La Falsedad

Reads
0
Votes
0
Parts
12
Vote
Report
Penulis Atpress2014

Chapter 10

Eulia masih berusaha menguatkan lutut agar sanggup melangkah di jalan berbatu dan menanjak. Juan menjaga jarak tetap dekat sambil berjalan di depannya.

“Apakah kita pernah akrab?” tanya Eulia yang belum mendapat ingatan pasti mengenai laki-laki itu. Dirinya tidak bisa mengingat semua teman semasa kuliah.

“Sepertinya tidak terlalu. Hanya beberapa kali kita pernah bertemu.” Juan melangkah pasti seakan sudah terbiasa menapaki jalan berbatu.

“Kau ingin aku mengingat-ingat seseorang yang tidak begitu akrab denganku?” Eulia mengernyit, heran dengan maksud Juan mendekati dan membuatnya mengorek-ngorek lagi kenalan di masa lalu.

Juan tertawa ringan meski suaranya tetap terdengar ke telinga Eulia. “Aku ingin tahu saja apakah kau mengenaliku atau tidak. Kau tidak perlu berpikir begitu keras untuk mengingatnya. Santai saja. Aku memang tidak begitu dikenal seperti Javiar dan teman-temannya. Kau dan Elena juga banyak yang mengenali. Aku termasuk salah satu yang sering memperhatikan kalian.”

Javiar dan teman-temannya. Eulia mengulang kalimat tersebut dalam pikirannya. Dalam sekejap, dia teringat kembali pada sosok yang sering bersama Javiar. Laki-laki pendiam yang sering memakai kemeja panjang. Mereka sekumpulan pelajar teladan yang tidak terlalu banyak bergaul. Berkat Elena dan dirinya yang ikut berbaur, mereka mulai menjadi pusat perhatian.

Karena tidak mendengar ada pergerakan langkah di belakangnya, Juan berhenti lalu menengok ke belakang. “Apa lagi yang sedang kaupikirkan? Kau masih berusaha mengingatku? Aku rasa itu bisa kaupikirkan nanti saat ada waktu untuk bersantai. Kita bisa semakin tertinggal. Apa kau tidak ingin segera menyusul kakakmu dan Javiar? Mereka sangat lincah.”

Eulia menghela napas setelah tersadar dari lamunannya. Dia mengelap keringat dingin di tangan yang dirinya pahami bukan hanya akibat mengerahkan tenaga. Ingatan-ingatan tentang sosok di masa lalu itu membuatnya tidak nyaman.

Setelah melewati undakan-undakan yang membuat lututnya pegal, Eulia menerima pesan. Tidak hanya dirinya, peserta lain juga mendapatkan pesan yang sama.

Semua peserta silakan berkumpul di tiang beton, puncak A Moa. Pesan selanjutnya akan dikirim setelahnya.

Elena dan Javiar menunggu yang lain sebelum mencapai puncak A Moa. Mereka memandangi Playa de Carnota. Atap-atap rumah dan bangunan tepi pantai terlihat dari kejauhan. Lautan biru di sisi pantai tampak makin luas. Eulia yang tiba di belakang Juan juga ikut memandangi pemandangan alam itu. Keindahan alam itu tidak mampu membuat perempuan itu kagum. Semua seakan ilusi. Justru Eulia merasa ingatan-ingatan yang bersarang di pikirannya seperti kenyataan. Dia pernah melihat pemandangan ini. Dia memandangi Elena yang tersenyum senang saat mengobrol dengan Javiar. Elena juga menyapanya dengan bahagia. Eulia tidak bisa balas tersenyum. Bibirnya terasa kaku. Seharusnya di sisi Elena terdapat satu lagi laki-laki. Tidak hanya Elena dan Javiar. Ada satu laki-laki lagi yang diajak Elena berbincang. Seharusnya begitu. Seperti dahulu dirinya memandang mereka bertiga. Dirinya tersenyum saat itu. Tidak seperti sekarang yang sulit untuk tersenyum. Samar-samar, Eulia melihat sosok laki-laki yang dikenalnya di sebelah Elena, terdiam seperti dahulu yang pendiam. Namun, ketika dirinya mengedip, sosok tersebut menghilang. Dia mundur karena terkejut dan tidak sengaja menubruk Lucia. Lucia tetap berdiri, sedangkan dirinya terjatuh duduk.

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau hampir saja menjatuhkanku,” protes Lucia yang sejak tadi sedang memandang kesal keakraban Javiar dan Elena. Dia tidak menyukai pemandangan itu. Sejak dahulu, dirinya memang tidak mengagumi Elena seperti mahasiswa lain.

“Eulia, apa yang terjadi?” Elena bergegas mendekati adiknya. Dia langsung memapah Eulia agar berdiri.

“Kau baik-baik saja?” Javiar ikut membantu membangunkan Eulia.

