Tujuh Belas
Manusia diciptakan oleh alam, hidup dengan alam, lalu mati dan kembali kepada alam. Namun, apakah kematian itu menjadi anugerah atau hukuman, manusia itu sendiri yang menentukan. —Aru Lohia
***
“Kenapa kau membawanya kemari?”
“Dia tak berbicara sepatah kata pun. Aku harus apa selain membawanya kemari?”
“Ya, dia benar. Joseph menyuruh kita menyelamatkan semua yang bisa diselamatkan. Kita berutang budi kepadanya dan dia pun membayar ini dengan mahal. Kita tak bisa curang.”
“Lalu kapan Joseph dan rombongannya akan datang?”
“Entah, mungkin besok?”
Aru duduk menjauh dari yang lain. Arah matanya berpindah-pindah mengamati ekspresi orang-orang yang berbicara. Namun, tetap saja dia tak mampu memahami perkataan mereka.
Mengabaikan orang-orang yang masih berbincang, mata Aru beralih meneliti gua besar yang ditempatinya. Gua itu … lebih tampak seperti rumah besar yang ditinggali lebih dari sepuluh orang dalam satu kelompok. Terasa hangat dan nyaman.
Beberapa saat kemudian, sebuah rombongan datang memasuki gua. Terdiri dari empat pria berkulit putih yang disambut ramah.
Siapa lagi mereka?
“Kalian datang lebih awal dari perkiraan,” kata seorang pria tua menyambut rombongan orang putih itu. Mereka bercengkerama dengan hangat. Aru bahkan bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka bisa akrab begitu saja?
Salah satu orang putih itu menyadari keberadaan Aru. Dia mendekat, lalu berjongkok di dekat anak perempuan itu.
Aru refleks mundur karena ketakutan.
“Siapa dia?” tanya orang putih itu. Dia memegang janggutnya yang ditumbuhi jenggot berwarna kemerahan, sewarna dengan rambutnya.
“Kami menyelamatkannya dari kelompok pemburu kepala. Dia tak berbicara sedikit pun, jadi kami membawanya kemari.”
Orang itu bertubuh besar, hampir sama dengan pria yang menyiksanya waktu itu. Dia mendekat lagi hingga membuat Aru makin takut. Mau mereka apakan dia?
“Lasi?” ulang orang putih yang berjenggot. “Apa dia dari Port Moresby?” gumamnya.
“Ada masalah apa, Mate?” tanya orang putih lainnya. Yang satu ini rambutnya lebih gelap, kulitnya juga lebih cokelat, tetapi masih tampak putih jika disandingkan dengan Aru dan orang-orang dari suku di gua ini.
“Kurasa dia orang Motu atau mungkin Koitabu,” bisik pria berjenggot.
“Benarkah?” tanya pria yang rambutnya lebih gelap. “Bagaimana mungkin bisa sampai sejauh ini?”
Pria yang rambutnya lebih gelap kemudian mendekati Aru dan bertanya, “Siapa kamu?” menggunakan bahasa orang-orang Motu.
Mata Aru melebar. Dia bisa bahasanya?
“Sepertinya kau mengerti bahasa ini, ya? Kutanya sekali lagi, siapa kamu?” Pria itu mendekat dengan raut yang bersahabat. “Aku tidak akan menyakitimu,” tambahnya.
Aru tak menjawab, tetapi dia menggeleng untuk pura-pura tidak mengerti.
Akan tetapi, gerakan polosnya itu membuat pria berambut cokelat gelap langsung tertawa antusias, lalu mengatakan pada rombongannya bahwa ‘anak itu benar-benar orang Motu’.
Rombongan orang-orang putih itu langsung menggerombol mengelilingi Aru, membuat anak perempuan itu merasa tak nyaman. Aru menggigiti jempolnya karena mereka berebutan untuk mengajaknya mengobrol.
Mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sama dengannya. Bisakah Aru mempercayai mereka? Atau haruskah dia menunjukkan sikap bahwa dia menolak berbicara dengan mereka?
Bagaimana dia harus bertindak? Sudah lama dia tak bercakap-cakap dengan orang asing.
Other Stories
Mewarnai Bawah Laut
ini adalah buku mewarnai murah dan meriah untuk anak kelas 4 sd ...
Di Bawah Langit Al-ihya
Tertulis kisah ini dengan melafazkan nama-Mu juga terbingkailah namanya. Berharap mega t ...
Bu Guru Dan Mantan Murid
Salsa, guru yang terjebak pernikahan dingin, tergoda perhatian mantan muridnya, Anton. Per ...
Pada Langit Yang Tak Berbintang
Langit memendam cinta pada Kirana, sahabatnya, tapi justru membantu Kirana berpacaran deng ...
Balada Cinta Kamilah
Sudah sebulan Kamaliah mengurung diri setelah membanting Athmar, pria yang ia cintai. Hidu ...
Rindu Yang Tumbuh Jadi Monster
Adrian nggak pernah nyangka, jatuh cinta bisa berawal dari hal sesederhana ngeliat cewek n ...