Bukankah itu artinya dia makin dewasa?

“Sina,” panggil Aru ketika mengingat sesuatu. Dia memposisikan tubuhnya untuk menghadap Mea-Dai, lalu merangkum salah satu telapak tangan wanita itu dan bertanya, “Berapa umurku sekarang?”

Mea-Dai mengangkat alis kirinya seraya meneleng. “Lima belas?” jawabnya ragu, tampak berusaha mengingat berapa lama mereka pergi dari desa.

Aru makin mengeratkan rangkuman tangannya. “Apakah lima belas tahun itu sudah cukup besar?”

“Tentu. Tinggimu sudah hampir menyamai Sina.”

“Itu artinya ....” Aru menatap mata Mea-Dai begitu dalam. “Apakah sudah cukup untuk mengetahui segalanya?”

“Maksudmu?”

“Seperti kata Sina waktu itu, ‘Kau masih terlalu kecil, Aru. Nanti jika kau sudah cukup besar untuk mengetahui segalanya, akan kuceritakan semua untukmu.’ Aku selalu ingat itu dan menunggu hari ini tiba.”

Mea-Dai tertegun sejenak. Matanya menatap lurus pada api yang nyalanya mulai padam. Sejenak diambilnya ranting-ranting kering agar api kembali besar. Kemudian, tatapannya kembali pada mata jernih Aru. Satu tangannya yang bebas mengelus pipi Aru. Dia tersenyum dan berkata, “Kau benar. Namun, cerita ini akan sangat panjang dan tak akan cukup diceritakan dalam satu malam. Jadi, apa yang ingin kauketahui lebih dulu?”

Aru tersenyum lebar dengan mata berbinar. Kemudian, dia merangkak untuk mengambil tali yang biasanya dia ikat di pinggang untuk menggantung barang-barang kecil agar bisa dia bawa ke mana-mana. “Ini.” Dia tunjukkan dua buah kayu. “Sinagu[1] sempat berikan ini kepadaku sebelum dia pergi. Apa ini?”

Mea-Dai mengambil salah satu kayu yang ukurannya lebih kecil. Itu kayu dari pohon lemon, dengan satu duri yang sengaja dibiarkan di salah satu ujungnya. “Ini ... gini.”

“Gini?”

Kini Mea-Dai mengambil kayu lainnya yang lebih lebar dan panjang, tetapi permukaannya halus dan keras. “Dan ini ... iboki atau palu kayu.” Dia memperhatikan dua kayu tersebut. “Dulu, perempuan Motu menggunakan ini untuk revareva.”

Aru menggigit jempolnya karena tak paham. “Gini, iboki, dan ... revareva? Apa arti dari semua itu?”

Mea-Dai meletakkan dua kayu itu, lalu meraih lengan kiri Aru. Dia membuka ikatan di bagian atas lengan dan terpampanglah sebuah tanda hitam yang belum selesai digambar. “Revareva adalah saat emu sinana[2] membuat tanda ini.” Dia memperhatikan ekspresi Aru.

Aru mengerutkan kening. Dia merasa asing dengan semua itu, lalu menggeleng.

“Kau ... tidak ingat bagaimana saat tanda ini dibuat?”

—Aku, saat musim Hiri—

Ayahku pergi berlayar menaiki kapal besar dengan dua layar berbentuk capit kepiting. Kami menyebut kapal besar itu sebagai lakatoi. Dia harus pergi bersama kepala keluarga lainnya karena tak ada lagi makanan di sini pada musim ini. Maka mereka harus pergi membawa tembikar-tembikar yang telah dibuat sepanjang tahun oleh ibuku—dan ibu teman-temanku—ke wilayah Suku Koitabu untuk ditukarkan dengan sagu yang banyak. Kudengar, suku mereka tidak pernah kehabisan sediaan makanan pokok. Berbeda dengan suku kami, Suku Motu, yang pada musim-musim tertentu tak memiliki sumber makanan. Namun, perempuan kami sangat berbakat membuat tembikar yang berkualitas.

Ayahku dan ayah-ayah temanku pergi lama sekali. Mereka pergi sejak laurabada[3] berembus dan harus menunggu lahara untuk pulang. Butuh waktu berbulan-bulan untuk menunggu lahara[4]. Jadi, kami, yang terdiri dari ibu-ibu dan anak-anak—juga beberapa pria yang tidak ikut berlayar—harus berdiam diri di rumah untuk menjaga api agar tetap menyala hingga ayah-ayah kami pulang.

Pelayaran berbahaya itu biasa kami sebut sebagai hiri.

Akan tetapi, saat musim itu ibuku sering pergi diam-diam dari rumah. Dan kali ini, dia membawaku serta pergi bersamanya. “Ini sudah waktunya untuk penandaan pertamamu.” Begitu katanya, sambil menggandeng tanganku penuh penjagaan.

Ibuku dengan sangat hati-hati, penuh waspada, mengajakku memasuki hutan. Lantas dia membawaku ke sebuah gubuk.

Ibu dengan cekatan membuka pakaianku. Dia kemudian mengambil dua kayu, kecil dan besar. Mula-mula, dia mengolesi tubuhku dengan minyak kelapa hingga kulitku tampak mengilat. Setelahnya, dia merebahkan tubuhku ke tanah. Dia pun duduk di bagian kiriku, lalu ….

“Ah! Apa yang Sina lakukan? Itu menyakitkan!” Aku berteriak saat ibuku menusukkan duri dari salah satu kayu yang dipegangnya ke lengan kiriku, lalu memukul duri itu menggunakan kayu satunya lagi. Namun, dia tak mau mendengarkan keluhan sakitku.

Aku terus meronta, memintanya untuk berhenti. Itu menyakitkan. Sungguh, itu menyakitkan hingga membuat bibirku bergetar. Namun, dia tetap tak memedulikanku.

“Sina, hentikan itu. Sakit sekali rasanya. Tolong,” rengekku.

Akan tetapi, bukannya berhenti, Ibu malah mencengkeram rahangku dengan keras dan berkata, “Diamlah! Ini sudah waktunya untuk menandaimu. Kau harus melakukan ini. Semua perempuan di keluarga kita harus melakukannya! Diam dan jangan banyak mengoceh.”

Aku hanya bisa menangis dan menangis. Dalam hati, aku berdoa kepada roh alam supaya ibuku tak melakukan hal ini lagi kepadaku.




[1] Berasal dari kata ‘egu sinana’ yang berarti ‘ibuku’ dan mengacu pada panggilan ibu (bahasa Hiri Motu)

[2] Ibumu (bahasa Hiri Motu)

[3] Angin pasat tenggara

[4] Angin Muson dari barat laut


Other Stories
Seratus Juta Untuk Sebuah Restu

Sudah tiga tahun Nadia tidak pulang saat libur lebaran. Bukan karena sibuk. Bukan karena l ...

Dante Fairy Tale

“Dante! Ayo bangun, Sayang. Kamu bisa terlambat ke sekolah!” kata seorang wanita ge ...

Horor

horor ...

2r

Fajri tahu Ryan menukar bayi dan berniat membongkar, tapi Ryan mengungkap Fajri penyebab k ...

Sang Maestro

Mari kita sambut seorang pelukis jenius kita. Seorang perempuan yang cantik, kaya dan berb ...

Osaka Meet You

Buat Nara, mama adalah segalanya.Sebagai anak tunggal, dirinya dekat dengan mama dibanding ...

Download Titik & Koma