Eulia berusaha menetralkan debaran yang tidak menentu. Dia hanya mengangguk tanpa menceritakan keanehan yang baru saja terjadi. Dia mulai sadar bahwa sosok itu hanya ilusi akibat terlalu memikirkannya. Perempuan itu memejamkan mata sesaat agar pikirannya kembali jernih.

Elena mengajak Eulia duduk di batu yang sedikit tinggi dari jalur pendakian untuk menenangkan diri. Javiar memberikan botol minumnya pada Eulia. Eulia menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Juan berdiri tidak jauh dari mereka, meminta Eulia melepaskan tas yang tampak penuh.

“Kenapa kita tidak langsung menuju A Moa saja?” Lucia merengut karena merasa puncak tinggal sedikit lagi. Dia semakin merasa masam karena perhatian Javiar masih tertuju pada kakak-adik.

“Kita sekalian menunggu sepasang kekasih yang sedang menikmati perjalanan.” Javiar menjelaskan sambil memperhatikan Elena yang menenangkan Eulia.

“Hector dan Jade. Tinggalkan saja mereka.” Lucia kembali memprotes.

“Sebentar lagi juga mereka sampai.” Javiar mengamati sekitar.

Setelah kemunculan Hector menggandeng lengan Jade yang tampak kelelahan, mereka bergerak ke puncak. Javiar dan Teo memimpin. Lucia menyusul, enggan memandang punggung kakak-adik. Elena mendampingi Eulia yang memilih berjalan sendiri. Juan di belakang mereka sambil membawa tas milik Eulia. Terakhir, Hector dan Jade menyusul di belakang.

A Moa merupakan puncak granit padat yang terbuka dengan ketinggian 2.057 kaki, terdapat sekitar dua ratus cekungan kecil akibat erosi yang menampung air. Angin berhembus kencang sehingga ketahanan tubuh tetap harus dijaga. Eulia dan lainnya melihat bendera-bendera segitiga kecil yang berdiri tegak di beberapa titik. Terpencar. Beberapa peserta lain, termasuk Eulia, penasaran dengan bendera tersebut, tetapi Javiar mengingatkan mereka agar tidak sembarangan memegang atau mengambil benda itu.

“Sekarang kita sedang berada dalam permainan. Sebaiknya kita waspada dalam setiap situasi. Kenapa bendera-bendera itu dipasang dengan kokoh, tidak terbang tertiup angin? Pasti sudah ada yang menyiapkannya. Apakah tidak terpikirkan oleh kalian jika bendera-bendera itu termasuk jebakan. Bisa saja mereka membuatnya agar kita lengah. Kita ikuti saja petunjuk selanjutnya. Tapi kalau kalian masih penasaran, silakan saja ambil bendera itu.”

“Lalu apa maksud arah panah ini?” tanya Lucia yang sedang jongkok di dekat salah satu bendera dan memandangi panah kecil berwarna merah.

Mendengar itu, semuanya sama-sama memandang ke arah bendera yang terdekat dengan mereka.

“Kau coba saja pegang bendera atau panah itu,” perintah Teo sambil tersenyum licik.

“Kau lihat saja panah itu mengarah ke mana. Bisa saja kau harus berlari atau melemparkan sesuatu sesuai arah tersebut.” Javiar tampak tenang seakan siap menghadapi segala tantangan.

“Atau merangkak seperti cicak.” Teo menambahkan sambil menahan tawa.

“Aku rasa aku tidak akan melakukannya jika harus merangkak seperti itu.” Lucia pun berdiri, memperlihatkan wajah masam karena merasa candaan Teo tidak lucu sama sekali.

Eulia ikut memandang tiang bendera dan panah yang terdekat dengannya. Kenapa panahnya mengarah ke pemandangan, bukan ke arah tiang? Apakah di sini akan dimulai permainannya? Untuk apa semua ini?



Other Stories
Dari Kampus Ke Kehidupan: Sebuah Memoar Akademik

Kisah ini merekam perjuangan, kegagalan, dan doa yang tak pernah padam. Dari ruang kuliah ...

Death Cafe

Sakti tidak dapat menahan diri lagi, ia penasaran dengan death cafe yang selama ini orang- ...

Pemburu Darah

Manusia lemah bukan berarti tak berbahaya. Dunia mengenal Darah sebagai sumber kekuatan ...

Naik Ke Langit, Turun Tuk Tuntaskan Kisah

Bagaimana jika kesempatan untuk memperbaiki kesalahan ternyata datang setelah semuanya ter ...

Menantimu

“Belum tidur Zani?” “Belum. Ngak bisa tidur.” “Hehe. Pasti ada yang dipikirin ...

Ayudiah Dan Kantini

Waktu terasa lambat karena pahitnya hidup, namun rasa syukur atas persahabatan Ayudyah dan ...

Download Titik & Koma