Chapter 1
“Aku harus bagaimana? Aku tidak punya banyak uang.”
Eulia Vicente Daniela menghadap kakaknya, Elena, sambil mengusap kening yang berdenyut. Rambut putih kecokelatan yang diikat belakang tampak berantakan. Mereka berdiri di samping mobil yang bagian depannya tertindih reruntuhan kayu-kayu bagian dari gudang. Terdapat lubang besar yang memperlihatkan isi gudang tersebut. Mesin-mesin yang roboh, tiang-tiang patah, dan drum-drum serta botol-botol beling berserakan.
“Aku juga tidak punya banyak uang. Sepertinya kita perlu mencari pinjaman? Aku tidak mau dituntut karena tidak bisa membayar ganti rugi.” Elena menyentuh lengan kiri yang nyeri dan berdarah akibat terkena benturan dan gesekan. Rambut pendek putih kecokelatannya tidak kalah berantakan dengan darah mengering di sisi kiri. Perempuan itu memakai dress pendek tanpa lengan dan celana hitam panjang.
“Kau kira aku mau.” Eulia tidak menyangka baru saja dimintai denda oleh tetangga jauh mereka dengan biaya yang tidak terkira, kurang lebih 5000 Euro. Siapa yang bisa menduga akan datangnya musibah? Beberapa waktu lalu dirinya dan Elena pulang dari pesta yang diadakan rekan mereka yang sama-sama bekerja di hotel. Elena menyetir mobil karena Eulia tidak begitu mahir. Setelah sampai di Castro Caldelas dengan jalanan yang lengang dan gelap, daerah tempat tinggal mereka, Elena kurang berkonsentrasi karena kelelahan sehingga mobil yang disetirnya memasuki pekarangan rumah orang lain, menyerempet mobil yang berhenti, lalu menghancurkan sebagian kebun anggur serta gudang yang dibangun dengan kayu. Posisi rumah dan kebun yang tepat di pinggir jalan tanpa pembatas menjadi sasaran empuk mobil Elena yang hilang kendali.
Pemilik mobil dan kebun meminta ganti rugi yang besar karena nilai anggur yang berharga telah hancur. Selain itu, laki-laki dewasa yang mempunyai kebun tersebut memberikan jatuh tempo dua bulan. Apabila sampai waktu yang ditentukan belum juga ada pembayaran, dia akan menuntut mereka dan juga menyita mobil.
Selain membayar ganti rugi, Elena dan Eulia juga harus memikirkan biaya perbaikan mobil yang rusak apabila berhasil diambil. Belum lagi mereka juga harus menyiapkan uang untuk pengobatan akibat luka-luka dan cedera yang mereka alami.
Elena mengamati mobil abu-abu metalik yang masih tertutup debu dan reruntuhan kayu. Bagaimana dia bisa menyelesaikan masalah ini? Dirinya harus menerima keputusan pemilik kebun yang meminta mobil miliknya ditahan sebagai jaminan. Meski begitu, perempuan itu tampak tenang sambil sesekali menahan nyeri.
Berbanding terbalik dengan Elena, Eulia sesekali mondar-mandir sambil melamun, sesekali memandang mobil dengan lesu, sesekali mengerutkan kening. Meski yang melakukan pelanggaran karena menyetir adalah kakaknya, Eulia merasa masalah ganti rugi sangat berat. Apalagi dia melihat sendiri gudang anggur hancur akibat tertabrak. “Sekarang bagaimana kita pulang?”
“Aku akan menghubungi Daunte.” Beberapa waktu lalu, Eulia sudah mengeluarkan barang-barang dari mobil setelah berdiskusi mengenai ganti rugi dengan pemilik kebun. Dia berhasil keluar dan masuk mobil dari pintu tengah dengan susah payah karena lengan yang berdenyut.
Eulia membantu, tetapi tidak segesit pergerakan kakaknya. Dia membereskan barang-barang di bagian tengah dan belakang berupa pakaian, makanan dan minuman kemasan, aksesoris, sedangkan sampah plastik yang tertumpuk dibiarkan begitu saja.
Setelah melihat Elena selesai berbincang dengan Daunte melalui sambungan telepon, Eulia yang memiliki tinggi sekitar 165 cm dan bertubuh kurus memperhatikan kakaknya. “Bagaimana kalau kau meminjam uang ke Daunte?”
Elena memandang lekat Eulia. “Walaupun Daunte mau meminjamkannya, aku pikir masih belum cukup untuk melunasi ganti rugi.” Dia kemudian mengambil jaket kulit dan memakainya.
“Gajiku juga belum tentu cukup. Kenapa kita harus mengalami ini, Elena? Tidak mungkin kan kita sampai harus menjual mobil atau rumah?” Eulia menggerutu tidak jelas. Dia mudah kesal, apalagi teringat benturan di kepala saat mobil tertabrak. Dia masih merasakan kepalanya berdenyut.
“Siapa juga yang mau membeli mobil ringsek?” Elena tersenyum lebar. Sepertinya bagi perempuan itu segala sesuatunya tampak mudah untuk diberikan senyuman.
Eulia bersedekap, memasang ekspresi bertambah kesal. “Kau yang telah membuatnya seperti itu. Kau harus membayar ganti rugi. Ingat! Kau mau cari ke mana uang sebanyak itu?”
Elena tertawa. “Entahlah. Kau juga bantu aku untuk berpikir.”
Eulia tersenyum kecut. Sebagai saudara kembar yang bertahun-tahun tinggal bersama, dirinya memahami jika Elena juga pandai bersikap manis. Kenapa aku juga harus membantumu, Elena? Ini semua karena kau yang tidak berhati-hati saat menyetir. Bagaimana bisa kau membuat mobil masuk pekarangan dan menghancurkan gudang anggur?
***
Malam semakin larut, Daunte yang menjemput Elena dan Eulia tampak terkejut dengan hasil dari perbuatan kekasihnya. Dia juga mencemaskan mereka yang terluka. Sambil mengamati mobil yang masih terjebak di reruntuhan, Elena menceritakan kembali mengenai proses terjadinya kecelakaan dan biaya ganti rugi. Daunte bertambah lesu dengan keputusan yang harus diterima Eulia dan Elena. Dia mengembuskan napas lega karena setidaknya mereka masih bisa berdiri tegak.
“Daunte, apakah kau bersedia meminjamkanku uang?” tanya Elena sambil menatap laki-laki di hadapannya. Dia penuh percaya diri jika Daunte bersedia meminjamkan.
Daunte menyentuh pelan kepala bagian kiri Elena yang terluka. “Aku bisa saja meminjamkanmu. Tapi kau tahu sendiri kalau gajiku juga tidak seberapa. Dengan jumlah ganti rugi sebesar itu, tabunganku juga masih belum cukup.”
“Aku mengerti. Terima kasih, Sayang.” Elena tersenyum.
Eulia kembali gelisah setelah mendengar keterangan dari Daunte. “Kita harus cari uang ke mana lagi? Apa aku harus bekerja satu kali dua puluh empat jam setiap hari? Kenapa kita harus mengalami ini? Kenapa?”
“Eulia, tenanglah. Pasti akan ada jalan keluarnya.” Elena sudah terbiasa melihat adiknya gelisah ketika terjadi masalah sejak kuliah.
“Bagaimana aku bisa tenang, Elena? Kita akan dituntut karena tidak bisa bayar ganti rugi. Kau dan aku akan dipenjara. Aku tidak ingin sampai masuk penjara.”
“Hal itu belum terjadi. Sebaiknya kau tidak memikirkan hal-hal buruk seperti itu. Pikirkan cara untuk membayar ganti rugi bukan membayangkan kita dipenjara. Kau terlalu berlebihan, Eulia.” Elena mengembuskan napas kasar. Dia makin merasa lelah apalagi setelah melihat sikap adiknya.
Daunte merangkul bahu Elena dari belakang yang membuat perempuan itu sedikit mengernyit. “Kalian tampak berantakan. Aku akan mengantar kalian ke rumah sakit. Kalian perlu mengobati luka-luka sebelum infeksi. Masih ada waktu untuk memikirkan soal ganti rugi. Jadi, simpan tenaga kalian saat ini untuk memulihkan diri.”
Elena segera mengajak Daunte pergi dan berpamitan dengan pemilik kebun yang masih menunjukkan ketidaksenangan terhadapnya. Eulia mengikuti mereka sambil tetap memperlihatkan kegusaran.
Daunte kemudian mengantar mereka ke rumah sakit terdekat. Eulia dan Elena mendapat penanganan medis untuk luka-luka dan memar. Elena memperoleh tangan kiri dibalut perban dan kepala kiri ditempel perban, sedangkan Eulia mendapati kening kirinya diperban.
Mereka kembali ke rumah dengan perasaan yang berkecamuk.Other Stories
Perjalanan Terakhir Bersama Bapak
Sepuluh tahun setelah kepergian ibunya saat melahirkan Ale, Khalil tumbuh dengan luka yang ...
Dua Bintang
Setelah lulus, Manda ikut Tante Yuni ke Jakarta untuk melupakan luka keluarga. Tapi dikhia ...
Mak Comblang Jatuh Cinta
“Miko!!” satu gumpalan kertas mendarat tepat di wajah Miko seiring teriakan nyaring ...
Chromatic Goodbye
"Kalau aku tertawa, apa bentuk dan warnanya?" "Cokelat gelap dan keemasan. Kayak warna dar ...
Dream Analyst
Dream Analyst. Begitu teman-temannya menyebut dirinya. Frisky dapat menganalisa mimpi sese ...
Kado Dari Dunia Lain
"Jika Kebahagiaan itu bisa dibeli, maka aku akan membelinya." Di tengah kondisi hidup Yur ...